ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN

ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN
Penggelapan Dana


__ADS_3

"Banyak yang ingin ku omongkan! Bolehkah aku masuk ke dalam kamarmu?" Alvan masih berlaku sopan tidak menyerobot masuk ke dalam tanpa izin Citra.


"Masuklah! Tapi nanti tidurnya di kamar Azzam ya!"


Alvan tak ingin iyakan karena tidak jamin bisa pindah dari kamar Citra setelah berduaan. Doa saja tidak ada setan genit gentayangan jerumuskan Alvan dalam godaan.


Alvan masuk ke dalam kamar dan duduk di samping Citra di atas tempat tidur. Masih ada jarak di antara mereka. Alvan tidak berani langsung nempel pada citra karena takut Citra akan ketakutan.


"Maafkan aku telah membuatmu hidup dalam kesepian selama bertahun-tahun! Kamu adalah seorang istri yang sangat baik dan setia. Aku terlalu bodoh tidak mengetahui memiliki istri berhati emas." ujar Alvan sambil meraih sebelah tangan Citra lantas meremasnya pelan.


"Aku tidak pernah kesepian karena memiliki anak-anak. Aku setia karena aku sadar aku ini masih istri dari seseorang. Pagi siang malam aku berdoa dijauhkan dari perbuatan zina yang bisa merusak akhlakku."


"Aku ingin salah paham antara kita segera berakhir. Aku akan bertanggung jawab atas dirimu dan anak-anak tak kuizinkan siapapun menyakiti kalian."


"Yang berlalu biarlah berlalu! Aku hanya berharap bapak bisa melakukan sesuatu yang berarti bagi Kak Karin dan anak-anak. Tak usah memikirkan aku."


"Bagaimana mungkin aku tidak memikirkan kamu Citra? Kamulah pelita yang terangi hidupku sekarang ini. Karena keberadaanmu hidupku lebih terang. Aku merasa tentram dan bahagia bersama kalian. Semua harta benda terasa tidak berharga lagi bila dibanding dengan kalian."


"Sudahlah Pak itu gombalan produk tahun berapa! Yang penting sekarang kita membesarkan anak-anak dan memberi mereka pendidikan yang layak."


"Itu tidak pernah perlu kamu pikirkan! Aku akan menjamin seluruh biaya pendidikan ketiga anak kita. Aku ingin membawa Afisa pulang ke tanah air agar berkumpul dengan kedua saudaranya. Kuharap kau setuju tentang hal ini."


"Aku memang berharap Afisa berkumpul dengan Azzam dan Afifa tetapi Afisa mempunyai kehidupan sendiri di sana. Dia adalah penerima beasiswa di sekolahnya. Bagaimana mungkin aku mematahkan semangatnya yang sangat besar?"


"Citra... Afisa tak perlu mengandalkan beasiswa untuk melanjutkan sekolah. Aku bisa membiayai dia sampai ke perguruan tinggi manapun."


"Bukan soal biayanya pak tetapi soal kredibilitas seorang Afisa di dunia pendidikan. Bahkan pemerintah ingin memberi Afisa tempat untuk menjadi warga sana. Sebelum jumpa dengan bapak memang aku berencana pindah ke sana untuk bergabung dengan Afisa. Rencana yang ku susun berantakan secara setelah jumpa dengan bapak." Citra menarik nafas melepaskan kegundahan dalam hati.


Alvan tidak bisa marah dengan rencana Citra karena waktu itu memang mereka belum berjumpa. Sekarang sampai mati pun Alvan tidak akan mengijinkan Citra dan anak-anak meninggalkannya.


"Baiklah kita tidak usah membicarakan hal itu dulu! Kalau Azzam dan Afifa liburan kita berangkat ke Beijing menemui Afisa. Bagaimana menurut pendapatmu?"


"Bulan depan mereka sudah ujian. Ada libur sekitar dua mingguan. Aku tak tahu apa kita bisa membawa mereka ke Beijing."


"Bisa asal kamu mau. Berikan paspor mereka biar ku urus segala persyaratan berangkat ke sana."


"Kita lihat nanti pak. Ini sudah malam bapak silakan balik ke kamar Azzam dan istirahat!"


