ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN

ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN
Jemput Oma 2


__ADS_3

Hubungan batin antara anak dan orang tua tidak akan putus walaupun apapun terjadi. Seperti Pak Jono yang telah mengkhianati Alvan tetapi Alvan tetap memperlihatkan tanggung jawab sebagai seorang anak.


Alvan menanti dengan cemas karena penumpang satu persatu keluar tapi mama dan saudara sepupunya belum nampak. Apa mereka tidak jadi berangkat atau numpang pesawat lain.


Citra menyentuh lengan Alvan memberi support bahwa semua akan baik-baik saja. Alvan membalas sentuhan Citra berusaha hadiahkan senyum hangat.


"Alvan..." terdengar seruan dari jauh membelah gendang kuping Alvan. Seorang perempuan tua berlari kecil hampiri Alvan. Di belakangnya ikut seorang lelaki muda yang dipastikan bukan Abdullah.


Alvan maju menyambut mamanya. Kelegaan terpancar di wajah Alvan begitu melihat sosok yang dinanti telah muncul.


Giliran Citra bergetar grogi harus berjumpa dengan mertua. Hampir 10 tahun mereka tidak pernah bertemu. Bahkan ketika Citra meninggalkan rumah Alvan di Jogja mereka juga tidak bertemu. Citra tidak tahu bagaimana pemikiran mertuanya terhadap dirinya.


Citra dan kedua anaknya membeku tidak bergeming memandangi Bu Dewi memeluk Alvan. Azzam dan Afifa menatap wanita yang disebut Oma itu dengan mata nanar. Keduanya belum bisa menerima kehadiran orang lain yang secara tiba-tiba muncul. Begitu banyak misteri di kehidupan mami mereka. Kini satu persatu mulai terkuak. Bagi Afifa hanyalah sekedar pemberitahuan bahwa mereka mempunyai keluarga namun bagi Azzam ini merupakan sebuah konspirasi di masa lalu.


"Ma selamat pulang kembali! Bagaimana kabar Mama selamat tinggal sama keluarga di Kalimantan?"


"Sangat baik semua baik sama mama. Oh ya ini anaknya teman mama yang kebetulan sedang bertugas di sini. Makanya mama ikut dia pulang agar Abdullah tidak perlu repot-repot mengantar Mama lagi." Bu Dewi memperkenalkan lelaki muda yang berdiri di samping dengan senyum di kulum.


Alvan bergerak menyalami pemuda yang telah berbaik hati mengantar mamanya pulang tepat waktu.


"Terima kasih telah mengantar Mama aku!" kata Alvan dengan sopan.


"Oh tidak apa ini hanya kebetulan saja... perkenalkan aku Rakiman tetangga bang Abdullah. Kebetulan aku ada penataran di sekitar sini. Kami datang berkelompok satu tim dinas pendidikan." pemuda yang baik hati itu menunjuk beberapa orang yang menanti mereka dengan senyum ramah.


Alvan melambai tanda bersahabat. Kelompok ASN itu membalas lambaian Alvan tetap memberi senyuman. Ini membuktikan betapa ramahnya orang dari belahan timur. Tak ada kesan arogan di raut wajah mereka.


"Nak Rakiman ayo singgah ke rumah!" ajak Bu Dewi sebagai ramah ramah sesama orang Kalimantan.


"Oh tidak bisa bu! Karena kami datang berkelompok dan tempat penginapan kami telah disediakan oleh Pemda kami. Asal Ibu telah tiba dengan selamat kami telah bersyukur. Kalau gitu kami permisi karena Ibu telah selamat berkumpul dengan keluarga."


"Mana boleh gitu nak? Bagaimana kalau kita makan malam bersama? Anak aku Alvan siap mengawal kita makan malam bersama." ujar Bu Dewi lagi ingin balas jasa kebaikan Rakiman dkk.


"Tidak usah repot Bu! Kami harus segera bergabung dengan tim lain. Permisi dulu. Assalamualaikum..."


"Waalaikumsalam..."


Rakiman bergabung dengan timnya untuk bertolak ke mes yang telah disediakan panitia Penataran.


