
Alvan tiba di kantor disambut Untung. Alvan cukup lama vakum dari kantor asyik fokus pada masalah keluarga. Banyak proyek terbelangkai tanpa ada komandan. Untung berusaha semaksimal mungkin wakili Alvan namun tetap saja ada yang kurang. Para investor tetap mencari pemilik perusahaan.
Untung telah menanti Alvan di depan pintu masuk kantor. Lelaki gempal ini senang melihat kehadiran orang yang ditunggu-tunggu. Semoga tak ada konflik lagi di dalam kehidupan Alvan. Cukup sekian kemelut yang datang bertubi-tubi.
"Selamat pagi pak!" sapa Untung penuh rasa hormat kepada Alvan.
"Pagi... apa hari ini kita ada meeting?"
"Bukan meeting Pak melainkan jumpa investor yang ingin membeli hasil tambang kita."
"Jam berapa kita harus jumpa dan lokasinya di mana?"
"Sekitar jam 11.00 disusul makan siang bersama."
"Baiklah.. kau atur saja jadwalnya! Nanti kau kasih tahu kalau sudah waktunya kita berangkat."
"Siap pak! Oya...tadi ada pemberitahuan dari pihak kepolisian kalau Nona Selvia tiba-tiba diserang demam tinggi. Persidangan ditunda sementara sampai Nona Selvia agak pulih."
"Selvia sakit? Sakit apa dia?"
"Menurut pihak kepolisian sepertinya Nona Selvia terjangkit virus HIV."
Mendengar kata HIV Alvan memutar kepala melihat ke wajah untung yang tembem. Dari mana pula Selvia yang mendapat virus itu? Apa dia juga berhubungan dengan si Zaki? Alvan tak habis pikir bagaimana pesona si Zaki itu?
"Positif?"
"Katanya sih begitu! Sekarang Nona Selvia sudah diisolasi ke ruang lain agar tidak menjangkiti tahanan yang lain."
"Ya Tuhan... orang-orang ini! Mempertaruhkan nyawa hanya untuk sekedar nafsu. Betapa bodoh manusia-manusia model kayak gitu."
Kedua lelaki ini segera naik lift menuju ke ruang kerja Alvan. Kepala Alvan masih dipenuhi oleh bayangan Selvia mendapat penyakit yang sangat mengerikan itu. Mengapa ada manusia sebodoh itu menjual nyawa demi kenikmatan sesaat.
"Pak...aku akan bawa beberapa berkas untuk bapak tanda tangani! Sebelumnya mohon bapak pelajari agar tak terjadi hal tak diinginkan." ujar Untung sebelum Alvan masuk ke ruangnya.
Alvan mengangguk setuju. Kini Alvan harus lebih hati-hati menanda tangani setiap dokumen. Banyak sekali jebakan Batman siap menguras harta lelaki ini.
Untung tinggalkan Alvan untuk mengambil dokumen sementara Alvan masuk ke ruangan. Hari ini mood Alvan terasa lebih segar. Afisa balik ke Singapura tanpa bawa ganjalan di hati lagi. Semua anak-anak telah bersedia menerimanya dengan tangan terbuka.
Baru saja Alvan menempatkan pantat di kursi empuk ponselnya berbunyi tanda ada panggilan masuk. Seperti biasa Alvan akan melirik siapa yang menelepon pagi sekali. Pasti ada sesuatu yang penting.
Nama Amang tertera di layar. Tidak terbesit sedikitpun Alvan akan menolak panggilan masuk ini.
"Halo.. Assalamualaikum Mang apa kabar?" Sapa Alvan duluan.
"Waalaikumsalam...lagi sibuk?"
"Baru juga tiba di kantor. Bagaimana keadaan aman sekeluarga?"
"Alhamdulillah kita di sini semua baik-baik saja! Bagaimana kondisi mamamu?"
"Belum ada perubahan.. tapi Alvan yakin Mama akan segera sadar. Kita doa bersama saja Mang."
"Iya...kami sekeluarga selalu berharap mamamu segera sadar dan pulih seperti biasa."
"Aamiin.."
