
Heru selalu bangga mengenal Citra. Tak disangka wanita yang dia taksir adalah anak Abang kandung. Heru harus terima nasib jadikan Citra sebagai keponakan.
Di sudut lain Afung cipika-cipiki dengan kedua temannya sebelum bertolak ke kampung halaman mereka. Mereka bersyukur bisa menginjak kaki di Indonesia walau hanya dalam waktu singkat. Singkat padat.
Panggilan khusus penumpang pesawat menuju ke Beijing transit satu kali diminta segera masuk gate untuk penumpang. Nadine beranjak menyalami Citra sebelum meninggalkan tanah air. Berkat Citra dia dapat lihat perkembangan rumah sakit di luar negeri.
"Aku titip ibu dan Andi ya! Kalau ada waktu kunjungi ibu ya!" kata Nadine sebelum tinggal landas.
"Beres...kamu tolong jaga para orang tua! Kalau nggak ngerti tanya Cece. Mungkin Cece akan sedikit dingin pada Omanya. Kau harus sabar ya!"
"Aku ngerti. Jaga keluargamu baik-baik! Kamu berhak bahagia."
"Terima kasih...tuh Salami Untung! Matanya sudah berembun. Bisikin kata gombal biar dia tetap ingat padamu!" Citra mendorong Nadine ke arah Untung yang mematung tunjukkan wajah sedih. Berpisah dengan pujaan hati dalam tempo tidak tertentu merupakan siksaan kecil. Rasa rindu akan memenuhi seluruh rongga dada.
Nadine malu-malu kucing salami Untung. Kalau bukan di tempat umum ingin sekali Untung merengkuh tubuh Nadine beri kenangan tak terlupakan. Terhalang tempat maka hanya ada salam ala kadar bonus senyum manis.
Selanjutnya Nadine mendorong Bu Dewi masuk ke ruang tunggu. Pak Sobirin mendorong pak Jono memasuki gate. Perlahan ketujuh orang itu menghilang di balik pintu kaca. Yang bukan penumpang dilarang masuk area khusus penumpang.
Alvan dkk meninggalkan bandara kembali pada rutinitas sendiri. Alvan ke kantor sedangkan Citra balik ke rumah sakit. Heru dan Afung balik ke rumah Citra. Afung tak mungkin ikut Heru ke kantor maka Heru harus antar Afung dulu.
Afung harus belajar menerima kehidupan Heru yang serba sibuk. Heru seorang pengusaha sukses wajar punya kegiatan satu gunung. Menjadi isteri seorang pengusaha bukanlah gampang. Paling utama harus pandai kontrol emosi karena lingkaran Heru dipenuhi puluhan wanita haus materi. Kalau tidak sabar bisa berantem tiap hari.
Citra juga begitu. Harus sadar kalau Alvan dikejar oleh puluhan wanita pendamba materi. Mental Citra harus baja baru bisa kuat dengar dengungan gosip. Untunglah Citra sudah kebal terhadap semua cobaan. Sekedar gosip takkan bisa memukul mentalnya.
Satu Minggu berlalu tenang tanpa gejolak. Azzam, Gibran dan Afifa ikuti ujian dengan tenang dan damai. Mereka dapat dukungan sepenuhnya dari Citra. Hari-hari tenteram warnai keluarga Alvan. Kerusuhan yang bertubi-tubi telah lewat. Alvan dan keluarganya berhasil melewati badai dahsyat dalam rumah tangga mereka. Kini mereka petik hasil manis dari buah kesabaran.
Hari terakhir ujian anak-anak telah berlalu. Saatnya ketiga anak istirahatkan otak dari segala rumus dan ratusan kata. Ketiganya boleh bernafas lega menanti pengumuman hasil ujian.
Sebagai apresiasi atas semangat anak-anak ikuti ujian Heru mengajak seluruh keluarga makan di restoran mahal sekalian acara perpisahan dengan Afung. Afung sudah dapat panggilan harus kembali latihan. Gadis itu sudah cukup lama tinggalkan gelanggang olahraga asyik pacaran.
