
"Aku hanya berencana sayang. Tak kusangka Tuhan telah atur yang indah dari bayanganku!"
Citra mendengus tak mau percaya pada kata-kata Alvan. Para lelaki pada dasarnya sama suka menggombal. Alvan pikir Citra mudah dibutakan dengan limpahan materi.
"Apa rencana Mas selanjutnya? Aku tak mau Mas berseteru dengan Mama karena aku dan anak-anak. Tidak ada kata mantan orang tua tetapi ada mantan istri."
"Apa maksudmu sayang? Tidak ada kata mantan di dalam hidupku. Aku akan mengurus semua ini dengan sebaik-baiknya."
"Mas yakin bisa bicara dengan baik-baik dengan mamamu?"
"Pasti bisa...kau kan mengenal mama. Dulu dia sangat sayang padamu. Mungkin ada salah paham. Apapun terjadi jangan sekali-kali tinggalkan aku!" Alvan mengangkat dagu Citra untuk menantang matanya. Alvan mau Citra tahu betapa sayangnya dia pada keluarganya. Alvan takkan berbuat salah dua kali biarkan orang terkasih menghilang.
Citra menunduk kalah tak berani menantang mata Alvan karena Citra menemukan kesungguhan di mata itu. Citra membawa kabur anak-anak Alvan itu juga merupakan satu kesalahan besar. Sampai kapan Citra akan menghindari masalah? Menghindar bukanlah solusi terbaik karena masalah itu tetap ada. Jalan terbaik adalah menghadapinya. Baik atau buruk tetap harus dilangkahi.
Alvan gunakan kesempatan ini mendarat bibirnya ke bibir Citra yang telah pasrah. Pertama-tama Alvan masih gunakan bibirnya meraba-raba bibir Citra agar wanita itu tidak merasa terkejut. Citra masih harus banyak belajar untuk menjadi partner yang baik bagi Alvan. Alvan sendiri merupakan guru yang sangat baik untuk Citra.
Alvan gunakan lidahnya membuka bibir Citra agar bisa rasakan air saliva sang suami. Lidah Alvan mirip ular jelajahi isi rongga mulut Citra.
Kemesraan Alvan tidak berhenti sampai situ. Alvan ingin memberi yang terindah pada Citra supaya tahu betapa Alvan mencintainya. Mencintai dalam arti tulus. Memberi dan menerima.
Ritual pasangan suami isteri bergelut liar di hotel yang katanya milik Azzam. Artinya Azzam sudah tajir dari kecil. Trilliunan dana aset telah terukir namanya sebagai pewaris Lingga. Tinggal bimbing anak itu kelola asetnya dengan baik.
Tak jarang terjadi kebangkrutan pada anak tak pandai kelola harta warisan. Pikir kaya raya tak usah kerja maka foya-foya ludeskan harta warisan. Gunung emas di pacul tiap hari pasti akan rata juga.
Alvan dan Citra tergeletak kelelahan setelah memanjat bulan. Terakhir mendarat kembali ke bumi meresapi keindahan piknik ke bulan.
Alvan pintar tidak abaikan Citra setelah bercinta. Lelaki ini hujani Citra dengan kecupan terima kasih tanda penghargaan. Alvan berterima kasih Citra telah melepaskan dahaganya. Musafir yang terdampar di Padang gersang akhirnya dapat pelepas rasa haus.
"Terima kasih...aku harap ini tidak berlalu! Andai aku sehat kita tambah kembar tiga lagi. Kenapa kau tak obati aku saja? Siapa tahu dapat baby lagi?"
"Urus dulu persoalanmu! Punya anak gampang tapi tanggung jawab sebagai orang tua sering terabaikan." Citra mencubit tangan Alvan yang jahil sana sini. Mereka harus cepat mandi sebelum anak-anak kembali dari kolam renang.
"Sekali lagi ya! Mumpung tak ada satpam penjaga." Alvan merayu Citra lanjut ke ronde kedua.
"Hari kita masih panjang! Ayo mandi! Kita susul anak-anak lihat apa yang mereka lakukan!"
