ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN

ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN
Murid Teladan


__ADS_3

Azam menanti kata-kata yang keluar dari mulut Alvan. Apa yang akan disampaikan oleh Alvan membuat Azzam merasa tidak nyaman. Rahasia apa yang sedang disimpan oleh papinya lagi. Apapun yang dikatakan Alvan selain tidak menyakiti hati maminya pasti Azzam akan menerimanya dengan lapang dada.


"Zam...papi dan bunda Karin sudah bercerai! Dia akan segera menikah dengan ustad di pondok pesantren tempat dia belajar ilmu agama."


Azzam terdiam melayangkan pandangan jauh ke depan tanpa titik fokus. Azzam harus bahagia atau kasihan pada wanita itu. Bahagia untuk mamanya dan kasihan pada Karin tak punya tak punya cinta sejati. Demikian gampang dia berpindah hati setelah jumpa laki lain. Maminya beda, bertahun pertahankan diri demi sepotong cinta.


Alvan juga diam menanti reaksi Azzam. Seharusnya lajang kecil itu bersyukur keluarga mereka terbebas dari gangguan pihak ketiga. Tapi mengapa wajah Azzam masih datar.


"Inilah orang yang Papi pertahankan bertahun-tahun! Apakah di dalam hidupnya tidak mempunyai setitik kasih sayang tulus terhadap manusia lain? Baru berapa hari pergi dari kita sekarang telah mendapat pengganti Papi. Mengapa Papi tidak berpikir bagaimana mami melewati hari-hari tanpa seorang pelindung? Inilah perbedaan dua wanita yang pernah ada di dalam hidup tapi!" ujar Azzam sinis.


"Iya Papi telah salah menilai orang! Mungkin ini adalah kesalahan besar yang pernah Papi lakukan seumur hidup. Papi berjanji akan membayar semua kesalahan tapi kepada mami kalian." ujar Alvan menjadi kerdil di kuliahin oleh anak kandung sendiri. Azzam bukannya berseru kegirangan malah menghubungkan kesalahan Alvan dengan perceraian ini.


"Semoga begitu adanya! Koko tak mau mendengar skandal apapun lagi di dalam keluarga kita ini. Sekarang badai telah mulai mereda, semoga Papi memetik pelajaran daripada kejadian demi kejadian yang terjadi dalam hidup Papi."


"Papi tahu...bunda Karin itu mengidap penyakit mematikan. Dia ingin sisa hidupnya di isi oleh hal berguna. Kita doakan saja bunda Karin menemukan apa yang dia cari."


Azam mengangguk kecil menyetujui kata-kata Alvan. Sekarang tak ada yang perlu diperpanjang lagi karena kuman-kuman menggerogoti hidup Alvan telah tersingkir satu persatu.


"Jangan hanya Bunda Karin yang menjadi jati diri! Papi sendiri juga harus intropeksi mencari jati diri dan flashback semua yang pernah terjadi dalam hidup Papi. Petik hikmah daripada semua kejadian hari ini. Yang batil itu tidak akan bertahan lama karena cahaya kebenaran Allah selalu menerangi orang yang berada di jalannya."


Alvan menunjukkan kepala merasa malu pada anak sendiri yang sangat bijak. Semua sudah terlanjur terjadi kini tugas Alvan adalah menambal semua kisah-kisah yang terlanjur bolong-bolong.


"Terimakasih nak! Papi akan berusaha menjadi yang lebih baik daripada dahulu. Azzam jangan sungkan mengetuk hati Papi bila berbuat sesuatu yang menyakiti hati kalian!"


"Koko ini anak mana boleh menegur orang tua. Harusnya Papi yang memberi contoh baik kepada kami."


Dalam hati Alvan ingin menangis dengar kata Azzam. Azzam mengatakan anak tak boleh menegur orang tua. Dari tadi dia bicara ntah kalimat apa yang keluar dari mulut Azzam? Bukan sekedar teguran namun kata menuduh plus nasehat. Apa Azzam tak sadar telah jadi guru dari papinya?


