ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN

ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN
Rencana Indah


__ADS_3

Curhat author.


Aku minta maaf sebesarnya pada pembaca novelku karena akhir-akhir ini sedikit lelet. Aku telah berusaha semaksimal mungkin menyenangkan hati pembaca tercinta namun sayang selalu muncul kendala di review. Sudah sering tak diloloskan. Ini akan menurunkan semangat penulis.


Aku sebagai penulis hanya berharap novelku disukai dan dibaca semua orang. Setiap like, komen merupakan hadiah terindah bagi kami sebagai penulis. Kami terima saran dan kritik karena sadar itu untuk membangun. Di sini aku ucapkan terima kasih pada pembaca novel aku. Perhatian anda semua bagaikan sinar mentari terangi hariku. Menuntun aku menjadi penulis lebih baik.


Sudah kupelajari ternyata hanya kata Al ko hol dan ban ci karya aku tak lolos review. Mohon perhatian editor. Apa kedua kata itu mengandung kata vulgar atau kurang sopan? Kata apa yang bisa wakili kata Al ko hol? Coba editor beri saran? Misalnya kita mau tulis minuman itu mengandung Al ko hol, tak pantas diminum. Kalau kata itu diharamkan, dengan kata apa kita bisa gambarkan minuman itu mengandung Al ko hol. Mohon editor bijak tak mematahkan semangat penulis. Semoga editor maklumi perasaan penulis yang susah payah menulis hanya bertujuan menyenangkan pembaca.


Mohon maaf bila author dianggap tidak sopan. Cuma author sudah patah arang berulang kali ditolak. Semangat yang biasa membara kini padam. Terima kasih sudah mau baca curhatan author.


🌻🌻🌻🌹🌹🌺🌺🌹🌹🌻🌻


Citra menyibukkan diri di dapur berniat buat sedikit cemilan kesukaan Afifa. Kue dorayaki diberi toping coklat. Makan yang manis-manis akan membuat hati yang galau berubah lebih baik. Afifa sedang bad mood maka Citra wajib kembalikan semangat Afifa. Citra bukan kuatir Afifa ngambek dalam waktu lama tapi takut Afifa tidak fokus ujian besok. Anak itu sudah belajar serius untuk bersaing dengan Azzam dan Afisa.


Citra tak dapat bayangkan bila nilai Afifa anjlok. Sebuah pukulan yang akan menjatuhkan semangat belajar Afifa.


Seusai magrib Alvan pamit untuk jumpai Daniel sesuai janji. Cukup lama mereka tidak bercerita dari hati ke hati. Alvan disibukkan oleh perusahaan dan segudang masalah pribadi. Ngobrol cuma lewat ponsel. Ada yang kurang ngobrol lewat alat perantara. Langsung ngobrol sambil saling bertatapan akan menghadirkan suasana beda.


Citra tentu saja mengijinkan Alvan pergi kongkow dengan sahabat terbaiknya. Mereka berteman puluhan tahun. Suka duka mereka lalui bersama. Citra juga mengenal Daniel dari dulu semasa baru menjadi isteri Alvan.


Di rumah tinggal Citra bersama kedua buah hatinya. Citra belum menyuguhkan kue kesukaan Afifa karena takut nanti tidak sanggup makan malam lagi. Kue ini Citra simpan untuk cemilan sebelum tidur.


Citra sengaja kunjungi Afifa menjelang makan malam. Alasan Citra hanya ingin tahu apa anaknya sudah siap bertempur dengan soal ujian. Afifa tidak belajar melainkan mengagumi hadiah pemberian Gibran dan Azzam. Sungguh nikmat hidup Afifa dimanja oleh dua lajang tanggung. Keduanya menyayangi Afifa.


"Sayang..." Citra masuk ke kamar Afifa yang tidak terkunci.


Afifa mengangkat kepala mengalihkan mata dari hadiah pemberian Azzam dan Gibran. Wajahnya Afifa tidak kusam seperti sebelum jumpa Azzam. Citra menafsir Azzam telah beri masukkan pada Afifa.


"Anak mami sudah lapar?" tanya Citra lembut ikut naik ke atas ranjang Afifa.