"Oya...Van...Kayla dan mamanya akan di bawa ke Jakarta untuk sidang. Kami harapkan kau beri kelonggaran sidang di sini saja! Hukuman tetap akan dijatuhkan sesuai kesalahan mereka cuma Amang minta mereka disidang di sini saja."
__ADS_1
"Apa boleh gitu mang? Soalnya kejadian di sini."
"Itu tergantung kebijakan kamu. Amang di sini berjanji tidak akan intervensi masa hukuman mereka cuma berhubung mamanya si Kayla kurang sehat dan sudah berumur maka amang meminta kamu memberi kelonggaran."
"Itu harus Alvan koordinasi dengan pihak kepolisian sini. Apa boleh gitu?"
"Terima kasih pengertian kamu! Amang tak tahu harus berkata apa lagi sewaktu keluarga Kayla datang ke rumah memohon pada Amang. Kalau mereka dihukum di sini maka keluarganya bisa datang menjenguk mereka. Percayalah pada Amang! Soal hukuman kami takkan ikut campur. Biarlah jadi wewenang aparat hukum!"
"Amang itu bukan wewenang Alvan. Nanti akan coba Alvan koordinasi dengan pihak yang berwajib. Kalau memang boleh silahkan saja! Asal hukuman sesuai kesalahan mereka."
"Amang akan ingat itu! Terima kasih. Kalau ada kabar mamamu harap segera hubungi Amang!"
"Pasti mang! Alvan janji akan segera menghubungi Amang bila mama telah sadar."
"Amang tunggu kabar darimu! Tentang keputusanmu terhadap Kayla akan aman sampaikan pada seluruh keluarga. Amang tutup dulu telepon ya nak!" Assalamualaikum.."
"Waalaikumsalam.." Alvan meletakkan ponsel di atas meja.
Sebenarnya Alvan tidak setuju Kayla dan mamanya dihukum di Kalimantan. Mereka juga orang berkuku maka ada kemungkinan mau intervensi masalah hukuman. Namun Alvan tidak enak juga pada Amang. Alvan bukannya tidak percaya pada amangnya tetapi tangan-tangan nakal pasti akan bekerja memperkecil hukuman Kayla.
Untuk sementara Alvan tidak bisa memusatkan pikiran pada Kayla dan keluarganya. Alvan harus membangun kembali perusahaannya yang agak anjlok beberapa waktu ini. Bisa saja perusahaan itu ambruk bila Alvan tidak segera sadar untuk mengelola kembali perusahaan.
Waktu bergulir tanpa menunggu orang malas. Tak terasa sore telah datang. Alvan telah merampungkan sebagian pekerjaan kantor. Satu persatu kekurangan telah Alvan perbaiki dibantu oleh Untung dan Andi. Mantan banci itu makin cemerlang mampu menjawab tantangan pekerjaan. Alvan mendapat seorang tangan kanan baru untuk berjaga suatu saat Untung resign.
Alvan sengaja menjemput Citra di rumah sakit sekaligus mau jenguk papa dan Mamanya. Kondisi pak Jono membaik namun Bu Dewi belum ada perubahan. Belum sadar dari koma. Citra berusaha semaksimal mungkin memulihkan Bu Dewi tapi dia hanya manusia biasa tak punya kuasa melawan sabda Yang Maha Kuasa.
Citra masih berada di ruang praktek sewaktu Alvan tiba. Nadine dan Fitri juga masih setia temani Citra hingga tugas kelar. Alvan tidak ingin mengganggu pekerjaan Citra memilih menjenguk pak Jono di ruang VVIP.
Kali ini Alvan menemukan papa kurang bergairah. Pak Jono tak usah buka mulut Alvan sudah bisa tebak apa yang memberatkan pikiran pak Jono. Beberapa hari tidak jumpa isterinya akan jadi tanda tanya besar di benak pak tua itu.
Alvan pura-pura riang agar pak Jono lupa akan kesedihan raibnya Bu Dewi. Orang sakit model pak Jono butuh pikiran nyaman agar darah melonjak naik ke level mengkuatirkan.
"Sudah enakan tapi papa mau tanya kepadamu. Ke mana mamamu berapa hari ini?"
