
Karin tersenyum senang Alvan tidak tutup hati untuknya. Seharusnya Alvan benci padanya namun laki itu singkirkan semua dendam agar hidup lebih tenteram.
"Terima kasih Van! Aku akan kabari kalian kalau dia lahir. Dan jangan lupa beri kabar kalau anak-anak kamu lahir."
"Insyaallah...kami langsung balik ya! Semoga kamu bahagia dan jaga kesehatan." Alvan bangkit pamitan.
Karin mengangguk. Semua telah berubah. Tak ada kesempatan buatnya untuk kembali ke masa lalu. Ustad Syahdan adalah masa depannya. Suka tidak suka Karin harus bisa melupakan masa lalu sambut masa depan baru.
Heru dan Alvan pamitan pada ustad dan seluruh penghuni pesantren. Ntah kapan mereka akan kembali ke situ. Alvan tak punya alasan lagi untuk temui isteri orang. Alvan harus tahu diri tidak usik ketenangan Karin.
Di rumah telah menanti bidadari yang lebih baik. Alvan harus buang semua kenangan tentang Karin. Tak boleh ada sisa. Semua yang berkaitan dengan Karin harus usai. Alvan harus cek ulang galeri ponsel untuk lihat apa ada sisa foto Karin. Begitu laptop dan monitor komputer. Dulu Azzam sempat melihat foto Karin tersisa di komputer bawa masalah buat Alvan. Hampir saja hubungan baik anak bapak buyar.
Alvan harus hati-hati agar tidak tertangkap punya foto kenangan Karin. Alvan harus bersihkan semua profil Karin dari ingatan. Cerita tentang Karin sudah tamat. Dia harus menatap ke depan bersama Citra dan anak-anak.
Citra yang setia telah menanti di rumah. Bik Ani sudah bawa pembantu baru untuk ganti Iyem yang telah menikah dengan Bonar. Setelah menikah secara otomatis Iyem harus pindah ke rumah Bonar. Tak mungkin Iyem masih kerja sementara di rumah ada Bonar telah menanti.
Untunglah kini ada pak RT bantu Bonar jaga gudang. Pak RT dengan senang hati gantian dengan Bonar piket malam kawal gudang. Pak RT si jomblo karatan tentu makin senang ada masukan lebih besar dari pada hanya urus masalah warga yang bikin rambut cepat memutih.
Heru dan Alvan tiba di rumah lewat waktu Isya. Heru tentu saja kembali pada bidadari bermata sipit yang telah menunggu di rumah. Sedang Alvan kembali pada isteri berperut gendut.
Citra telah menunggu di ruang keluarga duduk tak bisa bergerak di kursi malas berbahan lembut. Citra tak ubah seperti satu karung beras goni besar. Bertumpuk jadi satu. Goni yang sangat cantik.
Alvan menciumi Citra melepaskan kegalauan dalam hati. Setelah jumpa Citra hati Alvan berubah tenang. Semua kesan buruk sirna berganti hati penuh harapan.
"Gimana pestanya mas?" tanya Citra melihat Alvan sangat tenang.
"Pesta keluarga besar pesantren. Ya cuma anak-anak penghuni pesantren! Gimana jagoan papi? Apa menyusahkan mami?" Alvan mengelus perut berisi kurcaci miliknya.
"Mereka anteng kok! Mas jumpai anak-anak dulu dah! Dari tadi kan belum jumpa Koko dan Amei!"
"Papi mandi dulu! Biar bersih baru jumpa anak-anak. Tunggu situ saja. Jangan bergerak!"
"Mau gerak ke mana? Jalan saja sudah berat. Cepat mandi! Cuci semua kenangan dari jaman kuno!"
Hati Alvan tercekat dengar sindiran Citra. Mengapa Citra omong gitu? Apa mungkin Citra bisa baca pikiran Alvan ingin hapus semua kenangan tentang Karin. Atau ibu hamil perasaan lebih peka.
