
Nadine sudah tak sabar ingin mengorek keterangan dari mulut Citra mengapa Alvan hadir dalam hidup Citra. Selama ini Citra menutup rapat tentang siapa suaminya. Nadine beserta keluarga juga tak kepo cari tahu mengapa Citra tak mau bahas soal bapak dari anak-anak.
Kehidupan pribadi Citra terkuak sedikit bikin Nadine makin penasaran. Mimpi seribu kali Nadine tak sangka tetangganya punya suami super power.
Nadine menyeret Citra sedikit memaksa. Rasa penasaran Nadine lebih besar dari rasa segan. Status Citra adalah dokter sedang Nadine hanya perawat umum. Dari perbedaan status Nadine harus hormat pada atasan. Tapi mereka sudah seperti keluarga sejak Citra pindah ke sebelah rumah Nadine.
Kedua berada di samping mushola rumah sakit tempat ambil air wudhu. Nadine menahan Citra masuk ke kamar mandi khusus wanita berwudhu. Tempat itu hanya bisa dikunjungi wanita karena memang di peruntukkan khusus wanita.
"Katakan apa yang terjadi? Pak Alvan bapak anak-anak?" serang Nadine tak sabaran ingin korek keterangan dari Citra.
"Ceritanya panjang! Melebihi gerbong kereta api. Aku akan cerita dari awal. Sekarang kita berdoa untuk kesembuhan Amei dulu!" sahut Citra kalem seperti biasa.
Nadine tak berdaya ditolak Citra secara halus. Saat ini memang waktunya sholat bukan bergosip. Jiwa kepo Nadine berontak tak sabar ingin tahu kisah cinta Citra dan Alvan. Nadine tak ragu kata Alvan kalau dia bapak anak Citra. Azzam adalah bukti valid kalau anak-anak Citra ada hubungan dengan Alvan. Azzam sembilan puluh persen mirip Alvan. Tak usah test DNA Nadine yakin itu anak Alvan.
Citra tinggalkan Nadine ambil air wudhu mendirikan sholat memohon pada Yang Maha Kuasa agar putrinya diberi kesembuhan. Tak tempat mengadu lebih tepat selain Allah. Semua yang ada di dunia ini adalah milik Allah maha pencipta. Setiap manusia boleh berencana tapi yang memutuskan tetap Yang Maha Esa.
Citra dirikan sholat dengan khusyuk menyerahkan semua keputusan pada Allah. Allah maha pemurah tentu takkan tinggalkan umatnya yang taat. Citra percaya tak ada gunanya melawan takdir. Cepat atau lambat dia pasti akan jumpa Alvan. Tidak hari ini mungkin besok atau lusa pasti bersua. Jadi Citra memutuskan takkan hindari Alvan lagi. Hadapi semua sampai tuntas. Jika Alvan ingin pisah secara hukum Citra sudah siap.
Dalam kamar ruang rawat Afifa, Alvan tak puas memeluk gadis kecilnya. Alvan merasa bersalah tak dampingi Azzam dan Afifa beranjak remaja. Citra sudah pasti sibuk merawat tiga bayi sambil kuliah. Membagi waktu antara anak dan tugas bukan segampang balik telapak tangan.
Alvan tak melihat kekurangan pada kedua anaknya. Malah keduanya sehat walau Afifa lebih lemah. Jauh dari lubuk hati Alvan angkat salut pada wanita muda itu. Karin jadi tak berarti bila dibanding Citra. Karin hanya tahu hidup glamor tak pikir hari esok. Hamil dengan laki tak jelas pula.
Mungkin ini karma buat Alvan telah kesetanan talak Citra tanpa jaga perasaan wanita itu. Alvan telah menuai karma buruk. Isteri yang dia banggakan tak lebih dari perempuan kotor penghamba nafsu Angkara. Belum terlambat bagi Alvan untuk mengenal Citra dan buntutnya lebih detail.
