ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN

ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN
Teror dari Beijing


__ADS_3

Semua merasa damai karena apa yang diharapkan telah terwujud. Afung dan Heru telah bahagia. Acara makan bersama berjalan sukses dan semua berjalan mulus.


Kekuatiran Heru terhadap niat licik Meng Si tidak terbukti. Wanita itu tidak melakukan apapun setelah Heru tidak menanggapi ocehan orang tak punya malu itu.


Pada akhir acara ibu Afung mengeluarkan beberapa amplop untuk diserahkan pada Afung titipan dari teman-teman seperjuangan Afung di gelanggang senam.


Amplop merah itu hanyalah sekedar niat teman-teman ucapkan selamat pada Afung. Walaupun isinya tak seberapa tapi niat baik mereka harus dihargai.


"Berhubung kalian sudah di sini bagaimana kalau kalian main ke pulau Dewata barang seminggu. Jarang ada kesempatan libur. Kali ini biar liburan lebih puas." usul Citra sebelum acara usai.


"Tapi libur kami cuma tiga hari. Kami harus balik kerja. Kau tahu aku bekerja di kantor pemerintahan sangat disiplin. Besok kami sudah harus balik." kata paman Afung bukan tak hargai niat baik Citra.


Citra termenung. Rencana ingin balas jasa baik keluarga Chen pada dia dan anak-anak tidak kesampaian karena waktu sangat terbatas.


Afung tersenyum lihat amplop merah dari teman seprofesi dulu. Mereka pasti akan isengi Afung kasih amplop berisi uang mainan atau pun uang koin. Afung bukan lihat isinya tapi niat mereka ingat Afung sebagai sahabat.


Di salah satu amplop Afung menarik satu kertas putih tidak terlalu besar. Mata Afung berbinar tak sabar ingin tahu apa isi surat dari rekan senam dulu.


Semua asyik bercanda tidak perhatikan reaksi wajah Afung yang berubah merah menahan perasaan. Citra yang duluan lihat perubahan wajah Afung segera merebut kertas di tangan Afung.


Bukan hanya Afung yang berubah. Citra juga beri reaksi aneh sampai terduduk dengan kasar. Alvan cepat menangkap Citra agar jangan terbanting. Taruhannya lima nyawa. Alvan belum mau kehilangan satupun di antara orang yang dia cintai.


"Ada apa Citra?" tanya Heru bingung tiba-tiba dua wanita ini berubah pasif. Apa isi surat dari rekan Afung mereka tak ngerti karena tak tahu bahasa Mandarin.


"Meng Si kirim surat kaleng! Kurang ajar tuh orang!" rutuk Citra meremas surat kaleng Meng Si.


Alvan dan Heru terkesima. Mereka tak sangka Meng Si gunakan cara licik hubungi Afung. Semua akses kontak Afung telah terputus dia gunakan cara lebih lihay. Heru segera merangkul Afung beri ketenangan pada isterinya. Apa yang ditakuti Heru datang juga.


Tak ada jalan lain selain hadapi semua dengan kepala dingin. Heru tak boleh mundur walau apapun terjadi. Dia tetap harus dampingi Afung hingga titik penghabisan.


Afung agak gemetaran setelah tahu apa yang terjadi pada dirinya. Harapan untuk miliki keturunan dari Perkasa pupus sudah. Takdir terlalu kejam padanya sampai merengut satu sisi kebahagiaannya.


Keluarga Afung yang tak ngerti apa yang telah terjadi hanya terbengong. Selembar kertas mampu mengubah suasana yang semula ceria menjadi mencekam. Dalam hati tentu bertanya-tanya apa yang telah terjadi.


Citra sendiri bungkam saking kesal pada Meng Si yang tega merusak hati baik sahabat sendiri. Kalaupun ada masalah ini bukan waktu tepat bongkar hal buruk.


"Xiao Ci...ada apa ini?" tanya ibu Afung kuatir.


"Meng Si kirim surat mengatakan yang bukan-bukan tentang Afung. Dia mau minta dikawini sama om aku!" ujar Citra dengan nafas pendek.


