
Andi merasa bertanggung jawab atas keselamatan kedua anak itu. Bukan karena Andi bekerja pada Alvan melainkan karena Andi memang menyayangi kedua anak itu dengan setulus hati.
Andi masuk ke dalam melihat di mana keberadaan Azzam dan Afifa. Untunglah Azzam pintar melindungi Afifa di dalam kamarnya. ternyata kedua anak itu mendengar suara ribut-ribut di depan.
Andi segera memeluk Azzam dan Afifa memberi ketenangan pada kedua anak itu. Andi merasa sakit hati melihat kondisi kedua anak yang sangat dia sayangi itu. ingin sekali Andi merobek muka Bu Maryam yang menjadi provokator daripada demo hari ini.
"Maafkan kak Andi ya! Semua telah berlalu. Orang-orang yang nakal itu telah dibawa sama Pak RT ke kantor desa. Tinggal mereka dihukum sesuai dengan kesalahan mereka. Koko dan Amei tidak usah takut. Ada kak Andi Kak Tokcer dan Kak Bonar melindungi kalian." Andi menerangkan secara sederhana agar kedua anak itu memahami.
"Mereka marah-marah pada mami. Apa salah mami kak Andi?" tanya Afifa melepaskan beban dalam hati.
"Mami tidak bersalah dek! Mereka hanya orang sirik yang ingin mencari kesalahan orang lain. Itu mereka sudah dihukum sama Pak RT. Sebentar lagi papi dan mami pulang. Koko dan Amei tidak perlu takut."
"Tapi suara mereka sangat besar Amei takut sekali."
"Lho... adik kak Andi kok jadi penakut? Itu mereka sudah pergi. Kalau Amei tidak percaya ayo kita keluar!" ajak Andi untuk meyakinkan Afifa dan Azzam.
"Koko percaya kok Kak mereka sudah pergi. Di luar sudah tidak terdengar suara." ujar Azzam sekaligus untuk menenangkan adiknya.
"Nah itu baru adik-adik kak Andi! Sekarang adik-adik Kak Andi coba tidur sambil tunggu mami pulang."
"Ini sudah sore Kak. Bagaimana bisa tidur lagi. Lebih baik kami pergi mandi saja. Mami pulang kami sudah bersih." usul Afifa sekalian mengusir rasa tidak nyaman di dalam hati.
"Bagus juga usul Amei! Ayo adik-adik kak Andi mandi satu persatu! Kak Andi tunggu di luar ya! Mandi yang bersih biar tambah cantik!"
"Pasti dong cantik! Adik siapa dulu?"
"Pasti dong adik kak Andi! kak Andi keluar ya!" Andi menarik nafas dengan lega karena kondisi kedua anak itu telah stabil. Semula Andi mengira kedua anak itu akan ketakutan setengah mati. Ternyata mereka bisa menerima kemungkinan terburuk sekalipun. Tidak rugi menjadi anak dari keluarga orang terpandang.
Andi kembali bergabung dengan kedua temannya di teras sana. Tokcer dan Bonar masih tidak percaya ada orang sirik pada Citra. Padahal Citra orangnya sangat baik dan tidak suka bergunjing seperti emak-emak lain. Mengapa ada orang tega memfitnah orang sebaik Citra.
"Bagaimana keadaan kedua anak itu?" tanya Bonar begitu melihat Andi keluar.
"Alhamdulillah keduanya dalam kondisi stabil. Afifa sedikit ketakutan tapi Azzam memang sangat tegar. gue salut pada sikap Azzam yang melindungi adiknya." kata Andi sambil menghempaskan diri di kursi rotan.
"Kalau soal Azzam aku sih tidak heran! Anak itu terlalu Perkasa untuk menjadi anak kecil. Kadang kalimat yang keluar dari mulutnya tidak sesuai dengan usianya. Gue curiga jangan-jangan Azzam itu sudah berumur lanjut." timpal Tokcer mikirkan sikap Azzam yang selalu mirip orang dewasa.