Afifa kembali tertidur setelah kenyang makan bubur. Gadis cilik itu tampak tidur dibarengi nafas teratur. Wajah tak pucat pasi lagi. Rona merah di pipi samar-samar hiasi pipi montok itu. Alvan akui karunia Tuhan terlalu sempurna buatnya. Afifa sangat cantik persis boneka.
Di jaman medsos gini Afifa bisa jadi lahan cari rezeki. Terima endorse pakaian anak dan pernak pernik anak cewek bisa kais rezeki lumayan banyak. Alvan tak rela anaknya jadi tontonan semua orang maka putuskan tak ijinkan Afifa terima segala job. Harta Alvan tak habis dimakan tujuh turunan. Apa artinya uang endorse yang tak seberapa.
Alvan pindahkan badan ke sofa setelah yakin Afifa tidur nyaman. Alvan selimuti buah hatinya dengan selimut putih bawaan rumah sakit. Sekeliling kamar di dominasi warna putih tunjukkan kebersihan rumah sakit itu. Ruang super VIP tak ubah layak hotel berbintang lima. Biaya untuk nginap di ruang ini mencekik leher pasien. Hanya orang tertentu mampu bayar ruang rawat itu.
Afifa anak pemilik rumah sakit wajar dapat fasilitas terbaik di rumah sakit. Alvan tak rela anaknya bergabung dengan orang sakit lain. Inilah ego orang kaya. Meruncing ke atas lupa melihat ke bawah. Afifa dan Azzam terbiasa hidup sederhana bersama Citra maka tak menuntut ini itu walau punya papi maha kaya.
Alvan memainkan ponsel menimbang teleponi orang tuanya atau tidak. Apa Alvan harus jelaskan soal Citra dan anak-anak kembarnya. Alvan kuatir orang tuanya akan ekstrem tuntut hak asuh anak Citra. Alvan tak tega pisahkan anak ibu secara mendadak. Citra bisa gila bila anak-anaknya di rebut Alvan. Belum lagi kebencian Azzam yang telah mengakar di hati.
Alvan butuh waktu mencuri kasih sayang Azzam dan Afisa. Perlahan Azzam pasti akan luluh bila Alvan tunjukkan ketulusan.
Akhirnya Alvan menggeser layar cari satu nomor kontak Untung asisten jempolan.
"Halo pak...ada perintah?" suara siaga dua puluh empat jam bergema di gendang Alvan.
__ADS_1
"Gimana kantor hari ini?"
"Aman pak! Nona Selvia ada cari bapak bahas soal investor dari Dubai."
"Oh...bilang besok aku ke kantor. Tolong kau bawa stelan pakaianku ke rumah sakit! Aku nginap di sini! Kalau Karin tanya bilang aku mau keluar kota. Awasi Karin? Ke mana dan apa saja kerjanya. Dan bawa makan malam serta roti khusus untuk anak kecil. Boleh bolu yang lucu."
"Siapa sakit pak? Anak siapa?"
"Kamu digaji bukan buat jadi wartawan. Kerja yang bagus." ujar Alvan sewot asistennya terlalu kepo.
"Iya pak! Siap laksanakan!" Untung bungkam ditegur oleh Alvan secara tegas.
Cowok gempal itu bertanya dalam hati mengapa bosnya tiba-tiba tertarik pada kehidupan orang lain. Biasa Alvan hanya berhubungan dengan orang yang bermanfaat tak suka kepo. Kalau dia ikut campur urusan orang artinya orang itu punya makna penting bagi Alvan. Kira-kira anak siapa punya kemampuan besar mencuri perhatian bos itu.
Untung harus simak baik-baik siapa orang itu. Laksanakan perintah bos lalu pantau bayi siapa itu?
