
Wenda wanita misterius yang gosok Dara untuk berbuat kejahatan di rumah Alvan. Heru dan Azzam juga kaget mendengar nama yang disebut polisi. Mereka memang tak kenal Wenda namun pernah mendengar nama Wendah yang telah korupsi di kantor. Bukankah wanita itu di penjara atas perbuatannya? Mengapa kini dia keliaran mengulangi kejahatan pada Alvan.
"Ya aku..." ujar Wenda angkuh tidak takut pada polisi yang pernah tangani kasus Wenda dulu.
"Kau baru bebas dua Minggu kini berbuat ulah lagi. Kau harus terima kasih pada pak Alvan mengeluarkan kamu. Seharusnya kau masih mendekam di penjara dua tahun lagi. Sekarang apa yang kau lakukan harus balik sini?" penyidik tak habis pikir mengapa wanita ini tak mau tenang hidup baru. Bertobat dan tak lagi ulangi kesalahan sama.
Wenda tidak mau jawab malah buang muka. Heru dan Azzam ingin sekali hadiahkan lima jari ke muka wanita culas itu. Alvan sudah baik hati namun di balas kejahatan lebih mengerikan.
Seorang sahabat penyidik membisikkan sesuatu pada penyidik membuat mata polisi yang duduk sebagai penyidik terbuka besar. Baru nikmati udara bebas dua Minggu sudah balik lagi ke tempat sama. Tampaknya Wenda sangat berjodoh dengan penjara. Wenda ingin jadikan penjara sebagai tempat tinggal hingga akhir jaman.
Heru segera kontak Alvan agar datang ke kantor polisi untuk ambil tindakan untuk selanjutnya. Alvan lebih kenal dengan Wenda maka dia yang harus tahu apa penyebab wanita ini nekat melakukan kejahatan yang lebih fatal.
Alvan yang lagi kawani Citra cukup terkejut dengar laporan Heru. Sedikitpun Alvan tidak teringat pada Wenda. Alvan minta pihak keamanan bebaskan Wenda karena merasa wanita itu sudah cukup rasakan dinginnya penjara. Alvan anggap masalah Wenda susah tamat. Bahkan Alvan minta Untung beri uang pada Wenda untuk melanjutkan hidup dengan baik. Niat baik Alvan dibalas cukup telak oleh Wenda.
Alvan terpaksa minta Jasmine jaga Citra karena dia harus ke kantor polisi untuk menemui Wenda. Alvan harus tahu apa motif Wenda menyakiti Citra dengan kejinya. Kali ini Alvan tak boleh lembut hati lagi. Perbuatan Wenda sudah sangat keterlaluan.
Alvan melarikan mobil sekencang mungkin menuju ke kantor polisi. Dalam benak Alvan masih terbayang bagaimana Citra terkapar dan Azzam jatuh pingsan. Ini semua hanya karena ego seorang wanita. Alvan telah salah menilai Wenda. Pikir Wenda sudah sadar dari kekhilafan dan bertobat. Siapa sangka mengeluarkan wanita itu karena kemanusiaan membawa petaka buruk.
Alvan tiba di kantor polisi agak tercengang melihat kondisi Wenda yang sangat berubah. Wanita yang dulunya rapi dan selalu tampil menarik kini kurus dan pucat. Mata dulunya berhias eye shadow kini cekung seperti menahan beban.
Wenda beri ekspresi sendu begitu jumpa mantan bosnya. Keangkuhan Wenda luntur tak berbekas jumpa Alvan. Lama Alvan menatap Wenda tak percaya itu mantan sekretaris andalan dia.
"Pak Alvan... akhirnya kau datang!" lirih Wenda pelan sekali namun masih tertangkap telinga.
"Apa maksudmu melakukan semua ini? Apa tujuanmu kamu celakai anak isteri aku?" tanya Alvan dengan nada bergetar. Alvan tak bisa sembunyikan rasa marah pada Wenda yang bertindak di luar batas.
