
Afifa manut saja dipakaikan kalung oleh Thomas. Leher kecil Afifa sangat tidak cocok dipakaikan barang mahal itu. Perhiasan salah tempat. Itu lebih cocok untuk remaja beranjak dewasa atau ibu muda. Benda itu terlalu dewasa untuk Afifa.
Thomas berlaku adil mengambil kotak kado Afisa dan lakukan hal sama pada Afisa. Lajang bule itu pakaikan kalung bertahta berlian ke leher Afisa. Dari jauh puluhan pasang mata menyaksikan adegan mesra Thomas terhadap dua kembaran Citra.
Gibran makin mengkal pada Thomas telah merebut kedua keponakannya. Gibran sayang pada Afifa dan Afisa dalam versi berbeda. Sayangnya pada Afifa murni sayang keponakan sedang pada Afisa ada rasa yang lain.
"Wah...sangat indah...ini untuk aku?" tanya Afifa mengelus benda berkilauan di leher.
"Untuk nona yang cantik.." ujar Thomas ramah bikin Afifa makin girang.
Lain Afifa yang lugu, lain pula Afisa. Gadis muda ini makin tak nyaman dilimpahi hadiah yang bertubi-tubi. Masalah mobil belum selesai ditambah lagi hadiah kalung permata.
Bagaimana caranya bisa mengembalikan semua hadiah dari Thomas? Takutnya kawan barunya itu akan tersinggung karena Afisa mengembalikan hadiah secara spontan.
"Thomas... hadiah darimu terlalu mahal. Apakah ini tidak akan membuang uang orang tuamu?"
"Tentu saja tidak... orang tuaku mendukung aku memberi hadiah ini kepada kamu dan adikmu."
"Bagaimana dengan mobil yang kau berikan?"
"Itu kado dari orang tua aku. Kadoku padamu hanyalah bunga. Dan perhiasan ini dari mami aku." Thomas pandai berkilah bikin Afisa tak berkutik. Tak mungkin dia mengembalikan mobil itu kepada daddy-nya Thomas.
Thomas sangat pintar mengatur strategi membuat Afisa tak bisa melakukan sesuatu pada kadonya. Dia memang hanya bawa satu buket untuk Afisa. Kado perhiasan dari maminya sedang mobil dari daddy-nya. Afisa bisa apa dengan hadiah ini.
"Tapi mobil itu sangat mahal." kilah Afisa makin tak nyaman.
"Tanya pada Daddy aku saja! Aku tidak ngerti." Thomas buang badan tidak mau ikut campur urusan mobil. Anak ini yakin Afisa tidak berani bertanya pada Tuan Smith.
Afisa mendesah bingung. Dia diberi hadiah mobil di sini sementara dia tinggal di tempat lain. Apa gunanya mobil itu? Paling ditinggalkan pada Azzam dan Afifa.
"Kau tahu aku tidak tinggal di sini. Untuk apa mobil mahal itu?"
"Kau kan pasti pulang. Aku mau ingat pertama kita jumpa di Indonesia. Aku pasti akan mengunjungi kamu di Beijing." janji Thomas seakan yakin Afisa adalah teman masa depan.
Gibran buang muka dengar janji Thomas. Dilihat dari gaya anak ini pasti dari keluarga tajir. Hadiahnya saja bisa beli satu rumah lumayan mewah. Janji kunjungi Afisa pasti dia lakukan. Thomas menang banyak dari Gibran.
Afifa mulai layu begitu jam bergeser ke arah jam sembilan. Anak ini selalu ngantuk kalau sudah jam segini. Matanya sudah disetel cuma bertahan sampai jam sembilan. Afifa sebentar-sebentar mengucek mata berusaha menahan ngantuk yang menyerang bak jenderal perang melawan musuh besar.
Gibran sudah melihat keponakan kecilnya telah lowbat. Kalau diibaratkan ponsel mungkin tinggal lima persen. Sebentar lagi akan segera padam total.
"Afifa sudah ngantuk ya sayang?" tanya Gibran segera hampiri Afifa yang mulai goyah duduk di kursi.