Citra dan kedua kurcacinya masih luput dari pantauan mata tua Bu Dewi. Bu Dewi hanya fokus pada Alvan. Sekian lama tidak berjumpa dengan anak satu-satunya menumbuhkan rasa rindu yang cukup panjang di hati wanita tua itu.


"Kita pulang nak! Mama sudah tak sabar ingin berjumpa dengan papa. Bagaimana kabar papamu sekarang?"


"Sebelum jumpa papa Alvan ingin membeli hadiah pada mama. Hadiah yang akan membuat mama bahagia selamanya."


Bu Dewi menyipitkan mata merasakan Alvan sedang menyembunyikan sesuatu. Tidak biasanya Alvan suka main rahasia.


"Hadiah apa? Anak Karin kembar?" tebak Bu Dewi teringat pada Karin.


Alvan tidak menjawab malah membimbing Bu Dewi menuju ke arah Citra dan kedua anaknya. Kali ini Bu Dewi yang terpana melihat sosok Citra berdiri di hadapannya dengan senyum melembut. Bu Dewi tidak menyangka akan jumpa dengan Citra lagi. Cukup lama nama Citra menghilang dari keluarga mereka. Mengapa tiba-tiba Citra muncul lagi?

__ADS_1


Bu Dewi tidak dapat menyembunyikan rasa kaget melihat Citra. Mata yang mulai kabur itu berkaca-kaca tanda akan segera menurunkan air dari pupil mata.


"Citra??? Benarkah kamu Citra?"


Citra mengangguk lalu mengulurkan tangan menyambut tangan Bu Dewi. Citra menyalami Bu Dewi dengan takzim layak seorang anak terhadap ibu.


Secara refleks Bu Dewi mengelus kepala Citra dengan hati sangat terharu. Dari dulu Bu Dewi sangat menyukai Citra tetapi karena Alvan lebih menyukai Karin maka Bu Dewi tidak dapat berbuat apa-apa untuk melindungi Citra.


"Ayo anak-anak salami Oma!" Citra memberi aba-aba pada kedua kurcacinya untuk menyalami Bu Dewi. Walau dipenuhi oleh tanda tanya kedua anak itu tetap melaksanakan perintah Citra tanpa membantah.


Bu Dewi makin terpana melihat dua sosok yang sangat familiar baginya menyalaminya dengan salam anak sholeh.


"Ini..ini.." Bu Dewi tidak dapat berkata-kata selain menunjuk Azzam dan Afifa dengan bingung.


"Ma mereka anak-anak aku dengan Citra! Mereka kembar tiga." Alvan menjelaskan untuk menjawab segala kebingungan Bu Dewi.


Penjelasan Alvan nyaris merontokkan jantung Bu Dewi. Beliau tidak menyangka telah memiliki cucu yang sangat cantik-cantik. Mata yang tadi berkaca-kaca kini telah melelehkan air mata. Air mata bahagia yang tak dapat diungkap dengan untaian kalimat.


"Ayo panggil Oma...ini Oma kalian!" Bu Dewi menunjuk dadanya penuh hawa gembira.


Citra mangut kode pada kedua anaknya untuk memenuhi permintaan wanita tua itu.


"Oma .." kata Azzam dan Afifa serentak.


Bu Dewi tidak malu-malu lagi memperdengarkan suara tangis bahagianya. Panggilan ini telah dia nanti bertahun-tahun lalu. Mendengar Karin hamil Bu Dewi bahagia tidak kepalang tanggung walaupun tidak menyukai Karin. Namun kini dia memiliki yang lebih berharga daripada anak dalam kandungan Karin.


"Siapa namamu sayang?"


"Namaku Amei.." kata Afifa gunakan nama panggilan.


"Bukan ma... namanya Afifa dan ini Azzam! Ada satu lagi bernama Afisa. Mereka semua cucu mama." Alvan kembali menjelaskan pada mamanya agar jangan kebingungan mendengar panggilan Afifa.


"Oh... nama yang sangat bagus. Namamu Afifa Lingga ya?"


