ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN

ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN
Citra Patah Arang


__ADS_3

Citra tak sabar ingin lihat kondisi mertuanya. Semoga saja begitu siuman tidak ada yang cacat daripada wanita itu. Seringkali terjadi kecacatan pada pasien setelah terjadi perpecahan pembuluh darah di otak. Bahkan tak jarang terjadi kematian.


Dua orang suster berdiri di samping Bu Dewi menanti kehadiran Citra untuk ambil tindakan lanjutan. Citra mengambil stetoskop dari tangan suster dan memeriksa detak jantung serta denyut nadi Bu Dewi.


Ada gerakan pelan dari tangan Bu Dewi namun wanita itu belum buka mata. Detak jantung agak cepat mungkin terpicu oleh emosi ibu tua ini.


"Ma...mama bisa dengar suara Citra?" Citra menepuk pipi Bu Dewi perlahan. Belum ada reaksi namun ujung jari Bu Dewi bergerak seperti hendak isyaratkan dia tahu Citra bicara dengannya.


Bu Dewi belum sepenuhnya sadar. Tapi pergerakan tangan menunjukkan gejala baik. Semoga akan segera dapat hasil bagus.


"Ma...mama harus segera bangun! Kasihan mas Alvan tidak dapat konsentrasi kerja kalau mama belum sadar. Kalau mama dengar Citra goyangkan jari tangan." Citra bicara walau Bu Dewi belum tentu dengar. Ini Citra lakukan untuk pancing mertuanya beri reaksi. Di dunia ini siapa tidak sayang anak. Alvan anak tunggal pasti jadi tumpuan harapan Bu Dewi.


Citra menanti gerakan jari Bu Dewi. Ternyata tidak gerak namun Citra melihat ada cairan bening mengalir dari sudut mata jatuh ke sebelah kanan. Citra menarik bibir tersenyum. Artinya Bu Dewi telah bereaksi.


"Terimakasih ma...Citra harap mama segera sadar! Kasihan papa mencari mama." Citra sambung bicara untuk menunggu apa reaksi mertuanya lagi. Lagi-lagi cairan bening mengalir lebih deras.


Naga-naga Bu Dewi akan sadar makin nyata. Citra tak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Apakah Bu Dewi akan begini terus atau buka mata menantang dunia lagi. Bertengkar sama cucu membenci menantu atau buat ulah baru. Apapun dia Bu Dewi harus bangun supaya Alvan tidak susah hati.


Citra menulis beberapa macam obat untuk di tambahkan ke cairan infus Bu Dewi. Bu Dewi butuh vitamin untuk menambah stamina agar makin fit bila sadar nanti.


Setelah menulis resep Citra kembali dekati wajah Bu Dewi agar dapat mendengar suaranya lebih jelas. Lagi-lagi Citra berusaha merangsang alam kesadaran Bu Dewi dengan suaranya. semoga saja Bu Dewi dapat mendengar apa yang dia katakan. Citra mengharap Bu Dewi segera sadar agar beban Alvan berkurang satu.


Citra bukannya tidak kasihan pada Alvan namun Citra tidak mempunyai daya untuk membantu Alvan keluar daripada kemelut ini. Semua telah terlanjur terjadi jadi harus dibereskan satu persatu agar hidup Alvan lebih tenang di kemudian hari.


"Ma... kalau mama mendengar kata-kata Citra goyangkan jari mama! Asal Mama tahu papa juga sedang dirawat di sini, Kak Karin juga sedang sakit. Karena itu Mama harus segera sadar untuk membantu Alvan menyelesaikan masalah yang sedang dihadapinya." Citra terusan merangsang pendengaran Bu Dewi agar dapat menerima semua apa yang dia katakan.


Kali ini ada gerakan nyata dari tangan Bu Dewi. Kelima jari Bu Dewi bergerak seakan ingin menggapai sesuatu. Gerakan Bu Dewi tertangkap oleh mata Citra. ada rasa terharu mengalir di dalam hati Citra. Bagaimana jahatnya Bu Dewi kepadanya tidak akan tergantikan oleh kebahagiaan Alvan.