Alvan tidak beri reaksi agar Citra tidak curiga dia sedang galau akibat omongan Citra. Alvan tak boleh goyah terkenang pada hal bodoh di masa lalu. Asli harus tutup buku.
Alvan jumpai Afifa dan Azzam sebelum anak-anak tidur. Agar tidak dibilang pilih kasih Alvan sempatkan diri jenguk Gibran untuk ucapkan selamat malam. Setelah pasti anak-anak dalam kondisi fit barulah Alvan temui perempuan masa depan.
Citra masih duduk di kursi malas sambil nonton televisi. Seperti biasa jam segini tv dihiasi cerita sinetron bikin otak panas dingin. Kisah hidup Citra cocok diangkat jadi kisah sinetron karena lebih lika liku. Wanita ini jatuh bangun pertahankan anak-anak hingga jadi anak baik.
"Serius amat!" tegur Alvan berjongkok di depan Citra untuk lihat perut Citra yang buncit. Alvan gunakan kedua tangan mengelus perut itu penuh kasih sayang.
"Bukan serius tapi bosan. Berapa bulan lagi aku harus begini?" Citra mengeluh mulai dihinggapi rasa bosan kerjanya hanya makan tidur menghitung detik demi detik berlalu.
"Sabar ya sayang! Nggak lama lagi kok! Paling dua bulan gitu. Mas akan selalu di sampingmu. Apapun kemauan kamu akan mas ikuti asal kamu senang."
Citra tersenyum menjulurkan tangan membelai rambut di kepala Alvan. Citra seperti ibu-ibu tua sedang bermain dengan cucu bertubuh besar. Alvan senang saja disayang isteri. Memang itu yang diharapkan.
"Doakan aku sehat saja!"
"Tak usah disuruh. Mau mas bawa ke kamar?"
"Mas makan dulu. Apa tadi sudah makan malam?"
"Belum...mas makan apa adanya saja! Tak usah merepotkan Bik Ani. Biar mas minta Bik Ani sediakan makanan. Kamu duduk manis di situ saja!"
__ADS_1
"Ya mas..."
Alvan segera ke dapur cari Bik Ani. Semoga saja masih ada sisa makanan untuk dia. Kalau sudah kosong dia harus pesan makanan online. Alvan tak tega merepotkan Citra dan Bik Ani hanya untuk makan malam.
Di dapur tak ada Bik Ani. Hanya ada seorang wanita bertubuh sintal sedang lap piring. Alvan belum pernah lihat wanita ini wajar kaget ada orang baru.
"Bik Ani mana?" kata Alvan datar merasa tak perlu ramah tamah dengan wanita dewasa.
Wanita itu tersenyum manis sedikit centil. "Bik Ani sudah ke rumah sebelah. Ada apa pak? Aku akan layani bapak."
"Tak perlu...minta Bik Ani sediakan makan malam aku! Dia tahu kebutuhan aku!"
"Aku juga tahu kok! Bik Ani sudah ajar aku kebutuhan semua penghuni rumah. Bapak tunggu saja di ruang makan. Dara akan urus bapak." ujar wanita yang bernama Dara itu.
Alvan menelan air ludah geli dengar suara centil dibuat-buat semanis mungkin. Nampaknya Bik Ani telah salah rekrut anggota baru ke rumah mereka. Alvan bukannya senang ada wanita centil di rumah tapi risih. Pengalaman buruk ajar Alvan tak usah beri peluang pada wanita punya bakat meniru gaya ulet bulu.
Alvan segera tinggalkan dapur menemui Citra untuk cari tahu siapa yang di bawa Bik Ani. Mental Alvan sedang di beri cobaan dunia lagi. Alvan tak mau berlarut urusan beginian. Orang begini harus segera disingkirkan agar tak jadi sumber penyakit.
Citra masih setia nonton sinetron kaum ibu-ibu. Selain ini apa yang bisa dilakukan Citra lagi. Ke rumah sakit tak mungkin lagi.
