ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN

ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN
Citra Berangkat


__ADS_3

Di dapur Citra sudah selesai memasak sarapan pagi untuk mereka sekeluarga. Biasa cuma mereka bertiga, kini muncul pengemis kaya raya ikut numpang makan. Alvan hampir tiap hari mampir ikut makan di tempat Citra. Citra tak tahu apa maksud Alvan. Ingin dekati anak-anak atau sedang susun rencana lain jebak Citra dalam pernikahan tak sehat.


Alvan masuk ke dapur lihat apa yang dikerjakan Citra sebelum berangkat. Ada tak rela di hari Alvan ijinkan Citra pergi namun Citra pergi demi menolong orang tertimpa musibah. Alvan tak boleh egois mementingkan diri sendiri.


"Lagi masak apa?" tegur Alvan di belakang Citra.


Citra bukannya menjawab malah menyodorkan tempe goreng pada Alvan. Sepiring tempe keluarkan bau sedap menggoda hidung Alvan. Sejak kapan orang kaya macam Alvan konsumsi menu kalangan menengah. Orang kaya pikir tempe makanan orang sederhana padahal di dalam tempe mengandung nutrisi yang dibutuhkan tubuh manusia. Protein dalam tempe cukup tinggi. Pada dasarnya tempe mengandung gizi bagus untuk kesehatan.


"Apa ini?" tanya Alvan masih belum ngeh apa maksud Citra memberinya sepiring tempe.


"Bawa ke depan. Hari ini kita makan nasi uduk ala Citra."


Alvan manggut kecil tertarik pada menu Citra. Alvan pernah rasakan nikmatnya masakan Citra. Sejak Citra pergi Alvan harus biasakan diri makan masakan Bik Ani dan Iyem. Tentu rasanya berbeda karena setiap orang punya skill tersendiri.


Afifa kurang bersemangat pagi ini. Mendung tebal bergelayut di wajah cantik itu. Gadis kecil ini bersedih akan berpisah dengan sang induk beberapa waktu ini. Afifa sangat bergantung pada Citra. Tanpa Citra hidup Afifa tanpa warna. Kelabu.


Alvan memahami perasaan anaknya bakal ditinggal pergi. Andai Alvan bisa merubah keadaan tentu saja dengan senang hati bantu Afifa cegah Citra pergi. Tugas tetap tugas. Alvan tak boleh ajar Citra mangkir dari tugas utama sebagai dokter. Menyembuhkan orang sakit.


"Anak papi...kok sedih?" Alvan mengacak rambut Afifa perlahan takut merusak kepang yang sudah rapi.


Afifa menatap Alvan dengan mata berembun. Mata bening itu berkaca-kaca hendak luncurkan cairan. Dalam hati Alvan ikut bersedih.


"Anak papi yang cantik tak boleh sedih. Mami pergi menolong orang. Afifa mau punya mami baik hati bukan?" Alvan duduk di samping Afifa bujuk gadisnya.


Azzam duduk seberangan bersikap dewasa tidak tunjukkan ekspresi senada dengan Afifa. Segalanya Azzam lebih tegar.


"Papimu benar Mei! Mami pergi bertugas bantu orang sakit. Mami sekolah tinggi memang untuk bantu orang. Koko bangga mami tidak lalai pada tugas." ujar Azzam wibawa.


Alvan tak bisa sembunyikan rasa kagum pada Azzam. Putra model begini diharapkan Alvan mewarisi semua aset Lingga. Rasanya Alvan tak ingin berobat lagi karena telah punya tiga anak cerdas. Cukup tiga anak ini.


"Nah Afifa dengar kata Azzam! Mami pergi tak lama kok! Kita sarapan biar tidak terlambat ke sekolah. Papi yang akan jemput kalian pulang sekolah. Papi akan nginap di sini jaga kalian. Ok?" Alvan berjanji tidak akan tinggalkan kedua buah hatinya.


Afifa mengangguk setuju. Alvan berjanji ada di samping mereka merupakan obat paling ampuh. Afifa lebih tenang ada Alvan menemani mereka.