Citra segera menggenggam tangan yang barusan bergerak tadi untuk memberi rasa hangat pada Bu Dewi. Biasanya perasaan tulus akan mengalahkan segala kebatilan. Setan-setan yang bercokol di hati Ibu Dewi semoga segara enyah dari hati wanita tua itu.


Citra telah bersiap bila memang Bu Dewi tidak menginginkan mereka bersatu maka Citra akan mengundurkan diri meninggalkan tanah air bergabung dengan Afisa. Citra tak ingin memisahkan kasih sayang antara seorang anak dan ibu. Karena sejauh ini tidak ada istilah mantan ibu yang ada mantan istri.


"Ma... bangunlah agar Alfan bisa tenang melanjutkan hidupnya! Kalau memang mama tidak menyukai Citra maka Citra bersedia meninggalkan Alvan untuk kebahagiaan mama dan Alvan."


Kedua perawat yang ikut mengawal kesehatan Bu Dewi terharu mendengar niat tulus Citra menyatukan hubungan anak dan ibu. Ketulusan jelas terdengar di dalam nada suara Citra. Tidak sedikitpun tersirat ke sinisan maupun kepalsuan hanya untuk menyenangkan Bu Dewi. Rasa kagum pada kebaikan hati bu dokter makin merajai hati kedua perawat itu.


Gerakan tangan Bu Dewi makin nyata membalas genggaman tangan Citra. Citra tak tahu apa makna daripada itu namun balasan daripada Bu Dewi menandakan ada kemajuan. Sebagai seorang dokter kesembuhan pasiennya adalah segala-galanya. Citra bersedia melakukan apapun asal Bu Dewi bisa pulih walaupun tidak total.


"Sus...segera tebus resepnya! Langsung drip ke cairan infus. Aku keluar sebentar." Citra melepaskan genggaman tangan Bu Dewi untuk kabari Alvan.

__ADS_1


Namun genggaman tangan Bu Dewi susah dilepaskan. Bu Dewi memegang tangan Citra kuat sekali seakan tak ingin lepaskan tangan menantunya. Citra menghela nafas memilih bertahan biarkan Bu Dewi memegangnya. Mungkin ibu tua ini butuh teman salurkan kekuatan fisik.


"Sus...coba kau cari air hangat! Takut Bu Dewi segera sadar." Citra beri perintah pada suster yang tertinggal. Satu temannya lagi telah keluar tebus obat.


Kini Citra berdua dengan Bu Dewi. Citra gunakan satu tangan kiri untuk ambil ponsel beri kabar gembira pada Alvan.


"Halo assalamualaikum mas..."


"Waalaikumsalam..mas baru saja siap rapat! Gimana Karin?"


"Sejauh ini tak ada masalah! Ini mama mulai sadar."


"Alhamdulillah...mas akan ke sana sekarang! Kau tunggu mas ya!"


"Mas hati-hati saja! Aku tunggu sini. Nanti kalau mama sudah sadar total kita jemput papa."


"Iya sayang... terima kasih ya!"


Hati Citra ikut bahagia dengar nada riang Alvan. Kalau memang dia yang jadi penyebab Bu Dewi jatuh sakit maka Citra akan pilih mengundurkan diri dari kehidupan Alvan. Citra juga seorang ibu tahu bagaimana rasanya kehilangan kasih sayang anak.


"Ma...tak usah kuatir! Kalau memang Citra menjadi duri di daging mama makan Citra akan meninggalkan Alvan. Yang penting Mama cepat sehat berkumpul kembali dengan papa dan Alvan. Mama harus kuat dan bangun melawan semua penyakit mama." Citra monolog tak tahu Bu Dewi bisa menangkap arah bicara Citra atau tidak.


Citra bersabar biarkan Bu Dewi menggenggam tangannya dengan erat. Mungkin banyak yang ingin Bu Dewi katakan pada Citra namun karena kondisinya membuat wanita itu hanya bisa menggerakkan jari menunjukkan emosinya.


