
Mereka berenam telusuri sepanjang pantai melihat pasangan bermesraan nikmati indahnya pantai di malam hari. Laut memang tak dapat dilihat dengan jelas namun deburan ombak jelas di kuping.
Alvan menggandeng Citra dengan erat seolah tak ingin berpisah. Waktu yang terbuang satu persatu dikumpulkan Alvan jadi satu gumpalan utuh. Semoga tidak buyar lagi.
Di depan empat anak bercanda ceria seakan dunia ini hanya ada kisah indah. Tak ada duka selain suka cita.
"Aku bahagia begini! Tak ada tekanan." kata Alvan mengalahkan suara ombak.
"Aku juga mas! Aku senang mas tidak pamer kekuasaan di depan anak-anak. Aku tahu mas mampu tapi kita harus didik anak-anak tahu hidup susah. Orang tajir macam mas dan om Heru hanya tinggal berseru maka segala beres. Itu bukan cara didik anak yang baik. Mereka jadi malas usaha karena tahu punya backing kuat."
Alvan setuju. Kalau dia mau bisa saja unjuk gigi dia memiliki segalanya. Tapi ini liburan bukan pamer power tapi pamer keluarga bahagia.
"Aku ikuti semua saranmu. Kita liburan seperti turis biasa saja. Itu mobil disediakan oleh perusahaan cabang kita sini. Kau hanya perlu katakan apa yang kau inginkan. Aku akan penuhi semuanya."
Citra tertawa dengar nada Alvan begitu yakin dia ingin materi. Citra tak butuh semua itu. Citra hanya butuh Alvan dan anak-anak. Uang bisa dicari selama kita dalam kondisi utuh. Sedang kedamaian tak bisa dibeli dengan gunung emas sekalipun.
"Cukup begini. Mas tidak sombong pamer ini itu aku sudah puas. Ayo kita pulang! Angin sudah kencang. Amei kurang tahan angin dingin. Kesehatan Amei tidak sebagus kedua kakaknya."
"Baiklah! Kita panggil anak-anak dulu!"
"Woi... anak-anak kita pulang! Sudah dingin..." seru Citra kencang agar terdengar oleh anak-anak yang sedang canda ria.
Anak-anak segera balik badan mengejar orang tua mereka. Betapa bahagianya keluarga ini. Gibran yang selama ini hidup hanya ditemani opa Oma serta pembantu merasa menemukan surga yang hilang. Ada yang menyayangi dan menegur kalau salah. Semangat Gibran untuk saingi anak-anak Citra makin tertanam di dada. Dia omnya ketiga bocah kembar. Dia harus beri contoh lebih baik lagi.
Supir merangkap guide Alvan selama di Bali menanti dengan setia di tempat parkir. Saatnya dia jemput majikan pulang ke villa. Besok masih ada tugas kawal majikan keliling pulau Dewata. Masih banyak tempat harus dikunjungi.
Sesampai di villa Citra membersihkan anak-anak dari kotoran pasir. Kaki keempat anak penuh pasir akibat berlarian sepanjang pantai. Habis itu baru mereka tidur di kamar masing-masing.
Citra berinsiatif bersihkan sepatu anak-anak dari kotoran pasir namun dilarang Alvan. Alvan tak rela isterinya hidup seperti dulu. Menghemat mendekati pelit. Alvan sudah janji akhiri derita Citra selama ini.
Alvan mengambil sepatu anak-anak berniat buang ke tempat sampah. Citra menjerit kecil kesal pada kesombongan Alvan.
"Mas gila ya! Itu sepatu buat mereka pakai besok. Apa mereka harus nyeker?" seru Citra sewot Alvan berbuat semena-mena anggap semua bisa dibeli dengan uang.
"Aduh sayang...cuma sepatu! Besok pagi sepatu baru sudah ada di sini! Kamu cuci apa bisa kering sampai besok? Sudah tinggalkan saja! Kasih ukuran kaki mereka saja!" Alvan tetap ngotot tak mau Citra disibukkan oleh hal tak perlu.
