ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN

ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN
Akhir Kisah


__ADS_3

Semua tentu berharap Afisa tetap berprestasi walau di negeri orang. Apa lagi usia Afisa relatif muda. Waktu untuk tunjukkan prestasi masih cukup panjang.


Seusai makan malam semua berpisah tekuni kegiatan masing-masing. Gibran paling kurang bahagia akibat kehadiran Thomas. Apa lagi ada kabar Thomas mau sekolah di Beijing temani Afisa. Sungguh gigih Thomas kejar perhatian Afisa.


Gibran ingin labrak Thomas tapi malu mengingat anak itu tamu dari jauh. Tak baik tinggalkan kesan buruk. Anak lajang ini hanya bisa mengurut dada tahan perasaan.


Azzam beri kode pada Alvan untuk ngobrol di kamarnya sebelum dia tidur. Besok dia harus masuk sekolah seperti biasa. Sedangkan Afisa akan terbang ke tempat di mana dia sedang ukir prestasi.


Alvan mengerti apa kemauan Azzam. Cuma Alvan menunggu waktu tepat agar tak ada yang curiga dia dan anaknya sedang bahas misi rahasia. Baik Azzam maupun Alvan tak ingin adanya perpecahan antara dua keluarga ini. Mereka telah bersatu maka selamanya akan tetap bersatu.


Alvan curi-curi masuk kamar Azzam sewaktu Citra ke kamar si kecil untuk menyusui si kecil. Alvan berharap dapat kabar baik dari Azzam setelah ngobrol dengan Bu Sobirin.


Alvan hormati Azzam walaupun dia hanya seorang anak kecil. Semua contoh baik di mulai dari orang tua. Alvan beri contoh baik maka otomatis anak-anak akan ikut jejak orang tua menjadi anak baik.


Azzam tidak meminta Alvan masuk begitu saja melainkan membuka pintu. Dia adalah anak tak.boleh memerintah orang tua walaupun hanya sekedar masuk kamar. Azzam memilih persilahkan Alvan masuk dengan sambutan langsung Azzam.


Azzam tersenyum melihat sang papi berdiri di depan pintu kamarnya. Bagi Alvan jawaban Azzam untuk hal ini sangat penting. Ini menyangkut harga diri Alvan dan keluarga Lingga.


"Ayok masuk Pi! Apa perlu Koko panggil Cece?" Azzam beri ruang pada papi masuk ke dalam kamar.


Kamar anaknya ini rapi teratur. Bahkan lebih rapi dari kamar Afifa yang notabene cewek. Azzam lebih telaten urus kamar sendiri. Alvan sendiri kalah total melawan sifat rajin Azzam. Anak itu sempurna dalam segala hal.


"Tidak usah! Mungkin dia sudah tidur. Thomas mana?"


"Dia ngobrol sama opa Heru. Opa Heru tanya-tanya soal bisnis keluarga mereka. Silahkan duduk Pi?" Azzam menarik kursi meja belajar agar papinya tidak berdiri seperti tiang listrik ganggu pemandangan.


"Papi bangga padamu nak! Kau selalu berada di depan keluarga." Alvan mengelus kepala Azzam penuh rasa haru. Untung dia temukan Citra baru tahu punya anak sejuta talenta.


"Tunggu Koko berhasil jadi orang sukses baru papi puji. Sekarang belum apa-apa." Azzam merendah. Lajang ini meloncat ke atas kasur supaya tidak salah tingkah dipuji papinya.


"Kau benar! Gimana hasil bicara dengan Oma Uyut kalian?"


Di sini Azzam terselip rasa gundah. Azzam iba juga lihat rasa sepi yang menyelimuti Bu Sobirin namun kesemua itu tak bisa angkat martabat Lingga. Alvan akan makin tenggelam dalam kejayaan Perkasa. Lama-lama Lingga akan hilang tersisa nama Perkasa.


"Uyut itu sangat baik dan paham posisi papi. Beliau ijinkan kita pindah dengan perjanjian Sabtu Minggu kita pulang sini."


Alvan ingin sekali bersorak syarat Bu Sobirin sangat sederhana. Tanpa berjanji Alvan akan sering bawa keluarganya berkunjung ke rumah Heru agar hubungan mereka tetap harmonis.