"Terserah Azzam mau omong apa deh! Sekarang kita bersabar tunggu waktu tepat katakan pada mami."


"Ok...Koko gabung dengan Amei ya! Renang sebentar lagi kami akan segera naik karena sebentar lagi sudah akan adzan magrib."


"Pergilah!"


Azzam mengepak kaki dan tangan berenang bergabung dengan Afifa dan Gibran yang bercanda main siraman air kolam. Alvan hanya memantau dari salah satu sudut kolam. Ntah apa yang terlintas di benak laki ini tentang perceraian mendadak ini. Cuma beginilah hasil pernikahan puluhan tahun? Bubar tanpa kesan.


Alvan kilas balik, apa yang harus dia lakukan bila Karin tidak terkena penyakit HIV? Dia pilih yang mana? Pertahankan Karin atau Citra. Kalaupun Citra bersedia dimadu, anak-anaknya takkan biarkan Alvan berbuat semena-mena pada mami mereka. Alvan pasti akan dikuliti hingga ke dalam tulang.


Ternyata Allah menggariskan kisah lain yang membuka jalan Alvan menjadi terang untuk merangkul yang mana. Tulus kah cinta Alvan pada Citra. Sebagai pelarian dari Karin atau memang betul cinta.

__ADS_1


Pertanyaan ini muncul bertubi-tubi dalam benak Alvan. Alvan sendiri bingung menjawab suara hati. Kalau Alvan berterus terang apa yang ada dalam hati orang lain pasti akan menganggap Citra hanyalah ban serap. Karin tak bisa dipakai lagi langsung gunakan Citra. Cuma satu keyakinan Alvan saat ini, dia tak bisa hidup tanpa Citra.


Citra telah menguasai seluruh pikiran Alvan. Setiap gerakan yang dilakukan Alvan selalu terkenang pada Citra. Alfan akan melakukan apapun untuk membuat Citra bahagia. Itu yang menjadi perjanjian Alvan pada diri sendiri. Alvan berjanji tidak akan mengulang kesalahan yang sama untuk kedua kali.


Hari itu berlalu begitu saja tanpa bawa kesan mendalam selain Alvan lega telah mengantar Karin pada tempat yang tepat. Biarlah Karin menyongsong hidup barunya. Mendapat kebahagiaan sampai ajal menjemput.


Hari berlalu monoton tanpa ada riak berarti sampai hari anak-anak mengambil buku laporan kenaikan kelas. Alvan mewakili Citra dampingi anak-anak mengambil buku laporan di sekolah. Citra tak dapat meninggalkan tugas maka Alvan mengganti Citra datang ke sekolah.


Acara pembagian buku laporan naik kelas di sekolah Azzam berlangsung meriah karena ada pembagian hadiah untuk murid berprestasi. Setiap kelas akan dipilih tiga besar untuk mendapat penghargaan atas prestasi mereka selama setahun.


Alvan duduk di antara para orang tua yang dampingi anak-anak menanti hasil ujian. Di sebelah kanan ada Azzam dan sebelah kiri ada putri tercinta Afifa si kecil cantik jelita. Wajah Afifa berseri-seri tak sabar menanti hasil kerja keras dia selama ini. Azzam tenang tanpa ada reaksi berlebihan. Wajahnya cool.


Pihak penyelenggara dari sekolah cuap-cuap di depan podium beri wejangan dan nasehat pada murid yang berhasil dan yang belum berhasil mendapatkan nilai baik. Semua nasehat mengandung kebenaran bisa memicu semangat para murid untuk lebih giat lagi.


Tibalah saatnya pengumuman siapa yang terbaik dari setiap tingkatan kelas. Hanya murid terbaik akan disebut namanya untuk mendapatkan penghargaan dari pihak sekolah. Hadiahnya bukan barang mewah namun bisa memicu semangat para murid untuk lebih giat. Pertama di mulai dari kelas satu. Tiga terbaik dapat penghargaan serta hadiah dari sekolah. Wajah-wajah penuh kebanggaan ditampilkan orang tua anaknya yang berprestasi.