Citra menghela nafas. Apa yang dikatakan Alvan ada benarnya tapi tak perlu buang sepatu yang masih bagus. Bawa pulang masih bisa dicuci.
"Beli banyak barang nanti melewati batas berat bagasi. Kita harus bayar lagi." omel Citra belum menyerah. Jiwa emak-emak pelit menyembul dari kepala Citra.
"Beli semau kamu. Kita pulang dengan pesawat kita." ujar Alvan arogan mulai pamer dia the have.
Citra kesal Alvan sok kaya pamer dia punya dan mampu. Dari awal Citra sudah ingatkan Alvan untuk tampil alami tak perlu pamer kekayaan. Citra tahu Alvan memiliki segalanya namun berlibur layak orang umum. Tinggalkan embel-embel dari keluarga Lingga. Dalam sekejap Alvan lupa janji hendak unjuk dia punya kuasa.
__ADS_1
"Kami pulang jalan kaki..." rengut Citra tinggalkan Alvan masuk ke kamar. Sepatu anak-anak tergeletak di lantai dekat kamar mandi. Biar Alvan yang sok kaya urus masalah alas kaki anak mereka. Mau pusing atau sakit kepala terserah.
Alvan menggeleng melihat sifat pelit Citra. Hanya sepatu bikin ribet. Isterinya sama saja dengan emak rumahan. Selalu tak rela buang barang apalagi yang dianggap masih layak pakai.
Sangat berbeda dengan Karin. Pakaian bagus ditinggal begitu saja. Tiap hari hambur uang hanya untuk memuaskan ego ingin jadi bahan tontonan orang. Dua karakter beda. Satu langit satu bumi.
Alvan malas berdebat pilih meneleponi seseorang untuk urus masalah sepatu anak-anak. Alvan mana mau tahu di mana orang itu cari sepatu di malam begini. Yang penting besok sudah ada sepatu baru.
Citra duluan bergulung dalam selimut tanpa peduli pada Alvan yang sok kaya. Padahal mereka sudah janji takkan pamer kekayaan agar liburan berkesan alami. Alvan boleh pamer kekuasaan tapi jangan di saat sedang bersama anak-anak. Itu sangat tidak mendidik.
Alvan nelangsa ditinggal tidur oleh Citra. Penyakit ngambekan Citra ini apa ada dokternya? Citra seorang dokter tapi jiwa emak tetap tak bisa lepas. Di rumah dia tetap emak buat anak-anak.
Pagi sedikit mendung, awan kelabu bergantungan di langit sedang menimbang turunkan air atau biarkan mentari jadi penguasa. Kita sebagai manusia tak bisa tentukan mau cerah atau hujan. Itu hak alam tentukan yang terbaik.
Alvan sekeluarga mulai packing untuk berpindah tempat wisata lain. Mobil yang kemarin antar mereka telah siaga di depan villa. Di atas meja sudah tersedia beberapa kotak sepatu.
Alvan terpaksa ambil alih mengurus anak-anak ganti Citra yang sedang kesal. Alvan hari ini jadi bapak rumah tangga bantu anak-anak berbenah. Isteri cantik sedang ngambek akibat Alvan lupa pada janji sendiri.
Afifa senang sekali dapat sepatu warna pink dengan motif gambar kartun untuk anak gadis kecil. Sedang untuk Afisa putih dipadu warna orange warna kesukaan Afisa. Untuk Azzam dan Gibran warna maskulin lelaki. Putih dan hitam.
"Siapa yang beli sepatu kami? Sangat bagus Pi.." ujar Afifa senang tatkala sepatu telah lengket di kaki. Gadis kecil ini mengangkat kaki pamer sepatu baru.
Citra hanya melirik sekilas tanpa komentar. Dalam hati Citra akui kasih sayang Alvan kepada anak-anak. Alvan tidak bedakan Azzam dengan Gibran. Porsinya sama walau Gibran hanya adik ipar. Memang seharusnya begitu sikap orang tua.
