ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN

ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN
Isteri Sah


__ADS_3

"Bapak jangan macam-macam! Aku tak ingin cari masalah dengan Karin. Rumah itu punya Karin. Aku tak mau dicap gunakan anak merebut perhatianmu."


"Tidak perlu kamu cari perhatian aku! Aku yang cari perhatian kamu. Kalau kau tak suka aku akan beli rumah lain untuk kalian."


"Mau pamer harta ya? Aku tak butuh semua itu. Aku telah tenang bersama anak-anak. Harta aku itulah anak-anak!"


"Harta aku kamu dan anak-anak! Semuanya tak penting lagi tanpa kalian. Aku rela lakukan apapun asal kau balik ke pelukan aku!"


"Heh...segampang itu? Enak banget!!! Siapa mau balik sama bapak? Jangan sok genit di depan aku!"


"Ya ampun...nyonya Alvan! Aku ini kan sedang berusaha mengambil kembali milik aku! Apa kau tak lihat kau butuh perlindungan dari orang-orang model Heru dan keluarganya."


"Aku sanggup hadapi manusia model gitu! Aku tak peduli semua permainan orang kaya macam kalian. Aku ini hanya orang awam tidak tertarik pada kehidupan orang kaya." seru Citra naik spanning.


"Ya ampun nyonya aku! Aku ini masih suami kamu! Aku masih berhak bicara untuk lindungi kalian. Aku harus jaga kalian dari ancaman orang. Tak mungkin aku celakai kalian. Aku sudah katakan Karin tidak mungkin masuk dalam hidup aku lagi. Aku lihat dia saja jijik. Bagaimana bisa tinggal serumah dengan wanita model gitu. Pahamilah posisi aku! Aku bukan lelaki kejam Citra! Tapi Karin sendiri membuat aku ilfil padanya."


"Ooo gitu ya! Aku ini apa? Ban serep yang bisa digunakan setelah ban utama bocor? Keluarkan otak bapak bawa ke laundry, jika kurang bersih bawa ke doorsmeer."


Alvan tergugu Citra salah paham lagi. Tapi Citra juga tidak salah berpikir begitu. Citra muncul di saat hubungan Alvan dan Karin memburuk. Kalau Citra tidak muncul ntah bagaimana pula kisah Alvan.


Alvan serba salah untuk jelaskan bagaimana perasaan dia pada Citra. Kalaupun Karin tidak macam-macam Alvan tetap akan bertanggung jawab pada Citra dan anak-anak. Alvan takkan biarkan Citra dan anak-anak hidup dalam keterbatasan.


"Apapun yang kukatakan kau takkan percaya! Aku memang salah padamu. Tapi aku takkan menyerah pertahankan kamu selamanya di sisiku."


"Coba saja! Cepat bawa pulang anak-anak aku! Jangan butakan mata anakku dengan harta bapak!"


"Mereka juga anak-anak aku! Tanpa setrum dari aku dari mana kurcaci ini? Jangan lupa jasa aku lho!" olok Alvan berusaha pancing senyum Citra di seberang sana.


"Dasar mesum! Tak ada obatnya lagi! Harus dibawa ke dukun untuk dijampi-jambi biar sadar."


"Sadar apa? Sadar kok punya isteri cantik sejuta talenta. Kamu jam berapa pulang? Kuminta Untung jemput kamu ya! Dari sini kami balik ke sana cukup jauh."


"Tidak usah...aku bisa pulang sama taksi! Bawa pulang anak aku sekarang juga!"


"Mereka sedang asyik main sama kucing. Kasihan kalau disuruh pulang! Atau kalian nginap sini saja! Aku akan minta Tokcer jemput kamu!"


"Isshhh najis...jangan cerewet! Antar anak-anak pulang! Itu rumah Karin...aku masih waras tidak ingin berebut hak dengan orang sekarat! Kutunggu di rumah!"


Nada suara Citra meninggi menciutkan nyali Alvan untuk melanjutkan acara merayu Citra masuk ke rumahnya. Citra terlalu kokoh dirayu pakai kemewahan. Seharusnya sejak dulu Alvan sadar Citra bukanlah orang mata duitan. Andai Citra ingin memeras dirinya gunakan status anak-anak mungkin Citra sudah kaya raya sekarang. Namun wanita itu cuek dengan segala kekayaan Alvan.