"Kamu ini...jangan terlalu kekang anak-anak. Biar mereka nikmati dunia mereka. Di sini ada papi jaga maminya. Jamin tidur mami pulas!" Alvan mengerling genit seraya memasukkan tangan ke bawah selimut meraba apa yang bisa diraba.
Citra bergelinjang kegelian ditowel lakinya sana sini. Alvan pintar cari di mana kelemahan wanita muda macam Citra. Ditambah Citra belum banyak jam terbang bergulat di ranjang maka jadi bulanan Alvan.
Alvan menang berhasil mengiringi Citra tenggelam dalam lautan asmara. Mereka berdua pasangan halal, puluhan kali bercinta tak ada yang larang. Justru berpahala bila dilakukan atas dasar cinta.
Alvan buktikan keperkasaan di atas ranjang. Tidak subur tak berarti Alvan kehilangan fungsi bercinta. Sejauh ini Alvan mampu nafkahi Citra dengan baik.
Satu jam kemudian kedua anak Citra balik ke kamar untuk mandi karena hari mulai senja. Keduanya pulang dengan wajah berseri. Kelihatannya mereka sangat puas main di sekeliling hotel.
Kedua anak Citra mirip burung baru lepas dari sangkar emas. Selama ini terkurung oleh Citra dalam balutan kasih sayang membuat kedua anak itu tidak berontak. Kehadiran Alvan banyak pengaruhi pola hidup monoton menjadi lebih hidup.
Untunglah Alvan dan Citra telah benahi diri dari sisa percintaan cukup heboh. Tulang Alvan yang karatan regenerasi menjadi lebih muda berkat siraman obat Citra.
"Papi...terima kasih telah ajak Amei dan Koko ke sini! Tadi kami dikasih es krim dan kue lezat oleh bapak penjaga hotel. Kak Andi tambah tiga kali. Pokoknya enak banget!" lapor Afifa bergelayut manja pada Alvan yang tiduran di ranjang. Alvan masih lelah baru siap tempur dengan Citra. Alvan hampir empat puluh tahun sedang Citra belum tiga puluh. Jarak usia cukup jauh membuat Alvan akui stamina sebagus anak muda.
__ADS_1
"Hotel ini punya Azzam dan Afifa! Kalian bisa datang kapan saja. Gimana kalau setiap malam Minggu kita nginap sini?"
"Punya kami? Kapan mami beli hotel besar ini?" tanya Afifa lugu belum paham maksud Alvan.
"Ini hotel peninggalan kakek kalian! Katanya diwariskan pada kalian kalau sudah gede. Maka itu makan yang banyak biar cepat gede. Sekarang kalian pergi mandi! Minta baju pada mami!" Alvan menepuk pantat Afifa agar lepaskan diri yang capek.
"Iya Pi..." Afifa patuh mencari maminya.
Kini Azzam tinggal berdua dengan Alvan. Lajang kecil itu mematung seakan ingin katakan sesuatu pada Alvan namun segan untuk bicara. Alvan melirik putranya tanpa. bergerak dari tempat tidur.
"Ada apa sayang?"
"Mengapa mami tiba-tiba ingin pergi? Apa papi melakukan hal tak disukai mami?" tanya Azzam tegas.
Kini mereka berhadapan sebagai sesama lelaki. Azzam butuh keterangan dari Alvan apa yang menyebabakan Citra angkat kaki dari kehidupan Alvan lagi.
Alvan bangkit perlu bicarakan hal ini secara serius. Sadar anaknya bukan anak kecil umumnya membuat Alvan harus hati-hati bila bicara dengan si bocah.
Alvan menepuk ranjang tempat dia dan Citra habiskan moments indah tadi.
"Duduk sini!"
Azzam patuh duduk di samping Alvan menanti keterangan keluar dari mulut sang papi. Azzam membutuhkan penjelasan agar tidak berpikir liar apa yang telah terjadi.
"Ini hanya salah paham antara mami dan Oma kalian! Papi janji akan jelaskan pada Oma kalau mami kalian orang baik."
