
"Bau terasi? Jelas-jelas ada bau menyengat di rumah kita! Ampun deh! Tolong singkirkan bau itu!" Alvan berjalan sempoyongan ke ruang tamu. Citra memapah suaminya agar jangan jatuh akibat tercium bau yang dia anggap bau bangkai.
Bagi Citra justru itu sangat wangi. Citra lagi pingin sayur segar tanpa campuran ikan maupun daging untuk penuhi selera jabang bayi.
Alvan terduduk lemas di sofa. Laki ini menutup mata berusaha menetralkan desakan dari perut yang ingin keluar. Alvan merasa seluruh badan tidak nyaman. Bilang sakit tak ada yang sakit. Pokoknya ada yang tak beres.
Citra membawa segelas air minum untuk Alvan untuk menghilangkan bau yang ganggu hidung. Citra iba melihat kontak batin antara anak dengan bapak. Anak dalam perut seolah ingin hukum papi mereka yang dulunya nakal. Mereka ingin Alvan rasakan derita ibu hamil.
"Mas...minum!"
Alvan membuka mata menatap Citra. Mata itu demikian kuyu tak bersemangat. Wanita di depannya tampak makin cantik dengan wajah kinclong ibu hamil. Hati Alvan terhibur sedikit melihat Citra dalam kondisi fit. Biarlah dia yang menderita asal Citra dan bayinya sehat.
"Terimakasih sayang! Kau tak apa kan?"
"Emang aku kenapa?" Citra memutar badan perlihatkan dia dalam keadaan baik. Alvan menelan ludah merasa lidahnya pahit. Namun laki ini tidak katakan apapun agar Citra tidak kuatir. Alvan makin mengerti derita Citra selama ini. Ngidam saja sudah bikin sengsara, belum lagi bawa perut sebesar genderang marching band. Berapa berat derita Citra melahirkan anak-anak tanpa ada yang dampingi. Alvan berjanji takkan mengeluh walau seberat apapun derita dia alami.
"Mas boleh main ke tempat Daniel?" Alvan cari solusi hindari menu ibu hamil. Kalau Alvan masih di rumah semua makin kacau. Citra tak bisa menikmati makanan yang dia inginkan sedang Alvan sangat menderita mencium bau terasi. Jalan terbaik adalah Alvan menghindari bau menyengat hidung.
"Nggak boleh...mas lagi kurang sehat. Di rumah saja!" ketus Citra tak bisa ditawar.
"Baiklah! Mas dalam kamar saja ya! Kamu makan saja. Mas ingin istirahat."
"Ok...aku di dapur! Kalau ada perlu mas telepon saja! Nanti kita makan bersama. Lezat sekali makan sayur bening dengan sambal terasi udang rebon."
Dengar kata terasi saja perut Alvan kembali bergejolak. Laki ini menahan diri tidak tampak lemah di depan isterinya. Alvan tak boleh perlihatkan dia menderita gara-gara isterinya hamil. Citra pasti akan kapok hamil lagi padahal Alvan masih ingin tambah kurcaci biar rumah makin ramai. Kelak dia tak perlu takut tak ada penerus bisnis keluarga. Setiap anak bisa pegang satu bagian sesuai bakat mereka kelak.
Citra meninggalkan Alvan kembali ke dapur untuk melanjutkan ulek sambal idaman ibu hamil. Alvan angkat tangan menyerah bila diajak santap makanan yang jadi musuhnya sekarang ini. Jangankan makan! Cium saja ogah.
Alvan masuk kamar untuk rebahan halau pusing. Tak terasa Alvan tertidur. Untuk sementara aman. Alvan tidur tenang sedangkan Citra bisa turuti selera menikmati sambal terasi kesukaan.
Citra menanti anak-anak pulang sekolah dengan hati kebat-kebit. Bagaimana reaksi Azzam bila tahu mamanya hamil adiknya lagi. Kalau Afifa pasti antusias karena dari dulu dia minta adik supaya jadi kakak.