"Baiklah Nyonya Alvan! Beri aku waktu satu jam!"


"Satu jam...jangan lebih! Aku akan segera pulang!"


"Anak-anak makan di sini saja! Kau hanya perlu siapkan makan malam mereka."


"Terserah! Assalamualaikum..."


"Waalaikumsalam..."


Alvan mematikan ponsel sambil melayangkan mata ke arah belakang. Azzam dan Afifa tentu sedang bermain dengan hati riang. Alvan berharap mereka betah di rumah ini agar lebih gampang pancing induknya masuk rumah.


Bukan gampang goyahkan iman Citra pakai materi. Wanita itu cuek walau Alvan menawarkan ini itu. Citra memilih hidup sesuai kemampuan ketimbang jadi benalu bagi Alvan.


Alvan kembali buka ponsel untuk hubungi seseorang di Kalimantan. Alvan harus memberitahu mamanya kalau papanya terserang stroke. Tentu saja Alvan tidak akan cerita masalah Karin. Itu akan melakui hati mamanya.


"Halo... assalamualaikum..."


"Waalaikumsalam Van.. gimana? Sehat?" terdengar sahutan dari seberang sana.


"Alhamdulillah sehat mang! Mamaku gimana? Betah di sana?"

__ADS_1


"Betah-betah nggak. Dia sudah minta pulang. Katanya Karin sedang hamil butuh dukungannya! Amang pusing juga!"


Alvan tertawa pahit ingat perhatian mamanya pada Karin. Andai mamanya tahu anak siapa yang di kandung Karin apa masih sayang pada menantu kurang ajar itu?


"Anak Karin sudah tak ada. Karin sudah hancur...itu semua karena ulahnya sendiri!"


"Maksudmu apa Van? Amang kok jadi tidak ngerti."


"Ternyata Karin tidak hanya berhubungan dengan papa aku tapi dengan beberapa pria sekaligus. Salah satunya pengidap penyakit Aids. Karin terjangkit."


"Ya Allah...gimana papamu dan kamu juga?"


"Alhamdulillah kami tidak terjangkit! Papa stroke akibat stress berat. Kini dia di rumah sakit. Amang cari jalan jelaskan pada mama! Kalau dia mau pulang sini biarkan dia pulang."


"Ya Allah Van.. betapa berantakan keluarga kalian gara-gara seorang perempuan! Lalu Citra gimana? Sudah berhasil kau tangkap?"


Alvan menghela nafas ingat Citra. Berhasil menangkap anak tapi susah jerat induknya ke perangkap.


"Citra bukan wanita mudah terbius oleh materi. Dia tidak tertarik pada semua fasilitas kuberi. Dia tak mau apapun kecuali anak-anaknya. Dia selalu tekan kami sudah bercerai sewaktu ucapkan talak. Kalau bukan tekanan kakek aku takkan talak dia."


"Jadi kamu talak Citra dibawah tekanan kakek? Bukan dari hatimu?"


"Iya nggaklah mang! Aku tak rela tapi kakek memaksaku karena aku berselingkuh dari Citra."


"Kalau gitu kalian masih suami isteri sah. Talak yang diucapkan di bawah tekanan itu tidak sah. Talak yang sah adalah talak yang keluar dari hatimu. Artinya Citra masih halal bagimu! Kalau kalian tak percaya bawa Citra ke ustad atau orang ngerti ilmu agama. Beliau akan jelaskan semuanya. Itu kenderaan perangmu tak perlu diterjunkan! Tak perlu perang lagi. Kamu sudah menang."


"Benarkah itu mang? Amang tidak bohong untuk nyenengin aku?"


"Ini bukan mainan Van! Ini adalah soal besar! Usahakan undang alim ulama terangkan pada Citra kalau dia sah istrimu."


"Alhamdulillah...terima kasih mang! Ternyata aku ini muslim abal-abal. Ngaku muslim tapi tak tahu apa-apa. Tapi Citra sangat ngerti agama, tak mungkin dia tak tahu hal ini."


