ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN

ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN
Tamu Luar Negeri


__ADS_3

Guru yang didik Natasha sungguh luar biasa. Jebolan kampus mana punya ilmu pengetahuan sangat mumpuni. Tak bisa disangkal orang itu banyak pengaruhi jiwa Natasha berubah lebih baik.


Daniel melirik ke arah Tokcer yang mematung tak berani ikut campur urusan orang gede. Dia hanya seorang supir dari kalangan bawah. Apa hak-nya ikut ambil andil dalam percakapan majikan.


"Kalau gitu ayok kita masuk ke dalam!" ajak Daniel melewati Tokcer dan Natasha. Daniel mengacungkan jempol pada Tokcer tahu kalau guru Natasha itu Tokcer yang tampak sangar. Maka itu jangan lah menilai orang dari casing. Yang penting isinya.


"Kau ikutlah masuk! Kak Tokcer pulang dulu ya! Besok kak Tokcer akan usaha ke bandara setelah antar Azzam ke sekolah." bisik Tokcer mendorong Natasha ikut ke dalam rumah. Natasha melengos manja berat ditinggal oleh cowok yang telah menyirami hatinya dengan air cinta.


Percayakah adanya pandangan pertama? Rasa yang ada di hati Natasha hanya sekedar rasa kagum atau memang terpanah oleh panah asmara dewa cupido? Sangat diragukan zaman penuh rekayasa ini masih ada tersisa cinta tulus.


Wajah karatan saja bisa diedit semulus kulit sutera. Semua bisa diedit sesuai kemauan. Aslinya mata juling kiri kanan, hidung mancung ke dalam, mulut selebar mulut ikan mujair. Sampai medsos sudah secantik bidadari nyasar ke bumi.


"Kakak tega ninggalin Nata?" Natasha memutar tubuh kiri kanan minta perhatian Tokcer. Tokcer merasa kepalanya pusing lihat Natasha berputar mirip gasing dimainkan anak kecil.


"Nata...kakak sih maunya selalu di sampingmu tapi kakak harus tahu diri. Nanti kita Videocall ya! Sekarang jadi anak baik ya! Jangan sembarangan menyahut bila tidak perlu. Sama orang lebih tua harus sopan."


"Iya kak...Besok jumpa Nata di bandara ya!"


"Kakak usahakan datang tapi tidak janji. Nata kan tahu kakak kerja sama orang. Tidak bisa sembarangan pergi."


Natasha angguk maklum. Lama Natasha menatap Tokcer akhirnya gadis ini beranikan diri memeluk Tokcer dari depan. Kedua tangan Natasha melingkar di pinggang Tokcer seakan ingin menyatukan diri pada lajang ini.


Tokcer merasa dadanya mau meledak dapat hadiah luar biasa. Antara bahagia dan bingung Tokcer membalas pelukan Natasha. Tokcer tak dapat menahan diri untuk tidak mengelus punggung Natasha.


"Sudah...malu dilihat satpam! Jadilah anak baik ya!" nasehat Tokcer ingatkan Natasha lagi.


"Iya kak! Terima kasih atas hari yang indah ini. Singkat namun sangat berkesan di hati Nata. Nata janji akan kembali untuk bertemu kakak."


"Kakak menunggumu!"


Natasha melepaskan pelukan membuat jarak dengan Tokcer. Mata Natasha tak lepas dari wajah Tokcer seakan wajah itu ada tertahta sebongkah berlian dengan kadar karat tinggi.


Secara reflek Natasha beri satu kecupan persis di bibir Tokcer. Gadis itu lalu balik badan meninggalkan Tokcer yang termangu tak percaya bahwa Natasha berani menciumnya.


Ribuan volt listrik mengalir di dalam darah Tokcer. Tokcer tersengat listrik tegangan tinggi. Seluruh badan bergetar hebat kena satu sentuhan bibir lembut Natasha. Sumpah mati Tokcer tak ingin cuci mulutnya biar bekas itu takkan hilang selamanya. Sisa rasa manis bibir Natasha biarlah abadi di situ.