"Papi janji akan penuhi tuntutan Uyut kalian. Cuma itu?"


"Ada lagi Uyut minta pindahnya jangan sekarang! Tunggu adik bayi capai berat badan normal agar mami tidak capek urus adik-adik yang kurang sehat."


Alvan termenung. Apa ini alasan Bu Sobirin tahan mereka? Berapa berat badan baru boleh pindah?


"Kalau menurut koko gimana? Apa bukan alasan saja?"


"Uyut itu orangnya tulus! Dia paham posisi papi di masyarakat maka ijinkan kita pindah. Dan lagi apa rumah papi sudah siap renovasi?"


"Mungkin sebulan dua bulan lagi. Papi bikin sebagus mungkin untuk kalian. Kalau ada waktu kita pergi lihat bersama. Mana tahu Azzam ada sumbangan ide."

__ADS_1


Azzam memeluk kedua tangan ke dada berpikir keras waktu tepat pindah. Semoga saja dalam sebulan ini berat badan adik mereka capai berat ideal untuk bayi sehat. Azzam tidak memikirkan dekorasi rumah namun memikirkan yang terbaik untuk semua. Uyut bisa lega lepaskan mereka bila Citra dan adiknya sehat. Segala beban pikiran tak bergantung di benak perempuan paro baya itu.


"Papi setuju syarat Uyut?"


"Setuju saja! Sekarang berat adikmu sudah tiga kilo lebih. Capai lima kilo nanti sudah normal. Kalau mereka kuat minum susu paling lama dua bulan kita sudah pindah. Pas rumah baru kita telah selesai renovasi."


Azzam turun dari tempat tidur memeluk Alvan. Anak ini berterima kasih Alvan tidak ngotot pindah sekarang. Azzam ingin beri kesempatan pada Bu Sobirin dan Citra sama-sama merawat sampai adik-adiknya tumbuh sehat dan kuat. Tinggal tunggu waktu saja.


"Terima kasih Pi! Papi baik sekali mau ngalah."


Alvan tersentuh dengar ucapan Azzam. Benarkah dia telah jadi papi yang baik untuk anak-anaknya? Mungkin sekarang belum sempurna namun Alvan berjanji akan belajar lebih baik lagi.


"Papi balik ke kamar ya! Kau pergi tidur. Terima kasih sudah bantu papi."


"Sama-sama...Koko juga bangga punya papi yang baik tidak egois."


Alvan tertawa sumbang mendapat dua kali pujian dari Azzam. Andai Azzam tahu penyesalan Karin pasti akan korek kisah lama lagi. Alvan tak ingin buka kisah lama. Sudah tamat. Dia sedang bangun kisah baru bersama anak isteri. Hari baru telah menunggunya gores kisah yang lebih indah dari kemarin.


Tiga bulan kemudian di salah satu sudut kota yang makin tua tampak ada pesta meriah di rumah super mewah. Tamu-tamu yang datang rata-rata pamer mobil mewah untuk tunjukkan kelas mereka di mata sesama rekan bisnis. Makin mahal kuda besi mereka maka makin tinggi nilai jual.


Sepanjang jalan terparkir mobil seharga miliaran. Tak pelak timbulkan rasa kagum para tetangga. Penghuni rumah pasti bukan sembarangan orang baru tamunya dari kalangan atas.


Itu rumah Alvan Lingga beserta keluarga. Alvan berhasil boyong keluarganya pindah ke tempat baru. Bayi-bayi Alvan telah capai berat badan sesuai keinginan Bu Sobirin maka tak ada alasan bagi Bu Sobirin tahan Alvan dan keluarganya.


Alvan adakan pesta besar-besaran sambut kepindahan mereka sekaligus perkenalkan bayi-bayinya yang rata-rata kualitas super. Keempat anak Alvan warisi keelokan papi dan mami mereka. Yang cowok ganteng dan yang cewek cantik. Lengkap sudah kebahagiaan Alvan sebagai lelaki kesohor.