"Iya mang! Terima kasih sekali lagi! Tanpa penjelasan Amang Alvan masih kebingungan bawa Citra kembali ke rumah."


"Amang sarankan jangan bawa Citra ke rumah di mana kau pernah tinggal bersama Karin! Wanita itu ada egoisnya. Dia akan merasa terima sisa dari orang lain. Cari tempat tinggal baru walau sederhana! Itu nasehat Amang!"


"Amang benar...Citra menolak kuajak main ke rumah! Oh nyatanya gini toh! Wah Amang hebat... pengalaman banget!"


"Bukan hebat tapi belajar dari masyarakat! Jangan coba-coba pikir Amang punya selingkuhan ya! Di keluarga kita tak ada yang berbini dua. Satu saja bikin puyeng apa lagi harus dengar kicauan dia nyonya. Kepala Amang tak sanggup. Cukup satu saja!"


"Alvan ngerti...malam ini juga akan kuajak ustad ke rumah Citra untuk cuci otaknya. Kalau dia bodohi aku..wah..akan kujitak kepalanya!"


"Yang sabar nak! Memancing ikan mahal butuh kesabaran. Citra kan berharga bukan? Maka itu yang sabar."


"Iya mang! Kutunggu kabar Amang tentang mama. Kabarin kapan datang biar kujemput bersama anak-anak."


"Baiklah! Amang doakan kamu sukses bawa Citra ke dalam hidupmu!"


"Amin..."


"Assalamualaikum.."


"Waalaikumsalam..."


Alvan ingin sekali menjerit kencang tanda sedang bahagia. Siapa sangka penjelasan Amangnya telah balikkan posisi jadi sang juara. Alvan takkan lepaskan Citra walau apapun terjadi. Mendaki gunung terjal, harungi lautan badai. Itu tak jadi masalah. Alvan siap laksanakan semua tantangan.


"Citra...tunggu aku datang!" ujar Alvan pelan tapi bernada happy. Tuhan masih berpihak padanya. Jalan tol bebas hambatan sudah di depan mata. Tinggal Alvan hati-hati jalankan misi raih Citra ke pelukan.


Alvan pergi ke gudang buku untuk melihat kedua bocahnya. Tawa lepas kedua bocah semakin merdu di kuping Alvan. Sebentar lagi dia akan dengar tawa itu setiap hari. Mereka akan hidup bersama selamanya.


"Azzam...Afifa...senang?" Alvan ikut bergabung dengan kedua anaknya. Azzam mengejar si Brondy si kucing jantan yang lebih lincah. Kucing betinanya lebih manis duduk manja dekat Afifa. Afifa tak henti mengelus bulu halus Kitty. Keduanya tampak riang layak anak kecil lainnya.

__ADS_1


"Senang Pi..." sahut Afifa melempar senyum pada Alvan.


"Mami telepon suruh kita pulang! Kita pulang sekarang atau main sebentar lagi?" Alvan beri pilihan pada Azzam dan Afifa. Biarkan mereka yang tentukan pulang atau main lagi.


Azzam berhenti sejenak dengan maminya yang minta mereka pulang. Azzam tak rela tinggalkan kedua kucingnya juga tak ingin melanggar perintah maminya. Azzam tampak bingung tentukan sikap.


"Ko...kita pulang ya! Kasihan mami sendiri di rumah." Afifa duluan usulkan pulang. Afifa teringat Citra sendirian di rumah bila mereka bersama Alvan. Maminya tentu kesepian.


"Kita pulang! Besok kami boleh datang lagi main sama Brondy dan Kitty?"


"Tentu saja sayang...papi malah ingin kalian tinggal di sini. Tapi kita harus ingat mami ya!"


"Iya Pi..." sahut Azzam dan Afifa barengan.


"Ayok kita pulang! Pamitan dulu sama kucingnya. Nek Ani akan urus anak-anak kalian!"


"Ya Pi...kita pulang dulu ya! Kalian tak boleh nakal! Patuh sama nenek ya!" Afifa berceloteh seolah kucingnya ngerti bahasa manusia.