"Pak...selama aku di penjara apa bapak pernah datang jenguk aku? Aku di penjara karena ingin perhatian bapak. Aku khianati Selvia agar wanita itu tidak susun rencana lain. Aku tahu semua tentang Selvia dan Karin. Mereka berdua saling bermusuhan karena bapak. Aku sengaja bongkar kebusukan Selvia dan rela masuk penjara. Tapi apa yang kudapat? Ibuku meninggal dan aku di penjara. Itu bukan soal asal bapak datang menjenguk aku. Aku marah dan dendam karena muncul wanita lain hidup bahagia bersama bapak. Aku yang berkorban dapat apa? Aku tidak bahagia wanita itu juga tak boleh bahagia." kata Wenda tak tahu malu di hadapan orang banyak.
"Wenda...kau tak usah sok jadi korban. Kalau bukan Andi bongkar semua kebusukkan kalian apa kau mau ngaku? Tak usah drama. Siapa menanam dia menuai. Aku sudah berbaik hati bebaskan kamu lebih cepat tapi kamu malah mengecewakan."
"Dasar apa bapak hidup bahagia sedang aku menderita? Semua orang menghina aku. Mencaci aku sebagai orang jahat. Aku dibuat seperti virus yang harus dijauhi." teriak Wenda kencang dibarengi tangis.
Azzam sudah tak sabar ingin balas semua kata Wenda yang memojokkan Citra. Wenda berbuat seolah Citra adalah penyebab kesengsaraan dia.
"Orang seperti anda tak kenal kata bahagia. Tuhan takkan ijinkan manusia jahat macam kamu cicipi kata bahagia. Kamu memang bibit penyakit mematikan. Kau tak pantas disebut manusia." Azzam maju ke depan langsung berhadapan dengan Wenda tanpa rasa takut kendatipun dia anak kecil.
"Kau anak kecil sok pintar. Kau siapa?"
__ADS_1
"Aku? Aku orang yang akan kirim kamu ke penjara. Aku pastikan seumur hidup kamu tak kenal kata senang dan bahagia. Kau tak pantas disandingkan dengan kata itu. Hatimu busuk. Aku tak peduli bagaimana hubungan kamu dengan tuan Alvan tapi jangan sekali berpikir untuk sakiti Citra. Dia wanita mulia yang melahirkan aku. Aku putra sulung Citra. Wanita hamil yang kau sakiti." kata Azzam wibawa.
Wenda terkesima. Tak disangka Citra punya anak segede ini. Dari raut wajah memang tampak cerdas dan keren.
"Kau anak kecil bisa apa? Pak Alvan saja tak bisa penjarakan aku apa lagi kamu?"
"Oh gitu? Kita lihat berapa lama kau bertahan di penjara. Kau tahu hukum pidana pembunuhan berencana? Mungkin tak ada waktu lagi buat kamu pelajari pasal hukuman berencana. Itu diatur dalam Pasal 340 KHUP. Mau dengar isi dakwaan? Hukuman mati paling dikit dua puluh tahun penjara. Kurasa belum sampai dua puluh tahun kamu sudah terlanjur kering di penjara." ujar Azzam bikin semua yang ada di situ kagum. Anak sekecil ini sudah paham pasal-pasal dalam dakwaan.
Alvan mendesah dalam hati. Kata-kata Wenda seakan mereka ada hubungan akan bikin langkah Alvan tersandung lagi. Azzam bisa saja salah sangka bikin narasi sendiri anggap Wenda juga wanita Alvan. Alvan harus menjernihkan masalah agar tak jadi bumerang bagi diri sendiri.
Wenda melontarkan tatapan tajam pada Azzam yang dia nilai kurang ajar. Wenda tak tahu kalau Azzam mencintai Citra melebihi nyawa sendiri.
"Anak kecil ngerti apa? Sekarang kalian mau apa? Tunjukkan bukti bahwa aku yang celakai wanita itu! Aku samasekali tidak tahu apa yang dikatakan wanita gila ini. Aku memang dendam tapi aku tidak berbuat apapun." kata Wenda angkuh tak tahu semua percakapan dengan Dara sudah direkam.