Alvan mematikan ponsel tak mau nyinyiran dengan anak buah. Bisa hilang wibawa Alvan bila sering bercanda. Sekarang saja Alvan mulai hilang gengsi gara-gara punya kecebong luar biasa bijak. Setiap kalimat yang muncul penuh racun mematikan nyali Alvan. Baru kali ini Alvan ketemu lawan seimbang. Alvan jarang kalah debat selain dengan mendiang kakek. Kakek sudah tak ada hadir pengganti yang lebih lihay. Sekali kena skak mat Alvan langsung mati langkah.
Malam makin merajai langit. Cahaya matahari mulai jatuh sisakan keremangan menyambut di raja kelam. Sebentar lagi seluruh langit akan berubah gelap halau sinar matahari yang kembali ke peraduan.
Alvan bangkit dari sofa berjalan ke arah jendela. Laki ini menutup jendela agar angin malam tak merusak kesehatan anak gadisnya. Alvan harus lebih hati-hati jaga kesehatan Afifa yang merupakan penerusnya.
Jalan ke depan makin penuh tantangan. Alvan harus kuat menjawab tantangan yang dia mulai sendiri. Dia yang tanam benih di perut Citra. Alvan wajib nafkahi anak dan Citra yang masih isteri sah dalam hukum. Alvan telah lalai lakukan kewajiban sebagai bapak dan suami. Ini saatnya Alvan bayar hutang pada anak bini.
Pintu diketok orang dari luar. Alvan sudah duga itu Citra balik dari mushola. Alvan berjalan ke pintu buka secara langsung. Alvan mau Citra tahu kalau sekarang dia berubah mau tanggung jawab terhadap anak isteri. Alvan kecewa pada Karin maka akan coba bina hubungan baik dengan Citra walau tak banyak berharap.
"Assalamualaikum..." Citra kasih salam sebelum masuk ke dalam ruangan. Tubuh besar Alvan halangi jalan Citra masuk.
"Masuk..perawat itu mana?" netra Alvan mencari sosok suster yang ikut Citra laksanakan sholat. Bayangan suster itu tak tampak. Ke mana perginya padahal Alvan sudah perintah suster itu harus jaga Afifa. Cari mati berani membantah perintah atasan.
Citra masuk setelah Alvan geser tubuh besarnya ke samping. Citra masuk dekati Afifa yang tidur pulas. Citra meraba kening anaknya merasakan suhu badan Afifa secara manual. Naluri dokter Citra menangkap signal tak ada bahaya.
Tapi Afifa tetap harus transfusi darah karena HB darah tak cukup. Citra tidak kuatir ada efek samping karena penyumbang darah adalah ayah kandung anaknya. Efek bisa ditekan sekecil mungkin.
"Gimana keadaannya?"
"Sudah turun panas. Demam berdarah itu tak bisa kita prediksi. Sekarang dia jinak, kita tak tahu beberapa jam ke depan. Semoga panasnya tak tinggi. Hari ketiga nanti masuk fase kritis. Waktu itu dia akan demam sangat tinggi. Waktu itulah kita harus waspada." Citra menjelas sebagai dokter. Alvan yang pengusaha mana ngerti ilmu kedokteran. Alvan hanya tahu bagaimana bangun bisnis menguntungkan.
"Artinya dia belum boleh pulang sampai panasnya benar hilang?" Alvan berdiri di belakang Citra ikutan pantau Afifa.
__ADS_1
Alvan dekat sekali dengan Citra. Bau harum tubuh Citra samar mencubit hidung Alvan. Alvan pernah cium bau itu sembilan tahun lalu. Waktu Alvan terjebak obat perangsang racikan Karin.
Harum itu lembut bukan dari bau semprotan minyak wangi. Sesuatu bau harum datangkan kenyamanan buat yang mengendus bau bak bau bayi.
Citra bukannya tak tahu ada sosok raksasa berada di belakang punggungnya. Hawa panas tubuh Alvan merambat ke arah Citra. Rasa canggung menyelinap di hati Citra karena tak biasa bersama laki secara intim. Jarak mereka terlalu dekat hanya beberapa senti meter.