"Aku tidur di sini saja! Aku hanya ingin memelukmu tak akan berbuat lebih daripada itu. Aku merindukan bau badanmu yang tak pernah hilang dari ingatanku selama bertahun-tahun." Alvan mulai mengeluarkan rayuan yang membuat Citra ketar-ketir.


Tubuh Citra menegang mendengar permintaan Alfan yang masih terdengar dalam batas wajar. Bagaimanapun Citra hanya seorang wanita muda yang tidak pernah intim dengan lelaki manapun selain Alvan. Permintaan Alvan terdengar sederhana tetapi seperti batu besar yang siap menggencet tubuh Citra hingga mengecil.


"Tapi bapak sudah janji tidur di kamar Azzam." kata Citra dengan gemetaran.


Alvan tersenyum pahit. Wanita yang dia lupakan gemetaran berduaan dengan suami sendiri, sementara wanita yang dia puja malah gembira ria dengan beberapa lelaki. Betapa bodoh dia melihat wanita yang bisa jadi tambatan hati.


"Aku tidak janji. Kan kamu yang minta! Aku takkan memaksamu sampai kau suka rela datang padaku. Aku hanya ingin tidur bersamamu. Cuma tidur...tidak lebih!" Alvan acung jari angkat sumpah.


Citra cepat-cepat turunkan jari Alvan sebelum termakan sumpah. Mereka suami isteri wajar tidur bersama cuma Citra belum terbiasa tidur dengan orang lain selain dengan anak-anak.

__ADS_1


"Tidurlah!" Citra memilih mengalah mau lihat sampai di mana ketebalan iman Alvan. Sayang padanya karena nafsu atau sayang setulus hati.


"Terima kasih sayang! Malam ini adalah malam yang paling bersejarah dalam hidup saya. Aku menemukan kembali mutiaraku yang telah karam di dasar lautan."


"Sudah...tidur! Jangan jual kecap di tengah malam! Tak ada pembeli lagi."


Alvan merebahkan badan di ranjang ukuran lima kaki. Bukan ranjang terlalu besar untuk lelaki berbadan besar macam Alvan. Berhubung ranjang tidak terlalu besar otomatis mereka tidur agak merapat. Alvan bisa rasakan betapa hangat tubuh mungil Citra.


Alvan menarik tubuh Citra agar dekatan walau pertama Citra sedikit berontak. Alvan mengunci Citra dalam pelukan gunakan sebelah tangan hingga wanita itu tak mampu bergerak.


"Tidurlah sayang! Selamat malam." Alvan membuktikan janji tidak berbuat lebih selain memeluk Citra. Bagi Alvan hal ini sangat biasa karena dia telah sering memeluk wanita tetapi bagi Citra hal ini sangat luar biasa.


Jantung Citra berdegup lebih kencang dari biasanya. Bahkan melebihi kecepatan pelari maraton. Bagaimana Citra bisa tidur nyenyak dengan jantung yang berdegup kencang. Namun Citra tidak munafik tidak merasa bahagia. Citra bahagia dapat berlabuh di tempat yang tepat. Tempatnya yang sesungguhnya memang berada di sisi Alvan.


Alvan memejamkan mata dengan senyum terukir di bibir. Malam ini cukup mau dapat memeluk Citra. Alvan tidak menjamin malam selanjutnya akan begini terus.


Malam ini bintang di langit berkedip ikut merasakan kebahagiaan sepasang insan yang memang seharusnya bersatu. Orang lain tidak perlu merasakan apa yang dirasakan Citra dan Alvan. Cukup mereka menikmati keindahan yang telah tertunda bertahun-tahun.


Adzan subuh berkumandang membangunkan seluruh umat muslim untuk melaksanakan salat subuh. Citra tidak mau ketinggalan segera bangun. Citra berusaha menyingkirkan tangan Alvan yang melingkar di pinggangnya. Lelaki itu masih lelap terbuai mimpi.


Citra tersenyum melihat wajah Alvan yang sangat tenang dalam tidurnya. Harus Citra akui kalau suaminya itu sangat ganteng. Pantes aja wanita-wanita pada tergila-gila pada suaminya ini. Kharisma seorang Alvan memang susah dilawan.