"Kalau gua sih mikirnya bukan gitu! Azzam itu anak kelebihan vitamin." sangkal Bonar tak tahu harus ngomong apa tentang kelebihan Azzam.
Selanjutnya ketiga berdiam diri memikirkan langkah selanjutnya. Tak ada yang bisa mereka kerjakan selain menunggu kehadiran bos dan Citra. Ternyata menjadi orang kaya itu tidak gampang juga. Mereka tidak kekurangan uang tetapi selalu menjadi sasaran orang-orang syirik.
Akhirnya orang yang ditunggu-tunggu muncul juga. Citra duluan tiba di rumah dengan wajah penuh ketegangan. Citra tidak memikirkan diri sendiri melainkan mental kedua anaknya. Apa yang akan terjadi bila kedua anak itu mendengar kata-kata yang tidak sedap ditujukan kepada mami mereka.
Citra dengan tergopoh-gopoh masuk ke dalam pagar melayangkan tatapan ke arah ketiga pemuda yang duduk di teras. Andi paling duluan berdiri menyambut kehadiran Citra. Andi merasa paling bertanggung jawab terhadap seluruh keluarga Citra.
__ADS_1
"Andi gimana keadaan kedua adikmu?"
"Alhamdulillah keduanya aman-aman Kak! Mungkin sekarang mereka sedang mandi. Amei sedikit syok namun kokoh tidak terpengaruh apapun." lapor Andi tidak menambah dan tidak mengurangi apa yang menjadi fakta.
Citra menarik nafas lega mendengar laporan Andi. namun sebagai seorang ibu Citra tidak ingin hanya mendengar. Wanita ini segera masuk ke dalam rumah untuk melihat kondisi kedua anaknya. Melihat dengan mata kepala sendiri merupakan jawaban terbaik dari semua ini.
Citra mendapatkan Azzam sedang termenung di dalam kamarnya. Sedangkan bayangan Afifa tidak tampak di sekitar situ. hati Citra tersenyum melihat Azzam termenung dengan wajah sedih.
"Ko... mami pulang nak!"
Azzam angkat kepala menatap maminya. Mata si lajang itu sedikit berembun tanda sedang memendam perasaan. Citra tidak buang waktu segera memeluk kepala Azzam ke dadanya.
"Maafkan mami tidak dapat melindungi kalian. Azzam harus tahu bahwa mami tidak pernah berbuat nakal. Itu memang Papi kalian! Siapapun tidak bisa menyangkal bahwa Pak Alvan Lingga adalah Papi kalian."
"Koko tahu mi... tapi kadang masyarakat itu kejam mi! Mereka memberi vonis tanpa melihat fakta."
"Sudahlah! mami dan Papi akan buktikan bahwa mami dan Papi adalah sepasang suami istri. Ada salah paham antara kami yang membuat kita harus berpisah. Koko dan Amei adalah anak-anak Papi dan mami."
"Iya mi...Koko ngerti!"
"Koko jaga adik ya! Mami ke kantor desa dulu untuk menjernihkan masalah ini. Papi mungkin sudah langsung ke sana. Mami bisa buktikan kok kalau Papi itu adalah suami mami yang sah!"
"Pergilah mi! Koko tunggu di rumah saja Koko akan menjaga Amei dengan baik."
Setelah merasa yakin Azzam bisa ditinggalkan Citra segera keluar menuju ke kantor desa. Citra meninggalkan pesan pada ketiga jagoan untuk menjaga kedua anaknya. Citra tak ingin anaknya mengalami syok kedua kali.
Citra mengeluarkan motor matic nya untuk transport ke rumah Pak RT. Persoalannya harus dijelaskan agar tidak terjadi salah paham di antara para tetangga. Nama baik Citra dan anak-anak dipertaruhkan pada hari ini. Citra harus mencari siapa dalang daripada semua ini dan jamin tidak akan memaafkan orang itu.