Keluarga Afung kontan naik darah. Mereka tak sangka orang yang dianggap teman baik ternyata musang berbulu domba. Teganya hancurkan kebahagiaan teman sendiri.


"Kurang ajar sekali si Meng Si! Kita baik padanya dibalas dengan niat busuk." rutuk Abang Afung yakni bapak angkat Afisa.


"Orang kayak gitu tak perlu diberi panggung. Mulai saat ini blokir semua nomor ponselnya. Tak satupun boleh hubungan dengan dia. Cece juga tak boleh hubungan sama orang gitu! Itu makhluk berbahaya." Azzam yang ngerti dua bahasa mulai ikut bicara. Kalau Meng Si ada di depan Azzam habislah dikuliti anak ini.


"Koko benar...Dan kau Afung jangan terpengaruh oleh ocehan Meng Si! Orang sirik akan lakukan apapun untuk capai tujuan. Hanya orang tak tahu malu berani menawarkan diri jadi perempuan murahan. Kau lihat betapa murahnya dia!" kata Citra berusaha tegar. Sejujurnya dia juga terpengaruh oleh ocehan Meng Si.


Afung ada riwayat kecelakaan bisa jadi itu adalah fakta. Namun Citra akan periksa Afung ke rumah sakit biar tahu di mana letak kerusakan rahim Afung. Selama rahim itu masih utuh besar kemungkinan Afung miliki anak. Termasuk bayi tabung.


"Iya...aku tak percaya pada Meng Si! Dia iri padaku! Pantas dia minta ikut ke sini tak mau ikut tanding akhir tahun. Ternyata itu tujuan busuknya." Afung berusaha tegar hadapi semua kemungkinan.


"Syukurlah kau yakin pada diri sendiri!" Citra beri senyum pada Afung walau bukan senyum merekah karena ada tersisa rasa ragu.


"Kalau aku belum hamil kan ada anak-anak kamu. Aku akan jaga mereka selama kau pergi kerja. Lama-lama mereka jadi milik aku! Seperti Cece jadi milik Abang aku!"

__ADS_1


Citra tertawa anggap itu lelucon. Siapapun yang rawat anak-anaknya tak jadi masalah. Mereka toh satu rumah. Anak-anak takkan jauh dari Citra.


Di luar dugaan Afifa yang dari tadi diam beri reaksi kurang senang adiknya harus pindah tangan seperti Afisa. Mau jumpa sangat susah. Kalau rindu hanya bisa Videocall. Afifa tak mau kejadian ini terulang pada saudaranya yang lain.


"Nggak boleh adik-adik tinggal jauh lagi. Nanti aku jadi Amei selamanya. Amei mau jadi Cece juga." ketus Afifa manyun. Bibir mungil berona pink itu kerucut memanjang.


"Siapa tinggal jauh sayang? Bukankah kita satu rumah? Oma Afung tiap hari di rumah. Bantu mami kamu rawat adik bayi. Mami kan harus ke rumah sakit." Afung menjelaskan dengan lembut.


Afifa tersipu malu lupa kalau Afung tinggal bersama. Trauma soal Afisa membekas di benak gadis cilik ini. Dia tak rela harus berpisah dengan bakal adiknya.


"Maaf Amei lupa!"


Heru dan Alvan menarik nafas lega karena kejadian tidak separah bayangan mereka. Bu Sobirin dan suaminya hanya bisa jadi pendengar Budiman karena belum jelas pangkal masalah.


"Sebenarnya ada apa?" tanya pak Sobirin mau tahu apa yang sedang terjadi pada keluarganya.


"Begini lho Opa! Ada teman Afung yang dulu pernah datang sini teror Afung mengatakan yang bukan-bukan. Buntutnya minta ijin dinikahkan pada om Heru. Dia suka pada Om aku yang ganteng."


Pak Sobirin dan isterinya saling berpandangan. Emang ada perempuan demikian murahan menjajakan diri jadi isteri kedua dari suami teman sendiri? Sungguh di luar akal sehat.