Alvan sengaja hindari tatapan mata Pak Jono agar tidak ketahuan sedang berbohong. Kalaupun Alvan mengarang cerita pasti akan ketahuan maka itu Alvan memilih menghindari percakapan mengenai Bu Dewi.
"Oya...Afisa sudah berangkat pa! Dia akan masuk pusat latihan. Heru menemani dia di sana. Pas pula Heru ada bisnis di sana jadi Alvan bisa fokus ke papa dan perusahaan."
"Van... jangan menghindari masalah! Katakan sejujurnya ke mana Mama mau pergi! Atau kamu mengirim dia ke Kalimantan lagi?" Pak Jono menatap anaknya dengan tatapan tak bersahabat. Apa Alfa belum cukup menghukum papanya dan Mamanya?
Pak Jono telah mendapat hukuman atas kesalahannya dan sekarang apa pula salah Bu Dewi? Pak Jono tidak habis pikir mengapa Alvan berubah sejak kehadiran Citra. Sebenarnya Citra membawa angin baik atau angin negatif kepada Alvan.
"Pa..." Alvan merasa suaranya tersekat di kerongkongan tak bisa mengeluarkan nada pas. Di kerongkongan seperti ada sangkut biji salak halangi Alvan berkata jujur.
"Katakan! Apapun yang akan kau katakan papa telah siap! Apa kau kirim mamamu penjara karena bersekongkol dengan keluarga Kayla?"
Alvan menghela nafas pak Jono salah paham padanya. Alfan belum gila mengirim Mamanya ke penjara. Kalau Alfa mengatakan yang sebenarnya belum tentu pak Jono bisa menerima keadaan bu Dewi.
"Alvan...kau terusan bela Citra abaikan mama mu. Ini tidak adil!"
Hati Alvan tercekat. Mengapa Citra yang jadi kambing hitam lagi? Citra lah yang menjadi korban daripada keegoisan Bu Dewi dan saudaranya. Namun sejauh ini Citra tidak bereaksi apapun terhadap Bu Dewi dan keluarganya. Kalau disuruh Citra yang menentukan pasti akan membebaskan semua musuh-musuhnya. Alvan makin mengenal sifat welas Citra yang tidak suka menyakiti hati orang.
"Kok Citra? Emang apa salah Citra? Mengapa semua orang ingin menghakimi Citra yang tidak tahu apa-apa."
"Tapi demi Citra kamu penjarakan mamamu." seru Pak Jono dengan nada tinggi.
"Ya Allah pa...bukan seperti itu! Asal papa tahu mama meminta Karin menyingkirkan Citra agar Kayla bisa leluasa jadi isteri aku. Karin menolak lantas mama jatuh pingsan dan koma hingga sekarang."
__ADS_1
Alvan tak dapat menyembunyikan fakta lagi karena Pak Jono juga menyalakan Citra. Alvan tidak rela ada orang berkata buruk tentang Citra. Di mata Alfan Citra adalah adalah makhluk Tuhan yang paling sempurna. Ke mana lagi Alvan akan menemukan wanita sebaik Citra. Pasang pamflet pengumuman ke seluruh dunia juga belum tentu mendapat menemukan wanita seperti Citra.
Pak Jono terperangah mendengar cerita Alvan. Cerita ini sangat di luar dugaan Pak Jono. Semula Pak Jono mengira Alvan akan kirim Mamanya ke Kalimantan ataupun mengirim Mamanya ke penjara. Ternyata kisahnya jauh di luar dugaan Pak Jono.
"Van...ini benar?" tanya pak Jono dengan suara bergetar. Istri yang dinantinya telah terbaring tak berdaya di rumah sakit. Pak Jono sangat tidak percaya mendengar kabar ini.
Alfan mengangguk meyakinkan papanya bahwa itu adalah kenyataan. Semua yang dikatakannya adalah fakta.
"Mungkin Karin berbohong?"
"Berbohong apa lagi pa? Sekarang mama masih koma. Citra telah berupaya operasi mama. Mama begitu jahat kepada Citra namun Citra tidak mendendam sedikitpun. Apakah Papa masih ingin mencurigai Citra?"