Alvan buat juga kamar untuk Uyut anak-anak serta kamar untuk opa Oma anak-anak. Alvan ingin adil pada dua pasang orang tua itu. Mereka diterima dengan senang hati bila ingin nginap di situ. Alvan tak bedakan Bu Dewi dengan Bu Sobirin. Mereka adalah orang tua harus dihormati.


Gibran ikut pindah ke rumah Alvan karena tak bisa dipisahkan dari si centil Afifa. Gibran sangat sayang pada Afifa sebagai keponakan. Sedang rasa sayang pada Afisa melenceng jauh dari garis sesungguhnya. Semua masih perlu menanti perputaran waktu. Waktu yang akan jawab semuanya.


Hari pertama pindah Bu Sobirin nginap di rumah baru Citra dan Alvan. Bu Sobirin belum bisa tinggalkan cicit-cicit tercinta secara mendadak. Beliau masih ingin awasi cicit lucunya.


Citra dan Alvan tentu saja tidak keberatan menerima kehadiran wanita berbudi luhur itu. Citra tak dapat bayar jasa baik omanya selaku dukung dia di kala susah dan duka. Kini dia telah temukan kebahagiaan tentu saja tak boleh lupakan semuanya.


Malam pertama Alvan dan Citra tidur di rumah baru dengan segala perabotan baru di kamar Citra. Hanya kamar Citra diganti semua perabotan baru karena Alvan ingin beri yang terbaik pada wanita baik.


Harum bunga mawar tersebar dalam kamar karena Alvan sengaja letakkan bunga mawar segar di kamar mereka untuk menambah keromantisan malam ini.


Alvan sengaja pasang lampu agak redup agar lebih syahdu. Alvan dudukkan Citra di kasur baru mereka lalu berlutut di depan kedua lutut Citra memegangi kedua tangan Citra erat-erat. Gaya Alvan seperti seorang pemuda sedang merayu sang kekasih terima lamaran.


Sepasang mata Alvan beradu dengan bola mata Citra yang bening seperti berisi cairan. Ada rasa haru dan bahagia terselip di bola mata. Perjuangannya selama ini telah mendapat akhir baik. Sekarang Citra punya segalanya. Suami, anak, karir dan keluarga siap dukung dia. Betapa sempurna hidup ini.


"Sayang ..aku melamarmu untuk menjadi isteriku selamanya! Tak ada wanita lain selain kamu." ujar Alvan masih dalam posisi berjongkok.


"Isshhh apaan mas?" Citra tersipu malu digoda suami sendiri.


"Aku serius...maukah kau terima lamaran aku? Aku mencintaimu selamanya. Sampai nafas aku berhenti tak bisa hirup udara lagi." Alvan tak putus berharap ada jawaban serius Citra.


"Aku terima. Tapi kalau ketahuan mas bohong tak ada kesempatan ketiga."

__ADS_1


"Siap nyonya Alvan. Ini aku punya hadiah untukmu!" Alvan berdiri mengeluarkan sesuatu dari saku celana.


Satu kertas putih banyak tulisan betina hitam. Citra masih coba menduga barang apa jadi hadiah dari suaminya.


Alvan meletakkan kertas itu di telapak tangan Citra supaya isterinya tahu apa yang dia berikan.


Citra menyipitkan mata agak susah lihat karena bola lampu bersinar redup. Samar-samar Citra melihat logo salah satu maskapai penerbangan luar negeri.


"Tiket pesawat???" seru Citra kaget kok tiba-tiba Alvan ngasih hadiah tiket pesawat. Memangnya Alvan ada rencana ke mana?


"Iya...tiket pesawat untukmu ke Korea! Bukankah kau pernah minta operasi kulit perut kamu agar kencang lagi? Mas sudah tanya sana sini akhirnya temukan dokter hebat di Korea. Katanya Korea surganya bagi orang ingin operasi plastik."


"Mas malu ya punya bini yang perutnya jelek?" Citra merengut tak senang Alvan berinisiatif suruh operasi. Ini pasti karena tubuhnya banyak berubah akibat hamil empat bayi sekaligus.