Ternyata benar dugaan Citra kalau Alvan telah duluan sampai di kantor desa. Mobil lelaki itu telah terparkir di depan kantor desa tetapi orangnya tidak ada. Citra menduga Alvan telah masuk ke dalam kantor desa maka itu citra segera masuk juga ke kantor desa. Di luar terdapat beberapa Ibu melirik dengan Citra dengan muka tertunduk. Mereka adalah anggota-anggota demo yang kena hasut oleh Bu Maryam. kini mereka takut pada citra yang akan memasukkan mereka ke dalam penjara.
"Assalamualaikum.." sapa Citra sebelum masuk ke kantor desa.
"Waalaikumsalam..." terdengar jawaban beberapa suara yang berbeda.
Tanpa ragu Citra melangkah masuk ke dalam menyaksikan di kantor telah ada beberapa orang duduk mengelilingi kantor. Alvan paling dekat dengan Pak RT mengedarkan mata ke arah Citra yang baru datang. D samping Alvan ada seorang lelaki yang agak berumur memakai peci haji.
Citra tidak sempat berpikir siapa orang itu sekarang tujuan Citra iyalah membersihkan nama baiknya. Citra tidak terima disebut perempuan nakal yang merebut pacar ataupun suami orang. Tidak mungkin Citra akan melakukan perbuatan yang sangat rendah itu karena dia sendiri telah merasakan bagaimana sakitnya menjadi orang yang dikhianati.
"Silakan duduk bu dokter! Ini kami sedang bertanya padamu Maryam yang memimpin demo di depan rumah Ibu. Silakan bu dokter bertanya langsung pada Bu Maryam!" Pak RT mempersilakan Citra berhadapan langsung dengan Bu Maria yang menjadi provokator utama.
Citra melontarkan tatapan nanar ke arah Ibu Maryam. Apa maksud perempuan tua itu memfitnah dirinya padahal Citra tidak pernah sekalipun mengganggu kehidupan orang lain. Yang ada Citra sering membantu para tetangga yang sakit secara mendadak.
"Maaf Bu Maryam! Apa tujuan ibu sebarkan fitnah keji pada keluarga aku?" Citra langsung mengeluarkan kalimat dari mulutnya karena sudah sangat keram pada kelakuan Bu Maryam. Ada rasa sakit di hati Citra karena anaknya dibilang anak diluar nikah.
__ADS_1
"Maaf bu dokter! Tadi ada seorang perempuan pakai mobil putih datang ke rumah bertanya apa kenal sama Bu Citra? Kubilang sangat kenal karena Bu Citra terkenal orangnya baik. Lalu dia bercerita bahwa Bu Citra itu perempuan nakal yang merebut pacarnya. lalu dia mengeluarkan foto dia bersama bapak itu!" Bu Maryam menuju ke arah Alvan.
"Lantas?"
"Nona cantik itu meminta bantuanku untuk mengarsir bu dokter dari kampung ini. Katanya kampung akan sial bila dihuni oleh perempuan nakal. Lantas dia memberiku satu kantong uang lalu dia pergi dan mengatakan akan menunggu hasil dari kerja aku. Maka itu aku mengajak para ibu-ibu untuk demo di rumah Bu Citra. Itu saja yang kuketahui."
Citra menggeram karena Bu Maryam sangat gampang dipengaruhi oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Maryam tidak mengetahui akibat dari perbuatannya sangat merugikan orang lain. Hanya gara-gara uang Bu Maryam tega memfitnah orang yang tidak bersalah.
"Dengar ya Bu Maryam! Aku ini istri dari Pak Alfan sudah hampir 10 tahun. Anak-anak kami saja sudah sebesar ini bagaimana mungkin tiba-tiba muncul orang mengaku pacarnya. Siapa perempuannya nakal itu seharusnya Bu Maryam bisa berpikir sendiri."
"Maaf bu dokter! Aku sudah salah. Aku tergiur melihat uang yang sangat banyak hingga melupakan kebaikan bu dokter selama ini. Aku benar-benar tidak mengenal nona itu."