"Sedikit..."


"Amei kenapa? Kok tidak semangat? Bukankah mau mengalahkan Koko rankingnya?"


Afifa tersenyum tipis. Sudah begini Afifa mirip dengan Afisa. Gayanya dingin tetapi tetap sopan. Tidak sinis tapi memberi rasa kurang nyama bagi lawan bicara.


"Amei akan berusaha. Apa mami pikir Amei masih kecil?"


"Tidak...semua anak mami sudah besar bisa membantu mami melewati kesedihan. Amei, Koko dan Cece adalah nyawa mami. Tanpa kalian mami tak bisa ngapain."


"Kalau mami merasa Amei sudah dewasa mengapa menutupi siapa bunda Karin. Koko kok tahu siapa wanita itu?" mata Afifa mengeluarkan pijaran tak senang. Citra harus punya cara menjelaskan pada Afifa agar anak ini tidak merasa tersingkirkan. Selalu dianggap anak kecil tak mengerti masalah.


"Mei...bukan maksud mami menutupi siapa bunda Karin tapi dia itu bukan orang pantas kita jadikan alasan untuk bersedih. Dia memang pernah ada dalam hidup papi. Waktu itu papi masih muda belum mengerti arti hidup sebenarnya."


"Nggak ngerti hidup ya mati!" ketus Afifa.

__ADS_1


"Bukan gitu...papi waktu itu dibutakan oleh pergaulan bebas. Senang huru hara tak ingat tanggung jawab sebagai suami dan papi. Setelah dia sadar kita sudah berangkat jauh. Papi mencari kita sampai sakit. Bertahun papi hidup dalam penyesalan. Akhirnya kita bertemu lagi. Tuhan tak ijinkan kita berpisah maka kita dipertemukan." Ucap Citra dengan nada rendah agar emosi Afifa tidak melonjak.


"Papi dan wanita itu bersenang sementara kita hidup sederhana." protes Afifa teringat rumah Karin yang sangat mewah.


"Itulah hikmahnya! Berkat pelajaran dari alam kita berubah kuat. Koko dan Amei kuat tidak cengeng. Dan lagi orang jahat selalu dapat ganjaran. Bunda sekarat digerogoti penyakit. Kita harus kasihan padanya. Setiap hari dia harus minum puluhan butir obat. Apa ini bahagia?" Citra akhiri kata meneliti raut wajah Afifa cari tahu sampai di mana jiwa sosial anaknya. Iba pada Karin atau masih menabuh genderang perang.


"Kata Koko wanita itu sakit berat. Amei juga lihat dia sakit. Lalu kenapa dia tidak dirawat?"


"Sudah dirawat lama. Sekarang dia harus minum obat yang banyak untuk bertahan hidup. Maka itu kita harus baik hati tidak suudzon pada orang. Memaafkan orang bersalah adalah perbuatan mulia dan disukai Allah. Mami sudah memaafkan dia! Apa Amei tak mau jadi kekasih Allah yang punya sejuta kata maaf?"


"Koko juga bilang gitu! Memaafkan orang sama saja memaafkan diri sendiri! Kita benci dan marah pada orang itu sudah dosa. Memaafkan orang artinya kita juga bebas dari dosa."


"Koko omong gitu?"


Afifa mengangguk. Azzam sungguh hebat bisa terpikir beri masukkan sangat bijak. Anak itu harus dibekali ilmu agama lebih banyak agar makin bijak.


"Koko benar nak! Kenapa kita selalu sehat dan bahagia? Itu karena hati kita tak ada niat jahat dan rasa dendam. Jadi Amei lupakan saja yang tidak menyenangkan. Masih banyak hal menyenangkan bisa kita ingat. Sekarang Amei memiliki segalanya. Ada papi, opa Oma, Uyut, om ganteng dan kakak lucu. Orang lain belum tentu punya. Oleh karena itu kita mesti hargai apa yang telah kita miliki. Amei bisa?"


Kata-kata Citra masuk di otak kecil Afifa. Azzam telah beri masukkan dan maminya juga mengatakan hal hampir sama dengan Azzam. Orang yang paling dia cintai telah berkata sama, mestinya keraguan itu sirna.