Afifa manggut tak tertarik pada pesta dan acara nyanyian penyanyi top yang diundang Heru. Gadis kecil ini lebih tertarik bila diajak rebahan di ranjang empuk mulai hitung anak kambing sampai lelap.
"Gimana nih om? Apa kita ajak Amei pulang duluan? Ini juga acara orang tua. Koko juga mulai ngantuk." Azzam kuatir juga lihat Afifa makin lesu.
"Tunggu om tanya pada mami kalian! Azzam pegang Afifa dulu. Nanti jatuh pula!" Gibran meninggalkan Afifa pada Azzam. Mereka saling membahu menjaga adik kecil yang sedikit manja.
Gibran menemui Citra yang sedang asyik ngobrol dengan para ibu-ibu. Sebenarnya Gibran segan ganggu acara para ibu-ibu tapi berhubung Afifa sudah dalam kondisi terlalu ngantuk maka dia harus beranikan diri maju.
"Maaf ibu-ibu...ganggu bentar ya!" ujar Gibran sopan setelah berada di antara para ibu-ibu.
__ADS_1
"Ada apa Gi?" Citra cepat tanggap Gibran mencarinya.
"Afifa sudah ngantuk.." ujar Gibran pelan.
Citra tersadar kalau anak bungsunya tak bisa diajak begadang. Anak itu selalu tidur tepat waktu. Asal jam sembilan dia sudah harus tidur. Tak ada toleransi sedikitpun.
"Oh iya...maaf ibu-ibu aku lihat anakku dulu! Maklumlah anak kecil tak tahan ngantuk!" Citra pamit untuk jenguk Afifa.
Citra dan Gibran segera naik ke pentas lihat Afifa yang mabuk tidur. Kepala si kecil mulai oleng kiri kanan dengan mata sayu.
"Ko..mami bawa Amei pulang dulu ya! Kau dan Cece tetap di sini." ujar Citra pada Azzam.
Azzam kontan berdiri tak mau ditinggal di pesta. Acaranya juga tak menarik perhatian lagi. Hanya ada penyanyi bawa lagu-lagu cinta bukan favorit Azzam..
"Koko ikut...biarlah om Gi dan Cece tinggal! Koko juga sudah ngantuk. Hari ini sangat lelah." keluh Azzam mulai hilang gairah.
Hanya Afisa masih semangat. Mental atlet mana bisa disamakan dengan mental orang awam. Afisa sudah sering lalui latihan fisik secara keras. Sekedar menahan ngantuk bukanlah masalah besar.
"Gimana Cece? Tinggal atau ikut pulang?" Citra memegangi Afifa yang hampir terpancing ke alam mimpi. Takutnya terbanting ke bawah pentas.
"Cece sini sama om Gi. Nanti Cece pulang sama papi. Tak baik tinggalkan teman baru."
Citra mengangguk ijinkan Afisa tinggal. Asal gadis itu mampu bertahan biarlah orang yang berulang tahun berada di tempat.
"Baiklah! Koko panggil kak Tokcer dan kau om Gi beritahu pada kak Alvan kalau kami pulang duluan." Citra membagi tugas pada dua lajang muda.
Alvan segera datang temui Citra begitu dengar isterinya mau pulang duluan. Sebenarnya tidak sopan meninggalkan tamu tapi berhubung anak-anak sudah ngantuk mau tak mau Citra harus pamit duluan.
Sebelumnya Alvan minta MC umumkan kalau Citra dan anak-anak pamitan karena anak sudah ngantuk. Para tamu maklumi keadaan karena kebetulan yang ulang tahun anak kecil. Wajar mereka harus tidur tepat waktu.
Sekedar basa basi Citra pada ibu-ibu yang hadir pulang duluan karena anaknya harus istirahat. Ini bukan alasan klasik tinggalkan pesta melainkan memang Afifa terlalu ngantuk.
