ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN

ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN
Ketangkap Basah


__ADS_3

Azzam duduk santai tidak usik Afifa maupun Alvan. Lajang ini hanya melamun bagaimana Alvan kelola perusahaan sebesar ini. Berapa banyak perusahaan papinya. Mau dibawa ke mana uang berkarung-karung. Habis untuk piara lintah pengisap darah atau hambur-hambur uang?


Kalau soal dana untuk mereka Azzam yakin Alvan tak pernah kasih selama mereka hidup di rantau orang. Citra giat bekerja untuk beri mereka bertiga hidup layak.


"Zam..kok melamun?" tegur Alvan saksikan mata anaknya kosong tidak fokus pada satu tempat.


"Ach tidak Pi! Oya...dulu Koko janji mau bantu papi perbaiki sistim keamanan. Apa boleh Koko lihat sebentar keamanan perusahaan?"


Alvan baru ingat janji Azzam mau perbaiki sistim keamanan perusahaan. Dia hampir lupa akan hal itu. Itulah akibat terlalu banyak yang harus Alvan pikirkan. Hal yang sangat penting terlewatkan dari benak Alvan.


"Oh boleh...ayok sini!" Alvan melambai pada Azzam agar mendekat. Alvan bangkit dari kursi biarkan Azzam gantiin dia duduk di bangku singgasana kerajaan Lingga.


Azzam naik ke kursi Alvan tanpa segan. Kelak bangku ini akan jadi miliknya. Membantu Alvan sama saja membantu diri sendiri memperbaiki kecurangan di perusahaan.


"Minta email perusahaan ini Pi!" Azzam mulai berselancar di dunia penuh rahasia ini. Hanya orang ahli dalam bidang ini mampu masuk ke sistim mencari di mana sela yang gampang diretas.


Alvan menulis beberapa huruf dan angka di kertas supaya Azzam bisa membuka akun perusahaan. Hebatnya anak ini tidak minta kata sandi akses masuk satu email. Tangan mungilnya bergerak lincah di atas keyboard seperti sudah sangat ahli. Ntah apa yang dikerjakan anak ini di atas layar komputer Alvan. Raut wajahnya serius tak peduli Alvan yang hanya memandang takjub.


Azzam terus bekerja tak open pada Alvan. Lama kelamaan Alvan bosan juga ikut lihat layar monitor penuh kata sandi yang tak di mengerti Alvan.


Laki ini teringat Afifa yang sedang berada di dalam ruang istirahat Alvan. Sedang apa anak itu. Lama di dalam tak ada suara. Alvan ayunkan langkah masuk ke ruang kamar lihat apa yang dikerjakan anak gadisnya.


Si kecil tertidur di atas kasur tak bergerak. Nafasnya teratur baik turun tanda orangnya sedang istirahat dalam tidur. Alvan tersenyum tak tega usik tidur anaknya itu. Angin AC yang sejuk ambil andil mengantar Afifa tidur lebih nyaman.


Alvan biarkan Afifa tidur sedangkan Alvan kembali ke tempat Azzam kutak katik komputer. Berhubung tak ada tempat duduk, Alvan mengalah pindah duduk di sofa bekas tempat Azzam duduk tadi. Gantian Alvan duduk bengong menanti hasil karya Azzam.


Azzam memang pintar atau sok pintar. Nanti sistim bukannya bagus malah tambah amburadul. Gimanapun Alvan harus beri kesempatan pada Azzam untuk buktikan bahwa dia mampu.


Satu jam berlalu belum ada tanda-tanda Azzam berhenti. Anak itu serius banget sampai lupa di sampingnya masih ada bos perusahaan. Alvan ingin bertanya tapi takut anaknya tersinggung diragukan kemampuan. Azzam bukan bocah umum yang hanya tahu main. Dia sangat hargai semua jerih payah Citra.


Alvan pilih keluar saking bosan menunggu Azzam bekerja. Alvan menghindar ke ruang kosong untuk melakukan telepon dengan Heru. Alvan mau tahu sampai di mana persiapan Heru mengurus keberangkatan anak-anak dan Afung ke Beijing.


