ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN

ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN
Keangkuhan Karin


__ADS_3

Ternyata Karin belum mengetahui bahayanya penyakit kena virus HIV. Karin merasa dia masih bisa hidup bersama Alvan lagi layak suami isteri umumnya. Alvan dengar kata HIV sudah ketakutan. Apalagi harus hidup serumah dengan Karin. Dipastikan Alvan tidak bersedia.


"Iyem... Kau pergilah keluar sebentar ada yang mau aku omongkan dengan Nyonya kamu!" Alvan meminta Iyem meninggalkan ruang rawat Karin. Ada hal penting harus dibicarakan dengan Karin agar tidak terjadi salah paham. Karin harus pahami betapa bahayanya penyakit AIDS yang ditimbulkan oleh virus HIV. Karin dipastikan positif mengidap virus HIV. Masa depan Karin telah kelabu tak berwarna cerah lagi.


Iyem segera keluar tanpa membantah. Iyem selalu memuja Alvan sebagai idola pujaan hati. Iyem tidak keberatan melaporkan apapun untuk Alvan.


Alvan menggeserkan posisi menuju ke sofa agar bisa berbicara dengan leluasa. saatnya Karin harus mengetahui bahwa banyak sekali kemelut telah dia timbulkan dalam keluarga. Termasuk menjerumuskan Pak Jono ke dalam lubang kenistaan. Kini Pak Jono terbaring tak berdaya akibat terlalu memikirkan kesalahan yang telah diperbuat pada anak dan istrinya. Kesalahan yang tidak termaafkan.


Alvan berusaha mencari posisi yang nyaman untuk bicara dengan Karin dari hati ke hati. Alvan sadar tidak ada guna ngamuk-ngamuk lagi karena semua sudah terlanjur terjadi. Yang penting sekarang adalah mencari solusi ke depan.


"Karin...kau tahu betapa banyak petaka yang kau timbulkan?" tanya Alvan bernada dingin agar Karin tahu Alvan sedang marah.


"Petaka apa? Bukankah aku telah mendapat hukuman? Anak aku telah tiada. Aku harus dirawat di sini!"


"Gara-gara kamu papa kena stroke...sekarang ada di sini di rawat oleh Citra! Bagaimana reaksi mama bila tahu kekacauan di keluarga ini? Kau puas telah hancurkan keluarga Lingga?"


Karin terperangah kaget tak sangka mertua alias teman selingkuh bisa kena stroke. Papa Alvan termasuk lelaki gagah walau telah berumur. Karin cukup puas berhubungan badan dengan mertuanya. Keperkasaan pak Jono tidak kalah dari Alvan yang jauh lebih muda.


"Aku tak percaya. Kamu ingin memojokkan aku dengan cerita karanganmu bukan?"


"Apa untungnya aku berbohong? Mengarang cerita yang bukan-bukan. Berbohong itu bukan gaya aku! Tidak seperti kamu berbohong itu seperti memakai lipstik di bibirmu. Dipoles berlapis-lapis untuk menutupi semua keburukanmu. Dengar ya Karin kalau kamu mau pulang silakan! Aku akan tinggal di rumah lain karena aku keberatan tinggal serumah dengan orang penderita virus HIV."


"Hanya virus HIV.. apa sih yang harus ditakutkan dari virus itu? Aku akan berangkat ke Amerika untuk mencari pengobatan. Asal kamu berjanji akan menerima aku seperti dulu aku tidak akan macam-macam."


"Virus HIV itu tidak ada obatnya. Ke ujung dunia pun kamu berobat tidak akan sembuh kecuali kamu ke neraka. Kamu orang pintar. Pintar segalanya terutama berbohong. Coba kamu cek di internet apa itu virus HIV! Penyakit mematikan yang tidak ada obatnya sampai detik ini. Virus itu menular melalui hubungan seksual. Gonta-ganti pasangan tidur. Sekarang kamu telah menerima hasil dari perbuatan kamu sendiri. mungkin kamu merasa sangat puas menjadi pengidap virus HIV." Alfan berkata dengan sinis sekaligus menohok Karin agar sadar bahwa dunia ini tidak seindah yang dia bayangkan.


