ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN

ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN
Laura Dioperasi


__ADS_3

Alvan menangkap nada cemas di suara sahabatnya itu. Ntah apa yang terjadi semalam. Mengapa Laura balik lagi ke cafe Daniel setelah pulang. Apa mereka bertengkar?


Citra tidak buang waktu segera sarapan karena dia harus tetap fit jalankan tugas. Kalau Laura patah artinya akan ada operasi besar. Yang menyangkut tulang memang bukan bagian Citra tapi dia harus turut saksikan bagaimana kondisi Laura.


"Makan pelan sayang. Tak ada yang mau rebut!" kata Alvan meminta isterinya makan perlahan. Citra gasak makanan ke dalam mulut seolah besok sudah mau kiamat. Hari ini mesti makan secepatnya.


"Aku harus lihat Laura mas! Dia itu murid aku! Dia kenal Daniel pun karena kita. Kita punya tanggung jawab moral."


"Mas paham maksudmu tetapi kamu jangan tergesa-gesa nanti tersedak!"


Citra akhiri sarapan minum susu coklat. Saking terburu bayangan susu coklat tertinggal di atas bibir menyerupai kumis tipis. Alvan tertawa geli lihat isterinya berubah menjadi gadis berkumis.


Alvan bergeser dekati Citra lalu meraih dagu isterinya. Laki ini turunkan bibir menjilati sisa susu sekitar bibir Citra. Adegan romantis seperti dalam sinetron. Sang pria membersihkan mulut sang cewek dengan ujung jari dengan saling memandang. Tapi Alvan lain, dia gunakan bibir bersihkan sisa susu bikin baper.


Adegan romantis memicu desiran kecil di hati Citra. Hanya satu gerakan menciptakan sejuta rasa. Saling menyayangi tak perlu biaya mahal, yang penting keluar dari hati terdalam.


"Manis..." ujar Alvan puas minum susu dari bibir Citra. Tidak rasakan mengalir di kerongkongan tapi mengalir di relung hati.


"Dasar genit..aku tinggal dulu ya! Mas bisa sendiri kan?"


"Pergilah! Mas kamu belum jompo amat! Selamatkan Laura!"


Citra mengangguk pasti. Bukan hanya Alvan yang ingin melihat Laura kembali pulih. Terlebih Citra lagi rasanya Citra ingin turun tangan operasi Laura. Cuma pengetahuan kita terhadap tulang sangat minim. Masih harus mengandalkan dokter spesialis bedah tulang.


Alvan menghela nafas. bencana apa lagi ia sedang menghampiri mereka. Menurut cerita dan yang kalau Laura itu anak seorang jenderal. Persoalan ini pasti tidak akan segampang perkiraan. Daniel pasti akan terseret dalam kecelakaan yang menimpa Laura.


Semoga Laura baik-baik saja. Tak ada yang harap buruk pada seseorang walaupun baru kenal. Apa lagi Laura telah bergabung di rumah sakit.


Citra segera kontrol Laura dua ruang dari ruang rawat Alvan. Citra mengetok pintu berharap ada seseorang di dalam buka pintu.


"Masuk saja!" terdengar sahutan dari dalam.


Citra menggeser pintu ke samping karena pintunya memang model sorong. Mata Citra terbelalak lihat betapa di dalam ruang penuh dengan pengunjung. Mau menjenguk pasien sakit atau tawuran. Mungkin ada orang kisaran sepuluh orang berada di lingkungan ruang rawat Laura.


"Bu dokter..." seru si pasien tetap ceria. Citra merasa plong karena Laura masih sanggup berseru riang seolah kecelakaan ini tidak ada artinya.


"Gimana kamu Laura? Kenapa tidak kasih kabar?" Citra bergerak maju ke arah tempat tidur Laura.


"Sudah larut bagaimana kasih kabar! Tapi tak masalah kok! Masih untung cuma patah satu."


Citra melongo puji mental anak ini. Sudah patah tangan masih katakan untung. Apa harus patah keduanya baru disebut rugi? Logika apa dipakai anak ini?