Satpam yang melihat adegan mesra ini hanya tersenyum. Masa untuknya telah berlalu. Keindahan cinta pertama hanya jadi kenangan. Kini mantan pacarnya telah resmi jadi isteri.


Natasha sudah menghilang ke dalam sementara Tokcer masih mematung menyangka semua ini mimpi. Dengungan nyamuk di kuping tak pengaruhi hati yang sedang berada di puncak kondisi paling bagus. Jantung sehat, paru-paru plong menambah panjang sisa hidup Tokcer.


Satpam menggeleng terenyuh lihat mantan preman itu kesambet setan cinta. Tampang preman tapi culun dalam percintaan. Ada orang tampang lugu tapi penjahat cinta. Di rumah profil laki setia tidak neko-neko, siapa sangka di luar piara ayam-ayam liar. Dunia aneh.

__ADS_1


"Hei...mau jadi donatur darah buat nyamuk?" satpam menyadarkan Tokcer dari pesona Natasha.


Tokcer tersadar tak urung malu ketangkap basah mesraan dengan cewek bule. Pipi yang coklat itu berona dalam kegelapan. Semerah apapun pipi Tokcer yang tampak tetap warna coklat.


"Maaf bang! Maaf..." ujar Tokcer malu bukan main.


"Sudah malam anak muda! Pulang dan tidur! Mimpikan lanjutan." olok pak satpam buat Tokcer makin malu. Definisi lanjutkan itu apa hanya pak satpam yang ngerti. Mau sekedar ciuman atau maju ke arah intim. Dalam angan semua sahnya saja.


"Iya bang...aku permisi...besok aku akan balik antar majikan kecil kita. Assalamualaikum..." Tokcer menyeret langkah tinggalkan teras rumah mewah Citra. Angin malam bertiup kencang mengiringi hati Tokcer yang sedang berbunga. Makin ditiup makin merekah. Semoga bunga yang baru mekaran tak cepat layu.


Mobil yang dibawa Tokcer meninggalkan rumah Citra. Satu hati membulat tekad menunggu gadis bule yang telah menoreh kesan mendalam di hati.


Di dalam ruang tamu Citra tampak di kelilingi tamu-tamu dari Amerika. Alvan dan Citra menjadi tuan rumah yang baik bagi tamu Daniel. Alvan wakili Daniel menjamu tamu dari jauh. Tamu-tamunya harus membawa kesan indah dari tanah air agar kelak berniat kembali ke negeri asal mereka.


Niken sangat berkesan pada keramahan Alvan dan Citra. Mereka bersedia menerima kehadiran Natasha walau tak ada hubungan apa-apa. Mereka bersedia hanya karena Daniel. Tak ada kesan keterpaksaan di dalam ekspresi raut wajah Alvan selaku kepala keluarga. Laki itu ramah menyambut Niken dan temannya.


"Ayok diminum!" kata Citra di sela obrolan basa-basi yang tak ada topik pasti. Hanya sekedar ramah tamah antar sesama makhluk penghuni bumi.


"Oya terima kasih...pak Alvan beruntung punya isteri cantik dan ramah. Tentu saja senang ditungguin istri setiap pulang kerja." kata Niken sambil tertawa lebar tunjukkan pesona gadis barat.


"Isteri aku seorang dokter.. dokter spesialis!" sahut Alvan bangga pada Citra.


"Wow...dokter! Kelihatannya seperti ibu rumahan yang setia menanti suami di rumah. Pak Alvan seorang pengusaha sedangkan isteri seorang dokter. Dua dunia yang berbeda. Apa bisa ketemu titik obrolan?" kata Niken melirik Alvan lihat bagaimana reaksi laki itu dipancing soal isteri kecilnya.


"Orang stress mode on. Ngapain dia urusan sama rumah tangga kakak aku! Kekenyangan makan kali." bisik Gibran gerah kakaknya dipandang remeh. Apa bule itu tak tahu Citra adalah pewaris satu kerajaan kaya di tanah air. Seenak dengkul kecilkan nilai kakaknya.


