ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN

ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN
Sholat Bersama


__ADS_3

Citra hentikan semua gerakan tubuh terkesima dengar cerita Alvan. Laki ini sedang mengarang cerita menjelekkan Karin agar Citra tidak membantu perempuan itu atau memang ini fakta. Setebal apa muka Karin sanggup keluarkan ancaman pada suami sendiri. Bangga berselingkuh dengan mertua sendiri hingga hendak sebar perselingkuhan ini biar mendunia.


Alvan tertawa pahit mendapatkan Citra mirip orang bodoh kena hipnotis kalimat dari Alvan. Apa yang ada di otak Citra saat ini. Menghujat Karin lantas membencinya?


"Kau tak percaya?" sambung Alvan karena Citra belum kasih komentar.


"Karin seburuk itu?"


Alvan merentangkan tangan membiarkan sepasang tangannya bersandar pada dinding sofa. Lebih baik relaxkan badan ketimbang bersitegang dengan Citra yang belum tentu percaya pada ceritanya.


"Aku sudah katakan ceraikan dia! Dia gunakan ancaman ini hindari perceraian. Aku masih sayang pada mama. Apa kata mama bila tahu papa berselingkuh. Dengan menantunya pula. Aku masih bisa bayangkan betapa bahagia mama tahu Karin hamil. Beliau wanti-wanti jaga kandungan Karin. Apalah jadinya kalau dia tahu anak di perut Karin anak suaminya." ujar Alvan sedih.


"Kak Karin...apa sih maumu?" desis Citra tak mampu berkata apapun. Kini Citra ngerti betapa sengsaranya Alvan mengetahui papa dan isterinya main belakang. Bikin cerita mesum di belakang layar.


"Aku ngerti sekarang mengapa kakek matian melarang aku menikah dengan Karin. Nyatanya kakek sudah tahu sifat buruk Karin. Aku yang bodoh terpesona oleh wanita busuk."


Citra meletakkan laptopnya ke atas meja biar benda itu tak jatuh karena Citra bergetar tak terima Karin berbuat sejauh itu. Perempuan model apa sanggup hancurkan dua biduk rumah tangga. Rumah tangga sendiri dan rumah tangga mertua.


"Aku turut menyesal. Maafkan aku tak peka!"


"Bukan salahmu! Kamu dokter pasti memikirkan nyawa pasien. Aku akan urus Karin. Aku janji takkan ceraikan dia tapi aku tak mau dia berada di lingkungan aku. Dia punya sejuta akal bulus capai tujuan. Bukan tidak mungkin dia jebak aku dalam penyakit sama. Kau mau maklum kondisi aku?"


"Tapi dia butuh support bapak!"


"Manusia badak macam Karin tak gampang mati. Dia akan baik-baik saja. Aku balik dulu ya. Besok pagi sekali aku akan balik sebelum Afifa bangun. Aku tak mau dia kecil hati ditinggal pergi." Alvan melirik jam di tangan menunjukkan pukul setengah sepuluh malam. Waktunya istirahat buat keluarga kecil Citra.


Mereka keluarga kecil hidup teratur tidak pernah keluar malam bila tak penting. Jam sembilan malam anak-anak harus masuk kamar tidur kecuali malam Minggu. Malam Minggu Citra ijinkan kedua anaknya tidur lewat jam sembilan karena hari Minggu tidak sekolah.


"Baiklah! Mereka bangun pagi sekali untuk sholat subuh. Bapak mau datang jam berapa?"


"Jam empat besok aku datang! Aku tidur di kantor saja! Pulang ke rumah agak jauh."


"Hati-hati di jalan! Besok bapak mau sarapan apa?"


"Apa saja! Aku pergi ya,!" Alvan bangkit dari sofa menuju ke arah pintu. Jarak sofa ke pintu hanya beberapa langkah panjang Alvan. Beberapa kali melangkah sudah capai depan pintu. Citra ngekor dari belakang mengantar Alvan keluar sampai ke pagar.


"Masuklah! Kunci pintu pagar!" Alvan menyuruh Citra masuk karena angin bertiup lumayan dingin. Suasana komplek sepi tanpa ada orang keluar jalan-jalan.