Citra menunduk menekuni tegel granit yang mengkilap kena terpaan cahaya lampu. Demikian cemerlang memancarkan cahaya kemilau. Granit berkilauan itu hasil karya anak manusia jaman now. Semua dapat diciptakan pakai mesin cuma sayang belum ada mesin bisa ciptakan kebahagiaan. Kalaupun ada hanyalah kebahagiaan semu. Bahagia hanya sesaat waktu main game, nonton, piknik dengan kendaraan mewah. Setelahnya hanya ada kesepian kembali hadir.


Kebahagiaan yang abadi terbit dari relung hati terdalam. Citra telah bulat tekat akan akhiri semua konflik yang terjadi pada Alvan karena dirinya. Hidup Alvan jadi kacau karena sejak mereka jumpa. Ntah kebetulan atau memang sudah takdir Alvan harus lalui jalan penuh berbatuan.


Citra tersentak sewaktu dengar erangan tak jelas seperti orang sedang berkumur-kumur. Citra angkat kepala melihat ke arah wajah Bu Dewi. Mata itu terbuka namun satu terbuka setengah. Tatapan mata itu kosong belum menemukan titik fokus.


"Ma...sudah sadar?" buru Citra berusaha melepaskan tangan Bu Dewi agar periksa kondisi Bu Dewi. Namun Bu Dewi bersikeras tak ingin lepaskan Citra.


Citra berusaha tersenyum agar Bu Dewi tidak panik jumpa orang yang tidak dia sukai berada di depan mata. Citra takut Bu Dewi akan semakin drop lihat siapa yang dampingi dia.


"Uuhhhh...." Bu Dewi ingin bicara namun hanya ada suara lenguhan. Tak ada kata maupun kalimat. Yang ada hanya suara sengau tak jelas.


"Ma...lepaskan tanganku biar aku periksa mama!" Citra gunakan tangan kiri menepuk punggung tangan Bu Dewi agar ijinkan dia lakukan tugasnya.


Kali ini Bu Dewi dengar kata Citra. Perlahan wanita ini melepaskan pegangan ijinkan Citra memeriksa kondisinya.

__ADS_1


Pertama-tama Citra memeriksa mata Bu Dewi untuk lihat fungsi kedua mata itu. Tampaknya penglihatan Bu Dewi tidak ada masalah cuma motorik syaraf mata kanan terganggu sehingga mengecil. Selebihnya tak ada masalah. Cuma Citra harus bawa Bu Dewi scan ulang untuk lihat bagaimana kondisi syaraf otak setelah sadar.


"Ma...tak usah takut. Semua ini hanya sementara. Nanti semua akan kembali normal. Mama tak perlu memikirkan apapun. Kalau mama sudah baikan Citra janji akan tinggalkan Alvan supaya kalian hidup tenang."


"Uuhhhh... Uuhhhh.." Bu Dewi kembalikan suara lenguhan tak jelas. Citra anggap itu ekspresi puas. Citra tidak kecil hati. Di dunia segitu luas pasti ada tempat untuknya dan anak-anak.


Para suster kembali membawa pesanan Citra. Citra minta salah satu suster beri Bu Dewi minum. Satunya lagi suntikkan obat sesuai permintaan Citra. Citra beri ruang kepada kedua perawat itu untuk merawat Bu Dewi.


Keduanya telaten merawat nyonya besar keluarga Lingga. Salah-salah bisa get out dari rumah sakit.


Citra duduk di sofa berusaha tegar. Memberi kebahagiaan pada Bu Dewi walau harus berkorban cukup melukai hati Citra. Namun Citra tak mau pertaruhkan nyawa seorang manusia hanya untuk ego diri sendiri. Citra siap memberi yang terbaik untuk mertuanya.


"Sus...tolong siapkan bubur hangat! Cari di kantin. Jangan tambahkan apapun! Cukup bubur jernih!" perintah Citra pada perawat untuk urusan perut Bu Dewi.


Dari saku celana Citra mengeluarkan selembar uang warna biru. Keuangan Citra agak seret akhir-akhir ini karena banyak pengeluaran. Kehadiran Alvan di rumah bukannya membantu Citra tapi malah membuat Citra bangkrut. Semua Citra tanggung sendiri tanpa meminta pada Alvan. Alvan memang ada memberinya kartu namun Citra berjanji gunakan kartu itu hanya untuk keperluan sekolah anak-anak.