"Mama...kenapa berubah jadi aneh? Dulu dia sangat menyukai Citra membenci Karin. Sekarang mengapa terbalik?"
"Tidak ada yang terbalik. Sampai detik terakhir mama sadar dia tetap tidak menyukai Karin. Mama mengira Citra akan menguasai separuh daripada saham perusahaan padahal Citra telah menolak saham yang diberikan oleh kakek Wira. Sekarang dokumen itu ada pada Pak Man. Pak Man telah berjanji akan mencari waktu tepat untuk mengembalikan dokumen itu kepada Mama."
Pak Jono terkulai lemas. Siapa yang harus disalahkan atas tragedi di keluarga Lingga. Satu persatu tumbang karena dosa masa lalu. Pak Jono dapat karma, Karin sedang panen karma panjang dan Bu Dewi sedang mendulang karma. Ya karma telah mencari mereka.
Alvan segera menangkap tubuh papanya yang tiba-tiba loyo. Perlahan Alvan membaringkan pak Jono di atas bantal.
"Suster..." seru Alvan berteriak di depan pintu. Suara Alvan cukup menggelegar membuat para perawat berhamburan.
"Ya pak!"
"Tolong periksa papa aku!"
Perawat itu masuk memeriksa pak Jono yang drop. Alvan segera angkat telepon hubungi Citra kabarkan kalau papanya drop setelah dengar cerita tentang Bu Dewi. Untung Citra belum pulang. Citra janji akan segera datang memeriksa mertua lakinya.
Citra bagai naik pesawat super jet. Sebentar saja wanita bertubuh mungil itu sudah berada di ruang rawat pak Jono. Wajah pak Jono pucat pias menahan rasa sakit di dada. Bukan sakit penyakit melainkan sakit sedih isterinya koma.
Citra segera turun tangan memeriksa pak Jono. Untunglah tak ada yang perlu dikuatirkan selain pak Jono syok mental. Siapa tidak kaget mendengar isteri yang baik-baik kini telah koma.
"Pa..." Citra menggenggam tangan Pak Jono lembut. Hujanan tatapan tak senang Alvan terhadap interaksi Citra terhadap pak Jono melayang bertubi-tubi. "Mama akan baik-baik saja! Papa yang harus kuat agar kita bisa merawat mama bersama."
"Kau tidak dendam pada mama kamu?"
Citra menggeleng pasti. Citra samasekali tidak menyimpan amarah apalagi dendam.
"Dosa lho dendam pada orang tua sendiri! Kita berdoa saja semoga mama cepat sadar. Nanti kalau mama sudah sehat dikit kita bawa mama berobat ke luar negeri. Di sana ada pakar kesehatan yang mumpuni. Mama pasti sembuh. Di sana ada Afisa bisa rawat papa dan mama."
"Anak kecil bisa apa?"
"Afisa cucu papa yang luar biasa. Dia akan merawat Oma dan Opa. Percayalah! Citra akan urus semuanya agar mama dapat pengobatan paling bagus."
"Kau tak bohong?"
"Tidak...Kita usaha bersama! Begitu mama sadar kita berangkat."
"Kau ikut?"
"Insyaallah..sekarang papa tak usah banyak pikir! Utamakan kesehatan agar bisa menjaga mama selama pengobatan." ujar Citra lembut agar Pak Jono yakin dia tidak sedang berbual.
"Papa percaya padamu! Apa papa boleh menjenguk mama?"
"Sekarang belum boleh karena mama di bawah pantauan para dokter. Tadi Citra sudah lihat kalau ada peningkatan dari reaksi organ tubuh. Semua berfungsi baik. Mama tak bisa ditemui karena harus steril. Papa maklum kan?"
"Ya...kalau gitu papa belum mau pulang! Biar dekat mama!"
__ADS_1
"Tak masalah...lebih bagus lagi! Citra tak perlu repot ke sana sini kontrol papa dan mama."
Alvan sudah tak sabar lihat Citra dan pak Jono saling genggaman tangan. Rasa cemburu setinggi gunung Mount Everest meruncing di dada. Jujur Alvan cemburui pak Jono yang terkenal bandot.