Azzam orang penuh perhitungan pasti akan memikirkan untung rugi punya adik lagi. Azzam dan Afisa belum percaya sepenuhnya kepada Alvan untuk menjadi imam keluarga. Mereka berdua memang telah menerima Alvan tetapi dalam hati kecil tetap tersimpan keraguan.
Tepat jam empat sore anak-anak pulang sekolah. Gibran yang telah lama pulang terpaksa ikut Tokcer menunggu kedua anak kembar lepas dari sekolah. Jadilah mereka pulang barengan.
Ketiga anak mencium tangan Citra satu persatu sebagaimana anak Soleh. Ketiganya tampak lelah setelah seharian menimba ilmu. Terutama Azzam yang sudah mirip Alvan tak bersemangat. Semoga saja Azzam tidak ikutan ngidam seperti Alvan.
Azzam tersenyum melihat sang mami tampak sumringah bertambah cantik. Anak mana tak suka lihat mami tampak glowing menggoda mata cowok.
"Mami cantik." puji Azzam senang.
"Hhhmmm...Koko ada maunya?"
Azzam angkat tangan goyang tanda tak ada niat terselubung. Murni puji mami makin cantik. Aura Citra makin terpancar efek janin yang sudah pasti cantik. Mirip Citra maupun Alvan tetap menarik.
"Ayo semua pergi mandi! Bau keringat jangan disimpan!" ujar Citra pada ketiga bocah itu.
"Bau keringat om Gi mahal lho! Tadi aja ada cewek asyik mau dekati om. Maklum om ganteng." Gibran dengan pedenya pamer wajah ganteng warisan Heru di dewa Yunani.
"Cewek bukan mau berteman tapi tagih hutang. Kali aja om hutang semangkok bakso!" olok Azzam sambil berlari tinggalkan Gibran yang keki nilai jualnya dicampakkan Azzam.
"Awas kau bocah tengil!" Gibran mengejar naik ke tangga atas. Kedua bocah laki itu saling kejaran di atas timbulkan suara gaduh.
Afifa dan Citra tersenyum. Rumah penuh canda tawa inilah impian semua orang. Mereka tak tahu di dalam kamar ada satu sosok lelaki sedang menderita. Perut lapar tapi tak ada selera makan.
__ADS_1
"Amei mandi nak! Oya...kak Tokcer sudah pulang?"
Afifa melempar pandangan keluar masih lihat mobil mereka artinya Tokcer masih di tempat.
"Ada di luar. Mami mau bicara dengan Kak Tokcer?"
"Iya...mami mau minta tolong beli durian! Tiba-tiba pingin durian."
"Buah yang bau itu? Amei nggak dah! Mami saja. Amei ke kamar dulu ya!" Afifa panggul tas naik ke atas di mana adanya kamar dia.
Citra pula yang keluar cari Tokcer untuk minta tolong beli durian. Ntah kenapa mendadak pingin makan buah berduri itu. Biasa Citra kurang senang berisi gas lumayan banyak. Sudah makan sering buang angin.
Tokcer sedang santai minum kopi dengan satpam di pos kecil khusus satpam. Lelaki itu selalu nongkrong bersama satpam sebelum pulang dengan mobil mewah Alvan. Mobil itu dua puluh empat bersama Tokcer. Boleh dibilang jadi mobil jajahan Tokcer.
"Tok..." panggil Citra dengan suara kencang.
"Ya kak..." Tokcer berlari hampiri Citra yang sudah menjadi bagian dari hidupnya. Tokcer menganggap Citra adalah keluarga sendiri walau status berbeda.
"Sini...kau tahu tempat jual durian yang manis?"
Tokcer berpikir sejenak lantas angguk.
"Durian kampung atau durian musang king yang lagi ngetrend."
"Yang mana mahal?"
"Pasti durian kualitas bagus. Musang King dan Montong kini jadi primadona cuma harganya mencekik. Durian kampung ya nasib-nasib belinya. Kadang bagus kadang mentah."
"Gitu ya! Beliin kakak satu ya! Pokoknya yang manis."
"Cuma satu?" Tokcer agak bingung Citra cuma beli satu padahal di rumah penghuni cukup ramai. Sejak kapan Citra berubah pelit soal makanan.