"Kurang waras. Emang Heru mau?" tanya Bu Sobirin pada anaknya.


"Ya nggaklah! Punya satu isteri saja ntah kapan habis. Nggak pikir orang sinting itu. Yang penting kita bahagia. Itu saja!"


Azzam tepuk tangan puji tekad Heru tidak lakukan poligami. Azzam paling hormat pada lelaki yang bisa hargai wanita. Kejadian yang menimpa maminya membuat Azzam waspada pada lelaki walau dirinya juga lelaki.


"Hanya lelaki sejati tahu cara perlakukan seorang wanita dengan terhormat. Kalau ada lelaki semena-mena pada isteri berpaling pada wanita lain orang itu pasti orang kuper. Tak pernah lihat betapa dunia ini penuh gemerlap palsu. Terpukau maka terjerumus karam ke dasar jurang. Orang make kubah!" ujar Azzam bikin semua tersenyum.


Alvan kok merasa pedang Azzam terhunus diarahkan ke punggungnya. Bicara pada Heru namun tembakkan ke arahnya. Dasar Azzam si lidah pahit.


"Masa kecil kurang bahagia." jawab Azzam santai tidak menatap siapapun. Azzam sengaja tidak tembak ke siapapun biar yang merasa malu sendiri.


Bu Sobirin tergelitik oleh ulah Azzam. Kata kiasan Azzam bikin perut tergelitik. Bu Sobirin tertawa terbahak-bahak geli dengar cara Azzam sindir orang. Yang kena ya kena lah.


Alvan meringis merasa tersindir. Kapan anak lakinya akan move on dari masa lalu Alvan. Berkali katakan ingin tutup buku tapi sekali-kali bongkar kisah usang. Anaknya ini sulit dikendalikan. Otaknya penuh ide unik ciptakan perasaan bersalah pada diri orang.


Heru lega tak ada masalah dengan Afung. Wanita setegar Citra hadapi masalah. Heru percaya Citra takkan tinggal diam biarkan Afung dihina orang. Wanita ini pasti akan bela om mudanya sampai titik akhir.


Ponsel Citra berdering di tengah acara makan yang hampir usai. Citra mengeluarkan ponsel melihat siapa yang telepon.


Anaknya yang lain sedang di undang makan malam oleh keluarga Sultan dari Inggris. Tanpa ragu Citra terima panggilan masuk dari Afisa.


"Assalamualaikum sayang. Kau di mana?"


"Waalaikumsalam...Cece dalam perjalanan pulang di antar oleh Thomas! Mami orang ini sudah siap makan?"


"Hampir selesai...Cece pulang saja! Kita jumpa di rumah! Jangan lupa ucapkan terima kasih pada Thomas ya!"


"Iya mi...Cece mau bilang kalau Thomas mau antar Cece balik ke Beijing besok! Dia bilang tak usah pakai pesawat papi lagi. Mereka juga punya pesawat akan antar kami langsung ke Beijing. Mereka akan main di sana berapa hari. Boleh mi?"


"Itu tanya papi dan opa dulu! Apa tidak merepotkan orang?"


"Thomas memang ingin liburan di Beijing sebelum balik ke London. Sekalian katanya."


"Baiklah! Mami tanya dulu sama opa dan papi. Nanti mami telepon balik. Assalamualaikum."

__ADS_1


"Waalaikumsalam..."


Citra mematikan panggilan lantas menatap Alvan minta pendapat. Citra tak boleh ambil keputusan sendiri karena kini mereka punya keluarga besar. Semua harus berembuk dulu.


"Ada apa?" Heru bertanya duluan.


"Keluarga Thomas menawarkan antar Cece dan keluarga balik ke Beijing."


"Thomas anak raja kapal itu? Serius banget pada Afisa. Masih bocah juga. Apa tidak malu harap orang lain antar keluarga kita?" Heru jaga gengsi di hadapan mertua.