"Pak...kita bukan muhrim. Kumohon jaga sopan santun." ujar Citra dingin.
"Oh maaf! Aku hanya ingin tahu kondisi Afifa." Alvan mundur teratur supaya Citra tak canggung.
"Afifa akan membaik. Bapak sudah boleh pulang! Afifa tanggung jawabku. Besok aku akan pindahkan anakku ke sal kelas dua. Aku tak punya dana besar bayar kamar mahal ini."
Alvan menangkap nada getir dalam ucapan Citra. Citra masih belum ijinkan dia akui Azzam dan Afifa darah dagingnya walau bukti sudah katakan jelas Afifa darah daging Alvan.
"Dia juga anakku!" bantah Alvan tak mau kalah.
"Kecilkan suara bapak! Anak aku sedang tidur. Dari mana keyakinan bapak bahwa anak-anak ini anak bapak? Aku yang hamil dan melahirkan. Aku punya bukti mereka anakku. Sedang bapak punya bukti apa? Pengakuan Afifa?"
Citra yang sembilan tahun lalu tak pernah bicara kasar dan keras kini berubah judes walau tak kasar. Satu perubahan sangat signifikan. Alvan harus bersyukur atau sedih jumpa Citra dalam kondisi berbeda.
"Aku tak tahu kamu hamil. Kalau tahu aku takkan talak kamu. Kamu juga salah tak jujur bawa darah dagingku?"
"Aku memang miskin tapi punya harga diri. Sudah ditalak masih cari bapak? Urat malu aku masih utuh pak! Belum putus dimakan materi." sinis Citra menyodok jantung Alvan.
"Aku minta maaf Citra! Aku mau perbaiki kesalahanku. Aku harap kau ijinkan aku dekati anak-anak. Aku janji takkan rebut mereka. Cukup dapat pengakuan dari anak-anak." Alvan berkata sungguh-sungguh hanya ingin dekat dengan putra putrinya. Tak ada niat sedikitpun merebut kedua anak itu dari tangan Citra.
Alvan sadar dia tak berhak berada di antara mereka namun tak ada salah mencoba berjuang demi masa depan anak-anak. Alvan divonis tak bisa punya keturunan sebelum dapat pengobatan tepat. Itupun belum tentu menjamin berhasil.
Citra menjauhi Alvan berat untuk akui langsung laki itu bapak kandung anaknya. Citra sudah bertekad tak mau balik dalam hidup Alvan. Citra sudah punya modal masa depan yakni anak-anak pintar. Anaknya kelak akan jadi tiang penyanggah Citra di hari tua. Persetan dengan semua lelaki.
Alvan ikuti Citra duduk di sofa berharap wanita ini berbaik hati buka pintu maaf untuknya. Kesalahan Alvan bersumber dari rasa cinta pada Karin. Sayang wanita yang dia perjuangkan balik arah tak hargai cinta tulus Alvan. Masih adalah cinta di hati Alvan setelah disodorkan berbagai bukti Karin selingkuh sampai hamil.
"Bapak boleh temui anak-anak setiap saat tapi tak boleh ajak mereka pergi. Mau ketemu di sekolah atau di rumah. Sebatas ketemu." dingin sekali suara Citra.
"Kau akui aku papi kandung mereka?" ujar Alvan bahagia. Ekspresi wajah Alvan memancarkan kepuasan diakui Citra walau secara tak langsung. Mengijinkan Alvan jumpa anaknya menjurus pengakuan ambigu Citra.
"Menurut bapak?" sinis Citra masih tak suka Alvan hadir di kalangan anak-anak. Tapi Citra tak boleh egois mematahkan sangat Afifa yang sedang nyala karena punya papi. Afifa tak setegar Azzam maupun Afisa.
Kedua kakak Afifa lebih dewasa sikapi tanpa kehadiran bapak di antara mereka. Di nilai dari kelakuan Citra jauh dari kemungkinan Citra main api.
__ADS_1