Malam begini orang lebih suka berdiam diri dalam rumah hindari masalah. Kalau tidak penting tidak perlu keluar agar terhindar dari kejahatan yang sering makan korban. Ntah itu begal, ulah anak geng motor maupun perampok musiman.


Makin susah cari rezeki makin banyak pengangguran. Tidak ada pekerjaan halal maka orang banting setir ke arah haram. Dari situlah timbul hal-hal negatif merugikan masyarakat.


Citra memasukkan motor ke dalam rumah sebelum kunci pintu. Motor itu satu-satunya transportasi Citra antar anak-anak ke sekolah serta mengantar diri sendiri ke tempat dia bertugas. Tanpa motor kaki Citra patah susah melangkah.


Alvan hidupkan mobil setelah yakin Citra telah aman di rumah. Alvan berdoa semoga suatu saat Citra akan buka maaf tulus buatnya. Bersedia kembali ke pelukannya.


Mobil Alvan melaju meninggalkan rumah Citra menuju ke kantornya. Di kantor Alvan ada kamar khusus untuk Alvan istirahat bila lembur. Alvan sering nginap di situ bila tak ingin pulang ke rumah.


Malam ini Alvan kembali tidur di kamar itu. Alvan sengaja tidak pulang karena jarak rumah ke tempat Citra lumayan jauh. Dari kantor masih terbilang hanya makan waktu beberapa menit. Alvan cari yang gampang memilih nginap di kantor demi penuhi janji pada Afifa.

__ADS_1


Satpam kantor kaget lihat bosnya datang malam hari tanpa Untung. Biasa di mana ada bos di situ ada Untung. Mereka bagai sepasang kekasih sehidup semati. Tidak terpisahkan bila berada di kantor. Tumben malam ini minus Untung. Bos datang lembur sendirian?


"Selamat malam pak!" sapa satpam sopan membungkukkan badan.


"Malam...aku nginap sini!"


"Iya pak...kalau ada kepentingan kami siap di sini."


"Terima kasih." Alvan melangkah ke lift yang akan membawanya ke lantai atas tempat di mana adanya ruang kantor.


Sebagian lampu dimatikan untuk hemat energi. Hanya beberapa lampu hemat energi menyala beri tanda adanya kehidupan di kantor ini. Kantor gelap gulita bikin seram orang.


Alvan rasakan sepi mendalam sesampai dalam ruang kantor. Tak ada teman bisa diajak berbincang keluarkan unek-unek yang mengganjal hati. Masalah Alvan datang silih berganti bagai empat musim di luar negeri. Harapan Alvan semoga cepat datang musim semi.


Alvan bersih-bersih sebelum tidur. Tidur adalah waktu terbaik dalam kehidupan setiap manusia. Segala rasa lelah dan emosi segunung terselesaikan bila telah tenggelam dalam mimpi. Begitu bangun badan segar telah mampu meyelesaikan semua keruwetan hidup. Beginilah siklus hidup manusia! Siang hari menciptakan masalah, malam beristirahat himpun energi baru bikin masalah baru.


Alvan tidak bisa tidur anggap dirinya adalah manusia bernasib sial. Di usia tidak muda lagi kena masalah beruntun. Dipikir-pikir mirip tabrakan beruntun di jalan tol. Semua ringsek bahkan ada makan korban jiwa. Di pihak Alvan belum ada korban jiwa. Bukan tidak mungkin bakal ada korban jiwa. Contoh Karin. Kena virus HIV sama saja divonis mati.


Alvan gelisah semalaman. Mata tak mau diajak bersahabat merem sejenak. Makin dimarahin makin menjengkelkan. Mata Alvan seolah menantang pemiliknya duel siapa lebih kuat.


Alvan menggeram dalam hati. Tubuh sendiri saja bikin ulah melawan sang pemilik. Alvan bolak balik di ranjang melayangkan pikiran kepada Citra. Wanita itu pasti telah lelap berlayar di mimpi indahnya. Mimpi indah bersama siapa? Ingat itu Alvan cemburu sendiri.