"Iya mi...Amei akan ingat kata mami!"


"Bagus...kita makan malam ya? Mami ada buat kue dorayaki coklat untuk Amei dan Koko."


"Untuk om?"


"Beres mi..." keceriaan Afifa timbul seketika. Citra merasa batu dalam dada terangkat sudah. Beban mental paling berat telah disingkirkan dari keseharian Afifa.


Citra menanti Afifa membereskan hadiah di atas tempat tidur. Gadis kecil ini menyimpan satu persatu hadiah dari keluarga tersayang. Setiap pemberian merupakan barang berharga. Afifa jarang dapat hadiah karena didikan Afifa yang keras. Kini semua memanjakan dia sebagai anak bungsu.


Azzam dan Gibran sudah duluan hadir di ruang makan. Kedua abg ini tak sabar ingin santap hidangan dari Oma Uyut. Sejak kehadiran tamu dari Tiongkok Oma jarang ke rumah Citra. Ntah segan jumpa calon Heru atau kurang suka pada gadis bermata sipit itu.


Afifa datang sambil meloncat ceria. Citra secara diam-diam tersenyum senang Afifa telah menemukan keceriaan sedia kala. Satu lagi tekanan di kehidupan Citra terangkat ke atas. Azzam dan Afifa mulai bisa terima kesalahan Alvan. Tinggal satu lagi penghalang kebebasan Alvan dari pusaran dosa masa lalu yakni Afisa. Apa Afisa bisa terima Karin seperti kedua saudaranya?


Di sudut kampung Andi tampak tiga pemuda lajang duduk di depan rumah Tokcer yang terparkir mobil mewah Alvan. Pekerjaan Tokcer paling santai. Cuma antar jemput tiga bocah dari keluarga kaya. Untung ketiga bocah itu tak kasih Tokcer Komidi putar alias bikin pusing. Ketiganya anak baik dan patuh.


Emak Tokcer menyuguhkan bandrek penghalau hawa dingin. Minuman penghangat badan, menyehatkan lagi ketimbang lari ke minuman keras.


Andi menyeruput cairan dari jahe dengan gula merah itu. Ada rasa hangat menyesak dalam perut. Rasa nyaman kontan mengaliri seluruh tubuh. Kedua teman Andi yakni Tokcer dan Bonar ikuti Andi kosongkan sebagian isi gelas.


"Wah...hangat!" seru Bonar norak seperti hendak melapor ke satu kampung dia minum bandrek.


"Lama di gudang muka lhu kok agak mirip tikus ya! Mulai lancip." sindir Andi gemas cara Bonar ekspresikan kenikmatan bandrek. Kayak orang baru keluar dari tahanan. Kehausan.


Bonar meraba pipi tak merasa kurus. Justru tampak tambah montok. Mukanya lebih bersih tidak kena paparan cahaya matahari. Sewaktu jadi kuli bangunan muka Bonar hancur akibat kena sinar matahari siang hari.

__ADS_1


"Elu aja yang sirik! Banyak orang bilang aku ini mirip Reza Rahadian. Lhu iri kan?"


"Iya mirip dilihat dari sedotan jus!" sahut Andi membuyarkan kesombongan Bonar.


"Kamu ini An...kurasa ada mirip kok!" Tokcer nimbrung meramaikan suasana.


"Nah itu Tokcer waras! Lhu aja yang juling tak lihat cowok ganteng." Bonar bergaya menepuk dada bangga.


"Iya mirip kalau dilihat atas Monas! Dari jauh lhu tampak seperti semut!"


Andi dan Tokcer terbahak-bahak menertawai Bonar yang sempat melambung bahagia. Diangkat tinggi lalu dihempas berkeping-keping. Sedih hati Bonar dilecehkan kedua sahabatnya.


"Aku mau melapor ke KPAI (Komisi Perlindungan Anak Indonesia)." protes Bonar garang.


"Ntar dikira anak badak kesasar! Siapa mau lindungi badak segede lhu? Diusir kali." sahut Tokcer masih tersisa tawa geli.