Karin terdiam setelah mendengar penjelasan dari Alvan. Karin tak menyangka begitu mengerikannya virus HIV itu. Semula Karin menyangka pergi berobat ke tempat yang teknologinya lebih canggih maka dia akan terbebas dari virus tersebut. Hati kari menciut mendengar penjelasan Alvan.


Tadinya Karin berpikir Alvan sengaja menghindar darinya karena marah dia berselingkuh. Ternyata Alvan memang takut tertulari virus HIV dari Karin.


"Van .. kau tega melakukan semua ini kepada aku? Aku ini istrimu... orang yang telah mendampingimu hampir 10 tahun. Begitukah kamu membalas jasaku selama ini?"


Alvan ingin sekali tertawa mendengar Karin meminta balas jasa. Jasa apa yang telah ditanam pada diri Alvan? Tidak membuat kacau saja Alvan sudah bersyukur. Kini malah menuntut balas jasa. Betapa menggelikan hasrat Karin yang mulai melenceng dari jalur hakiki.


"Karin...coba kau ingat apa yang telah kau berikan padaku? Setumpuk hutang di kartu kredit? Membuatku hilang muka setiap malam mabukan di bar? Dasar ini kau tuntut balas jasa? Kau membuat aku muak. Terserah kamu mau apa! Pokoknya aku takkan pulang ke rumah lagi. Uang belanja mu tetap jadi tanggungan aku."


"Kau akan tinggal di mana? Bersama Citra ?"


"Itu bukan urusan mu. Urus saja lelaki yang kau banggakan hebat melayani di ranjang!"


Karin menelan air ludah dengar betapa Alvan tidak peduli padanya lagi. Lelaki hanya bertanggung jawab sebatas seorang suami nafkahi uang belanja isteri. Ke mana rasa sayang Alvan pada dirinya? Apa karena kehadiran Citra?


Karin makin memupuk kebencian pada Citra biar tambah subur. Dari awal Citra jadi penghalang kebahagiaan Karin. Sudah pernah menghilang kini balik lagi hantui kehidupan Karin. Karin limpahkan kemalangannya pada Citra tanpa koreksi kesalahan sendiri.

__ADS_1


"Kau mencintai Citra?"


"Iya ..aku mencintainya! Aku tidak bisa bohongi hati kecil aku!"


"Lalu aku? Apa artinya aku di hatimu selama ini? Pelampiasan atau kambing hitam cinta kalian?"


"Aku akui pernah mencintaimu bahkan tergila-gila karena kau wanita pertama buat aku. Kehadiran Citra membuatku nyaman namun aku tak akui perasaan itu sampai dia menghilang. Aku tersiksa bertahun mencarinya sampai putus asa. Aku berusaha baik padamu agar aku tidak jatuh ke tangan wanita lain. Kau pikir tak ada wanita berusaha masuk ke dalam pernikahan kita? Aku berusaha setia sedang kamu apa? Jadi piala bergilir para cowok? Aku buta tak melihat sosok kamu seutuhnya." Alvan keluarkan semua ganjalan dalam hati selama ini.


"Aku ..." Karin tergugu tak bisa menjawab. Karin tahu di mana Citra namun dia sembunyikan dari Alvan. Bahkan Citra hamil Karin juga tahu. Semuanya Karin tutupi dari Alvan."Anak Citra masih ada?"


Alvan tertawa sinis. Ternyata Karin memang tahu segalanya tentang Citra. Artinya Citra tidak bohong kalau Karin menutupi keberadaannya dari Alvan.


"Mereka tumbuh sehat. Kau iri hati?"


"Mereka? Anaknya kembar?" tanya Karin surprise anak Citra kembar. Dia hanya tahu Citra hamil namun tidak tahu anak Citra kembar. Karin bisa bayangkan betapa angkuhnya Citra melahirkan penerus keluarga Lingga. Makin kuat posisi Citra di keluarga kaya itu.