Acara sarapan pagi berlangsung kaku. Masing-masing tenggelam dalam alam pikiran sendiri. Citra sengaja berbuat seolah-olah kuat tinggalkan anak-anak padahal jauh di lubuk hati tersimpan rasa kuatir. Citra segera menepis bayangan buruk karena adanya Alvan di antara anak-anak.


Alvan mengantar Azzam dan Afifa bareng dengan Citra dan Andi. Setelah drop kedua anaknya barulah perjalanan di lanjutkan ke rumah sakit.


Afifa memeluk Citra erat-erat sebelum masuk kelas. Gadis kecil ini menahan tangis supaya tidak dimarahin Azzam. Azzam sudah ingatkan Afifa agar tidak cengeng. Anaknya Citra harus kuat mental hadapi semua cobaan.


Azzam ikut memeluk Citra tanpa drama tangis. Sebagai anak cowok pantang keluar air mata. Citra sendiri berusaha tegar tidak terpancing perlihatkan mimik muram. Senyum menjanjikan terpasang di wajah agar kedua anaknya kuat.


Azzam dan Afifa masuk ke sekolah diiringi tatapan tiga pasang mata. Calon-calon penerus keluarga Lingga harus lebih kokoh dari anak manapun.


Perjalanan berlanjut. Alvan mengantar Citra langsung ke rumah sakit bergabung dengan rekan lain siap diterjunkan ke lokasi bencana. Bawaan Citra lumayan banyak berkat kerja sama Azzam dan Afifa. Kedua anak itu gasak makanan dan pakaian ke tas Citra. Citra tak tega menolak maka bawaan jadi segunung.


Andi membantu Citra menurunkan bawaan untuk dinaikkan ke mobil yang akan antar mereka ke tempat penampungan sementara. Para medis dari seluruh kota akan bergabung duluan sebelum diterjunkan ke lokasi.


Dokter Hans sebagai pemimpin telah menanti kehadiran Citra. Dokter itu agak kuyu setelah lihat siapa yang antar Citra ke rumah sakit. Pemimpin versus pemilik rumah sakit. Kira-kira siapa yang akan tampil sebagai juara.


Alvan melangkah gagah dahului Citra dan Andi. Alvan sedang melakoni drama sebagai pemeran utama. Alvan bukan tak tahu Hans suka pada Citra. Dari awal Hans sudah tumpahkan suara hati suka pada Citra. Alvan yakin perasaan itu masih tumbuh subur di hati Hans. Jalan terbaik adalah unjuk gigi pamer dia adalah pemilik sah dokter Citra.

__ADS_1


"Selamat pagi dokter Hans. Aku datang antar dokter Citra." Alvan bergerak duluan menyalami Hans.


"Pagi...terima kasih sudah perhatian pada dokter kami. Kami harus segera bergabung sebelum dibagi tugas."


"Oh silahkan! Beri kabar di mana dokter Citra bertugas. Aku akan lebih gampang memantau."


"Baik. Oya...kita segera cabut karena panitia sudah berapa kali telepon!" Hans seolah ingin usir Alvan dari peredaran matanya.


"Ok... hati-hati ya!"


Citra dkk diiring masuk ke mobil bus. Empat dokter dan lima perawat jadi relawan rumah sakit Alvan. Mereka diantar ke tempat di mana dokter dari rumah sakit lain menunggu. Kali ini Alvan tidak intervensi ke mana Citra harus bertugas. Biarlah semua diurus panitia. Andi dan Alvan menatap bus yang bawa Citra pergi menjauh.


"Kita ke kantor! Kau akan kutugaskan cek ulang semua file. Jangan takut melapor bila ada kecurangan!" ujar Alvan sambil masuk ke mobil.


Andi segera ikut berusaha lebih macho. Di depan Alvan membuat gaya melayang kayak cewek ujungnya kena bogem mentah.


"Pak...kita mulai dari Kak Wenda dan Mas Untung! Selanjutnya sasaran ke bagian keuangan." Andi utarakan rencana cari kecurangan di perusahaan.