Acara ini murni hanya acara untuk keluarga tanpa hadirnya orang lain. Alvan beserta keluarganya serta Heru dengan keluarganya. Tentu saja dengan adanya Afung sebagai calon isteri.
Mereka beramai singgah di restoran milik Alvan yang terbilang elite. Semua terlihat bahagia dan ceria. Anak-anak senang terbebas daripada beban dalam dunia pendidikan. sedangkan Citra dan Alvan bahagia karena mulai terbebas daripada masalah. Sedangkan Heru dan Afung bahagia karena cinta mereka berkembang makin merekah.
Pelayanan restoran beri pelayanan plus bagi pemilik restoran juga keluarganya. Azzam dan Afifa pesan seafood yang menurut mereka sangat lezat. semua keinginan Azzam dah Afifa pasti diturutin oleh Papi mereka. Lagi menyenangkan anak kalau bukan dimulai dari sekarang.
Suasana restoran yang adem ayem diiringi musik lembut. Orang yang datang makan hati ikut nyaman. Musik hingar bingar bukannya memanjakan kuping malah bikin selera makan hilang. Musik house lebih cocok diterapkan di cafe maupun pub malam.
Satu meja diisi oleh dua keluarga yang telah melebur jadi satu. Wajah-wajah bahagia ditandai senyum cerah terhias di sudut bibir. Terutama Azzam dan Afifa yang baru terlepas dari medan pertarungan menuju ke jenjang lebih tinggi. Sebagai murid peringkat sangat dibutuhkan untuk menunjukkan hasil selama setahun menimba ilmu di sekolah. Peringkat itu menunjukkan kesungguhan seorang pelajar mencari ilmu untuk masa depan.
"Zam...kau rasa kau bisa jadi yang terbaik?" tanya Gibran di tengah-tengah acara makan malam.
"Insyaallah...Koko sudah berusaha. Hasilnya tergantung bagaimana penilaian guru. Om gimana?" Azzam balik bertanya.
__ADS_1
Gibran mengedik bahu tak punya pendapat. Dari dulu prestasi sekolahnya biasa saja. Tidak pintar tapi bukan yang terakhir.
"Om tidak banyak harap. Yang penting naik kelas!"
"Om salah kalau gitu! Kalau kita tidak berusaha takkan ada hasil maksimal. Om harus percaya diri bisa lebih baik lagi. Tidak tahun ini tahun depan masih ada kesempatan. Selagi masih ada kesempatan jangan dibiarkan lewat! Koko akan bangga kalau om bisa lampaui kami selaku keponakan." Azzam beri motivasi pada Gibran jangan puas dengan prestasi sekarang. Harus lebih giat lagi kalau mau dapat nilai lebih baik.
Heru tepuk tangan dengar nasehat Azzam pada Gibran. Usia Azzam dan Gibran jarak cukup jauh tapi akal Azzam jauh lebih panjang dari anaknya. Heru tidak malu akui kelebihan cucunya ini. Selalu jadi yang terbaik.
"Dengar Gi! Masa kalah sama anak. Ayo ngebut kejar anakmu! Azzam sudah bilang bangga kalau punya om punya prestasi. Buat anakmu bangga dong!" Heru ikut beri semangat pada Gibran.
Gibran tersenyum malu menggaruk kepalanya yang tak gatal sampai rambut kusut. Kalah dari anak kakaknya memang memalukan tapi Gibran bisa apa? Dia sudah berusaha tapi otaknya cuma mentok sekian.
"Kalian tak boleh paksa om! Om kan tidak malas cuma tidak memahami materi pelajaran. Coba kalau ada yang bimbing om pasti akan juara seperti Koko! Koko ada yang bimbing, di sekolah ada pelajaran tambahan. Di rumah di ajar mami sedangkan om hanya belajar sendiri. Bisa menunjuk prestasi sekarang semua hasil jerih payah sendiri." tiba-tiba Afifa muncul sebagai pahlawan bagi omnya.