Sopir setia yang akan mengantar mereka melanjutkan perjalanan membawa berkotak-kotak makanan untuk sarapan pagi. Villa tempat mereka tinggal memang menyediakan sarapan tetapi hanya sarapan ala barat berupa roti dengan coklat maupun keju. Makanan begitu tidak akan membuat mereka merasa kenyang karena perjalanan mereka cukup jauh. Tetap harus ada sarapan nasi ataupun mie agar mereka merasa cukup kenyang untuk melanjutkan liburan yang masih panjang.
Mereka cek out untuk melanjutkan perjalanan liburan ke tempat wisata lain. Citra mana tahu tempat wisata menyenangkan. Seumur hidup baru kali ini liburan ke Bali. Inipun dia anggap mewah. Citra tidak tahu kalau Karin liburan bagaimana. Model carteran pesawat kalau Alvan tak ijin dia gunakan pesawat pribadi. Karin melangkah terlalu jauh.
Keluar dari Kuta mereka menuju ke tempat lain yang dekat duluan yakni melihat pura Uluwatu. Perjalanan dilanjutkan ke Tabanan yang lebih banyak tempat wisatanya. Yang paling top adalah Pura Tanah Lot. Rencananya mereka akan nginap sekitar Tabanan untuk jelajahi seluruh daerah wisata di sana.
Waktu mereka cuma satu Minggu. Tak dapat jelajahi seluruh pulau Bali dalam waktu singkat. Tempatnya terlalu indah bila hanya dilukis dengan kata. Banyak kenangan terukir di sana terutama buat Afisa. Ini merupakan moments indah tak dapat dia lupakan. Bila kelak dia pulang ke Beijing telah ada kisah indah tersimpan di hati.
Kalau begini terus iman Afisa bisa goyah untuk tinggal bersama keluarganya. Namun Afisa tak boleh egois melupakan keluarga yang sangat sayang padanya. Mereka didik Afisa dari nol hingga jadi atlet senam Internasional. Afisa mana tega tinggalkan mereka hanya untuk kesenangan sendiri.
Malam terakhir di Bali mereka kembali ke Kuta untuk terbang pulang ke kota J. Kali ini Alvan telah sediakan transportasi pribadi agar keempat anak leluasa menikmati perjalanan singkat. Waktu tempuh tidak sampai dua jam.
Anak-anak minta nongkrong di pantai sebagai kenangan terakhir selama di pulau Dewata. Alvan tidak menolak bekali anak-anak dengan pakaian lebih tebal. Angin laut malam hari sangat tidak bersahabat dengan anak kecil.
Citra mencoba berlarian sepanjang pantai sebagai salam perpisahan pada pulau destinasi wisata yang terkenal ke manca negara. Keluarga Thomas sudah tidak nampak lagi di sekitar. Mungkin mereka telah pulang ke tempat asal mereka.
Alvan hanya duduk di bibir pantai memantau kegembiraan anak-anak. Ternyata menjadi seorang papi sangat nikmat. Melihat anak tertawa tumbuh menjadi penerus sungguh pengalaman luar biasa.
Dari bibir pantai salah satu anaknya datang hampiri Alvan. Bayangan Afisa tampak jelas di antara sinar bola lampu sekitar pantai. Anak yang bijak terlahir dari rahim seorang dokter berhati emas yang kadang menyebalkan hati Alvan.
__ADS_1
"Boleh duduk di sini?" tanya Afisa menunjuk kursi plastik di samping Alvan.
"Kenapa tidak? Ayok duduk di sini!" Alvan menepuk pahanya agar Afisa mau seperti Afifa bermanja.
Afisa tampak ragu memenuhi permintaan Alvan. Afisa banyak malu dibanding Afifa yang tak mau tahu. Afisa bukan gadis kecil yang mau saja dipangku oleh seorang lelaki walau itu papi sendiri. Sudah ada rasa segan di hati.