"Hei nona...enak saja bilang aku gila! Kamu yang gila suruh aku racuni anak pak Alvan agar anakku kelak jadi pewaris kekayaan pak Alvan. Ini masih ada obatnya. Nona ini yang kasih." Dara mengeluarkan bungkusan kertas putih laku letakkan di meja penyidik.
Heru dan Alvan kaget tak sangka kejahatan Wenda tak cukup sampai di Citra. Masih ada rencana lain lenyapkan Azzam dan adiknya. Sungguh wanita mengerikan.
"Wenda...kau pikir kebaikan aku akan kau ingat dan bertobat. Ternyata kau makin gila. Selama ini masih hargai jasa kamu di kantor walau kau ikut korupsi. Kupikir kau akan berubah lebih baik lagi nyatanya aku salah. Kau malah bertambah jahat. Benar kata Azzam! Kau pantas busuk di penjara. Kita lanjut kasus ini hingga tuntas. Silahkan pak polisi jebloskan dua wanita gila ini ke penjara! Mereka hendak rengut nyawa anak-anak aku!" kata Alvan dengan nafas memburu saking marahnya.
"Baik...untuk sementara titip sebagai tahanan sini! Kami akan telusuri dari awal hingga berakhir di restoran. Kami pastikan tak ada yang kebal hukum." ujar salah satu polisi ikut geram pada Wenda. Sudah dibantu keringanan hukum justru berbalik tendang orang lagi.
"Tenang anak muda! Serahkan pada pak polisi! Kita akan selidiki motif pembunuhan mami kamu." bujuk polisi tetap kagum pada semangat Azzam melindungi ibunya.
"Bapak ambil saja ponsel wanita jahat ini. Kurasa pasti tersimpan banyak rahasia."
"Tentu...kami akan teliti urus kasus ini. Ini bukan kasus kecil karena telah terjadi pembunuhan walau gagal."
Heru memandang penuh kebencian pada Wenda. Gara Wenda busuk hati wanita bodoh macam Dara jadi ikutan kena getah. Kalau tidak diprovokasi Wenda belum tentu Dara berani berbuat segila ini.
"Kami atas nama Perkasa dan Lingga mengucapkan terima kasih atas bantuan pak polisi. Di rumah masih ada rekaman CCTV Dara melakukan kejahatan." Heru mewakili dua keluarga mengucapkan terima kasih pada kerja sama pihak kepolisian.
Siapa tak kenal dua keluarga besar itu. Kini mereka kolaborasi membentuk kekuatan lebih kokoh. Orang yang cari masalah tinggal tunggu hukuman berat.
"Hei...aku tak mau ditahan! Aku bisa tuntut kalian atas tuduhan palsu. Aku akan sewa pengacara untuk lawan kalian." teriak Wenda bergema di seluruh kantor. Beberapa polisi yang sedang bertugas menoleh ke arah keributan akibat suara Wenda.
"Kamu sewa pengacara lawan aku? Aku sewa malaikat pencabut nyawa untuk kait nyawa kamu." balas Azzam kesal pada keangkuhan Wenda. Sudah salah masih ngotot. Azzam percaya Dara tak bohong. Walau gila Dara itu jujur.
__ADS_1
"Kau anak setan..."
"Nah sadar setan kok dilawan! Nggak bakalan menang kamu. Kamu juga setan cuma levelnya masih panuan. Nikmati hotel gratis sebaik mungkin ya! Usahakan kumpul kembali dengan sahabatmu yang terpisah dua Minggu. Mereka pasti kangen padamu!"
"Apa maksudmu?"
"Pura-pura lupa sama teman sendiri. Kasihan teman kamu dilupakan begitu saja."
"Anak kecil omong ngelantur. Pulang dan minum susu. Jangan sok pintar!"
"Kamu ini cocok jadi teman kecoak dan tikus. Muka kamu mulai mirip tikus. Jahat dan licik. Aku ucapkan selamat nikmati hari santai di penjara. Salam untuk sahabatmu di sudut penjara! Mereka pasti berpesta menyambut teman lama." kata Azzam sambil beri senyum ejek.