Gibran puas sekali ada yang bela dia. Tidak sia-sia Gibran paling sayang pada Afifa. Ternyata gadis kecil itu memahami kasih sayang Gibran.
"Nah ini baru anak om! Om janji akan lebih rajin belajar sama kak Citra. Kali aja jadi juara kayak Azzam." Gibran berdiri memberi janji angkat dua jari ke atas.
"Janji itu hutang lho om! Kami tunggu om bayar hutang." kata Afifa menambah keinginan Gibran untuk lebih maju.
"Ayok duduk! Ngapain kayak gitu! Yang penting Gi makin rajin. Kak Citra akan bimbing kamu." Citra menarik Gibran agar duduk kembali. Umbar janji takkan ada kesungguhan sama saja bohong. Bagi Citra yang penting Gibran ada kemauan.
"Gi akan berusaha memenuhi janji pada Afifa."
"Idih kok sama Amei? Sama semua orang di sini dong! Tunjukkan pada kita kalau om pantas jadi om kami!" Afifa menegur Gibran yang hanya memikirkan dirinya. Padahal yang paling penting adalah tanggung jawab pada diri sendiri.
"Diterima.." Afifa mangut setuju pada janji Gibran.
Semua tertawa berhasil memojokkan Gibran. Harusnya Gibran jadikan moments ini sebagai pelajaran berharga supaya lebih yakin menimba ilmu. Bukan sekedar naik kelas.
"Nah...ini sudah libur! Kalian mau main ke mana?" tanya Alvan hendak penuhi janji pada anak-anak libur bersama.
"Kita masih belajar sampai ambil buku raport. Kami ingin jumpa Cece di Beijing. kami sudah rindu pada cece dan teman di sana." Afifa tak segan kemukakan niat hati ingin berlibur ke tempat Afia.
Janji ini sudah ada sebelum mereka ujian. Kini mereka telah selesaikan tugas mereka sebagai pelajar. Kini tinggal Alvan penuhi janji berlibur bersama mereka.
"Ok...kita pergi! Setelah ambil buku raport kita berangkat. Papi akan segera urus ijin berangkat ke Beijing." Alvan cepat tanggap keinginan anaknya. Alvan akan selalu berusaha menjadi papi baik untuk bayar waktu yang terbuang di masa lalu.
"Tunggu..kalian mau ke Beijing?" tanya Heru pada Alvan yang telah beri kode setuju berangkat setalah anak-anak ambil hasil ujian.
"Iya...kami mau kunjungi cece di Beijing. Om Gi bisa ikut liburan. Nanti Amei bawa koko lihat sekolah Amei yang dulu. Om Gi pasti akan betah di situ." Afifa jawab dengan lantang.
"Alvan dan Citra ikut ke sana?" tanya Heru pada Alvan.
__ADS_1
"Pasti..namanya juga libur keluarga." sahut Alvan spontan.
"Biar aku yang bawa anak-anak ke sana sekalian antar Afung balik sana. Kita tak boleh pergi semua sampai rumah kosong." pinta Heru mencari alasan untuk bisa lebih lama bersama Afung.
Alvan dan Citra saling berpandangan. Ini acara libur keluarga dengan anak-anak bagaimana mungkin diwakilkan pada Heru. Alvan juga ingin menikmati liburan santai dengan para buah hati.
"Tapi kami sudah janjian mau libur bersama setelah Azzam dan Afifa selesai ujian. Kami harus penuhi janji. Dan lagi anak-anak pasti ingin kami yang bawa mereka liburan." tukas Alvan keberatan posisinya diambil alih oleh Heru. Alvan adalah papi anak-anak harus jadi teladan tak ingkar janji.
"Aku ingin jumpa keluarga Afung. Pas pula ada papa dan mama di sana. Jadi kita anggap jumpa keluarga."
"Azzam dan Afifa tentu ingin kami berdua yang antar mereka jumpa Afisa. Ya kan Zam?" Alvan alihkan mata pada Azzam yang tak bersuara.