Jadilah Citra pulang bawa Azzam dan Afifa disupiri Tokcer. Tokcer tidak keberatan harus pulang duluan karena memang pentingkan tugas dari pada pesta. Apalagi yang dijaga sudah tak bisa toleransi pada panggilan alam.
Afisa melanjutkan pesta sebagai wakil satu-satunya anak berulang tahun. Gadis kecil ini ditemani Gibran dan Thomas. Seorang bidadari kecil diapit dua cowok beda kultur. Satu Asia banget dan satunya bule total. Siapa yang akan jadi jawaban masa depan Afisa. Waktu yang akan jawab.
Afisa bertahan hingga larut malam. Satu persatu tamu pamitan menuju ke rumah masing-masing. Tinggallah orang dalam mengumpulkan hadiah kado untuk dibawa pulang. Thomas masih setia temani Afisa hingga bubar betulan. Tampaknya si bule telah terpanah oleh pesona Afisa. Dewa cinta yang datang terlalu dini. Apa keduanya telah ngerti arti cinta sejati. Mungkin Thomas hanya kagum pada paras Afisa serta prestasi Afisa dalam bidang senam. Semua masih jadi misteri.
Andi mengumpulkan kado akan dibawa pulang ke rumah Citra. Kadonya lumayan banyak cuma bukan kotak besar. Rata-rata kotak kecil serta paper bag yang isinya belum diketahui.
Kado siang tadi sudah duluan diungsikan ke tempat aman. Kini sisa kado tamu pembesar bisnis.
George Smith dan keluarga akhirnya minta pamitan. Besok mereka akan langsung balik ke London dengan pesawat pribadi milik keluarga Smith. Mereka bertahan di sini hanya untuk hadiri ulang tahun Afisa. Thomas hargai persahabatan dengan Afisa. Persahabatan yang dipupuk dari dini untuk pohon kuat.
Thomas berat pisah dengan Afisa namun fakta tetap harus berpisah. Semoga mereka akan cepat bertemu lagi. Thomas memeluk Afisa erat-erat sebelum tinggalkan ruang pesta yang mulai sepi.
"Aku akan mencarimu ke manapun kau pergi. Jangan lupa hubungi aku kalau ada kesulitan. Aku akan segera datang." janji Thomas.
"Iya.."
Gibran mau muntah dengar janji Thomas pada Afisa. Janji playboy cap kadal. Berapa gadis kecil jadi korban rayuan gombal cowok berambut pirang itu? Nyari mangsa sana sini.
__ADS_1
"Aku pamit ya! Besok aku akan berangkat. Doain aku selamat tiba di London!"
"Doaku menyertaimu." sahut Afisa dengan senyum manis.
"Terima kasih. Jaga mobil yang diberikan Daddy! Aku mau kau selalu ingat padaku."
"Pasti..."
Thomas meninggalkan Afisa dengan berat hati. Kedua orang tua Thomas sudah menanti untuk segera tinggalkan pesta. Mereka menanti dengan sabar sampai Thomas selesai buat janji pada Afisa. Tampaknya mereka juga suka pada Afisa. Thomas pewaris kekayaan Smith tentu bukan anak abal-abal.
Gibran menghembus nafas lega tatkala Thomas menghilang dari peredaran matanya. Nyamuk pengganggu telah pergi untuk sementara. Ntah kapan nyamuk nakal itu akan muncul lagi usik hari Afisa. Yang penting bule itu sirna untuk sementara.
"Well...kita pulang! Pesta telah usai tapi kita masih ada. Selamat ulang tahun ya sayang papi. Dari tadi papi belum sempat ngasih ucapan." Alvan meraih Afisa ke pelukan.
"Terima kasih...Cece juga sudah lelah! Gimana mobil Thomas?"
"Biar sini dulu. Besok kita jemput bawa pulang. Toh kita ada bawa mobil masing-masing. Opa akan urus penitipan mobilmu! Kalian pulang dulu." Heru mengelus kepala Afisa. Heru makin sayang pada cucunya yang bawa angin positif di keluarga.
Kedua keluarga makin semarak sejak kumpul bersama. Rumah yang biasa sepi kini penuh tawa derai. Kini tinggal anggota baru ntah dari Alvan ataupun dari Heru.