Andai kata Karin tahu selain masih berstatus isteri Alvan ada status baru sedang menanti Citra yakni sebagai salah satu pewaris keluarga tak kalah kaya. Bisa mati terduduk wanita berhati kelam ini.


"Iya ..anakku kembar tiga! Kuingatkan kamu jangan coba-coba menyentuh mereka. Kau akan menyesal seumur hidup!" ancam Alvan sebelum muncul ide kotor di benak Karin. Karin mampu melakukan saja untuk memenuhi rasa egonya.


Karin tepuk tangan memuji kehebatan Citra mempersembahkan tiga anak sekaligus pada Alvan. Mereka hanya melakukannya sekali namun menghadirkan tiga anak. Dia melakukannya dengan Alvan beratus kali tetapi tidak satu benih pun tumbuh di rahimnya. Mengapa Tuhan tidak adil padanya?


"Kau yakin itu anakmu?"


"Van... kenapa kamu begitu kejam padaku? Ke mana rasa cinta dan sayangmu kepada aku? Hanya satu kesalahan kecil kau vonis hukuman yang sangat berat kepada aku!" kata Karin dengan mata berkaca-kaca berusaha menarik rasa iba Alvan..


Kalau dulu Karin bersedih Alvan akan merasa sangat sakit hati tetapi entah mengapa hari ini Alvan merasa semua itu hanya kepalsuan. Karin hidup dalam panggung sandiwara yang dia ciptakan sendiri.


"Karin jangan salahkan siapapun dalam masalah kita! Berselingkuh dan berhubungan cinta dengan lelaki lain kau anggap masalah kecil? Di mana moralmu sebagai seorang wanita muslim? Di dalam agama kita orang berselingkuh harusnya dirajam sampai mati. Sudahlah! Terserah kamu mau bagaimana aku harus pergi melihat papa dulu!" Alvan bangkit dari sofa menatap Karin sekilas pakai ekor mata. makin ke depan Alvan merasa makin jijik pada Karin yang tak menyadari kesalahannya.


"Van...kau akan datang lagi?" Karin perkecil volume suara merasa tak ada guna berdebat dengan Alvan yang masih penuh amarah.


"Akan kuusahakan tapi tidak janji! Papa sedang sakit, kantor juga banyak masalah. Kau jaga dirimu sendiri! Jangan ciptakan masalah baru lagi! Dan ingat jangan kau jerumuskan lelaki lain dengan penyakit HIV mu! Dosamu sudah tidak terampuni jangan kau tambah lagi!"


Karin merasa dirinya tak ubah seonggok sampah busuk yang harus dihindari. Puluhan lalat kotor hinggap di tubuhnya datangkan rasa jorok orang dekat dengannya.


Ternyata begini rasanya jadi orang buangan. Sakit sekali luka di hati. Perih sampai ke ulu hati. Tidak berdarah namun menyakitkan.


"Apa hubungan kita sudah tamat?"


Alvan mengangguk. Tak ada guna beri harapan indah pada Karin. Saatnya wanita itu bangun melihat kenyataan bahwa orang jahat akan dapat ganjaran setimpal. Siapa menanam bibit busuk maka akan menuai buah busuk juga.


Alvan meninggalkan Karin tanpa beri jawaban secara lisan. Kalau Karin pintar sudah paham Alvan sudah menutup pintu maaf untuknya. Ingin sekali Karin berteriak menyuarakan kesedihan di dalam hati.

__ADS_1


Alvan meninggalkan pesan pada Iyem untuk merawat Karin dengan baik. Alvan memberi pesan kalau Karin tak boleh terluka tanpa beri alasan jelas mengapa Karin tak boleh terluka. Alvan masih waras tidak buka aib Karin pada pembantu.


Karin tak boleh terluka karena darah Karin mengandung virus yang bisa menular bila sama-sama terluka. Alvan tak ingin membahayakan hidup pegawainya. Mereka hanya bernasib kurang beruntung harus mencari rezeki menjadi pembantu rumah tangga. Kalau boleh memilih semua orang bersedia menjadi orang kaya.