"Laura...kamu seorang dokter. Tangan itu sangat penting. Apalagi kelak kau selesai spesialis. Tangan itu akan pegang pisau operasi. Jaga aset masa depan kamu! Ruas mana patah?"


Laura menunjuk tangan kanan gunakan tangan kiri. Citra mendesah menyesal mengapa seorang dokter berpotensial harus alami nasib apes. Yang patah tangan kanan pula. Tangan vital pegang pisau operasi. Tak mungkin seorang dokter tak ingin dalami isi syaraf dalam tubuh.


"Aku tetap optimis Bu Dokter! Nanti akan segera dioperasi kok! Oya kenalkan ini dokter Citra. Dokter pembimbing aku di rumah sakit ini." Laura perkenalkan Citra pada keluarga besarnya.


"Oh dokter Citra...aku bapaknya Laura! Senang jumpa Bu Dokter! Kami kira tutor Laura dokter bertampang seram ternyata peramah." seorang laki paro baya bertubuh tegap menyalami Citra dengan penuh semangat. Tak ada gambaran kegundahan di wajah itu. Padahal luka yang dialami oleh Laura cukup serius tapi tak ada tanda-tanda lelaki itu kuatir.


"Aku hanya jalankan tugas. Laura anak pintar. Cepat adaptasi dengan lingkungan."


"Laura itu selalu buat onar. Ntah kapan mau tumbuh dewasa! Bu Dokter masih muda tapi jauh lebih matang dari Laura." timpal seorang perempuan berambut tinggi kena sasak model ibu-ibu pergi arisan.

__ADS_1


"Ach tidak Bu...Laura cukup teliti dalam tugas! Aku akan lihat jadwal operasi Laura. Lebih baik kita lakukan cepat sebelum terjadi infeksi di dalam. Dan sebelumnya aku mohon maaf! Sebaiknya kita keluar kasih ruang pada pasien untuk istirahat. Kita kumpul di sini juga tak bisa bantu Laura. Ayok kita duduk di luar." Citra ajak semua kerabat Laura keluar.


Sudah ada peraturan pasien hanya boleh dijaga satu orang. Yang ini sudah melanggar larangan rumah sakit. Tidak tanggung pula. Lusinan orang berkumpul hanya untuk lihat satu orang sakit.


Satu persatu kerabat Laura keluar dari ruang rawat Laura. Tinggal Citra dan Laura berada dalam satu ruang. Kini Citra bisa lebih leluasa bicara dengan Laura mengapa teledor bisa terjadi kecelakaan.


"Mau cerita?" Citra bersidekap dada menanti cerita dari mulut yang biasa bocor itu.


Laura tertawa kecil isyaratkan tak mau buka cerita apapun. Apa yang disembunyikan gadis ini? Kesalahan Daniel atau Laura sendiri yang salah.


"Hanya ngantuk...iseng kunjungi Mas Daniel! Pulangnya ngantuk!"


"Cuma segitu?" Citra tak gampang percaya cerita Laura. Gadis ini orangnya teliti sangat jauh dari kemungkinan ceroboh tabrakan.


"Cuma segitu! Bu Dokter operasi aku?"


"Aku bukan ahli tulang...aku akan ikut pantau! Ada keluhan lain?"


"Nyeri doang! Andai mas Daniel datang pasti langsung sembuh." gurau Laura tetap ceria walau tangan telah cacat. Butuh waktu lama untuk pulih. Pendidikan Laura bisa terganggu akibat kecelakaan ini. Tanpa tangan kanan dia mana mungkin lakukan tugas dokter.


"Huhu...rindu ya sama kak Daniel! Kak Daniel itu orangnya baik dan setia. Aku sudah kenal padanya sepuluh tahun lalu. Dia itu jarang pacaran cuma suka isengi cewek. Sampai sekarang belum ada yang serius. Kau serius pada Daniel?"


Senyum di wajah Laura menghilang. Ada kesenduan terpahat di wajah manis itu. Citra seperti polisi menangkap ada yang tak beres pada gadis ini.


"Iya dia baik..." cuma itu sahutan Laura.


"Cuma segitu?"


"Idihhh...dari tadi cuma tanya itu! Sekarang Bu Dokter cek dulu jadwal aku! Aku tak sabar mau sembuh."