"Wenda sudah tiga tahun bekerja, Untung hampir sepuluh tahun. Apa mereka ikut terlibat?" gumam Alvan ragu kalau kedua bawahannya ikut main bawah tanah.


"Kita belum selidiki mana tahu pak! Seharusnya mereka tak bisa terima dana karena bukan wilayah mereka. Takutnya mereka terima uang sogokan. Pura-pura tak lihat kesalahan data."


"Kau benar. Kau pelajari semua data yang ada. Aku akan minta Wenda ambil file setahun terakhir ini. Kau pelajari dan cari di mana kesalahan."


"Baik pak!" sahut Andi berusaha gagah.


"Kau harus belajar bawa mobil. Belajar sama Untung."


"Kamu laki atau perempuan? Belajar nyetir saja takut! Kalau kau bisa nyetir maka tugas antar jemput anak-anak jadi tugasmu!"


Andi menelan air ludah membayangkan betapa mengerikan tugasnya. Lengah dikit kepalanya bisa berpindah tempat. Menjaga bocah milik bos sama saja menjaga sebongkah berlian langka. Berlian masih bisa dibeli asal ada uang sedang anak bos tak ada ganti.


"Andi akan usaha pak!" sahut Andi ngeri-ngeri sedap.


"Bagus..." Alvan menutup pembicaraan. Mobil melaju tenang bergabung dengan puluhan kendaraan lain antri ikut arus macet. Jam kantor begini seluruh jalanan pasti macet. Setiap orang berlomba ingin cepat-cepat sampai ke tujuan.


Hampir satu jam melawan arus kemacetan akhirnya Andi dan Alvan tiba di kantor. Untung sudah menanti di depan pintu kantor menunggu bos. Sudah beberapa hari Untung tidak jemput Alvan di rumah karena laki itu memilih bawa mobil sendiri. Andi yang beruntung disupiri bos datang ke kantor.


Banyak yang iri pada pegawai baru itu. Baru masuk sudah dapat kepercayaan besar dari Alvan. Besar kemungkinan Andi bisa geser Untung menjadi Aspri Alvan.


Andi membawa tas kerja Alvan tetap rendah hati walau dapat posisi lumayan. Andi tidak ingin takabur sok-sokan jadi orang kesayangan bos.


"Pagi pak!" sapa Untung melirik Andi. Andi mengangguk hormat pada Untung sebagai sebagai senior.


"Suruh Wenda siapkan seluruh file tahun ini! Kau dan Andi cek ulang semua data. Lihat apa ada yang kecolongan!"


Untung kaget mengapa tiba-tiba Alvan ingin bongkar data lama. Apa bosnya menemukan sesuatu menyimpang di perusahaan?


"Maksud bapak ada yang tak beres?" Untung mengejar langkah panjang Alvan menuju ke lift.


"Pelajari dulu baru kau akan tahu! Jangan harap ada yang bisa lolos bila ketahuan curang!" kata Alvan dingin.

__ADS_1


Cling..suhu udara di sekitar Alvan berubah jadi membeku berkat suara dingin Alvan. Hati Untung menjadi kurang nyaman. Sepuluh tahun bersama Alvan belum pernah Alvan berkata kasar padanya. Apa yang telah terjadi?


Untung menancapkan mata ke arah Andi. Tatapan mata Untung penuh intimidasi ke arah Andi. Andi tahu Untung sedang kegerahan kena pukulan kalimat Alvan. Andi buang muka ke bawah tak mau diancam Untung.


Sikap aneh Untung datangkan kecurigaan Andi. Otak Andi beri signal kalau Untung ikut dalam kecurangan ini. Orang bersalah akan duluan menyerang agar hilangkan jejak rasa bersalah. Sikap Untung menuju ke arah itu.


Ting...lift terbuka antar Alvan menuju ke lantai di mana kantornya berada. Alvan berjalan dikawal dua pengawal beda profil. Satu tambun dan satunya feminim. Dua dunia berbeda.


Andi dan Untung ikut Alvan masuk sampai ke ruangan cari tahu apa perintah bos selanjutnya. Andi sih santai bebek tak terusik oleh tatapan horor Untung. Walau dia lemah tapi keadilan tetap harus ditegakkan. Mencuri uang perusahaan merupakan kasus serius.


