
Hans mengajak Alvan duduk santai di sudut ruang tunggu pasien. Keadaan agak sepi karena pasien yang datang malam hari mulai berkurang. Bangku panjang yang tersusun rapi berjejer sepanjang ruang hanya ditempati satu dua orang. Mereka keluarga pasien yang sedang berobat.
Hans perhatikan wajah muram Alvan. Cobaan untuk Alvan sangat berat, semoga saja laki ini tidak rapuh karam dalam duka.
Alvan meremas tangan tanpa sebab. Ntah apa terlintas di benak laki ini sampai gemas dalam hati. Hans menduga tak jauh dari masalah yang diciptakan Karin.
"Van...gimana rencana pengobatan mu? Sudah diskusi dengan Citra?"
"Citra tidak beri tanggapan. Dia malah rekomendasi dokter lain." keluh Alvan putus asa ingat sikap dingin Citra padanya.
"Kalian benaran suami isteri?"
Alvan mengangguk yakin. Dada Hans bergemuruh cemburu. Mengapa setiap wanita yang dia sukai selalu ada halangan. Hans sangat suka pada Citra, tak peduli Citra punya berapa anak. Hans mencintai Citra waktu pertama wanita itu masuk kerja di rumah sakit pimpinannya.
"Ceritanya?"
"Citra isteri pertama aku! Aku dijodohkan kakek Wira dengan. Citra. Dari awal kakek tak suka pada Karin. Setahun aku hidup bersama Citra di Jogja, di situ ada Karin tinggal bersama kami. Aku suami Citra namun tidur dengan Karin. Aku tak pernah anggap Citra sebagai isteri, lebih tepat anggap dia pembantu rumah tangga yang melayani aku dan Karin."
Hans sedikit emosi dengar cerita Alvan. Alvan yang terkenal bijak ternyata punya sifat jelek terlantarkan isteri sah. Wajar Citra tak suka pada Alvan. Luka yang diberi Alvan terlalu mendalam menghujam hati Citra. Hans tak salahkan Citra bila tak respek pada Alvan.
"Lalu bocah-bocah cantik itu dari mana?"
"Aku khilaf gagahi Citra. Sebulan setelah kejadian itu kakek kepergok aku dan Karin. Kakek memaksaku talak Citra. Sebenarnya aku tak mau. Aku mulai sayang pada Citra setelah kejadian aku merengut mahkota Citra. Ego aku ingin memiliki Citra dan Karin bersamaan. Kakek Wira tak ijinkan aku menyakiti Citra. Dia bawa Citra pergi. Sejak itu aku tak pernah jumpa Citra sampai kami jumpa di sini. Secara hukum kami belum bercerai."
"Tak kusangka kau punya sisi gelap Van! Betapa egois kamu ikat Citra dengan ikatan tak ada kesudahan. Kau bersenang dengan Karin sementara Citra berpacu dengan sengsara besarkan anak-anak kamu." ujar Hans emosi tak suka Citra diremehkan Alvan.
"Bukankah aku sudah dapat karma? Mandul, isteri bejat." gumam Alvan mengakui dosanya. Alvan belum cerita kalau lawan selingkuh Karin adalah papanya. Kalau Hans tahu makin buruk Alvan di mata Hans.
"Apa rencanamu?"
"Ntah...semoga ada kesempatan kedua buatku. Aku harus bisa merangkul anak-anak walau tak dapat induknya. Mereka modal aku di hari tua."
Dalam hati Hans bersorak Alvan tidak ngotot harus merebut perhatian Citra. Semoga Citra terusan menolak Alvan. Ini buka peluang buatnya mencuri cinta Citra. Jalan menuju ke Roma makin terbuka.
"Jangan memaksa bila Citra tak bahagia bersamamu. Dia punya hak menata hidupnya."
"Aku kok tak senang anak-anak aku punya bapak sambung. Apa laki itu akan sayang pada mereka?"
"Laki tulus bukan hanya menikah dengan induknya, sekalian menikah dengan anak-anak juga. Itu contoh laki sejati berani menikahi janda beranak dua."