Perlahan Citra keluar dari kamar untuk melihat Azzam dan Afifa apa sudah bangun? Kedua anak Citra itu tidak pernah absen bangun pagi untuk melaksanakan salat subuh. Azzam lebih rajin daripada Afifa yang kadang susah dibangunkan.


Suasana di luar kamar masih terasa hening artinya kedua anaknya belum bangun. Citra segera balik ke dalam kamar untuk membangunkan Alvan agar kedua anaknya tidak menduga apa yang telah terjadi semalam. Citra masih malu kalau kedua anaknya mengetahui kalau Papi dan mami mereka telah tidur bersama.


Alvan membuka mata melirik isterinya dengan ogahan. Matanya masih berat untuk diajak merasakan sejuknya udara subuh.


"Sholat pak!" kata Citra tetap pelan. Kesabaran Citra sedang di uji membawa suami kembali ke kodrat sebagai seorang suami sesungguhnya. Menjadi imam bagi seluruh anggota keluarga.


"Hmmm..." gumam Alvan belum rela tinggalkan tidur terindah selama hidupnya. Betapa nyaman tidur memeluk wanita yang dirindukan bertahun.


"Bangun..malu tuh sama jagoan bapak! Mau hilang muka di depan kedua anakmu?"


"Ya ampun Bu dokter! Rasanya baru tidur! Kok sudah harus bangun?" gerutu Alvan terpaksa angkat badan dari ranjang Citra. Alvan tidak rela harus pindah dari ranjang hangat Citra.


"Huusss...sholat kok gerutu! Hilang pahalanya! Aku tunggu di luar!" ujar Citra melangkah keluar biarkan Alvan ngomel sendiri.


Citra memuji akhlak Alvan tidak terpaku pada nafsu belaka. Alvan gentle tidak berbuat lebih selain memeluknya hingga pagi. Ini membuktikan Alvan memang tulus sayang padanya. Bukan dari hawa nafsu setan.


Citra ambil air wudhu di kamar mandi sebelum ke kamar Afifa. Azzam tak perlu dibangunkan karena anak itu akan bangun secara otomatis bila adzan subuh berkumandang panjang.


Citra berjumpa Azzam yang ternyata sudah bangun. Lajang itu menatap Citra tajam seperti polisi sedang incar maling.


"Papi tidur di mana?"


"Semalam papi ingin tidur di lantai kamar Koko! Tapi lantainya dingin maka papi numpang tidur sama mami!" Citra menjawab sekedarnya agar si lajang tidak selidiki lebih lanjut.


"Oh..." sahut Azzam pendek.

__ADS_1


Citra bersyukur Azzam tidak bertanya lebih jauh. Mungkin anak itu paham tempat mami di sisi papinya.


Azzam menyiapkan perlengkapan sholat seperti biasanya. Kalau Azzam pertahankan sifat penuh tanggung jawab hingga dewasa kelak, berbahagialah isterinya!


Pagi cerah menaungi keluarga Alvan melakukan aktivitas seperti biasa. Masing-masing menempatkan diri di mana seharusnya mereka berada. Citra ke rumah sakit sementara Alvan dan Tokcer mengantar Azzam dan Afifa ke sekolah.


Mengantar Azzam dan Afifa sudah menjadi tanggung jawab Alvan sebagai papi kedua anak itu. Alvan ingin habiskan lebih banyak waktu bersama anak-anak agar mereka bisa makin akrab. Terutama dengan Azzam. Alvan perlu waktu panjang untuk lebih mengenal bocah luar biasa itu.


Alvan masih ingat kata-kata Andi tentang kepintaran Azzam bobol akun orang lain. Dari mana anak itu belajar jadi hacker di usia muda. Alvan bukan tak kuatir Azzam gunakan kepintaran ke jalan kiri.


Setelah antar Azzam dan adiknya Alvan segera ke kantor. Alvan kejar waktu mengingat Tokcer harus antar temannya ke cafe Daniel untuk bekerja di sana. Kali ini Andi harus siap menjadi pengawas cafe.