Giliran kelas dua diumumkan, Afifa sedikit tegang berharap bisa maju ke atas pentas menerima penghargaan. Afifa sudah matian belajar untuk memberi kebanggaan pada Alvan sebagai orang tua. Juara tiga dipanggil berupa anak lelaki seusia Afifa. Juara dua dipanggil dari kelas Afifa.


"Afifa Lingga..keluar sebagai kedua terbaik. Dan yang pertama adalah Deborah Astina."


Tepuk tangan bergema penuhi seluruh ruangan. Alvan segera mencium pipi Afifa sebagai tanda bangga walau Afifa bukan yang terbaik. Jadi juara kedua juga sudah hebat.


Afifa agak terguncang tidak menjadi juara satu. Usahanya memberi yang terbaik kandas pada hari ini. Azzam bangkit dari tempat duduknya memberi pelukan pada sang adik. Azzam bangga Afifa telah maju beberapa langkah ke depan.


Siapa yang menjadi orang tua kedua anak itu merupakan kebanggaan tak dapat dilukis dengan kata. Seluruh pengunjung kembali bertepuk tangan untuk menghargai dukungan yang diberikan oleh seorang Abang kepada adiknya.


Alvan ingin sekali berteriak mengatakan bahwa kedua anak itu adalah anaknya. Orang tua mana tidak bangga mempunyai anak-anak berprestasi dan berakhlak mulia. Sebenarnya Alvan tidak berhak mendapat penghormatan demikian tinggi karena kedua anak ini besar bukan di tangannya. Kedua anak ini bisa berdiri tegak di atas kaki sendiri adalah karena didikan seorang ibu yang berhati mulia.


Alvan menggandeng Afifa naik ke atas pentas untuk menerima hadiah dan penghargaan. Ratusan pasang mata menatap kagum pada Alvan yang berwibawa mempunyai penerus berkualitas. Terutama pada mata ibu-ibu yang doyan melihat wajah klimis dan ganteng. Nilai jual Alvan cukup populer di antara emak-emak yang rajin cuci mata.


Afifa tidak bersedih lagi setelah dapat dukungan dari Azzam. Betul kata Azzam Afifa masih mempunyai kesempatan di tahun depan untuk menjadi yang terbaik. Afifa ingatkan diri sendiri untuk lebih rajin mengejar kata yang pertama.


Selesai pengumuman kelas dua kini disusul pengumuman murid kelas tiga. Seperti diprediksi Alvan, anak lajangnya menjadi yang terbaik dengan nilai paling sempurna. Tidak ada nilai kecolongan.


Alvan kembali dampingi Azzam terima penghargaan sebagai murid paling pintar di kelas tiga. Semua memuji Alvan berhasil jadi orang tua hebat hasilkan dua generasi baru kompeten. Hidung Alvan berkembang dua lebih besar dari sebelumnya dapat apresiasi gempita dari para orang tua lain. Dua anak Alvan berprestasi membanggakan orang yang jadi orang tua.


Afifa tepuk tangan senang abangnya tetap jadi juara di manapun dia berada. Afifa makin semangat akan mengejar Azzam untuk dapat tepuk tangan lebih meriah dari pengunjung.


Afifa memeluk Azzam erat-erat sebagai tanda bangga pada abangnya. Moments ini jadi sorotan pengunjung. Banyak yang merekam hubungan baik dua anak Alvan. Sebentar lagi akan muncul di medsos jadi trending topik anak-anak luar biasa jadi kebanggaan orang tua.

__ADS_1


Azzam dinobatkan sebagai murid teladan tahun ini. Anak ini memang pantas mendapat apresiasi dari sekolah karena semua tindak tanduknya mendapat tempat di hati guru.


Seumur hidup ini Alvan merasa telah menjadi seorang manusia yang berguna. memiliki keluarga yang sangat luar biasa memberinya kebanggaan yang tak dapat dilukis dengan kata maupun gambar.