"Mereka mau liburan di Beijing beberapa hari sekalian antar Cece. Terserah kalian. Cece juga tidak ngotot."


"Kalau mereka memang mau liburan ya biar saja! Mereka hanya berteman biasa. Namanya juga anak kecil." lerai Alvan tak anggap undangan Thomas perihal berat.


Gibran sangat tidak suka pada keputusan Alvan ijinkan orang lain antar Afisa. Apa lagi orang itu Thomas bule sok cakep itu. Gibran ilfil banget pada Thomas yang dia anggap terlalu pamer kekayaan. Datang jauh dari Inggris hanya untuk pesta. Lalu pulang antar Puteri kesayangan keluarga. Terlalu berlebihan.


"Ok...aku akan kasih kabar pada Cece terima tawaran Thomas!" Citra meraih benda pipih itu lalu klik nomor kontak Afisa.


"Assalamualaikum..."


"Waalaikumsalam...gimana mi? Boleh? Cece sudah dekat rumah nih!"


"Boleh... memangnya mereka take off jam berapa?"


"Katanya sekitar jam sembilan pagi. Pesawat mereka super jet sangat gede lho!"


Citra tertawai kenorakan Afisa pamer betapa kaya temannya. Raja kapal punya pesawat segede kapal laut juga tak heran. Uang mereka mungkin bisa digunakan timbun laut.


"Ya sudah kita bicara di rumah. Cece tunggu di ruang tamu ya! Kami segera pulang."


"Iya mi... Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam..."


Suasana kembali hening. Afisa beruntung bisa kenalan sama orang super tajir. Gadis beruntung mencuri perhatian keluarga Smith. Herannya orang tua Thomas sangat memanjakan Thomas sampai belain datang dari jauh hanya untuk menyenangkan Afisa. Nasib lagi di atas angin beginilah adanya.


Semua bahagia kecuali Gibran. Wajah lajang ini ditekuk kurang senang Afisa makin dekat dengan Thomas. Walau masih butuh panjang untuk menanti Afisa dewasa tapi Thomas sudah bergerak maju ke depan mengikat Afisa agar tak lepas dari genggaman.


Pertama antar keluarga Afung kembali ke hotel setelah itu mereka baru pulang. Di rumah sudah tak ada jejak orang bule. Thomas dan kedua orang tuanya sudah pergi ntah ke mana. Hanya ada Afisa sendirian di ruang tamu.


Sayang sekali Afisa cuma dapat cuti libur tiga hari. Dia harus kembali ke sekolah dan latihan untuk pertandingan senam musim dingin. Peraturan sana sangat ketat. Kalau lengah hukuman sangat berat. Afisa sudah terlanjur teken kontrak maka tak ada jalan mundur lagi.


Masing-masing kembali ke kamar tidur sendiri. Citra dan Alvan juga kembali ke tempat di mana mereka memadu kasih. Merajut kisah manis untuk bahan cerita hari tua.


Citra seperti candu bagi Alvan. Sehari tidak peluk Citra rasanya hidup tak sempurna. lni perasaan sekarang karena Citra sudah berbaik hati persembahkan kurcaci baru. Coba kilas balik dulu, apa ada nama Citra dalam kamus Alvan?


"Mas...apa pendapat mas tentang musibah Afung?"


Alvan tak segera jawab. Lelaki ini sudah tahu masalah Afung cukup lama tapi dia bungkam atas amanah Heru. Dia bisa apa urus isteri orang.


"Kau dokter pasti punya cara bantu Afung. Coba bawa dia cek up di rumah sakit! Aku rasa Hans cukup ahli di bidang ini."


"Isteri opa boleh Hans sedang aku tak boleh. Logika apa itu?"


"Ini tak main logika tapi cemburu. Enak aja dia mengelus perut mu! Pokoknya dia tak boleh sentuh kamu!"

__ADS_1


Citra mencubit pinggang Alvan gemas pada kecemburuan lakinya. Cemburu tidak pada tempatnya. Berlebihan cemburu pada dokter.


__ADS_2