"Kamu anak kurang ajar!"
"Tadi anak setan...sekarang anak kurang ajar! Mana yang betul? Dasar kurang pintar. Sekolah lagi dengan para sobat kamu ya! Jangan lupa les tambahan biar cepat pintar! Belajar ilmu kebajikan agar tidak dipenuhi aura jahat."
Heru mencolek Azzam agar tidak bikin Wenda makin kesal. Yang lain hanya bisa tersenyum dengar Azzam permainkan mood Wenda. Dara terdiam mulai dihinggapi rasa takut disuruh tinggal di penjara. Tak pernah terbayang hanya siram minyak di lantai bisa masuk penjara. Tahu begini dipukul sampai bonyok Dara takkan berani lakukan hal itu.
"Kami permisi dulu pak! Maafkan kami sudah merepotkan. Kami harap semua bisa diusut dengan jelas. Anak aku masih terbaring di rumah sakit akibat kecelakaan yang dibuat dua orang ini. Anak dalam perutnya nyaris bermasalah. Jadi kami mohon diusut tuntas." kata Heru pelan namun wibawa. Kini Heru tampil dengan posisi sebagai seorang pemimpin keluarga. Pangkatnya lebih tinggi dari Alvan maka dia yang berhak bicara.
"Tentu...tentu...kami akan tangani sesuai prosedur. Mungkin kami akan ke rumah untuk ambil rekaman CCTV di rumah dan sekitar rumah bapak untuk perkuat kalau nona Wenda memang sering ke sana."
"Kami tunggu." sahut Heru Galant.
Alvan tak bisa berkata-kata lagi hadapi kebodohan Wenda. Hidupnya memang hancur tapi bukan salah Alvan melainkan dia sendiri antar diri sendiri masuk jurang. Kali ini Alvan tak bisa berbuat apa-apa karena perbuatan Wenda sudah lewat batas. Nyawa Citra dan anak-anak dipertaruhkan.
Semoga ini adalah kejadian tragis terakhir dalam hidup Citra. Mengapa orang sebaik Citra selalu jadi sasaran orang jahat. Apa karena Citra terlalu baik gampang dipermainkan? Dari hingga sekarang wanita itu selalu dihampiri bencana.
Mulai dari tangan Alvan sendiri sampai kejadian tak menyenangkan datang silih berganti. Semoga cukup sekian. Amin.
Heru menggandeng Azzam tinggalkan Alvan. Kedua laki beda generasi salahkan Alvan berbaik hati pada setan bertopeng manusia itu. Seharusnya Wenda masih di penjara sampai kini. Di bebaskan justru bawa bencana.
Azzam pasang wajah masam pada Alvan. Kalau terjadi sesuatu pada Citra mungkin Azzam takkan akui Alvan sebagai papi lagi. Masih untung Alvan sadar diri biarkan pihak kepolisian jalankan tugas menyelidiki kejahatan Wenda dan Dara hingga tuntas.
"Om...aku balik rumah sakit jaga mami Azzam. Kalian langsung pulang saja! Mami Azzam dalam kondisi stabil. Untuk sementara kita tak usah beritahu soal Dara dan Wenda. Nanti dia pikiran." kata Alvan sebelum mereka berpisah ambil rute masing-masing.
"Kepikiran apa? Kasihan pada sekretaris yang harus masuk penjara lagi?" Sudah lama Alvan tak kena sembur racun mulut Azzam. Alvan pikir racun itu mulai memuai ternyata masih utuh dalam rongga mulut anaknya. Kapan mau siap disemburkan. Alvan yang ketiban naas gara-gara wanita gila macam Wenda dan Dara.
__ADS_1
Sedikitpun Alvan tidak open pada Wenda. Suruh Untung urus Wenda bebas setelah itu tidak terlintas di otak bagaimana nasib wanita itu.
Azzam salah sangka pikir Alvan perhatikan pada Wenda maka bebaskan dia. Sial banget Alvan. Mau jadi suami baik selalu ada halangan.