Alvan kembali ke ruang rawat inap papanya. Di sana cuma ada Afifa dan Azzam. Citra sudah tak tampak batang hidung. Tinggal kedua anak kecil main game di ponsel Azzam. Azzam dengan dewasa memberi kesempatan pada Afifa main ponsel mahalnya. Benda yang paling Azzam sayangi saat ini. Benda canggih pemberian Alvan.


"Mami mana?" tanya Alvan seraya duduk di antara kedua anaknya.


"Mami dipanggil oleh kakak perawat ke tempat opa dirawat." sahut Afifa sambil menurunkan ponsel ke paha. Azzam ketakutan kalau Afifa tidak sengaja jatuh benda pipih kesayangan Azzam. Tangan Azzam reflek terulur menampung ponselnya sebelum jatuh ke pangkuan adiknya.


"Hati-hati Mei!" seru Azzam tidak kasar. Azzam hanya menjaga barangnya supaya tetap utuh. Afifa tidak telaten macam Azzam. Afifa tetap anak kecil umumnya yang kadang suka kelepasan.


"Isshhh Koko ini...kalau rusak Amei ganti pakai tablet Amei! Lebih gede dari ini lagi!" ujar Afifa dengan mulut diruncingkan ke depan.


"Bukan gitu Mei...Koko kan hanya minta hati-hati! Amei masih mau main?" Azzam memindahkan ponsel dari pangkuan Afifa ke pangkuannya. Gerakan Azzam pelan takut ponsel mahalnya tergores apa lagi kalau jatuh. Bisa gelap gulita rumah Citra dibuat oleh kesedihan Azzam.


"Amei main sama papi saja! Amei masih rindu pada papi." ucap Afifa pindah duduk ke pangkuan Alvan. Bau harum bedak bayi mencolek hidung Alvan. Harum yang bikin Alvan betah berada di sekitar darah dagingnya.


"Anak papi wangi!" Alvan mengecup pipi Afifa dengan gemas. Betapa bahagia memiliki keturunan sempurna. Anak-anak membanggakan.


"Amei kan ada mandi pagi! Oya Pi...sudah berapa hari Amei tidak boleh video call dengan Cece..Amei kangen!"


"Kenapa tak boleh?" tanya Alvan penasaran. Tak urung hatinya tercekat merasa tak enak. Apa yang terjadi pada Afisa.


"Cece sedang lomba! Papa larang kami ganggu Cece!" Afifa menjelaskan dengan gaya ciri khas anak kecil.


"Ooo.." Alvan lega ternyata Afisa sedang berlomba. Setiap anaknya punya ciri khas sendiri. Azzam sangat dewasa, Afisa pintar dan punya bakat tersendiri dan si bontot yang cantik jelita walau tidak selincah Azzam.


"Kapan kita jumpa Cece Pi? Mami bilang tunggu kumpul duit untuk kumpul kembali sama Cece di Beijing. Kami akan tinggal di sana selamanya."


Alvan di buat bodoh oleh cerita Afifa. Alvan tak sangka Citra punya niat tinggal di Tiongkok. Apakah Citra benar-benar tidak memaafkannya? Mengaku tidak marah pada Alvan tapi secara diam-diam susun rencana bawa kabur anak-anak.


Alvan takkan biarkan hal itu terjadi. Malahan dia harus pulangkan Afisa di tempat semestinya yakni kumpul bersama keluarga kandung.


"Kita akan jumpa Afisa kalau kalian libur. Kita pergi bersama. Sama Mami juga." Janji Alvan disambut hadiah kecupan di wajah Alvan.


"Thank you Pi! Love you.." Afifa peragakan bentuk hati pakai jari jempol dan telunjuk tanda cinta.


"Papi too!"


Azzam tidak peduli ocehan Afifa menarik perhatian Alvan.


Azzam sibuk buka internetan cari ada kabar menarik hati. Azzam lancar berselancar di dunia Maya. Paling chatting dengan Andi yang jaga rumah.

__ADS_1


"


__ADS_2