Sebenarnya Alvan tidak rela Heru rebut posisinya antar anak-anak liburan ke tempat yang mereka idamkan. Namun untuk hormati Heru yang sekarang tingkatan lebih tinggi dari Alvan terpaksa mengalah tanpa syarat.


"Halo... assalamualaikum..."


"Waalaikumsalam...kau Van.. ada yang penting?"


"Emang telepon kamu harus ada yang penting? Jangan sombong sudah jadi opa dari anak-anak!"


Heru tertawa terbahak-bahak dengar nada sewot Alvan. Heru berada di posisi sebagai bapak Citra maka Alvan otomatis menjadi anak Heru juga.


"Duh yang marah! Bagaimana hasil ujian cucu aku? Siapa yang jadi bintang di sekolah?"


"Azzam di posisi satu dengan status murid teladan sedang Afifa berada di peringkat dua. Gibran gimana?"


"Anak itu...jauh dari keponakannya. Tapi sudah ada peningkatan. Sudah masuk sepuluh besar. Sebelumnya di posisi dua puluh. Aku sih bersyukur saja Gi mulai ada perubahan sejak ada contoh baik. Azzam beri dia banyak masukkan positif. Aku salut cara Citra mendidik anak. Mereka tahu diri tak banyak menuntut. Kau beruntung Van! Pertahankan semuanya ya!"


"Insyaallah...kapan kalian akan terbang?"


"Rencana lusa. Besok masih ada satu proyek penting. Setelah itu aku bisa tenang pergi bersama anak-anak. Kau bantu aku ngawasin kantor ya! Kalau ada yang penting kau harus wakili aku."

__ADS_1


"Kau mau aku merangkap menjadi CEO dari dua perusahaan? Hebat kali aku ini menjadi CEO dari Perkasa dan Lingga."


"Kamu ini sama orang tua sendiri main perhitungan. Kalau kau liburan dengan anak-anak nanti aku yang akan mengawasi perusahaan kamu. Kita barter. Ok?"


"Oke tak oke lah! Aku akan berusaha semaksimal mungkin membantu jika diperlukan."


"Gitu dong jadi seorang anak harus patuh pada orang tua!"


"Demen amat jadi orang tua. Emang sudah tua ya! Coba hitung berapa lembar rambut putih sudah tumbuh di atas kepala! Nggak usah sok anak muda pacaran melebihi gaya anak ABG."


"Iri ya! Nanti setelah tinggal kalian berdua di rumah silahkan pacaran lagi. Aku kasih ijin kamu dekati anakku. Tapi ingat jangan kau siakan! Dia punya bapak yang akan bela dia!"


"Tenang...aku akan cetak cucu lebih banyak untukmu! Biar makin subur banyak cucu."


"Amin...kutunggu cucu darimu. Yang model Afifa ya!"


Heru order cucu model Afifa yang imut menggemaskan. Kalau Alvan boleh pilih tentu ingin yang model Azzam dan Afisa cuma tidak pakai mulut tajam. Cukup ikut bijak dan cerdasnya. Tidak perlu adanya mulut setajam silet.


"Bagaimana dikasih Tuhan. Kamu juga jangan lalai! Kasih Gibran dan Citra adik lagi."


"Itu tak perlu kau sangsikan. Pasti ada."


"Baik...kita bahas di rumah nanti. Kau persiapkan semuanya. Apa perlu kau transfer sebagian biaya pengurusan visa dan tiket?"


"Omong apa kamu? Aku sudah sediakan semuanya untuk biaya liburan cucu-cucu aku. Kok kamu yang sibuk mau bayarin mereka? Mereka itu cucu aku bro!"


"Cucu kamu anak aku opa!" tukas Alvan sewot makin banyak haknya direbut Heru.


"Yang bilang mereka anak Daniel siapa? Aku tahu mereka anak kamu tapi mereka itu cucu aku. Paham?"