Alvan tidak segera mengantar kedua anak pulang ke rumah seusai ambil buku raport. Alvan membawa kedua anaknya ke kantor untuk pamer kedua anaknya pada seluruh karyawan. Azzam putra mahkota serta Afifa tuan putri kerajaan Lingga.


Azzam dan Afifa baru pertama kali injak kantor papi mereka merasa takjub lihat kemegahan aset sang papi. Keduanya tak sangka papi mereka betul-betul kaya raya.


Alvan menggandeng kedua bocah itu lewati seluruh karyawan yang terpana lihat bos mereka bawa dua bocah cantik. Sekilas dilihat keduanya mirip Alvan. Orang waras tak perlu susah payah berpikir tahu itu keturunan dari bos mereka.


Afifa yang jadi perhatian karena mirip boneka hidup. Pipi chubby berona merah mirip tomat matang sedang Azzam gagah perkasa.


"Papi...it's belong to you?(Papi.. apa ini semua milik kamu?)" tanya Afifa masih dipenuhi rasa kagum.


Alvan mengangguk. Laki ini heran mengapa Afifa menggunakan bahasa Inggris. Di rumah anak ini jarang pakai bahasa Inggris. Yang ada bahasa Indonesia dan bahasa Mandarin.


"Kenapa pakai bahasa Inggris sayang?" Alvan menurunkan badan sebelum mencapai lift. Kini Alvan sejajar dengan Afifa.


"Ini kantor...jadi kita harus resmi! Di mana-mana kantor sering gunakan bahasa Inggris" sahut Afifa menggemaskan.


Alvan tertawa dengar jawaban lugu Afifa. Anak pikir kantor itu seperti di luar negeri harus budidaya bahasa internasional.


"Kita berada di tanah air. Semua pegawai gunakan bahasa kita. Afifa bisa gunakan bahasa kita. Ayok kita ke kantor papi. Nanti kalian bisa jumpa kak Andi!"


Mata Azzam dan Afifa kontan cling memancarkan cahaya bisa bertemu kak Andi mereka. Sudah cukup lama tak jumpa lelaki yang telah jatuh bangun menemani mereka.


Afifa langsung menarik tangan Alvan agar segera naik ke atas untuk jumpa kak Andi mereka. Afifa sudah tak sabar ingin lapor hasil ujian mereka. Afifa makin maju ke depan. Bergerak maju walau belum menjadi yang terbaik seperti Azzam.


Alvan kembali menggandeng kedua bocah ini naik ke lantai atas tempat ruang kantornya berada.


"Jumpa kak Andi ko!" ujar Afifa tak sabar setelah berada dalam lift.


"Iya..." sahut Azzam singkat. Gaya cool bikin orang gregetan. Anak kecil kok sok cool. Gimana nanti dewasa?


Cling...lift berhenti di lantai ruang Alvan. Mata Afifa berputar ke sekeliling yang agak sepi. Tidak seperti di lantai bawah sangat ramai. Afifa tak tahu papinya sengaja tak ijinkan pegawai lain berkantor di lantai ini. Hanya ada Untung dan Andi.


"Mana kak Andi Pi?" tanya si kecil karena tak melihat keberadaan Andi.


"Kalian lihat ruang di sebelah sana! Di situlah kak Andi kalian bekerja. Pergilah jumpai Kak Andi kalian! Nanti kalau sudah bosan kalian masuk ke ruang papi ya!" Alvan melepaskan kedua anaknya lepas kangen pada laki bertulang lunak itu.

__ADS_1


"Iya Pi. Nanti kami akan datang ke ruang Papi!" sahut Afifa dengan semangat berkobar-kobar saking rindunya pada Andi.


Azzam dan Afifa bergerak ke tempat yang ditunjuk oleh Alvan. Kedua anak ini melihat Andi sedang serius mengerjakan tugas tanpa menoleh ke kiri kanan. Kedua anak ini dapat melihat Andi dengan jelas dari balik dinding kaca yang tembus pandang.


__ADS_2