Alvan ambil tempat di samping Citra. Alvan ingin protes dari mana munculnya wanita yang mirip penggoda selevel Viona di rumah mereka. Keluarga yang sedang bahagia bisa runyam bila ada satu saja ulat bulu.
"Sayang...apa kita ada pembantu?"
"Oh iya...itu saudara sepupu Iyem. Katanya baru saja dicerai suaminya. Bik Ani kasihan maka bawa dia ganti Iyem. Orangnya asyik kok! Kenapa? Mas kurang suka?"
Alvan tak mungkin langsung beri vonis karena belum terbukti apapun. Cuma feeling Alvan sebagai seorang lelaki pengalaman pembantu baru ini akan bawa masalah. Ntah buat dia atau Heru.
"Bukan tak suka tapi gayanya kurang sopan!"
"Ya terserah deh! Mas cuma minta dia tak boleh berada di sekitar mas."
"Dia salah apa mas?"
"Dia tak salah cuma mas tak suka wanita kelewat maju. Ayok kawani mas makan!"
"Iya mas! Hamil kali ini bikin aku kapok. Rasanya semua serba lamban." ujar Citra berusaha bangkit sendiri dari kursi malas.
Alvan ulurkan tangan membantu tubuh yang makin subur itu berdiri. Citra makin mirip bola bundar. Kecil tapi punya perut segede karung beras.
Dengan hati-hati Alvan bimbing Citra lewati lorong menuju ke ruang makan. Di sana ada Dara sedang menata meja makan.
Dara agak kaget melihat Alvan datang bawa Citra. Wanita ini pikir Alvan akan datang sendiri maka dia pasang aksi ulat bulu bikin Alvan gatel. Kancing baju atasan sengaja dibiarkan terbuka perlihatkan belahan dua bukit bulat tidak putih. Memang bulat dan besar. Ini merupakan ujian bagi cowok hidung belang.
Citra sendiri cukup terkejut lihat gaya Dara melayani majikan makan malam. Kalau iman Alvan tipis tentu bukan makanan jadi menu utama tapi pemandangan tak lazim.
"Dara...apaan kamu ini? Di mana sopan santun kamu?" bentak Citra gerah lihat Dara bergenit di hadapan Alvan. Kini Citra mengerti mengapa Alvan keberatan Dara kerja di rumah mereka.
Dara tampak malu dan grogi ketangkap ingin goda majikan laki. Baru satu aksi sudah dipatahkan oleh Citra. Tampaknya bos lakinya bukan lelaki gampang dirayu pakai bahasa tubuh. Masih harus ada cara lain agar dia bisa duduk jadi salah satu petinggi di rumah ini.
"Maaf nyonya! Tadi aku kepanasan. Aku akan segera rapikan." kata Dara malu segera kabur dari ruang makan.
Alvan tersenyum sebab Citra lihat sendiri tingkah nakal Dara. Orang begini tak boleh lebih lama di rumah ini. Pasti akan bawa malapetaka.
"Kau lihat sayang?"
Citra mengangguk benarkan insting Alvan tentang kenakalan Dara. Baru dua hari di sini sudah berani berbuat macam-macam.
__ADS_1
"Aku akan minta Bik Ani pulangkan dia ke kampung. Biar kita cari yang lain." ujar Citra seraya letakkan pantat di kursi meja makan. Alvan tak tinggal diam bantu Citra dengan penuh kasih sayang.
"Terserah kamu saja! Kamu kan nyonya rumah ini."
"Besok aku akan bicara dengan bik Ani. Mas bisa layani diri sendiri kan?"
"Bisa dong! Kamu duduk manis saja!"
Dara mendengar percakapan antara Alvan dan Citra berubah marah Citra hendak kirim dia pulang kampung. Tidak mudah datang ke kota tiba-tiba disuruh pulang hanya karena ingin menarik perhatian bos.