"Aku ini papimu sayang! Ayok sini!" Alvan mengulang permintaan kedua kali karena Afisa masih ragu.
Afisa bergeser pelan meletakkan pantat di paha papinya. Andai itu Afifa sudah pasti akan langsung melingkarkan tangan di leher Alvan. Sayang itu Afisa bukan Afifa.
Afisa duduk kaku tak berani bergerak seakan duduk di atas paku. Bergeser dikit akan terluka.
"Afisa senang liburan kali ini?"
"Senang Pi...terima kasih untuk liburan indah ini! Cece akan kenang semua moments di sini. Dan maafkan sikap kasar Cece sebelumnya! Cece belum kenal papi maka marah pada Papi karena buang kami."
Alvan terharu dengar pengakuan tulus Afisa. Afisa benci padanya bukan salah anak itu. Semua adalah salah kebodohan Alvan. Menyimpan sebutir kerikil sungai campakkan bongkahan permata.
"Papi juga minta maaf telah abaikan kalian! Papi benar tak tahu mami melahirkan kalian. Itu sudah berlalu. Sekarang kita telah berkumpul satu keluarga. Kita punya segalanya. Opa Oma, Uyut dan om yang baik. Afisa puas kan?"
Afisa mengangguk akui kebenaran kata Alvan. Sekarang dia punya segalanya. Orang tua lengkap bonus saudara yang baik. Tugas Afisa hanya belajar rajin capai cita-cita.
"Tak lama lagi Cece akan balik ke Beijing. Ntah kapan baru bisa jumpa lagi?"
"Kenapa omong gitu? Setiap saat kamu mau jumpa kami siap. Apa tidak ada keinginan kumpul di sini? Kamu bisa sekolah di sini. Mau lanjut senam papi akan usaha kamu dapat pelatih terbaik."
Afisa memutar wajah menatap wajah Alvan. Alvan melihat Kilauan bening di bola mata anaknya. Ntah anak itu terharu dapat tawaran tinggal di tanah air atau ada perihal lain buat dia bersedih.
"Cece ingin tinggal tapi teringat pada papa dan mama di sana. Mereka cuma punya Cece. Papi dan mami masih punya Koko dan Amei. Cece tak mungkin biarkan mereka bersedih."
Alvan beranikan diri memeluk Afisa merapat ke dada. Hati anaknya ternyata lembut seperti hati Citra. Dari luar Afisa tampak keras tapi di dalam halus lembut.
Afisa membalas pelukan Alvan erat-erat seolah tak ingin berpisah. Pelukan hangat dari seorang papi terhadap anak yang nyaris terlepas dari genggaman.
Dari jauh Citra menyaksikan pemandangan adem di mata. Citra hanya berharap hubungan Alvan dan Afisa bisa maju ke depan. Saling menyayangi tanpa sisakan duka masa lalu.
Alvan lebih lega lagi setelah berbincang dengan Afisa. Dadanya plong dapat pengakuan Afisa. Makin sempurna dia jadi seorang bapak. Bapak yang jadi kepala keluarga.
"Akhir tahun kita liburan lagi. Afisa mau liburan ke mana? Kita pergi bersama. Kita keliling dunia satu keluarga sampai puas."
"Tahun ini tak bisa Pi..Cece ada pertandingan musim dingin antar negara dunia. Selesai liburan Cece sudah harus masuk latihan sampai tanding."
"Tanding di mana?"
__ADS_1
"Cece belum tahu lokasinya. Mama yang tahu. Cece cuma harus lebih rajin lagi untuk meraih medali emas untuk kalian."
"Tidak perlu nak! Penting usaha saja kami sudah bangga padamu." Alvan mengurangi beban mental Afisa harus dapat medali emas. Anak ini tak boleh tertekan sehingga stress. Apapun yang dibawa pulang tetap jadi kebanggaan keluarga.