Tidak lama berselang Alvan datang bersama Karin. Citra menduga Alvan jumpa Karin yang menunggu di luar ruang ICU. Sebagai basa-basi Alvan mengajak Karin sekalian ikut masuk untuk melihat mertuanya.


Alvan segera mendekati Bu Dewi untuk lihat langsung laporan Citra sesuai fakta atau hanya ingin menyenangkan dia. Bu Dewi menoleh ke arah Alvan dengan mata berlinangan air mata. Bu Dewi terharu dapat melihat anaknya lagi. Pikir ajalnya telah tiba meninggalkan anak cucu tanpa pesan.


"Ma...ini Alvan...Sudah enakan?" Alvan menggenggam kedua tangan mamanya erat bersyukur masih bisa jumpa walau dalam kondisi berbeda.


Karin memilih duduk agak jauh dari Bu Dewi tak berani dekati wanita tua itu. Gara kelancangan mulut Karin membuat Bu Dewi naik darah. Karin juga tidak bersalah membela diri. Yang Iya Bu Dewi egois sendiri ingin menguasai seluruh keluarganya. Semua harus tunduk pada perintahnya. Akibatnya dia tanggung sendiri.


"Uuhhhh... Uuhhhh..." Bu Dewi menunjuk ke arah Citra. Alvan menoleh ke arah Citra tak ngerti maksud mamanya.


Citra tersenyum hambar. Baru sadar Bu Dewi sudah mencari kesalahan Citra. Padahal wanita ini sudah matian perjuangkan hidup Bu Dewi. Segala upaya Citra lakukan agar Bu Dewi cepat sadar. Citra tak mengharap balas jasa karena memang itu tugasnya sebagai seorang dokter.


"Mas...Aku akan jauhi kamu agar mama sehat! Ma...cepat sembuh saja ya! Nanti setelah dapat hasil scan Citra akan rekom mama ditangani dokter lain. Tidak usah kuatir Citra akan rebut Alvan dari mama. Dia anak mama selamanya!" Citra berdiri di sebelah kiri Bu Dewi berkata dengan lembut. Ini adalah jalan terakhir agar perasaan Bu Dewi tenang.


Alvan mendelik tak suka Citra bicara ngawur. Alvan tidak akan ijinkan Citra pergi walau harus kehilangan segalanya. Citra adalah pelabuhan terakhir Alvan. Alvan tak ingin berlayar lagi. Kapalnya sudah tua tak mampu hadang badai lagi. Saatnya bersandar di dek yang memberi rasa tenteram.


"Ngomong apa kamu? Kau pikir mama tak punya hati ingin pisahkan kita? Semua jasa dan budimu pada mama takkan pudar dimakan waktu. Aku secara pribadi berterima kasih pada perjuangan mu menyelamatkan mama. Kau mau pergi ke mana lagi? Tempatmu di sisiku." kata Alvan dengan nada tinggi.


Air mata Bu Dewi makin deras mengalir lewati pipi mulai keriput itu. Bibir Bu Dewi ingin mengucapkan sesuatu tapi tak ada kalimat jelas. Yang ada hanya suara komat-kamit layak orang sedang baca mantra sakti.


"Mas...sejak kami muncul di hidupmu beruntun masalah datang. Aku dan anak-anak akan pergi agar semua hidup tenang. Kami juga tenang. Kami akan pergi ke Beijing setelah Azzam dan Afifa usai ujian naik kelas. Begitu saja! Jangan jadi anak durhaka! Mas bisa bertemu anak-anak kalau mas rindu cuma kami takkan tinggal di sini lagi."


"Kau gila...selangkahpun kau tak boleh tinggalkan aku! Aku butuh kamu. Masalah yang muncul bukan datang dari kamu tapi mereka yang cari masalah sendiri. Tak mau hidup tenang cari tali gantungan jerat leher sendiri."

__ADS_1


__ADS_2