"Kok Oma tahu nama lengkap Amei? Padahal kita baru kenalan. Ini Azzam Lingga. Kokonya Amei." mulut ceriwis memberi penjelasan membuat kepala Bu Dewi sedikit pusing.


"Iya... iya...ayo kita pulang! Oma tak sabar ingin jumpa opa kalian? Sudah jumpa Opa?"


"Sudah Oma. Waktu di rumah sakit." sahut Afifa dengan polosnya.


Kening Bu Dewi berkerut mendengar kata Rumah Sakit. Mengapa suaminya ada di rumah sakit. Apa yang telah terjadi? Mata Bu Dewi beralih ke Alvan yang menunduk tak berani menantang mata mamanya.


Rencana Alvan ingin menjelaskan perlahan tentang penyakit Pak Jono namun Afifa duluan membocorkan keberadaan Pak Jono. Alvan tak ada jalan lain selain jujur mengatakan hal sesungguhnya.


"Ada apa nak? Mengapa papamu ada di rumah sakit?" todong Bu Dewi dengan cepat.


"Ma... papa kelelahan kerja di Jogja. Jadi dia tak sadar hipertensinya meningkat maka dia terserang stroke ringan. Tapi alhamdulillah kondisi Papa telah membaik." Citra yang buka mulut menjelaskan karena tahu Alfan takkan sanggup membuka mulut.


"Stroke? Ya Allah... kita harus segera ke rumah sakit untuk melihat kondisi papamu!" seru Bu Dewi tak sabar ingin segera meninggalkan bandara.

__ADS_1


"Ma.. Mama harus tenang karena Papa baik-baik saja. Jangan nanti karena mama histeris Papa drop lagi! Ini akan lebih membahayakan kesehatan papa. Mama harus tenang karena mama masih harus menjaga cucu-cucu Mama ini. Apa Mama tidak melihat bagaimana cantiknya cucu-cucu Mama ini?" Alvan gunakan kedua anaknya sebagai senjata untuk mengalihkan perhatian Bu Dewi daripada kondisi Pak Jono.


Bu Dewi mengangguk membenarkan kata-kata Alvan. Kini dia telah memiliki cucu-cucu yang sangat cantik yang tentunya akan membutuhkan perhatian lebih. Bu Dewi tidak rela melewatkan waktu yang telah terbuang.


"Iya...iya... Mama harus tenang. Mama harus perlihatkan pada Papa bahwa Mama sangat tegar. Ayo kita segera ke rumah sakit! Mari sini sayang biar Oma yang gandeng kalian!"


Citra mendorong Azzam agar mau mendekat ke Bu Dewi. Azzam sibatu karang akhirnya mengalah bersedia digandeng oleh Bu Dewi melewati pelataran bandara menuju ke tempat parkir.


Alvan dan Citra saling melempar senyum senang karena misi mereka untuk menenangkan Bu Dewi telah berhasil. Berkat kedua anaknya Bu Dewi berhasil menenangkan diri.


Kini Alvan bisa sedikit tenang membawa mamanya berjumpa dengan papanya. Semoga saja Bu Dewi tidak drop melihat kondisi papanya. Alvan tak mungkin membiarkan kedua orang tuanya sama-sama jatuh sakit. Alvan tidak pungkiri semua ini gara-gara kebejatan Karin. Pak Jono sendiri juga bersalah karena tergiur oleh tubuh molek menantu sendiri.


Bu Dewi duduk di jok belakang diapit oleh dua cucu yang hilang. Kedua tangan Bu Dewi tak henti membelai Azzam dan Afifa. Keduanya bak permata paling mahal di dunia bagi Bu Dewi. Bu Dewi tidak menyangka akan mendapat kejutan yang sangat menyentuh hati. Hadiah Alvan kali ini benar-benar membangkitkan semangat hidup Bu Dewi.


"Kalau boleh Oma bertanya! Selama ini kalian tinggal di mana?" Bu Dewi sengaja tidak bertanya pada Citra melainkan kepada kedua anaknya. Menurut Bu Dewi jawaban anak-anak ada nggak jawaban yang paling jujur.


"Kami lama tinggal di Beijing Oma! Cece Afisa masih tinggal di situ. Katanya belum bisa pulang karena masih banyak kegiatan." sahur Afifa.


