ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN

ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN
Kepintaran Warisan


__ADS_3

Azzam tertawa bukan bangga diangkat tinggi oleh Tokcer. Azzam menertawakan sikap tak pede Tokcer. Baru dengar sedikit ulasan sudah rendah diri. Kalau begini terus kapan majunya?


"Kakak aku tercinta...Yang paling utama semangat dan percaya diri. Itu kunci kesuksesan. Satu lagi tak kalah penting yaitu rajin."


"Otakku kok berat ya diajak bahas soal itu! Kak Tokcer akan semangat tapi tak lupa sadar diri."


"Kak Andi juga. Hal yang paling mengesankan seumur hidup kak Andi adalah ketemu Koko sekeluarga. Kini kak Andi tidak dipandang remeh lagi. Emak juga mulai dihargai tetangga. Pokoknya kak Andi bersyukur dah!" Andi merangkul pundak Azzam merapatkan tubuh kecil itu ke badannya.


"Sama kak...Koko juga bersyukur punya keluarga seperti kalian. Setia walau dikit songong."


"Eh ..Koko kapan berangkat jumpa Afisa?" Andi teringat rencana liburan Azzam yang makin dekat.


"Belum tahu. Kan tergantung opa. Tidak kirim salam untuk Cece?"


"Aku punya hadiah untuk Cece. Hadiah itu kudapatkan sewaktu jalan dengan pacar opa Heru. Kakak lihat ada wayang mini. Di sana kan tak ada." ujar Tokcer langsung utarakan niat beri Afisa hadiah khas Indonesia.


"Cece pasti senang. Kak Andi nggak ngasih sesuatu pada Cece? Udara dari Indonesia juga boleh!" gurau Azzam disambut delikan Andi. Mana ada ngasih hadiah udara. Sama saja ngasih angin kosong.


"Huusss...bisa dimusuhi Cece sampai kiamat. Kak Andi takut pada sorot mata Cece yang seperti detektif kelas wahid. Tajam membelah pikiran kita." Andi berkata jujur tentang Afisa yang baru dia jumpa sekali saja.


"Cece hidup mandiri wajar dia selalu curiga pada orang. Di tambah dia kurang suka pada keluarga papi. Sekarang dia harus rawat opa dan Oma pula. Entah bagaimana reaksi Cece." Azzam membayangkan Afisa tiap hari jumpa Bu Dewi yang pernah jadi musuh bebuyutan Afisa. Salah Bu Dewi anggap anak-anak Alvan bisa disetir sesuka hati. Gaya raja tirani jaman kuno. Main perintah tak pikir jaman sudah berubah.


Bu Dewi tak punya kontribusi terhadap anak Citra namun sok mau atur anak-anak tersebut. Mana mungkin diterima oleh anak-anak dengan tingkat kecerdasan luar biasa.


"Itu bukan salah Cece! Oma kalian salah kaprah! Beliau pikir dia yang besarkan kalian. Tapi sudahlah! Tak baik omongin orang tua. Beliau juga sedang sakit." Andi melerai pikiran liar Azzam.


"Iya kak! Maunya kalian nginap di sini! Koko kangen tidur bareng lagi. Suara dengkur kak Andi sudah lama tak terdengar."


"Enak saja fitnah kak Andi! Kapan orang seganteng kak Andi dengkur." bentak Andi masam dibuka aibnya.


"Aku jadi saksi dengkuran lhu persis bunyi peluit kereta api!" Tokcer perkuat argumentasi Azzam.


"Kalian berdua merusak pasaran aku ya! Coba kalau di dengar cewek cantik. Jatuh pasaran kak Andi!"


Azzam dan Tokcer menyimpan senyum lihat Andi mengomel persis emak kehilangan kuali dapur. Angin malam bertiup temani para anak muda ngobrol tanpa topik utama. Obrolan mengalir tanpa skenario tertulis.


Bonar sibuk di dapur bantu Iyem sekaligus cari kunci jawaban biar terjawab soal antara mereka.