Alvan menyimpan ponsel ke dalam saku dengan hati mengkal. Untuk saat ini Heru menang segala-galanya dari Alvan. Heru lebih berkuasa dari Alvan dalam menangani masa liburan anak-anak.


Alvan mengurut dada agar jangan terpancing emosi dikerjain oleh Heru. Alvan harus bersabar seminggu barulah bisa menyusul anak-anak ke Beijing.


Puas makan hati, Alvan segera balik ke ruang kerja lihat hasil kerja Azzam. Anak itu sedang menulis sesuatu di atas kertas sambil memantau hasil final dari layar monitor.


"Zam..kelar?"


"Alhamdulillah...untuk sementara aman! Koko telah kunci part penting yang hanya bisa dibuka oleh Papi. Yang lain-lainnya masih bisa dibuka secara umum. Ini Koko telah buat kata sandi baru untuk papi. Papi harus perhatikan dengan seksama karena Koko beri tanda titik pada beberapa kata sandi. Sekilas tak ada yang berarti namun di situ trik mengecoh orang."


Azzam perlihatkan sederet huruf plus angka. Mata Alvan terbelalak lihat kata sandi yang diciptakan Azzam. Satu penghargaan besar untuk Citra. Alvan samasekali tak pernah berpikir gunakan nama Citra sebagai kata sandi perusahaan. Namun Azzam beri ide yang tak buruk. Alvan akan ingat Citra terusan karena jadi kunci hati juga kunci perusahaan.


"Bisa papi coba?"


"Silahkan! Kita mulai dari yang paling dasar daftar nama pegawai. Papi bisa buka semua akses ini tapi ada sebagian Koko kunci. Mau buka harus ada ijin papi."


"Lha...masa setiap pegawai mau cek data harus cari papi. Papi kan repot."


"Itulah papi mau cari gampang saja! Di sini papi bisa percaya satu orang untuk pegang seluruh kata sandi kecuali saldo perusahaan. Saldo papi doang bisa buka itu pakai kata sandi nama mami. Bisa kak Andi ataupun om Untung. Jadi yang berkepentingan dengan jalur masing-masing akan cari pemegang kunci. Nah semua rapi tidak bisa suka-suka intip yang bukan bagia kerja mereka!"


Alvan melongo sampai mulut terbuka. Azzam ini terlalu lama dalam perut sampai lupa keluar, begitu keluar otak sudah matang kayak otak orang dewasa. Alvan samasekali tidak terpikir ke situ tapi anak kecil ini telah berhasil memecahkan kekacauan perusahaan.

__ADS_1


"Hebat anak papi..." Alvan mengecup ubun kepala Azzam berkali.


"Koko sudah buat beberapa kata sandi. Terserah papi mau percaya pada siapa. Setelah Koko pulang dari Beijing kita buat ulang dari awal lebih detail. Bagusnya kalau ada Cece. Semoga dia bisa kita pulang untuk liburan musim panas."


"Afisa pasti pulang. Papi bangga sekali padamu nak! Kau seperti pelita terangi hidup papi. Papi akan bicarakan hal ini dengan om Untung."


"Bagusnya papi bicara sekarang karena ada yang sudah tak bisa masuk ke sistim perusahaan. Koko telah kunci beberapa part penting."


"Oh gitu ya! Biar papi panggil Andi dan om Untung. Koko terangkan pada mereka. Ok?"


Azzam mengangguk kecil tanpa menjawab. Apakah ini sikap anak kecil? Azzam seperti orang dewasa terjebak dalam tubuh anak kecil.


Alvan segera perintah Andi dan Untung datang ke ruangannya untuk belajar dari Azzam. Untuk sementara Azzam buat yang paling sederhana supaya pegawai tidak kebingungan perubahan mendadak. Nanti setelah Azzam selesai liburan dia akan atur yang lebih rumit biar tak gampang diretas.


Andi sudah tak heran pada keahlian Azzam. Cuma Untung agak syok mendapatkan anak bosnya jauh lebih lihay darinya. Dari segala bidang Azzam jauh lebih unggul dari Untung. Untung masih pakai gaya jadul sedang Azzam pelajari teknologi kekinian.