"Ya Allah ..mas tidak masalah bagaimana kamu! Bukankah kamu yang minta ijin operasi setelah habis melahirkan? Mas sudah janji beri ijin maka mas urus untukmu. Kalau kau tak mau pergi ya tak apa. Cinta mas bukan sebatas kulit halus kamu tapi karena kamu itu Citra." gombal Alvan. Ada kemajuan Alvan jadi perayu ulung.


"Kayaknya ada rencana beli cewek baru nih! Pura-pura tak keberatan lantas nanti selingkuh alasan istri tak cantik lagi."


Alvan bingung tak tahu harus bagaimana terangkan pada Citra kalau dia hanya ingin menyenangkan wanita ini. Tidak ada tujuan lain.


"Sayang...kalau tak mau operasi ya sudah! Lupakan tiket ini! Kita tetap bahagia apa adanya kamu."


"Apa bukan sedang Galang rencana cari pacar lebih fresh?"


"Sumpah tidak...cukup kamu saja. Mas akan temani kamu selama ke Korea. Mas sudah minta pada Oma Uyut anak-anak jaga anak-anak. Beliau tidak keberatan jaga keenam anakmu. Mas juga tambah dua baby sister lagi agar Oma tidak capek. Satu anak satu perawat. Jadi mereka terurus baik. Mas serahkan padamu semua keputusan. Mas tak memaksa kok! Anggap saja ini bulan madu kita yang tertunda."


"Lalu kantor gimana?"


"Ada Untung dan Andi di bawah pengawasan om Heru. Om Heru kamu setuju kita pergi refreshing. Lupakan segala keruwetan sesaat. Ini waktu kita pula. Aku ingin bayar semua waktu yang terbuang di masa lalu. Aku ingin selalu bersamamu."


Citra tersenyum senang dapat janji manis dari Alvan. Isteri mana tak bahagia diperhatikan suami sedetailnya. Mereka berhak bahagia juga setelah lalui badai dahsyat nyaris karamkan mereka di dasar lautan.


"Kita pergi mas! Terima kasih atas niat baik mas."


"Mas juga minta terima kasih dan juga minta maaf atas kesalahan mas padamu. Aku Alvan Lingga adalah lelaki paling bahagia di dunia ini. Miliki segalanya."


Citra menundukkan kepala mengecup ubun kepala Alvan. Alvan mana puas hanya dapat kecupan ringan. Di kepala pula. Yang rasakan bibir Citra hanya rambut. Alvan menuntut ciuman lebih spesifik. Ciuman yang takkan terlupakan di malam ini. Alvan mendorong tubuh mungil Citra ke tempat tidur untuk mendapatkan ciuman lebih hot.


Di luar sana rembulan ikut tersenyum melihat adanya sepasang anak manusia mereguk rasa manis cinta suci. Semua beban derita pupus sudah dibayar dengan cinta demikian tulus. Citra berhak mendapatkan bayaran dobel plus bonus atas kesabaran menanti Alvan kembali ke pelukan. Citra pernah terbuang dan kini telah kembali pada posisi lebih kuat.


Dari sini kita petik pelajaran bahwa orang sabar dan tawakal akan mendapat pahala lebih besar dari derita kita.


Cinta yang tulus tak perlu diucapkan berulangkali karena setiap kalimat akan terbawa angin. Rasakan keindahan cinta berbunga di dalam rongga dada. Mekar selamanya tersimpan aman tanpa kena polusi.


Citra yang terbuang telah mendapat hak dan harkat. Kisah Citra kita tutup hingga di sini. Nantikan sekuel kedua dari novel ini berkisah tentang keturunan Lingga dan Perkasa.


Terima kasih aku ucapkan pada pembaca setia aku. Mohon maaf bila ada kata yang tidak sesuai dengan harapan pembaca. Tetap dukung aku di karangan berikutnya.


Mohon dukungan Setengah lusin isteri tuan tajir. Beri like dan komen agar karangan aku tumbuh makin besar. Salam cinta untuk seluruh pembaca novel aku. Seorang penulis tiada berarti tanpa pembaca setia. Karena pembaca setia maka seorang pengarang akan tambah maju. Sekali lagi terima kasih. Love u all. ❤️❤️❤️❤️❤️♥️♥️❤️❤️❤️❤️❤️❤️♥️

__ADS_1


__ADS_2