"Bukan dua tapi tiga. Anakku tiga orang. Satu masih di Tiongkok. Aku masih punya cahaya terangi hidupku yang kelam. Ketiga anakku anak ajaib. Pintar dan cantik. Mungkin ini nikmat yang tersisa."
"Kau akan bercerai secara hukum?" pancing Hans.
"Tidak selama Citra tidak ngotot bercerai. Sekecil apapun kesempatan aku akan berjuang tetap bersama keluarga aku. Karin tak bisa diharapkan lagi. Dia terlalu binal."
Bunga cinta yang baru mekar di dada Hans mendadak kembali kuncup. Baru mekar kena siraman air panas membara. Ucapan Alvan tak ubah air mendidih menyirami bunga cinta Hans. Tadi hati mulai berdegup bahagia kini nelangsa lagi. Dasar Alvan plin plan.
__ADS_1
"Semoga ada penyelesaian terbaik. Cuma kuharap kau tak memaksa Citra. Dia juga berhak bahagia."
Alvan mengangguk setuju. Alvan berjanji tak menekan Citra ambil keputusan apapun. Citra merdeka memilih jalan sendiri. Perbuatan Alvan di masa lalu memang tak bisa dimaafkan. Berzinah di depan mata isteri sah. Tak ada sedikitpun hargai perasaan Citra. Citra dianggap kacung gratis layani raja dan ratu maha sinting.
"Kita tunggu saja!"
"Ok..." Hans bernafas lega Alvan tidak ngotot memaksa Citra harus tetap pertahankan status isteri orang kaya itu. Citra perlihatkan gelagat tak suka Alvan hadir kembali di kehidupan dia. Mengobati Alvan saja dia tolak. Biasa Citra tak pernah menolak pasien. Semua pasien diobati sepenuh hati sampai sembuh. Giliran Alvan sakit Citra menolak secara halus.
Kedua berdiam diri kehabisan bahan bicara. Hans sengaja ajak Alvan ngobrol dengan satu tujuan. Hans mau tahu gimana perasaan Alvan pada Citra. Kini Hans sudah paham kalau Citra menolak kehadiran Alvan. Di pihak Alvan membangun harapan bersatu dengan Citra. Ntah karena adanya anak-anak atau Alvan mulai suka pada Citra. Tunggu tanggal mainnya.
Dari jauh seorang petugas medis berpakaian putih bersih datang hampiri Hans dan Alvan. Di tangan petugas itu memegang dua amplop warna coklat muda.
Jantung Alvan berdegup kencang tanpa terkontrol. Kayaknya petugas itu membawa hasil lab test Alvan maupun Karin. Alvan tak tahu hasil siapa yang dibawa petugas itu.
"Dok...ini hasil lab nyonya Karin dan Mr x!" petugas itu menyerahkan amplop pada Hans dengan sopan.
"Terima kasih. Kembali bertugas!"
"Iya pak! Permisi..."
Alvan melirik amplop di tangan Hans ketar ketir. Apa hasil test mereka. Masa depan Alvan kini berada di tangan Hans. Andai Karin terbebas virus HIV maka hidup Alvan sekeluarga aman dari jurang kematian.
"Siap?" Hans goyangkan amplop di depan mata Alvan permainkan emosi Alvan.
Alvan mengatur nafas baik-baik sebelum menerima semua kemungkinan. Ada atau tidak tetap harus dihadapi. Lebih cepat tahu lebih bagus. Alvan bisa bikin persiapan melawan penyakit itu.
"Buka punyaku dulu!" pinta Alvan bergetar tak bisa sembunyikan rasa gugup.
"Alhamdulillah...kau negatif! Bulan depan kita test lagi. Semoga hasilnya sama." Hans baca hasil test Alvan.
Alvan mengucap syukur dalam hati terbebas dari virus mengerikan itu. Hasil ini belum final karena virus itu berkembang tergantung daya imun tubuh penderita. Ada yang ketahuan setelah dua tiga bulan kemudian. Alvan belum sepenuhnya terbebas selama Karin terpapar.