Untung mau pusing biarlah pusing di situ. Andi ikuti saja arahan Azzam disaksikan oleh Alvan yang tak bisa berkata apa-apa. Kecil-kecil Azzam sudah tunjukkan jiwa memimpin. Calon penerus tak perlu diragukan.


Alvan tak dapat bayangkan kalau dia menemukan Citra. Laki mana akan mendapatkan kehormatan menjadi bapak sambung dari anaknya. Alvan yang tanam bibit orang lain yang dapat hasil bagus. Alvan dirugikan luar dalam.


Syukurlah Alvan berhasil menemukan permata-permata yang nyaris karam di dasar laut. Kebanggaan itu tetap milik Alvan.


Hampir dua jam baru selesai Azzam beri pengarahan pada Andi dan Untung. Untung lumayan ngerti tapi Andi agak lemot karena laki muda ini tak mendapat pendidikan formal di bidang komputer. Andi memang harus belajar lagi kalau mau maju.


Tepuk tangan Untung dan Andi pelatihan mendadak dari Azzam. Kedua pegawai Alvan tak bisa sembunyikan rasa kagum pada anak berusia delapan tahun itu.


Jangan kedua pegawai Alvan. Alvan sendiri tak percaya kalau anaknya mampu membantu saat Alvan membutuhkan. Tidak sia-sia Alvan semai bibit di rahim Citra. Hasil produksi Citra yang spektakuler.


Afifa muncul dengan muka bantal langsung bergelayut pada Alvan. Gadis kecil ini tak tahu abangnya baru saja menciptakan sistim baru di perusahaan papi mereka. Afifa belum sampai ke tingkatan Azzam. Kepintaran Afifa belum bisa menyamai Azzam.


"Sudah bangun sayang?" Alvan membawa Afifa ke pelukan. Kepala Afifa bersandar ke dada bidang Alvan mencari kenyamanan.


"Iya Pi..Amei lapar! Boleh makan?" tanya Afifa lugu.


"Boleh dong! Om Untung akan bawa makanan untuk kita. Setelah itu kita pergi belanja tas dan peralatan sekolah Afifa dan Azzam. Ok?"


"Ok..." sahut Afifa sekedarnya belum kembali semangat.


Alvan membawa Afifa duduk di sofa karena Azzam telah duduk di atas kursi kebesaran kerajaan Lingga. Ntah apa lagi yang diisi Azzam di monitor Alvan. Alvan percaya Azzam takkan merugikan perusahaan.


Andi dan Untung tahu diri tak ganggu waktu anak bapak itu lagi. Afifa sedang pingin dimanja oleh sang papi. Anak kecil bergelayut manja pada orang tua sudah lumrah. Yang celaka bila ketahuan bos pangku wanita cantik di kantor. Bisa sial tujuh turunan kantor dihiasi acara maksiat.


"Pi...Koko ijin halus satu file ya! File tak pantas berada di komputer papi." tiba-tiba Azzam berkata dari balik monitor komputer.


"File apa?"


"Satu file berisi cerita usang. Apa papi masih mau menyimpan kisah yang telah berlalu?"


Alvan menurunkan Afifa ke tempat duduk lalu hampiri Azzam lihat apa yang dimaksud Azzam. Alvan terpaku lihat di layar Azzam sedang buka foto-foto Alvan bersama Karin. Semua foto mesra Alvan dengan Karin. Capai ratusan foto dari waktu dan tempat berbeda.


Hampir separuh dunia telah mereka singgah. Semua kenangan tertuang dalam foto-foto yang tersimpan di komputer Alvan.

__ADS_1


Azzam pasti akan salah paham lagi. Padahal Alvan telah melupakan semua moments indah bersama Karin. Tak pernah Alvan buka file berisi foto kenangan lama.


Tanpa banyak bicara Alvan sendiri hapus semua foto kenangan dengan satu kali klik. File itu langsung kena delete dari komputer Alvan.


__ADS_2