"Oma? Memang apa salah mami membuat Oma tak suka mami. Dari awal jumpa Oma sudah tak suka mami. Itu melukai hati Koko!"
"Ingat Pi..di mana adanya mami di situ ada kami. Kami tak butuh semua fasilitas mewah. Kami hanya butuh ketulusan papi. Kami tidak peduli omongan orang asal jangan sakiti hati mami!"
"Papi janji...habis ini Azzam mandi ya! Nanti kita makan di restoran hotel. Kalian mau makan apa?" Alvan arahkan pikiran Azzam ke tempat agar tidak asyik pikir mengapa Citra hendak kabur.
Alvan tak mungkin membuat gap antara Azzam dan mamanya. Azzam itu pendendam bila menyangkut sang mami. Azzam selalu prioritaskan perasaan Citra di atas segalanya.
"Terserah mami saja! Oya apa boleh Koko tidur dengan kak Andi di sebelah? Ranjang di sebelah ada dua. Gede lagi."
"Tentu boleh sayang! Azzam kan sudah gede. Cuma tidur tak boleh kemalaman. Besok tak bisa bangun."
"Iya Pi...terima kasih ya!"
Alvan bersorak girang boleh gabung dengan para cowok. Azzam risih harus tidur sama Alvan dan Citra. Anak ini sudah terbiasa tidur mandiri jadi kurang nyaman tidur dekat orang tua. Afifa masih pantas karena dunianya masih penuh fantasi kanak-kanak.
"Nanti panggil ketiga temanmu untuk makan bersama. Oya...papi ingin beri sesuatu pada Bonar dan Tokcer atas jasa mereka mencari mami. Menurut Azzam apa yang tepat?"
"Sebenarnya mereka itu orang tulus tak harap balas jasa.Mereka tulus sayang pada kami terutama kak Andi. Dari dulu dia yang rawat kami. Tapi kalau papi mau beri hadiah beri mereka ponsel pintar. Apa papi tak lihat hp mereka model jaman pak Flinstone."
"Pak Flinstone? Siapa itu?" giliran Alvan bingung Azzam masukkan nama baru dalam obrolan.
Azzam tertawa geli melihat Alvan tidak kenal pak Flinstone manusia purba dalam kisah film. Wajar Alvan tak kenal. Itu hanya tokoh fiksi untuk menghibur.
"Itu tokoh film kartun. Manusia jaman batu."
__ADS_1
Alvan ikut tertawa setelah diberi keterangan."Baiklah! Kita pergi belanja seusai makan nanti. Azzam yang pilih ya!"
"Beres Pi.." Azzam girang bukan main akhirnya kedua temannya bisa punya ponsel untuk selfie kayak Andi. Semoga saja Andi tidak iri hati ponselnya tidak diganti.
Hp Tokcer dan Bonar pantasnya masuk museum. Beli dulu barang second dengan kondisi layak pakai. Bertahun dipakai makin prihatin kondisinya.
Azzam pergi cari Citra untuk minta baju ganti. Azzam sangat menyayangi konconya. Selalu memikirkan yang terbaik untuk teman-temannya.
Alvan menjamu ketiga pemuda yang telah berjasa mengembalikan anak isterinya. Alvan tak segan rogoh kocek untuk balas budi baik ketiga jagoan neon yang dianggap masyarakat buangan itu. Siapapun tak sangka justru manusia yang dianggap invalid justru bawa angin baik bagi Alvan.
Acara makan berakhir disusul main ke mal untuk belanja ponsel Tokcer dan Bonar. Keduanya dapat ponsel Android smartphone tingkat menengah. Ngak murah juga ngak mahal. Azzam pilih yang tepat guna untuk kedua konconya. Andi hanya minta earphone model bluetooth. Tak ada tanda Andi cemburu tidak kebagian ponsel baru. Laki itu bersyukur akhirnya mereka bisa komunikasi lebih lancar kalau kangen.
Bonar akan ke bagian gudang, Andi akan lebih sibuk gantikan Wenda sedang Tokcer harus puas jadi supir Azzam dan Afifa. Tokcer akan jadi penjaga gawang kampung karena di mana ada Azzam di situlah dia.