"Tenang...mental aku kesatria baja hitam. Sudah terlatih."


Citra acung jempol puji mental Laura tidak gentar hadapi meja operasi. Mental seorang dokter sejati. Sikap dokter harus optimis baru bisa sembuhkan orang lain. Kalau ragu maka membahayakan pasien. Baik perawat maupun dokter tetap harus percaya diri untuk beri pelayanan terbaik bagi pasien.


Citra berniat keluar menggeserkan pintu. Dari luar ada orang bantu geser pintu. Citra nyaris tabrakan dengan Daniel yang datang sendirian.


Harapan Laura terwujud. Orang yang harapkan muncul kini telah berada di depan mata. Citra mundur beri ruang pada seniman gagal itu masuk.


Daniel tidak melirik sedikitpun pada Citra. Seluruh perhatiannya tercurah pada satu sosok yang tergeletak di brankar dengan tangan terbalut kain kasa putih. Tak ada senyum di wajah Daniel. Itu bukan penampilan Daniel tegang menghadapi masalah.


"Kamu tidak apa-apa Aura?" tanya Daniel meringsek ke samping Laura.


Citra mengernyit alis surprise Daniel punya panggilan khusus untuk Laura. Sampai di mana hubungan dua orang ini sampai punya panggilan khusus.


"Aku baik saja mas!" sahut Laura tersenyum manis.


"Maafkan aku! Andai aku tidak marah padamu kamu takkan begini!"


Citra mulai paham ternyata ada klise antara dua orang ini barulah terjadi kecelakaan. Citra pilih mundur biarkan dua orang itu menjernihkan air keruh antara mereka. Daniel bukan anak kecil mesti diajar bagaimana perlakukan wanita. Citra percaya Daniel akan mampu selesaikan masalah dengan Laura. Apa pun masalah mereka. Hanya mereka berdua yang tahu.


Citra ke bagian petugas yang tangani jadwal operasi. Syukur hari ini Citra tak ada jadwal jadi dia bisa ikut lihat jalan operasi Laura. Operasi Laura tak bisa ditunda lama takut terjadi infeksi dan pembengkakan dalam ruas patahan. Makin cepat makin baik.


Sesuai jadwal jam operasi, Laura didorong ke ruang operasi di dampingi puluhan orang. Daniel paling dekat Laura beri semangat pada gadis itu. Tampaknya kedua orang itu telah berdamai. Ntah gencatan senjata sementara atau damai selamanya.

__ADS_1


Akhirnya Laura masuk ruang operasi dikawani Citra. Beberapa rekan Laura ikut serta antar Laura ke meja operasi. Begitu pintu ruang ditutup lampu tanda operasi dinyalakan.


Semua doa yang terbaik dipanjatkan untuk kesuksesan operasi Laura. Terutama keluarga Laura yang keren. Mereka tidak tampak gundah walau Laura harus disayat untuk menyambung tulang yang patah. Sungguh mental keluarga militer. Nyali saja terdidik jadi militer.


Alvan tidak mau ketinggalan ikut datang melihat operasi Laura. Alvan datang dengan kursi roda didorong oleh perawat bergabung dengan puluhan orang menanti jalan operasi Laura.


Daniel paling pertama sambut Alvan. Daniel tidak enak lihat teman yang kurang fit ikutan kuatir dengan kondisi Laura.


Bryan tersenyum senang lihat Alvan jadi pesakitan di rumah sakit. Dari awal Bryan kurang suka pada Alvan yang dia anggap kurang sepadan dengan Citra. Alvan terlalu tua untuk Citra. Satu tua bangka dan satunya remaja cantik. Citra lebih cocok jadi pacar anak muda macam mereka.


"Perkenalkan semua...ini pak Alvan! Pemilik rumah sakit ini sekaligus suami dokter Citra yang tadi ikut masuk ruang operasi." Daniel perkenalkan Alvan pada keluarga Laura.


Bryan merasa bibirnya menebal tak bisa berkata-kata. Orang yang dia tak sukai ternyata orang berkuku. Pantesan bisa dapatkan isteri semuda Citra. Pakai koneksi jabatan. Bryan mana tahu jatuh bangun kisah cinta Alvan dan Citra. Berliku-liku seperti obat nyamuk bakar.