"Beijing? Jauh amat... emang ngapain kalian dua di sana?"


"Mami kuliah dan kami sekolah di sana. Mami kami itu dokter hebat loh Oma! Itu bisa menyembuhkan Opa dalam satu hari." Afifa membanggakan mamanya pada Oma.


Bu Dewi melirik ke arah Citra yang hanya mendapatkan belakang kepala wanita itu. Bu Dewi belum puas mengorek keterangan dari kedua cucunya. Bu Dewi tidak meragukan sedikitpun pengakuan Alvan terhadap kedua anak itu. Sosok Azzam telah menggambarkan Alvan di masa kecil. Bu Dewi hanya menyesalkan mengapa Citra tidak berterus terang kalau dia telah memiliki anak dengan Alvan. Mengapa justru dia menghindar sampai jauh ke luar negeri.


"Jadi sudah berapa lama kalian tinggal di sini?" pancing Bu Dewi masih mengorek keterangan dari mulut mungil Afifa. Kalau dia bertanya langsung pada Citra pasti akan bertele-tele.


"Sudah hampir 8 bulan kami di sini Oma. Kami tinggal di rumah yang kecil tidak seperti rumah papi yang sangat besar. tapi Amei menyukai rumah Amei walaupun kecil. di sana Amel mempunyai tante Nadine kak Andi Kak Tokcer Kak Bonar dan nek Menik."


"Ooo... Amei senang jumpa dengan Papi?"


"Senang dong! Papi Amei orangnya baik dan sayang pada kami Amei dibeliin boneka dan tablet yang sangat mahal. Koko dibeliin HP mahal dan komputer kecil sekali!" Afifa menganggap laptop yang dibeli Alvan untuk Azzam sebagai komputer.


"Apa Amei dan Koko mempunyai Papi baru?"


"Papi baru? Memangnya Papi yang ini kenapa oma harus diganti dengan yang baru?" Afifa berbalik bertanya tidak memahami pertanyaan Bu Dewi.


Alvan merasa pertanyaan Bu Dewi sudah tidak pada tempatnya. Tidak seharusnya Bu Dewi bertanya gitu pada anak-anak. Itu bukan pertanyaan melainkan tuduhan terhadap Citra.


"Ma...jangan tanya macam-macam pada anak-anak!" pinta Alvan merasa tak enak pada Citra. Leher Citra tercekik oleh pertanyaan yang seperti menuduh Citra telah duakan Alvan.


"Mami kami wanita mulia tidak mengingkari kesetiaan sebagai seorang isteri dari lelaki yang menyimpan perempuan lain di luar sana. Kalau Oma ingin bertanya mengapa mami menghindar dari papi maka Koko akan jawab wanita mana sanggup melihat suami gunakan dua selimut dalam satu tempat tidur." ujar Azzam tiba-tiba mengeluarkan kalimat menohok menyudutkan Alvan.


Bu Dewi terbelalak kaget mendengar nada dingin Azzam tatkala maminya disudutkan. Bu Dewi tak menyangka bocah kecil yang dia anggap lugu mampu meluncurkan kata-kata sinis.


Alvan dan Citra menghela nafas. Bu Dewi tidak tahu sedang hadapi anak model apa? Usia boleh delapan tahun tapi cara pikir Azzam melebihi pikiran orang dewasa.


"Siapa yang ajar kamu omong gitu nak? Itu tidak baik omongin papi sendiri." Bu Dewi belum sadar sedang ngobrol dengan anak super pintar. Di mata Bu Dewi Azzam tak beda dengan Afifa si mungil cantik.


"Baik buruk seorang manusia jangan dinilai dari omongan tetapi dari kenyataan! Oma mungkin lebih tahu apa yang telah terjadi di masa lampau. Mengapa mami sampai meninggalkan kota ini merantau jauh? Itu pertanyaannya harus Oma jawab sebelum bertanya tentang mami kami!" suara Azzam makin dingin membuat suasana di dalam mobil makin mencekam. Dingin melebihi AC yang sedang bekerja dalam mobil.

__ADS_1


__ADS_2