Lucunya kedua kucing itu berhenti lari berdiam diri menatap Afifa seperti ngerti kata-kata pemilik mereka. Chemistry cepat sekali terjalin antara anak-anak dengan piaraan mereka.


Azzam dan Afifa pamitan sama Bik Ani sebelum pulang ke pangkuan mami mereka. Bik Ani yang baru saja kesenangan dapat majikan kecil harus kecewa lagi ditinggal pergi. Bik Ani ngerti pasti ada sesuatu tersembunyi di balik munculnya bocah cantik itu.


Bik Ani akan menanti penjelasan Alvan tentang Azzam dan Afifa. Kini Alvan harus kembalikan kedua anak itu pada induknya. Jalan Alvan meraup kembali miliknya makin terbuka. Tahap demi tahap akan Alvan lewati membangun keluarga samawa.


Alvan dan anak-anak tiba di rumah namun Citra belum pulang. Di rumah hanya ada Andi dan Bonar main catur di teras rumah. Kedua bertugas jaga rumah sesuai perintah Alvan. Tugas mereka akan segera berakhir bersama munculnya bos dan bocil-bocil kesayangan bos.


"Kak Andi...kami punya kucing lho!" lapor Afifa begitu turun dari mobil.


Bonar dan Andi menghentikan permainan catur mereka untuk menyambut pemilik rumah. Kalau Afifa celoteh tanpa beban beda dengan Azzam agak murung. Alvan bukannya tidak tahu anak laki satu-satunya masih teringat pada kucingnya. Alvan juga tak berdaya melawan perintah nyonya besar tak ijinkan Azzam bawa kucing ke rumah mereka yang kecil.


"Azzam..papi akan usahakan kucingmu di bawa ke sini. Azzam sabar satu dua hari ya!" Alvan mengelus kepala Azzam ikut rasakan kesedihan Azzam.


"Iya Pi...Koko masuk dulu ya,!"


"Masuklah! Kalian bertiga tunggu di sini sampai kak Citra kalian pulang. Aku akan pergi sebentar! Mana kunci mobil Tokcer?"


"Ini pak!" Tokcer merogoh kantong serahkan kunci pada bos mereka. Tampaknya Alvan ingin lakukan perjalanan sendirian.


Mereka mana berani bertanya ke mana bos. Sok akrab bisa-bisa dipecat tanpa pesangon. Baru kerja sudah dipecat. Kan apes amat.


Afifa nyusul Azzam masuk ke dalam. Afifa paling akan main game di tablet untuk luangkan waktu. Main game sambil menanti Citra merupakan solusi terakhir.


Tokcer bergabung dengan kedua konconya duduk di teras Citra. Berhubung kursi rotan Citra cuma dua maka Tokcer harus rela duduk di lantai teras.


Tokcer tidak masalah duduk di lantai karena lantainya juga bersih. Andi dan Bonar berniat lanjutkan permainan yang tertunda namun Tokcer duluan menarik perhatian pakai cara menepuk dada. Saking kuat sampai terbatuk-batuk.


"TBC pak?" ejek Andi disusul tawa jelek Bonar.


"Gue ke rumah pak Alvan...gila banget! Rumah seluas lapangan sepak bola! Berlapis emas..."


"Yang benar lhu!" Andi tertarik pada cerita Tokcer karena memang belum pernah diajak ke rumah Alvan.


"Sumpah disambar anak Pak lurah! Ruang tamu doang dua kali satu rumah kita. Kalau gue tinggal situ mungkin bakalan nyasar. Sayang hp gue model tet tot. Coba kalau android kan bisa difoto!" gumam Tokcer terkenang keindahan rumah bos mereka.


"Gajian depan lhu beli hp android! Kan bisa video call sama anak pak lurah!" olok Andi buat Tokcer geleng kepala.


"Nggak ach...kita sudah dihina kok masih video call."


"Yang hina kan bokapnya. Yang penting anaknya masih suka elu!"


"Kumpul duit dulu! Udah kaya baru pacaran." timpal Bonar

__ADS_1


__ADS_2