"Tega amat sama kawan sendiri! Lama tak jumpa bukannya merayu hati yang kesepian. Di gudang tiap hari hanya nonton sinetron. Lama-lama aku jadi emak-emak menangis nasib pemain sinetron." Bonar menunduk sedih tak di hiburan kedua konconya. Tinggal di gudang tanpa hiburan dan teman ngobrol merupakan hal paling membosankan.


"Sedih tapi badan bengkak." ujar Andi mencibiri raja drama itu. Sok melankolis biar dikasihani.


"Sekarang ada Iyem yang bertubuh subur! Cocok sama Bonar. Apa lhu sudah hubungi dia?" Tokcer teringat Iyem yang baru kenalan hari ini. Iyem bekerja untuk Alvan maka kesempatan jumpa makin besar. Ini memuluskan jalan Bonar pedekate dengan Iyem.


"Belum...rencana besok malam baru ngobrol! Ada kalian hanya bikin suasana kacau. Menurut kalian gimana Iyem?"


"Sekilas orangnya baik tapi kita tahu sifat aslinya. Ntah judes atau lembut kayak kak Citra. Nanti aku akan coba cari tahu ya sama kak Untung! Dia lama ikut pak Alvan pasti kenal baik Iyem. Tenang bro! Kami juga harap lhu dapat pasangan setimpal." Andi merangkul bahu Bonar mesra.


"Nah itu baru sobat aku! Kutunggu kabar baik darimu."


"Sabar ya bro! Untuk yang terbaik harus sabar. Kita harus banyak belajar dari kak Citra. Berkat kesabarannya dia berhasil mendapat haknya sebagai isteri sah pak Alvan. Yang asli tetap asli. Yang palsu tetap takkan awet."


Tokcer dan Bonar manggut setuju kata Andi. Citra menempuh jarak cukup jauh untuk meraih haknya. Kelelahan dalam perjalanan terbayar sudah. Dibayar lunas oleh Alvan dan Karin.


"Aku setuju..kita harus bersyukur kenal kak Citra. Lihat kita sekarang! Sudah keren dan ganteng. Anak gadis kampung pada melirik kita. Dulu kita dicap anak nakal tapi sekarang Abang ganteng. Ciiisss...aku ogah sama anak gadis kampung sini! Bukan menghina para cewek tapi ingat cara mereka perlakukan kita." Tokcer mengingatkan dulu mereka hanya debu penyebab mata kelilipan. Sekarang telah punya bentuk walaupun belum sempurna.


"Aku setuju...kalau cari bini cari luar kampung sini! Aku incar Iyem saja." Bonar tetapkan hati kejar Iyem si subur.


"Hehehe ..Tokcer kan ada di bule..ngobrol tengah malam karena beda waktu. Aku doain kalian sukses dengan doi masing-masing." kata Andi santai tidak terpikir cari pasangan dulu. Bagi Andi utamakan Bu Menik dulu.


"Lhu gimana? Sudah ada yang cocok? Jangan bilang jeruk makan jeruk ya!"


Andi tidak marah digoda Tokcer. Semua orang akan berpikiran sama mengira Andi masih terbawa sifat tulang lunak. Andi susah berusaha berjuang menjadi macho. Ini butuh waktu dan keteguhan hati menjadi manusia lebih baik.


"Aku akan punya selusin anak seperti Koko dan Amei. Jika perlu kembar tiga juga. Mau bersaing sama bos." gurau Andi disambut tawa derai.


Bonar dan Tokcer lega Andi punya tekad berubah menjadi lelaki tulen. Andi sudah banyak berubah sejak jadi pegawai Alvan. Bicara tidak pakai gaya kemayu lagi. Sudah lumayan lelaki.

__ADS_1


"Oya..kapan kalian mau umrohkan emak-emak kalian. Aku bantu sedikit biayanya." tanya Bonar teringat janji Andi dan Tokcer mau umrohkan kedua emak mereka.


"Tunggu gajian lagi. Sekarang mana cukup. Butuh beberapa bulan lagi baru cukup." sahut Tokcer. Gajinya masih jauh umrohkan emaknya. Masih harus nabung beberapa bulan lagi.


__ADS_2