Dara merasa dia cantik mampu saingi Citra. Citra tidak menarik dengan tubuh bulat kayak bola. Sedang dirinya sintal pasti akan jadi pilihan terbaik buat cowok. Apapun akan Dara lakukan agar tetap bertahan di keluarga kaya ini. Siapa tahu rezeki naik pangkat jadi nyonya bos. Angan muluk orang berhati setan.
Pagi subuh Citra segera bangun seperti biasa. Wanita ini mengambil air wudhu untuk bersiap sholat berjemaah dengan seluruh keluarga. Berbadan dua dengan kehamilan luar biasa tak surutkan niat Citra hadir dalam ruang sholat di rumah.
Citra bangunkan Alvan tanpa menyentuh suaminya karena dia telah berwudhu. Tetap ada batasan walau mereka pasangan sah.
"Mas..bangun!"
Alvan membuka mata. Seraut wajah teduh menyejukkan hati terpapang jelas di depan mata.
"Jam berapa?"
"Waktunya sholat subuh. Aku tunggu di luar ya! Anak-anak mungkin sudah bangun. Semalam mereka cepat tidur."
"Tunggu mas saja! Kita bareng keluar." Alvan meloncat bangun tak ijin Citra jalan sendiri.
"Aku cuma hamil bukan cacat. Aku tunggu di luar sekalian lihat anak-anak. Mas yang cepat."
"Hati-hati sayang." seru Alvan sebelum Citra mencapai pintu.
"Iya..."
Citra berjalan bertatih-tatih menuju ke ruang sholat. Dari atas dua bocah ganteng dan cantik bersiap turun bergabung dengan Citra. Azzam lebih duluan turun karena kasihan pada maminya berjalan dengan susah payah mencapai ruang sholat.
Sebelum capai ruang sholat mereka harus lalui koridor terbagi dua. Sebelah kiri ke dapur sedang arah kanan ke ruang sholat.
Azzam segera menggandeng tangan Citra beri kekuatan untuk berjalan lebih jauh. Baru beberapa mereka jalan tiba-tiba Citra terhuyung akibat lantai licin. Badan bundar Citra bergoyang-goyang akan terbanting ke lantai. Tanpa pikir panjang Azzam buang badan ke lantai untuk jadi kasur bagi Citra agar tidak terantuk ke lantai.
Citra terjatuh menimpa tubuh Azzam yang duluan korban diri lindungi sang mami. Afifa yang saksikan kejadian ini berteriak kencang tak sangka rencana sholat jadi musibah bagi Azzam dan maminya.
"Astaghfirullah...Ya Allah..." teriak Afifa gegerkan seisi rumah.
Alvan segera keluar kamar melihat pemandangan miris. Citra terduduk di atas tubuh Azzam. Azzam tak bergerak sama sekali akibat kena timpa tubuh maminya yang beratnya berlipat ganda dari biasanya.
Alvan segera mengangkat Citra cepat. Alvan sendiri nyaris terjatuh akibat lantai sangat licin. Untunglah Gibran datang membantu. Afifa tak tahu harus bagaimana saking panik melihat sang mami jatuh menimpa Azzam.
Gibran mengangkat Azzam sedang Alvan mengangkat Citra. Citra sangat syok sampai wajahnya berubah putih. Citra kaget karena takut terjadi sesuatu pada bayi dalam perut dan juga Azzam yang tampak tidak bergerak.
"Amei ..panggil opa!" teriak Gibran panik melihat keponakan pingsan. Alvan mendudukkan Citra di sofa lantas cari air minum untuk isterinya.
Alvan bingung tak tahu yang mana harus dia urus dulu. Citra atau Azzam. Keduanya sama penting dalam hidupnya.
Gibran menempatkan Azzam di Sofa sambil mengguncang tubuh si lajang itu. Anak itu masih pingsan belum ada tanda sadar.
"Kau tak apa sayang?" Alvan mendekap tubuh Citra.
"Lihat Koko dulu! Dia tidak bergerak. Lihat anakmu mas!" teriak Citra histeris lihat putra kesayangan terkapar tak ada sadar.
__ADS_1