"Harusnya memang gitu opa! Kami ingin liburan bersama papi dan mami. Tapi apa opa penting sekali harus ke Beijing?"
"Penting dong! Opa kan harus jumpa sanak keluarga Afung untuk nyatakan kesungguhan melamar dia sebagai oma kalian. Azzam sayang pada opa kan? Opa akan antar kalian tour ke mana kalian mau."
"Kuncinya bukan di situ opa! Papi sudah janji bawa kami main ke tempat cece biar bisa kumpul keluarga. Kok jadi lain?"
"Emang opa bukan keluarga kalian? Opa senang kok antar kalian liburan. Kalian liburan sementara Opa bisa selesaikan tujuan opa melamar Afung."
Kelihatannya Heru sudah tak sabar ingin halalkan Afung. Sebenarnya masih banyak kendala antara kedua orang ini. Afung masih buta soal agama. Harusnya gadis itu belajar ilmu agama yang dasar dulu baru melangkah lebih jauh. Bukan hanya berdasarkan ikuti suara hati abaikan norma hakiki.
"Om..yakin akan segera menikahi Afung?" tanya Citra datar. Citra bukannya melarang Heru menikah tapi mau Heru bangun dasar fondasi yang kuat dulu. Dibangun asalan takut hasilnya berantakan.
"Insyaallah...Afung janji akan segera masuk Islam. Kami sudah sepakat maju menikah dua bulan ke depan. Setelah itu Afung akan masuk pelatihan. Setelah pertandingan selesai Afung akan pindah ke sini." cerita Heru pada semua. Afung ikut angguk seakan telah ngerti bahasa Indonesia.
"Kalian banyak ngobrol. Emang nyambung?" ujar Alvan geli membayangkan cara kedua orang ini komunikasi.
"Aku kan punya translator jitu. Tanya Afifa kalau tak percaya. Dia jadi penghubung kami."
Alvan dan Citra tertawa geli dengar Afifa jadi penterjemah dua insan sedang mabuk cinta. Tentu saja mereka tak bisa saling gombal berhubung penterjemah masih di bawah umur. Betapa nelangsa Heru bercinta di bawah kawalan cucu. Itulah akibat menjalin cinta dengan orang beda ras.
"Opa tak bohong. Afung ie sudah bersedia jadi oma kami. Mereka mau kawin sebelum musim dingin. Mau pesta di dua tempat. Di beijing juga di sini. Cuma Afung ie minta selesai tanding nanti baru pindah tinggal sama kita." jawab Afifa jujur.
"Lalu apa yang sering opa katakan pada Afung ie. Yang paling sering opa katakan?" pancing Alvan mau tahu gimana Heru merayu Afung via Afifa. Apa bandot setengah tua itu berani ungkap isi hati melalui cucu?
Afifa berpikir sejenak berusaha ingat apa yang sering dikatakan Heru pada Afung. Lama sekali Afifa berpikir baru teringat ada kalimat yang harus diulang berkali-kali.
"Amei ingat!!! Kata opa, Afung ie itu seperti bulan purnama. Menerangi hatinya di kala kelam. Afung adalah denyut jantung opa." ujar Afifa lugu tak tahu wajah opanya telah berubah mirip kepiting rebus.
Alvan dan yang lain terbahak-bahak mendengar rayuan Heru pada Afung via Afifa. Gitulah resiko menggombal melalui anak kecil. Afifa mana pandai simpan rahasia. Apa yang ada itu yang dikatakan.
"Ckckck...dasar bucin akut! Eh nak apa lagi dikatakan opa?" Alvan kembali beraksi korek gombalan Heru yang kuno. Pakai bawa bulan segala. Sekarang orang sudah mendarat di bulan. Cewek sudah ogahan di ibaratkan dengan bulan yang sudah kena injakan tapak kaki manusia dari bumi. Sudah tidak alami.
__ADS_1
"Tiap hari suruh bilang Afung ie is the best. Wanita paling cantik seantero bumi."
"Ooo..." Alvan angguk-angguk senang mendapatkan titik kelemahan Heru.