"Itu mulut kelewat banyak kena keju kadaluarsa. Mulai tercium baunya. Kita dengar apa katanya. Jika perlu kita sikat pakai sikat kamar mandi." timpal Azzam berusaha menahan diri agar tidak terpancing kayak Gibran. Azzam sudah bunyikan gigi yang mulai tanggal satu persatu karena diganti gigi baru.


Kedua anak lajang itu masih setia intip dari lantai atas harap tamunya segera cabut. Tamu ginian tidak diterima. Baru saja terbitkan Natasha kini muncul yang lebih tak beraturan. Sok sopan tapi kepo.


"Aku bahagia punya isteri sempurna seperti Citra. Di dunia ini tak ada wanita bisa menyamai nilai Citra." Alvan berkata sambil melempar senyum ke arah Citra. Pipi Citra berona merah dipuji Alvan di depan orang ramai. Satu kebanggaan menjadi idola di hati suami.


"Cinta sejati...kadang seorang lelaki perlu berpetualang cari yang lebih menantang dari yang jinak merpati. Bisa menaikkan adrenalin cowok gentle." kata Niken sok penting.


Alvan meringis dengar usulan Niken. Adrenalin model apa belum dia lalui? Citra sudah cukup bikin adrenalin Alvan naik ke titik puncak. Nyaris meledak saking penuh.


"Aku tidak ingin kena serangan jantung. Cukup Citra..." Alvan mulai tak nyaman Niken asyik pancing kelakiannya. Alvan tak ingin bangun skandal lagi. Sudah tutup buku kisah-kisah usang yang akan bikin dia kehilangan segalanya.


Niken tertawa Gareng sedap di dengar kuping. Suara merdu pantas jadi seorang penyiar. Pantas Niken terpilih jadi pembawa acara karena suaranya empuk basah.


"Sayang sekali tidak hidupkan hatimu dengan petualangan seru. Aku senang kenalan dengan pak Alvan. Kalau ada waktu kunjungi kami di sana. Aku akan jadi tuan rumah yang baik servise tamu. Apalagi tamunya pak Alvan."

__ADS_1


Citra mulai meraba ke mana arah pancingan Niken. Ternyata sampah juga cuma susah di daur ulang. Dari luar tampak elegan hasil daur ulang tapi isinya tetap sampah.


Daniel juga mulai tak enak hati Niken terlalu berani memancing Alvan. Alvan memang pantas digandrungi. Sudah ganteng kaya lagi. Cewek jomblo mana tidak kesengsem pada profil cowok macho kayak Alvan.


Daniel menghela nafas melihat dua lajang muda turun dari tangga berjalan ke arah mereka. Keduanya memang cuek pada tamu namun Daniel menduga di mulut beracun sedang gencar produksi racun untuk sembur musuh asing.


Azzam sengaja lewati tamu hendak menuju ke belakang bersama om kecilnya. Citra menangkap bayangan dua lajang itu segera hentikan langkah kedua anak itu. Nyelonong lewati tamu bukanlah sikap sopan seorang tuan rumah.


"Gi...Koko..mau ke mana?" tegur Citra membuat keduanya hentikan langkah.


"Mau ambil minum mi.." sahut Azzam melontarkan pandangan tajam ke Niken.


Natasha yang sudah pernah kena hajar mulut tajam Azzam menjadi dag dig dug kakaknya bakal kena hawa gas beracun. Natasha akui kakaknya telah lewati batas urus kelakian Alvan.


"Kok pergi gitu saja! Ayok Salami om dan Tante. Ini kakaknya kak Nata!" Citra menegur Azzam dan Gibran yang tak sopan.


Azzam dan Gibran saling beri kode lantas tersenyum licik. Tampaknya Gibran mulai dapat guru yang baik untuk jadi ular cobra mematikan. Tidak perlu main kasar cukup pelan semburkan racun paling mematikan.


"Hai..selamat malam om dan Tante...aku Gibran...adik kak Citra!" Gibran duluan perkenalkan diri selaku senior Azzam di rumah.