Alvan disambut Untung yang berwajah cerah. Ada peristiwa apa membuat si gempal berseri-seri membuatnya tampak lebih muda. Siapa lagi kalau bukan dewa cupido memanah panah asmara ke jantung Untung. Tepat sasaran.


Alvan masuk ke ruang kantor langsung buka komputer untuk ceking file data yang dilapor Andi. Alvan tak percaya ada orang berani gelapkan uang sangat besar. Lama-lama perusahaan bisa bangkrut bila ditilep dalam partai besar.


Untung tak berani bersuara menanti bos duluan beri perintah. Untung tak merasakan euforia Alvan setelah habiskan malam bersama Citra. Kalau bosnya sudah dapat jatah tak mungkin masih lecek wajahnya.


"Panggil Wenda..." ujar Alvan dingin. Kening Alvan berkerut-kerut tak percaya perusahaan kehilangan dana segar sekian besar. Apa yang dilaporkan Andi terbukti karena hasil tambang dari Kalimantan raib dari data komputer.


"Siap pak!" Untung segera memanggil Wenda via ponsel.


Sekretaris Alvan itu segera datang dengan wajah menunduk. Sejak kecurangannya terbongkar Wenda merasa rendah diri. Wenda sadar dia telah terjerumus dalam konspirasi besar yang bisa hancurkan perusahaan Alvan.


"Ya pak!" Wenda tidak berani menatap Alvan maupun Untung.


"Coba kau lihat ini! Mengapa ada file pemasukkan dana tapi di komputer tidak ada datanya? Ini dana yang sangat besar. Dia ratus milyar."


Wenda mengambil kertas dari meja Alvan lalu perhatikan dengan seksama. Tidak ada yang salah dengan dokumen itu. Semua tercantum secara akurat tanggal dan penerimaan dana transferan.


"Ada diinput kok pak! Aku sendiri yang input dan pak Untung ada cek ulang. Mungkin pak Untung tidak lupa kita sempat cek saldo terakhir dari hasil tambang. Waktu itu masih aman."


"Tapi tak ada data tertinggal di sini! Cek siapa yang terakhir keluarkan dana! Sekarang juga. Panggil Hakim ke sini!" bentak Alvan penuh emosi. Alvan tak bisa toleransi lagi penggelapan uang perusahaan secara besar-besaran.


"Baik pak! Biar langsung kujemput biar tidak bertele-tele." Untung keluar dari ruang Alvan mencari penanggung jawab keuangan. Kalau Hakim berani keluarkan dana sebesar ini tanpa sepengetahuan Alvan artinya cari mati. Siap-siap gali kuburan buat tanam diri sendiri.


Orang yang dipanggil datang bersama Untung. Lelaki kurus kering ini belum tahu bahaya besar sedang mengancam hidupnya. Terlalu sering makan uang haram maka tubuhnya tak mau tumbuh daging. Habis dimakan belatung dosa.


"Pak Hakim....berapa lama anda kerja di sini?" tanya Alvan tanpa ramah tamah seperti biasa.


"Delapan tahun pak! Aku cukup betah kerja di sini karena bapak dan seluruh anggota sini bisa bekerja sama dengan baik." sahut Hakim masih pede.


"Saking betah sampai bapak anggap perusahaan ini milik kamu ya? Bisa seenak perut keluarkan dana perusahaan." bentak Alvan mulai keluarkan taring.


Hakim terhenyak kaget tak sangka dia diiring ke situ untuk di interogasi. Semula dia pikir akan dinaikkan jabatan sehubungan Alvan mulai jarang muncul di perusahaan.


"Saya tak mengerti pak! Semua dana keluar masuk ada persetujuan bapak!" Hakim bela diri berlagak pilon.


"Ini ada pengeluaran dana dua ratus milyar. Lima milyar, dua milyar berturut-turut sampai terakhir satu milyar. Siapa yang bertanggung jawab? Aku tak merasa meminta bapak keluarkan dana itu! Dua ratus milyar...bukan dana kecil! Ayo jawab!" Alvan menggebrak meja dengan mata merah. Amarah Alvan telah capai ubun kepala.

__ADS_1


__ADS_2