Alvan duduk di singgasana bak raja akan memimpin rapat buat kedua menterinya. Alvan menatap Andi dan Untung gantian. Satu wajah baru dan satunya wajah lama nyaris basi saking sering jumpa.


"Untung...apa kau ikut input data di komputer setiap bulan?" tanya Alvan kepada Untung sebagai terdakwa pertama.


"Wenda yang input dan aku cek ulang apa sesuai file. Sejauh ini semua aman. Setiap laporan akurat." jawab Untung tanpa ragu.


"Kau yakin? Aku menemukan ada data tidak sesuai."


"Maksud bapak?" Untung mulai gelisah dengar keluhan Alvan.


"Ambil file yang kau lihat kemarin Andi!" perintah Alvan pada Andi.


Si kenes segera menjemput file yang Andi anggap bermasalah. Untung merasa kuduknya merinding bila terungkap ada kecurangan di kantor. Dia dan Wenda bisa kena masalah karena mereka merupakan terminal terakhir sebelum ke inti perusahaan yakni Alvan.


Apa yang telah ditemukan anak lebay itu. Dari segi penampilan kecakapan Andi diragukan, namun dari skill Andi mulai terasah untuk bersinar.


Andi membawa map berisi data yang dicurigai bermasalah. Andi menyerahkan map itu pada Alvan untuk ditindak lanjuti.


Alvan bolak balik isi data lalu buka komputer cek apa laporan Andi memang akurat. Alvan cocokkan data di file dengan hasil di komputer. Ternyata memang ada selisih hampir satu milyar. Satu milyar bukan dana sedikit. Buat beli pizza bisa satu rumah.


"Kau lihat ini!" Alvan berikan file pada Untung lalu tunjukkan rekap data di komputer.


Mata Untung tak percaya dengan apa yang dia saksikan. Perbedaan sangat mencolok. Dari tiga berubah menjadi dua. Selisih satu angka bukan hal besar namun bila ditambah beberapa angka nol nominal akan berubah jauh.


"Ini hasil dari alat berat dari proyek pembangunan jembatan. Seingat aku memang data yang kuterima dua milyar lebih. Dari mana muncul file ini?"


"Aku menemukan di meja kak Wenda. Iseng kubuka untuk belajar cara input data. Aku tidak sengaja pilih file ini. Tapi hasilnya kok beda maka aku lapor ke bapak." sahut Andi dengan lirih takut salah omong.


"Panggil Wenda! Aku mau tahu sudah berapa lama ada drama korupsi di kantor ini!" ujar Alvan sedingin es balok.


Untung mengangguk. Untung tak sangka ada penyimpangan di laporan kantor. Satu orang berbuat imbasnya ke semua karyawan. Bagus juga Andi tak sengaja temukan kecurangan ini. Kalau tidak perusahaan bisa bangkrut ditilep oknum nakal.


Untung menelepon Wenda agar datang ke ruang Alvan. Bakal ada yang kena pecat bila ketahuan berbuat curang. Untung tidak ragu bantu Alvan bongkar kebusukkan oknum nakal. Tadi Untung pikir Andi sedang cari muka buat karangan cerita untuk menyudutkan Untung maka Untung beri reaksi aneh.


Wenda datang dengan kepala menunduk. Alvan tak ngerti mengapa Wenda bisa ketakutan sendiri bila tak berbuat salah. Apa yang sedang disembunyikan wanita itu. Selama bekerja di tempat Alvan tak pernah sekalipun Wenda buat Alvan marah.


Sikap Wenda sopan tidak genit. Tak pernah sekalipun wanita itu menggoda Alvan sebagaimana sekretaris lain. Maka itu Alvan suka cara kerja Wenda.


Untung menunjukkan file dan data di komputer pada Wenda tanpa permisi pada Alvan. Untung tak sabar mau tahu apa motif Wenda buat laporan palsu.


Wenda tidak melihat file dan komputer. Wanita ini memilih menunduk cari uang receh tercecer di lantai ruang Alvan.

__ADS_1


__ADS_2