Di ruang keluarga orang dewasa bahas rencana keberangkatan Heru beserta anak cucu ke negeri tirai bambu. Afung makin lengket dengan Heru seperti amplop dan perangko. Citra merasa tak bisa menunda pernikahan dua orang ini. Takut magnet dua kutub terlalu kuat hingga menyatu.


Afifa tidak terlalu tertarik pada obrolan orang dewasa. Dia lebih sibuk hubungi Afisa untuk lapor kesuksesan dia menjadi juara dua. Tahun ini juara dua mungkin tahun depan bisa merangkak ke juara satu.


Afifa duduk berdampingan dengan Citra. Di depan ada Heru dan Afung. Alvan duduk sendiri di sofa tunggal. Gibran tak tampak batang hidung. Ntah ngelayap ke mana anak lajang itu. Jam segini belum pulang.


"Halo Ce... assalamualaikum.." seru Afifa riang begitu tersambung ke Afisa.


"Waalaikumsalam...aduh adik Cece segar amat! Sudah makan?" sahut Afisa tak kalah riang.


"Sudah...coba Cece tebak Amei dapat ranking berapa?" Afifa dekatkan tablet ke muka biar Afisa bisa melihat wajah lebih dekat.


"Koko pasti satu ya! Amei juara empat..."


"Salah ce..Amei ranking dua. Hebat kan?"


"Hebat banget! Ini baru adik Cece. Kapan mau ke sini? Sekolah di sini ya! Koko juga!" ajak Afisa bikin Alvan menciut.

__ADS_1


"Tanya opa kapan berangkat! Kami cuma liburan ke sana tak boleh sekolah sana. Tunggu Amei tamat baru kuliah di sana. Amei mau jadi dokter kayak mami. Kapan Cece ujian?"


"Minggu depan. Kita bisa liburan bersama. Sekarang sini mulai panas. Kita tak perlu pakai baju tebal. Cece tunggu kalian ya,!"


"Iya ce...gimana opa Oma dan Uyut? Apa mereka betah?"


Semua menatap ke arah tablet Afisa menanti jawaban anak itu. Ntah para orang tua betah tidak berada di negara yang kultur sangat berbeda.


"Oma sudah dibawa ke rumah sakit untuk perawatan. Opa sudah sehat. Uyut sehat-sehat saja. Uyut sangat betah di sini. Tiap pagi kami jalan di taman. Uyut mau tinggal di sini sama Cece."


"Jadi Uyut nggak mau pulang lagi?" tanya Afifa lugu mengira apa yang dikatakan Afisa itu nyata.


"Mau dong! Cuma Uyut mau lama di sini. Semua ramah kok! Cepat datang ya! Cece tak sabar mau main sama Amei dan Koko."


"Iya ce...kami pasti datang! Salam untuk Uyut ya!"


Alvan tercekat Afifa hanya kirim salam untuk Uyut. Tak ada salam untuk Bu Dewi. Bu Dewi terlanjur ukir bayangan buruk di benak anak-anaknya maka tak ada nama Oma di hati mereka. Alvan tak bisa salahkan anak-anaknya karena Bu Dewi salah sendiri umumkan perang duluan.


"Nanti Cece sampaikan! Afung ie ikut pulang kan? Kalau dia tak pulang takutnya kena sanksi. Semua mulai masuk latihan. Cece tidak ikut latihan karena harus ujian."


Afifa mengangguk sambil melemparkan mata pada wanita bermata sipit itu. Afung tahu dia jadi topik bahasan kedua kakak adik hanya tersenyum.


"Pulang kak! Afung ie pacaran lho sama opa! Tiap hari sayang-sayangan. Amei capek translate omongan mereka."


Heru tertawa malu Afifa buka kartunya di depan orang ramai. Salah sendiri mengapa minta anak kecil gombalin wanita pujaan.


"Ya ampun...kenapa tidak minta opa download aplikasi yang digunakan di negeri sana? Afung ie kan pakai itu. Kan ada translator nya."


"Benar juga ya? Kok Amei tidak terpikir ke situ? Nanti Amei minta Koko urus ini biar opa dan Afung ie tak perlu minta Amei duduk kayak orang bodoh lagi."