"Oh gitu...ok! Siap laksanakan perintah!" Tokcer langsung pergi dengan gagah.
"Woi...duitnya!" seru Citra karena Tokcer pergi tidak ambil uang untuk beli.
"Untuk satu durian aku masih sanggup beli untuk kakak aku! Tenang saja! Uangku banyak sekarang." Tokcer tersenyum dengan wajah sombong sok tajir. Apa artinya satu durian untuk balas Budi baik Citra sekeluarga.
Tokcer segera jalankan mobil setelah mundur keluar dari halaman rumah Citra. Tujuan Tokcer cari pesanan Citra sampai dapat. Citra tak pernah meminta sesuatu dari mereka. Justru mereka yang sering merepotkan Citra. Waktunya balas Budi baik Citra. Hanya itu yang bisa diberikan oleh Tokcer.
Citra masuk kamar melihat keadaan suaminya yang sedang mabuk hamil. Ntah kenapa Citra tidak terpengaruh oleh derita Alvan. Biasa dia paling susah hati bila ada yang sakit. Ini aneh dia tidak iba pada Alvan. Sejak kapan Citra berubah jadi raja tega.
Alvan bersandar pada kepala ranjang sambil main ponsel ntah chatting dengan siapa. Tampaknya keadaan Alvan membaik setelah istirahat. Wajahnya tidak sepucat tadi.
"Sudah enakan mas?" tegur Citra menyentuh kening Alvan cari tahu apa suaminya demam.
"Lumayanlah! Anak-anak sudah pulang?"
"Sudah...pada mandi! Mas nggak mandi?"
"Emang harus?" tanya Alvan seperti anak kecil dipaksa mandi.
"Jangan bilang mau tambah anak jadi malas ya! Anaknya nggak doyan punya papi bau kambing!"
"Apa iya bau kambing?" Alvan menciumi bawah lengan cek apa dia seperti yang dibilang Citra. Citra yang hamil tapi Alvan yang berubah aneh.
__ADS_1
"Bau kan?"
"Sedikit...bau asam akibat muntah dari tadi. Mas mandi dah! Mandiin ya!" gurau Alvan bikin Citra mendelik.
"Mandi pakai soda api ya! Biar kulit terkelupas sampai bening."
"Itu bukan bersih tapi pembunuhan. Ambilkan baju mas! Jangan yang warna gelap ya! Warna cerah dan bersih." Alvan turun dari ranjang berjalan jauhi Citra yang melongo. Selera Alvan kok berubah? Biasa dia suka warna gelap sekarang kok suka warna cerah.
Pertanyaannya apa suaminya punya baju warna cerah? Yang paling cerah juga abu-abu pudar. Kadang ada warna putih. Itu pakaian resmi ke kantor. Apa dipakai dalam rumah?
Citra membuka lemari pakaian Alvan mencari pesanan lakinya. Persis dugaan Citra. Semua hitam, abu tua, biru dongker dan beberapa helai abu keputihan. Pilihan Citra jatuh pada kaos lengan panjang warna putih keabuan. Semoga cocok dengan selera suaminya.
Citra meletakkan pakaian Alvan di atas tempat tidur lantas keluar menunggu Tokcer yang dapat tugas cari pesanan Citra.
Supir merangkap pengawal anak-anak belum juga muncul. Citra menunggu di ruang keluarga sambil pantau anak-anak yang masih bersihkan diri dari sisa kotoran dari luar. Bersih adalah pangkal sehat. Begitu motto dokter.
Alvan duluan keluar dengan wajah segar. Sisa mabuk hamil tak tampak lagi. Laki itu mulai normal seperti biasa.
Alvan tak sabar ingin sebar kabar baik pada anak-anak tentang kehamilan Citra. Mereka akan segera jadi kakak dari empat bayi cantik. Semoga Tuhan berkahi kesehatan pada Citra dan janinnya.
Gibran duluan turun bergabung dengan Citra dan Alvan. Lajang ini membawa buku tebal dan buku tulis ke hadapan Citra. Kelihatannya lajang ini menemukan kesulitan dalam pelajaran.