Alvan meraih ponsel lihat layar di ponsel tertera pukul satu dini hari. Iseng-iseng Alvan ketik beberapa kata kirim ke seseorang.


\=Sudah tidur?\= terkirim. Di layar tampak ada centang dua. Cuma belum dibaca.


Alvan tertawa sendiri merasa gila hubungi Citra tengah malam gini. Berdasarkan sifat Citra yang sangat hargai setiap detik waktu istirahat jauh kemungkinan baca chat dari Alvan.


\=Belum pak! Aku tak bisa tidur ingat kelakuan Karin. Semua pengorbananku sia-sia. Nyatanya dia tak hargai apa yang telah kuberi padanya.\=


Alvan belum ngeh apa arti kalimat Citra. Pengorbanan apa telah dia berikan pada Karin sampai mengganggu pikiran Citra.


\=Apa maksudmu?\=


\=Aku berikan separuh hidupku pada Karin agar kalian bahagia. Aku rela hidup terlunta demi kalian. Akhirnya sad ending. Aku merasa bodoh saat ini.\=


\=Kau tunggu aku! Kita bicara empat mata. Aku tak bisa tidur.\=


\=Ini sudah dini hari. Besok saja\=


\=Besok apa? Ini sudah hari baru.\=


\=Jangan konyol! Coba tidur! Kita semua ada kegiatan nanti. Kita ngobrol di rumah.\=


\=Di rumah ada anak-anak. Gimana kujemput kamu pulang kerja nanti. Kau hubungi aku lepas piket.\=


\=Baiklah! Kita ngobrol di luar rumah. Siapa jemput anak-anak?"


\=Aku...kau fokus di rumah sakit saja! Anak-anak biar jadi tugasku. Kau sudah cukup lelah urus mereka. Giliran aku pula.\=

__ADS_1


\=Maaf pak! Aku tak pernah lelah urus anak-anak. Mereka adalah bagian dari nyawaku. Selama aku masih ada mereka tetap jadi tanggunganku.\=


\=Sewot amat! Aku tahu..aku cuma mau meringankan beban mu. Mereka anak-anak baik tidak merepotkan. Aku senang berada di antara mereka.\=


\=Syukur kalau ngerti! Sekarang coba picingkan mata bayangkan sosok yang bapak sayangi! Pasti lelap. Selamat tidur.\=


\=Selamat tidur!\=


Alvan lihat Citra tidak balas lagi. Ucapan terakhir Alvan tidak dibaca Citra. Alvan meletakkan ponsel di samping ranjang. Hati Alvan sedikit lega setelah chatting dengan Citra. Alvan berjanji akan bayangkan Citra sebagai penghantar tidur.


Anjuran Citra cukup mujarab. Alvan tertidur membayangkan Citra dan anak-anak. Ternyata merekalah orang yang diharap Alvan. Orang dari masa lalu untuk membangun masa depan cerah.


Bunyi alarm hp membangunkan Alvan dari tidur. Alvan sengaja setel alarm agar jangan telat datang ke rumah Citra. Janji pada Afifa seperti janji maut. Suka tidak suka harus ditepati. Sekali missed seumur hidup Alvan bakal karam.


Alvan bergegas cuci muka dan sikat gigi. Pergi jumpa Citra maunya tampil sempurna. Jangan ada sedikit kecacatan. Alvan tak ubah anak ABG sedang jatuh cinta. Di usia mulai mendekati empat puluh Alvan merasa terlahir kembali mengenal cinta dari awal.


Jatuh cinta pada mantan isteri. Ntah itu cinta karena frustasi atau memang tulus dari hati kecil Alvan. Hanya laki itu sendiri bisa jawab.


Yakin tampil modis Alvan segera angkat kaki dari kantor. Tidak perlu dibilang pembaca pasti tahu ke mana mobil Alvan akan berhenti. Di halte terakhir untuk memuat kisah baru. Alvan janji akan bahagiakan kedua anaknya juga Citra sebagai induk anak-anak. Jika semua telah berada dalam genggaman Alvan maka satu lagi anaknya harus kumpul bersama di tanah air.