"Cece harus belajar. Cece mau loncat ke kelas lima maka harus jadi juara."


"Lha...Koko juga mau loncat! Nggak boleh ya! Amei makin tertinggal dari kalian. Sudah terpisah dua tingkat. Pokoknya Koko dan Cece tak boleh terlalu maju. Apa tak kasihan pada Amei ketinggalan di belakang?" protes Afifa sama seperti pada Azzam. Kedua kakaknya sama berambisi besar menerobos jalur semestinya.


"Iya ..iya...ngak loncat kelas lagi! Cece tunggu Amei loncat kelas. Semangat..."


"Itu baru betul...Amei pasti bisa."


"Bisa dong! Nah tutup dulu! Salam untuk semuanya. Bilang ke Koko kalau Cece akan saingi rankingnya."


"Iya...belajar yang rajin. Assalamualaikum..."


"Waalaikumsalam.." hubungan terputus.


Afifa meletakkan tablet di atas sofa puas telah ngobrol dengan kakak jauh di mata. Alvan merasa ngeri dengar ambisi kedua anaknya yang tak wajar untuk anak sebesar mereka. Haus akan ilmu pendidikan membuat kedua anak berlomba mencapai nilai sempurna. Apakah itu sehat untuk perkembangan jiwa keduanya.


"Opa...Amei kok lupa bisa translate bahasa dari ponsel. Cuma di sana tak ada Wa jadi opa harus pakai aplikasi yang digunakan di sana. Nanti Koko bisa urus aplikasi ini untuk opa. Jadi Amei pensiun jadi translator!"


"Gitu ya! Cucu opa memang pintar. Sekarang Amei tidak ngantuk?"


"Tidak ..nanti ada tidur di kantor papi. Bisa main sebentar lagi. Mau tunggu om Gi pulang."


"Om Gi kumpul sama teman sekolah. Sebentar lagi baru pulang. Koko mana?" tanya Heru tak melihat Azzam. Heru tak sabar mau cepat download aplikasi yang dibilang Afifa biar lebih bebas menuangkan perasaan pada Afung tanpa malu pada Afifa.


"Tuh di luar ngobrol sama kak Andi! Amei tunggu om di kamar saja ya! Sekalian mau lihat hadiah dari papi." Afifa minta pamit hendak buka hadiah dari papi serta dari kakak-kakak dari kampung rumah lama. Afifa tetap anak kecil suka di beri hadiah.

__ADS_1


"Pergilah! Kalau ngantuk langsung tidur ya!" Seru Citra sebelum Afifa menghilang di lantai dua.


"Iya mi..."


Heru menggeleng salut pada anak-anak Alvan. Satu menggemaskan dan duanya mengerikan. Kemauan belajar kedua kakak Afisa sungguh luar biasa. Jauh dari jangkauan akal orang normal.


"Well...aku kaget dengar niat Afisa mau loncat kelas. Apa itu tidak berbahaya bagi kejiwaan mereka?" tanya Heru setelah Afifa masuk kamar.


"Tadi Azzam juga bilang gitu! Mungkin keduanya sepakat loncat kelas. Aku rasa itu terlalu memaksa otak mereka. Seharusnya sekarang mereka kelas dua, tapi duduk di kelas tiga. Mau loncat lagi? Kurasa itu berlebihan." Alvan menyambut baik rasa kuatir Heru.


Kedua anak Alvan berkesan memaksa otak bekerja keras hanya untuk ambisi. Takutnya mereka bisa melukai pikiran sendiri bila terlalu memaksa kehendak.


"Mereka punya batasan sendiri. Azzam dan Afisa takkan berani bila tak mampu. Kalian lihat ambisi mereka kalah dari cinta terhadap saudara. Afifa tidak ijinkan mereka langsung mengalah. Itulah kasih sayang anak kembar. Aku tidak kuatir kejiwaan mereka akan kacau. Aku juga tamat sekolah umur enam belas tahun. Itu kemauan aku untuk meraih hasil terbaik." Citra kemukakan pendapat tentang ambisi Azzam dan Afifa.