Malamnya Azzam tidur bersama Andi sedang Tokcer dan Bonar tidur seranjang. Mereka puaskan diri selfie di hotel mahal walau tampak norak. Kesempatan langka ini hanya terjadi sekali seumur hidup mana boleh dilewatkan.
Citra, Afifa dan Alvan tidur seranjang. Afifa jadi benteng Citra dari serangan jahil Alvan. Alvan tak punya kesempatan berbuat mesum pada Citra karena ada satpam cantik mengawal Citra.
Masih untung Alvan telah dapat jatah duluan. Kalau tidak sia-sia dia iring Citra ke hotel. Salah sendiri bawa kebanyakan satpam lihay.
Sport jantung Alvan berakhir damai. Tidak sempat serangan jantung. Malah Alvan makin dekat dengan Azzam putra satu-satunya. Alvan harus lebih bijak urus salah paham Citra dan mamanya.
Esoknya Alvan dan Andi serta Bonar langsung ke kantor untuk bekerja. Andi bertugas mengganti Wenda secara resmi. Sedang Bonar dieksekusi ke bagian gudang. Kehidupan sesungguhnya telah dimulai. Saatnya serius bekerja membangun masa depan.
Alvan langsung hubungi pak Man asisten Kakek Wira untuk menanyakan soal warisan untuk Citra dan anak-anaknya. Alvan tidak keberatan warisan jatuh ke Azzam. Toh semua ya milik Azzam. Ntah bagaimana cara pikir Bu Dewi sangka Citra gila harta.
Alvan menelepon setelah berada di ruang kerjanya. Perasaan Alvan lebih lega setelah lalui waktu indah bersama Citra dan anak-anak. Semangat Alvan makin berkobar mendulang emas setinggi gunung untuk bekal anak-anaknya kelak.
Alvan tersambung sama pak Man di Jogja. Asisten pribadi kakeknya setia hingga detik ini. Alvan sudah anggap beliau sebagai keluarga sendiri berdasarkan pengabdian pak Man.
"Assalamualaikum..." sapa Alvan begitu tersambung.
"Waalaikumsalam...tumben pagi telepon? Gimana kesehatan pak Jono?"
"Alhamdulillah mulai membaik! Pak Man tidak berencana ke sini?"
"Belum nak! Masih banyak tugas di sini. Kapan bapak boleh pensiun?"
"Ngapain omong pensiun? Di mana Alvan bisa cari pengganti pak Man? Anak bapak tak mau masuk ke perusahaan?"
"Huusss...dia itu aparat! Mana bisa tinggalkan tugas negara? Bapak mulai cari pengganti yang bisa dipercaya. Bapak sudah ingin istirahat."
"Alvan percaya pada bapak. Bapak pasti pikir yang terbaik untuk perusahaan."
"Terima kasih...bapak sedang latih keponakan bapak untuk duduk di posisi bapak! Bapak lihat bolehlah tapi masih perlu pelatihan. Bapak akan berhenti bila dia telah siap pakai."
"Alvan percaya...Oya begini pak Man... benarkah kakek ada beri amanah berikan separuh perusahaan pada Citra?"
"Benar tapi telah ditolak Citra sebelum dia berangkat kuliah di Beijing. Dia kembalikan semua warisan kepadamu. Bapak tak bisa berbuat apa-apa karena Citra bersikeras menolak. Dia hanya terima sedikit uang untuk biaya hidup di Beijing. Itu saja! Bapak masih menyimpan surat yang ditolak Citra."
Alvan meremas daging di dada sesak mendengar betapa tulusnya Citra pada keluarganya. Wanita itu benar tidak mau jadi hamba dari materi. Aset triliunan dia tolak tanpa beri penjelasan. Kalau jatuh di Karin mungkin aset itu sudah pindah tangan.
__ADS_1
"Bapak kirim balik sini saja. Pakai kurir bisa dipercaya! Citra telah bersamaku! Aset itu biarlah tetap jadi miliknya. Jika perlu jadikan seratus persen."