"Kak...ajarin dong matematika! Dari tadi diterangkan guru nggak masuk otak!" Gibran menghempas tubuh di samping Citra. Citra menerima buku tebal Gibran lihat tertulis buku matematika kurikulum terbaru.
"Ada kesulitan apa?" tanya Citra lembut.
Gibran membuka halaman di mana terdapat soal yang tak dipahami Gibran. Citra maklumi Gibran tak paham soal pencarian akar persamaan kwadrat. Pelajaran ini memang agak sulit bagi orang tak suka matematika. Butuh waktu cukup lama untuk jelaskan dari awal.
"Nanti malam kakak ajarin ya! Kamu harus tahu rumusan dari pertama dulu. Soal ini gampang tapi susah. Yang penting kamu harus kuasai rumus akar dulu. Untuk rumus akar kau bisa tanya Azzam. Dia itu ahli hitung menghitung."
Gibran menggaruk kepalanya yang tak gatal. Ketombe belum nyangkut apalagi kutu. Tapi tetap gatal gara tak paham seluk beluk pelajaran paling rumit ini. Mendengar Azzam ahli di pelajaran ini Gibran merasa dilangkahi. Mana ada anak SMP belajar sama anak SD. Di mana mau ditaruh wajah gantengnya.
"Anak SD belum belajar akar kak."
"Kamu yang ketinggalan kereta. Siapa bilang anak SD belum belajar kuadrat? Itu pelajaran dasar akar kuadrat. Azzam mana berhenti sampai situ. Asal sudah belajar dia pasti gali lebih jauh. Jangan malu bertanya! Nanti kamu tersesat. Untuk soal ini biar kakak yang bantu."
"Iya kak! Makasih ya! Om Gi cari Azzam dulu!"
Citra manggut ijin Gibran ganggu waktu istirahat Azzam. Kam gini Azzam pasti main ponsel sebentar untuk menyenangkan diri sendiri. Belajar terusan juga perbuatan baik, otak harus di beri waktu jeda. Refreshing cari kesibukan santai.
Dari luar bunyi klakson mobil tanda ada yang pulang. Citra memanjang leher lihat mobil siapa yang masuk pekarangan.
Senyum Citra merekah lihat mobil Tokcer mendarat mulus di halaman depan. Tak usah ditanya orderan Citra pasti sudah ada di tangan lajang itu. Kalau tidak dapat mana berani dia pulang ke rumah Citra.
Benar tebakan Citra. Tokcer turun dari mobil menuju ke bagasi belakang menurunkan sesuatu. Citra panjangkan leher lagi lihat berapa hasil survey Tokcer terhadap buah berduri itu.
"Sayang...kayaknya ada bau gas bocor! Sangat menyengat hidung! Coba cek di dapur apa ada selang bocor!" kata Alvan mengendus sesuatu bau asing.
Citra menganggap hidung Alvan telah tersumbat tak bisa beda bau gas dan bau durian. Masak bau durian dibilang bau gas. Makin aneh suaminya ini. Bau terasi dibilang bau bangkai. Bau durian dibilang gas bocor.
"Bukan bau gas mas tapi bau durian! Aku lagi pingin makan durian. Tuh dibawa Tokcer!" Citra menunjuk Tokcer yang menenteng beberapa buah durian menuju ke dalam rumah.
"Ya ampun...baunya! Apa buah ini bisa dimakan? Ini bisa jadi racun buat kita. Bawa keluar! Mas tak tahan baunya!" Alvan mendekap hidung tak sanggup cium bau yang sangat menyengat hidung.
"Mas kok jadi sensitif. Semua serba salah. Ini tak boleh itu salah. Maunya gimana?" Citra kesal juga asyik disalahkan.
__ADS_1
"Sayang...mas minta ampun deh! Perut mas kembali diaduk mixer besar. Please bawa keluar." Alvan memohon Tokcer bawa buah berduri itu keluar.
Tokcer masih terpaku tenteng durian tak tahu harus ikut perintah siapa. Satu minta durian satunya suruh bawa pergi.