Heru dan Alvan mulai paham dari mana semangat belajar luar biasa anak-anak Citra. Ternyata mengalir dari darah Citra. Citra juga punya otak encer barulah hasilkan keturunan beraliran sama.


"Om tak bisa omong apa lagi. Cuma om tak mau cucu om belajar di bawah tekanan. Bagi om tidak ranking masalah asal mereka punya kemauan. Pokoknya om tak mau kamu paksa cucu om harus gini gitu. Biarkan mereka menikmati masa kanak-kanak yang wajar." Heru berkata serius kurang suka cucunya memaksa hanya demi ranking.


Alvan setuju. Ranking bukanlah penentu masa depan seorang anak. Terlalu dipaksakan malah merusak memori otak si anak.


"Citra tahu apa yang terbaik untuk anak-anak. Om tak usah kuatir Citra akan peras mereka untuk belajar. Itu semua kemauan mereka sendiri."


"Om harap memang gitu! Lusa kami akan berangkat. Kau urus semua bekal anak-anak termasuk punyaan Gibran. Bawa yang perlu saja karena sekarang batasan bagasi makin sedikit. Lebih timbangan harus bayar banyak."


"Iya om...besok akan kusiapkan! Kayaknya pakaian Azzam dan Afifa masih ada di sana. Tapi ntah masih muat ngak?"


Afung persis patung hidup tak bisa ikut ngobrol dan tak ngerti sama sekali. Kalau Afung tidak segera belajar bahasa Indonesia maka dia akan kesulitan komunikasi dengan seluruh keluarga. Tak mungkin tiap hari ngobrol pakai translator ataupun ponsel. Cara hidup model apa itu?


"Afung mau istirahat?" tanya Citra dalam bahasa Mandarin karena kasihan pada gadis itu tidak bisa masuk dalam obrolan.


"Tunggu sebentar lagi. Masih agak pagi kok!" sahut Afung manis.


"Baiklah! Kalau gitu aku tinggal ya! Aku harus kerja besok. Ada operasi di rumah sakit."


"Silahkan! Kami akan duduk di sini sebentar lagi."


Citra bangkit karena mulai ngantuk. Citra bangun pagi sekali untuk masak sarapan pagi. Di tambah sibuk di rumah sakit menguras tenaga Citra. Mata Citra tinggal lima Watt tak bisa bersinar terang lagi.


Alvan tentu saja ikut ke mana sang isteri. Nggak mungkin juga dia jaga dua orang sedang pacaran. Apa Alvan mau jadi satpam pengawas.


Biarlah Afung dan Heru nikmati sisa hari berada di Indonesia berduaan. Tak lama lagi mereka akan terbang ke negara Afung.


Citra yang tak dapat menahan kantuk segera bersihkan diri untuk menyambut mimpi. Ntah mimpi apa malam ini. Harapan mimpi indah bersama suami tercinta. Apa lagi harapan Citra kalau bukan merajut hari indah bersama keluarga.


Alvan menunggu Citra di atas ranjang. Di dalam hati Alvan tersimpan rasa gundah soal rasa jengkel Azzam padanya. Alvan harus jujur pada Citra biar tak jadi bibit penyakit kemudian hari. Alvan sudah kapok ditinggal Citra.


Alvan menepuk kasur minta Citra segera berlabuh di pelukan. Jadi kebiasaan baru tidur harus peluk isteri. Semua yang ada dalam diri Citra menjadi kebiasaan baru Alvan. Biarlah dirinya dianggap bucin tak jadi soal. Yang penting tidak berpisah lagi.


Citra menyelusup kedalam pelukan Alvan secara sukarela. Tempat paling nyaman merangkai mimpi. Alvan menarik selimut menutupi mereka dari dinginnya hawa sejuk AC.


"Langsung tidur ya mas! Aku lelah .."


"Bolehkah mas ngobrol dikit?"


"Soal apa? Azzam dan Afisa lagi?"

__ADS_1


__ADS_2