"Apa kalau diperlihatkan foto orang itu Ibu Marya masih mengenalnya?" tanya Citra.
"Ya masih lah orang baru pergi sebentar aja kok!"
"Baiklah! Nah Pak Alvan mungkin bapak bisa perlihatkan foto orang yang dicurigai?" kini Citra berbalik menatap ke arah Alfa dengan tatapan penuh amarah. Belum selesai dengan Karin kita muncul wanita lain mengaku pacar Alvan. Nampaknya Alvan sudah tak sabar ingin dihajar Citra pakai jarum suntik.
Alvan meringis mengetahui tujuan Citra menatapnya. Citra sudah menduga Alvan mengenal perempuan itu. Kalau tidak kenal mana mungkin Alvan bisa berfoto dengan perempuan itu.
"Maaf Citra Aku tidak mempunyai foto perempuan itu. Tapi aku bisa menduga siapa adanya orang itu. Mungkin Andi yang memiliki foto perempuan itu." Alvan membela diri karena memang tidak menyimpan foto cewek di ponselnya. Jangankan foto cewek lain, foto Karin saja tak ada di galeri Alvan. Alvan bukan lelaki lebay suka simpan moments bersama wanita.
"Heh...kok Andi? Apa hubungan sama Andi? Tak usah lempar kesalahan pada orang lain. Mengaku saja kalau itu salah satu perempuan kamu."
Semua yang hadir terkesima. Rencana ingin mencari penyebab dan dalang daripada kejadian ini kok jadi malah pertengkaran antara suami istri. Alvan yang ketiban sial dituduh Citra sedang main gila dengan perempuan lain. Padahal Alvan tidak tahu apa-apa mengenai perempuan itu.
"Jadi bagaimana ini bu dokter? Apa saya akan dipenjara?" tanya Bu Maryam dengan ketakutan.
"Bu Maryam seharusnya memang ibu harus berhadapan dengan hukum karena telah memfitnah saya. Tapi saya berbaik hati kali ini membebaskan Ibu asal Ibu berjanji tidak akan mengulangi kesalahan yang sama."
Bu Maryam segera bangkit dari kursi persakitan menciumi tangan Citra. Bu Maria menangis terharu pada kebaikan hati Citra. Kalau orang lain berada di posisi Citra pasti akan menghukum Bu Maryam dengan seberat-beratnya.
"Lalu bagaimana dengan uang yang diberikan oleh nona cantik itu?" tanya Bu Maryam dengan lugu.
Citra tidak tahu apa yang harus dilakukan dengan uang yang diberikan oleh perempuan misterius. Seharusnya uang itu memang harus dikembalikan pada yang empunya. Niat orang itu sangat tidak baik pada Citra. Bukan hanya ingin menghancurkan nama baik Citra tetapi ingin juga menghancurkan kehidupan anak-anaknya.
"Uang itu bukan urusan aku! Kalau dikembalikan kepada perempuan itu pun tidak ada guna. Sebaiknya uang itu disumbangkan kepada fakir miskin atau perbaikan musholla. Apa Bu Maryam iklaskan uang itu diberikan pada yang lebih berhak?"
"Ikhlas bu dokter.. Ikhlas bu dokter!" sahut Bu Maryam cepat. Bu Maryam pun tidak ingin terjerat dalam hukum. biarlah uang itu dimanfaatkan pada tempat yang lebih berguna.
"Baiklah! kejadian hari ini cukup sekian dan para ibu-ibu silakan pulang ke rumah masing-masing dan merenungi kesalahan kalian. Uang itu diserahkan kepada Pak RT untuk dipergunakan di tempat seperlunya."
"Terima kasih Bu dokter. Aku akan ingat kejadian hari ini. Sampai mati pun aku tidak akan mendengar hasutan orang lain lagi. Aku permisi ya bu dokter!" Bu Maryam dengan tergopoh-gopoh meninggalkan kantor desa. Bu Maria merasa lolos dari hukuman pancung yang sangat mengerikan.
__ADS_1