Hans membuka amplop berisi laporan Karin. Wajah Hans berubah warna pucat lihat hasil test HIV Karin. Hans menatap Alvan ngeri-ngeri sedap perlihatkan hasil tak sesuai hasrat hati.
"Gimana Hans?" suara Alvan membuyar rasa takut Hans. Baik buruk tetap harus dihadapi.
"Positif...artinya kau mesti test lagi seminggu kemudian. Karin sedang hamil daya tahan tubuh sedang berada di titik rendah maka penyebaran lebih cepat. Kamu sehat kemungkinan reaksi agak lamban."
"Aku tak tahu sejak kapan dia berhubungan dengan penderita HIV. Kami berhubungan dua Minggu lalu. Apa waktu itu dia sudah kena atau belum. Ach...kenapa jadi kacau begini?" Alvan mengacak rambut di kepala putus asa setelah tahu Karin positif HIV. Dia dan Pak Jono bisa dicurigai terpapar virus itu. Alvan harus minta Pak Jono test HIV juga. Daya tahan tubuh Pak Jono tak sekuat Alvan. Pak tua bejat itu lebih besar kemungkinan menyandang penyakit itu.
"Kau tanya pelan-pelan pada Karin. Jangan keras karena kondisinya juga sedang tidak ok! Dia bisa hidup normal asal rajin konsumsi obat tiap hari. Cuma ingat tak boleh berhubungan intim dengan siapapun agar tak menular ke orang lain lagi."
"Aku tahu. Tolong simpan rapat rahasia ini! Kau tahu reputasi kami bakal hancur bila tersiar berita tak sedap ini."
"Tenang bro! Kami dokter selalu merahasiakan penyakit pasien dari orang lain. Kami punya etika harus dijunjung. Kamu lagi yang terkena masalah, aku lebih harus jaga rahasia. Kita lihat Karin?"
"Maaf! Aku belum siap jumpa Karin. Seluruh hidup aku berantakan karena Karin. Aku tak menyalahkan Karin tapi salahkan mataku buta salah lihat orang. Tolong kau atur yang terbaik untuk Karin! Besok aku datang lagi."
__ADS_1
Hans tak bisa berkata apa-apa karena ngerti bagaimana perasaan Alvan. Siapa tak ngeri dengar kata HIV? Berobat ke ujung langit pun tak ada obatnya. Yang terkena hanya menanti kapan ajal tiba. Menanti dalam ketidakpastian.
"Pulanglah! Kalau Untung datang aku akan urus segalanya. Tak usah banyak pikir. Anggap ini jalan menuju kedewasaan."
"Dewasa apa? Sudah bangkotan. Kena Aids tinggal menghitung hari."
"Melo banget! Belum tentu kamu kena bro. Yang semangat!"
Alvan bangkit berniat cari angin segar isi paru-paru yang sesak oleh amarah. Sudah begini Alvan harus marah pada siapa? Salah sendiri menganggap cinta di atas segalanya. Alvan korban cinta buta. Saking buta masuk comberan bau busuk.
Hans menatap kepergian Alvan dengan perasaan iba. Keluarga yang bahagia hancur sekejab mata karena dorongan hawa nafsu. Sekaya apapun Alvan tak berarti lagi bila betul ikut terpapar virus mematikan itu. Disuguhi daging naga juga tak ada rasa nikmatnya. Kemewahan hanya satu klise kosong melukis kisah hidup keluarga Lingga. Masih adakah nilai emas permata bagi Alvan setelah kejadian ini?
Alvan ingin cari ketenangan di tempat Citra namun jam mahal di tangan menunjukkan waktu bukan saat bertamu. Datang jam gini yang ada dikira maling hendak mencuri di rumah sederhana itu. Alvan cari taksi pilih dinginkan otak di rumah. Besok baru kunjungi Azzam dan Afifa.