"Oh pak Alvan...pak Alvan Lingga?" tanya bapak Laura langsung ngeh orang di depannya bukan sembarangan pasien.


Alvan mengangguk. Nama Lingga cukup beken di kalangan masyarakat. Salah satu trah kaya tanah air. Tak disangka jumpa di rumah sakit dalam kondisi kurang sehat.


"Pak Alvan lagi sakit apa?" bapak Laura beramah tamah karena tahu orang di depan bukan nama kosong.


"Ada kesalahan urat.. sudah dioperasikan oleh isteriku! Oya bapak ini harus kupanggil apa?"


"Oh maaf sampai lupa! Aku Sujatmiko...dari angkatan darat."


"Oh..senang bertemu! Semoga kelak kita bisa saling berkunjung." kata Alvan ramah.


"Tentu...tentu...aku bangga anak aku dibimbing oleh isteri bapak. Masih muda sudah jadi dokter senior."


"Terima kasih pujiannya. Dia hanya dokter biasa. Cuma lebih duluan lepas kuliah." Alvan merendah walau dalam hati bangga Citra dipuji orang. Tak mungkinlah Alvan ikut promosi isteri sendiri.


"Pak Alvan terlalu merendah. Satu rumah sakit tahu bahwa Citra itu dokter bertangan dingin."


"Itu hanya rumor! Kebetulan dia berprofesi dokter. Di rumah dia hanya ibu dari anak-anakku."


"Berapa anak pak Alvan?"


"Tiga kembar tiga..sekarang mereka sedang liburan di Beijing bersama opa Oma mereka serta Uyut mereka."


"Wah..betapa sempurna keluarga pak Alvan!" puji Jenderal berbintang tiga itu.


"Citra itu cucunya kerajaan Perkasa. Lingga dan Perkasa bergabung jadi satu keluarga besar. Bagaimana tidak sempurna." timpal Daniel buka jati diri Citra. Citra selalu tutupi nama besar Perkasa. Wanita itu tak pernah gunakan nama besar kedua keluarga cari tenar. Dia memilih bersembunyi berlindung di bawah tempat teduh.


Bryan menelan ludah. Kedua nama trah kaya tanah air ciutkan nyali Bryan pamer kuasa. Dia tak ubah semut berhadapan dengan gajah. Raksasa mau dikacangi. Belum dilumatkan sudah syukur.


Artinya Alvan tidak membeli Citra dengan uangnya. Cinta mereka memang murni karena sama-sama berasal dari keluarga hebat. Semangat Bryan kontan melempen dengar nama besar kedua kerajaan kaya bersatu. Tak ada sela baginya menyelinap di antara Citra dan Alvan. Takutnya malah digencet sampai gepeng.


"Wah... nama-nama besar! Anakku sungguh rezeki dapat tutor baik. Bantu kami doa kesembuhan anak kami!"


"Insyaallah... Daniel ini sahabat aku dari sekolah! Kami tak pernah berpisah walau tahun berganti. Dia anak baik." Alvan gunakan kesempatan ini promo Daniel. Siapa tahu turun simpatik keluarga jenderal pada Daniel. Diangkat jadi menantu. Sudah waktunya Daniel akhiri masa jomblo.


"Iya... iya...Laura sudah cerita! Kami sudah kenalan." Pak Sujatmiko melempar pandangan ke arah Daniel. Alvan belum bisa artikan pandangan Sang Jenderal. Bisa jadi marah karena Laura alami kecelakaan pulang dari cafe atau masih meragukan profil Daniel.


"Syukurlah! Semoga Laura mendapatkan yang terbaik! Aku permisi ijin istirahat. Ayo Dan...antar aku balik ke ruang perawatan!"

__ADS_1


"Terimakasih perhatian pak Alvan!"


Alvan manggut kecil beri kode pada Daniel untuk dorong kursi rodanya. Perawat Alvan masih setia menunggu sang bos balik ke kamar. Cuma sementara ini Daniel ambil alih tugas sang perawat.


__ADS_2