Azzam saja belum takluk bagaimana hendak taklukkan Afisa. Kelihatannya Afisa lebih tegas dari Azzam. Dua penghalang Alvan mencapai impian merupakan darah daging sendiri. Mampukah Alvan menaklukkan kedua buah hatinya?


Tak terasa Alvan telah tiba di rumah Citra. Sekeliling komplek sunyi senyap. Angin dingin menyambut Alvan begitu keluar dari mobil. Hembusan angin pagi subuh lumayan menggigit kulit namun menyegarkan karena asap polusi belum memenuhi udara.


Alvan mengisi paru-parunya dengan oksigen bersih sebelum masuk ke rumah penuh kehangatan. Alvan lihat lampu di dalam rumah sudah menyala tanda sudah ada kehidupan di rumah itu.


Alvan membuka pintu pagar tanpa gembok langsung nyelonong sampai depan pintu. Alvan menyisir rambut pakai tangan sebelum mengetok pintu. Percaya diri bisa hadapi Azzam barulah tangan Alvan mengetuk pintu perlahan.


Di pagi sunyi gini sedikit suara keras akan bergema satu komplek. Alvan bukan orang tak tahu diri hendak bikin sensasi memalukan Citra. Terima tamu pagi buta gini. Apa kata dunia?


Sekali Alvan mengetuk pintu terbuka lebar. Sesosok laki kecil membuka pintu tanpa ekspresi. Wajah itu datar menyambut Alvan. Pagi-pagi sudah diberi suguhan tidak manis. Maunya Citra yang buka pintu. Tidak dapat senyum Citra tak jadi soal asal dapat menatap wajah teduh Citra.


Azzam ganteng sekali memakai baju Koko dan peci haji. Azzam mirip pak haji cilik baru pulang dari mesjid. Wajahnya bersih walau tidak ceria. Mungkin Azzam terganggu kehadiran Alvan.


Sebenarnya Azzam terharu lihat kesungguhan Alvan menunaikan janji pada Afifa. Laki itu tahu diri tidak nginap di rumahnya juga tidak lupa pada janji Afifa. Alvan belain menyenangkan seisi rumah dengan berkorban waktu tidur.


Azzam kasihan pada Alvan namun Azzam sebagai anak sulung Citra tak ijinkan siapapun melecehkan sang mami. Keadilan harus ditegakkan. Alvan sudah pilih hidup bersama Karin maka gugurlah hak Alvan atas diri mereka. Azzam tak menuntut hidup mewah, selama bersama Citra makan ala kadar tak jadi soal.


Citra muncul mengenakan mukena warna putih bersih. Selaras dengan wajahnya yang bersih. Hati Alvan tenteram berada di tempat tepat. Semua serba adem tanpa hiruk pikuk suara teriakan. Di rumah suara Karin selalu bergema memanggil para pelayan. Punya kaki dan tangan tak mau digunakan. Mulut saja yang rajin berkoar. Sekarang apa mau dikoarkan. Nasib Karin bagai telor di ujung tanduk. Setiap detik bisa pecah.


"Ko...bangunkan Amei! Jangan bilang papi baru datang ya! Biar Amei pikir papi nginap sini!" Citra beri perintah pada Azzam bangunkan Amei untuk sholat subuh.


"Iya mi...apa sajadah harus ditambah satu?"


Alvan tak tahu itu sindiran atau ajakan tak langsung pada Alvan untuk ikut sholat. Kapan terakhir Alvan sholat dia sendiri sudah lupa. Rasanya sudah sangat lama Alvan tak budidaya kan sholat sebagai tiang hidup. Saking enak hidup dalam gelimang harta lupakan kewajiban utama sebagai umat muslim.


Alvan meringis setelah Azzam pergi ke kamar Afifa. Benar-benar ular beracun. Sekali buka mulut racunnya menyebar ke mana-mana.


"Bapak sebagai imam ya!" kata Citra lembut. Kalimat ini mengajak Alvan kembali ke jalan benar sebagai umat muslim sejati. Bukan Islam dalam KTP doang.

__ADS_1


"Apa aku bisa?" Alvan ragu pada kemampuan sendiri jadi imam untuk keluarga.


__ADS_2