Sesampai di rumah Alvan langsung cari kontak Pak Jono. Pak Jono harus tahu kalau anak di kandungan Karin memang tak tertolong sekaligus beri kabar tak sedap. Pak Jono wajib tahu apa yang sedang berlangsung di keluarga mereka. Pengkhianatan membawa bencana.
Alvan cari posisi nyaman mengatur nafas hendak beri laporan tentang kondisi terkini Karin. Alvan tak mau disalahkan atas semua musibah menimpa keluarga mereka. Alvan hanya salah telah menikahi ayam loncat. Selebihnya salah Karin dan Pak Jono.
"Halo..."
"Alvan...gimana kondisi Karin?"
"Anaknya sudah tak ada. Karin positif HIV."
Lama tak ada jawaban pak Jono. Pak tua itu mungkin syok dapat kabar bak sambaran petir bertegangan tinggi. Sekali sambar gosong semuanya. Hangus tak bersisa.
"Tadi Alvan sudah test hasilnya negatif. Itu belum jaminan bebas HIV karena virus itu berkembang tergantung daya tahan tubuh. Minggu depan aku harus test lagi. Papa harus test juga di Jogja." lanjut Alvan bernada rendah. Marah-marah tak karuan takkan membalik kenyataan.
Sekarang terpenting harus berpikir dengan kepala dingin. Cari solusi tepat selesaikan kemelut rumit ini.
"Iya...maafkan papa nak! Mungkin papa ini manusia paling bejat sedunia. Ntah setan apa kuasai papa tega berbuat jahat padamu."
"Bukan setan pa tapi nafsu. Hawa nafsu dari lelaki tak beriman. Andai mama tahu tragedi yang menimpa keluarga kita ntah apa reaksi beliau? Kalau Karin sudah keluar rumah sakit dia harus tinggal di apartemen. Alvan tak mau satu rumah dengannya."
"Papa maklum. Siapapun takut pada penyakit itu. Papa benar menyesal telah curangi kamu. Semoga Tuhan memaafkan papa! Kalau papa ikut kena papa akan pulang ke desa di kampung nenek. Papa akan habiskan sisa hidup di sana."
"Itu nanti kita bahas. Sesampai di Jogja papa harus ke rumah sakit. Usahakan jangan tersiar di luar papa test HIV. Usaha keluarga kita bisa hancur. Tak ada orang mau kerja sama dengan kita. Papa ingat itu!"
"Iya nak! Papa tutup dulu."
Sudah begini Alvan iba pada Pak Jono. Sudah tua cari penyakit. Benar-benar dapat penyakit. Penyakit mengerikan pula.
Alvan teringat pada Azzam dan Afifa. Bagaimana kalau dia ikut kena virus HIV? Apa masih bisa memeluk ketiga anaknya? Harapan merangkul Citra kembali ke pelukan sirna sudah. Alvan tak mungkin berbuat jahat mendorong Citra ke dalam jurang. Menikah lagi dengan Citra sama saja merusak masa depan Citra dan anak-anak. Citra pasti kena virus tersebut bila jadi isteri Alvan. Tak mungkin sepasang suami isteri tidak berhubungan intim.
Alvan makin terpuruk ingat kesengsaraan bila terpapar virus bawaan Karin. Satu batang bambu menghantam satu sampan sampai tenggelam ke sungai. Kiasan tepat gambarkan status Karin. Satu Karin merusak satu keluarga.
Bik Ani sudah duluan tidur tak menunggu penghuni lain pulang. Bik Ani mengira Alvan dan Iyem menjaga Karin di rumah sakit. Bik Ani tak tahu Alvan pulang secara diam-diam tinggalkan Karin pada pengawasan Hans.
__ADS_1
Tinggal di rumah sakit Alvan tak bisa membantu apapun. Yang ada makin sedih melihat sosok pembawa bencana berbaring tenang tak tahu bencana besar sudah di mulai.
Malam paling menyakitkan di lalui Alvan penuh duka. Ntah jam berapa Alvan baru tertidur dibayangi rasa takut. Alvan bukan takut akan kematian. Semua manusia akan mati. Hanya menunggu giliran dipanggil Yang Kuasa.