Langkah Heru terhenti tatkala sekelompok orang datang masuk ke ruang pesta yang telah bubar. Heru terkesima agak malu lupa undang Viona dan keluarga. Gara-gara sedikit mis komunikasi hubungan mereka agak merenggang. Viona nyaris hilang dari hidup Heru.
Malam ini Viona mendadak muncul bawa beberapa orang. Heru samasekali tidak mengenal orang yang dibawa Viona. Namun Heru harus adil tak boleh menolak tamu walau datang terlambat.
"Viona? Kok telat datang?" sapa Heru berusaha tampak tenang.
Viona mendengus dingin dengan pancaran mata tak sedap. Wanita itu memeluk tangan dengan angkuh tak anggap sapaan Heru sebagai undangan.
"Kami ini orang miskin mana mungkin diundang." dengus Viona sombong.
"Aku minta maaf karena terlalu sibuk sampai lupa kirim undangan. Ayok silahkan duduk! Kita ngobrol di sana!" Heru menunjuk kursi dan meja yang masih bersih.
"Tidak perlu...aku datang bawa anak kandung bang Hamka!"
"Apa maksudmu anak bang Hamka?"
Viona menarik seorang wanita seumuran Viona hadapkan pada Heru. Mata Heru membesar lihat seorang wanita bertubuh cukup menggoda. Wajahnya lumayan cantik dengan rahang agak keras. Sekilas memang mirip Hamka di masa lalu. Rambutnya berombak ikal menarik hati. Yang tak menarik dandanan wanita itu sedikit menor berkesan murahan.
"Anak Abangku itu Citra. Sejak kapan berubah?" Heru menilai wanita itu dengan mata mengecil. Sangat beda dengan Citra.
"Citra itu penipu...dia bukan anak bang Hamka. Dia pura-pura menyamar jadi anak bang Hamka untuk hidup senang. Dia itu wanita licik. Anak-anak juga bukan anak Alvan. Dia punya anak dengan orang lain ngaku anak Alvan. Kalian jangan dibodohi wanita itu!" teriak Viona menarik perhatian Alvan dan Afisa serta Gibran.
Alvan segera dekati Viona karena nama Citra jadi topik pembicaraan. Alvan tak ijinkan siapapun bicara buruk tentang Citra. Citra tak pernah usik orang tapi mengapa orang suka sekali ganggu ketenangan wanita kesayangan Alvan.
"Ada apa ini?" tanya Alvan hujani Viona dengan tatapan tajam.
"Mas Alvan ya! Aku datang bawa kabar baik. Citra itu penipu dan anaknya bukan anak kamu. Dia hidup lama dengan seorang kakek tua. Kakek itulah ayah biologis anak Citra. Kalian jangan mau ditipu wanita culas itu! Ini aku bawa anak bang Hamka yang asli. Apa kalian tak lihat wajahnya persis wajah bang Hamka? Citra mana ada mirip bang Hamka." ujar Viona manja pada Alvan.
Afisa langsung maju ke depan tak senang maminya dituduh yang bukan-bukan. Seingat Afisa tanpa kehadiran orang ngaku keluarga mereka juga bahagia. Tak perlu segudang harta mereka telah buktikan hidup dengan baik.
"Maaf Tante...apa aku kenal anda? Mengapa punya mulut tidak dibawa sekolah? Bukan hanya otak harus diisi dengan ilmu, mulut juga harus dijejali ilmu agar pintar. Kau katakan mami kami penipu! Dari mana asal mula kalimat itu?" Afisa menantang Viona dengan gagah. Tubuh jauh lebih kecil dari Viona namun nyali melebihi badak.
__ADS_1
"Oh kau anak penipu itu ya! Lihat! Kecil-kecil sudah dididik bermulut jahat. Kalian sendiri lihat! Anak sendiri diajar jadi penipu juga."
"Baik aku penipu...dan kau apa? Pembohong atau pendusta?" Afisa bergerak maju tak gentar.