"Oh adik Citra ..mirip juga ya! Ganteng..." puji Niken pada Gibran lalu alihkan mata ke Azzam yang lebih cool. "Dan kau juga adik Citra."


"Tante salah besar...aku anak Citra! Anak sulung Citra dan Alvan Lingga."


Niken besarkan mata kaget tak sangka Citra yang tampak seperti anak SMA telah memiliki anak segede Azzam. Semula Niken mengira Alvan nikahi daun muda sebagai pemuas nafsu. Gadis muda mengincar harta mana ngerti seluk beluk birahi badak lelaki dewasa.


"Wah...tak kusangka Citra sudah punya backing kuat. Pantas pak Alvan tidak berkutik."


"Maaf Tante...aku ini bukan backing mami tapi kekuatan mami. Aku ada di depan bila ada yang usilin mami. Seharusnya Tante berpikir mengapa semuda ini mami punya anak segede aku dan karier bagus sebagai dokter. Itu karena mami tidak berhati sempit dan tidak suka usilin hidup orang. Pikiran fokus pada keluarga dan pekerjaan. Tidak tebar pesona urusin keluarga orang." ujar Azzam cool dan tenang.


Kedua teman Niken tersenyum dengar ada anak kecil berani berterus terang suara hati. Anak ini terdidik baik tidak kurang ajar dalam bertutur kata. Sikapnya santun namun kata-katanya menohok.


"Apa maksudmu anak kecil?"


"Aku tidak bermaksud apapun. Hanya terpanggil melindungi keutuhan keluarga kami. Sebaiknya Tante fokus pada lelaki lain ketimbang undang papi kami. Itu ada om Daniel jomblo karatan pingin punya isteri. Tante bisa jadi guide buat Om Daniel. Tidak perlu papi kami. Anak papi ramai. Mungkin selusin. Mami kami masih muda dan sehat. Adikku bakal segera lahir lagi."


Daniel terbengong dibawa dalam obrolan tak ada ujung pangkal ini. Niken melongo dibuat oleh pernyataan Azzam. Niken pikir hanya orang Amerika yang pintar. Orang Indonesia lebih pintar lagi terutama di bidang bersilat lidah. Niken terbanting oleh kalimat Azzam. Sekali lihat Azzam sudah dapat meraba ke Niken akan iring papinya. Mau iming-iming Alvan dengan PP ketenaran seorang wanita wara-wiri di stasiun televisi. Azzam takkan biarkan hal ini terjadi lagi. Maminya sudah cukup kenyang makan derita. Merekapun dibesarkan dengan linangan air mata mami.


"Kamu kecil tapi pandai bersilat lidah. Cocok jadi orator di kemudian hari. Anak kecil..di dunia ini tak mungkin hanya rasakan satu hidangan. Lama-lama akan bosan. Kita harus melihat lebih jauh agar tahu dunia ini bervariasi." Niken berbicara seakan lawan bicaranya orang dewasa.


"Apa yang Tante katakan itu tidak salah. Dunia beraneka ragam penuh warna. Tinggal kita pilih mau hiasi hidup kita dari warna apa? Semeriah apa aneka warna tetap kembali ke warna utama yakni putih. Cuma sayang sekali kita nodai warna suci selamanya takkan kembali putih. Tetap ada cacatnya. Butuh ketekunan untuk enyahkan warna menyolok yang akan pudar di makan waktu. Warna putih takkan pudar lagi karena dia memang dasar dari segala warna."

__ADS_1


Semua terdiam kena kuliah Azzam. Orang-orang Amerika itu bertanya dalam hati apa betul yang sedang bicara itu anak kecil menjelang remaja. Dari mana dia pelajari falsafah hidup yang hakiki. Persis orang tua kebanyakan baca buku ajaran orang berilmu tasawuf.


Citra merasa Azzam sudah terlalu jauh ikut dalam obrolan orang tua. Niken pasti akan dikalahkan Azzam bila merembet ke agama.


__ADS_2