
Citra tidak perhatikan apa yang dilakukan Alvan. Kini perhatian Citra tercurah pada Afifa. Wajah anak itu tampak lebih segar berona merah seperti biasa. Tak ada tanda-tanda Afifa sedang diserang penyakit demam berdarah. Bahkan anak itu kelihatan jauh lebih semangat setelah jumpa Alvan. Citra bertanya sendiri apa dia sanggup memisahkan ikatan batin antara bapak anak yang baru jumpa? Afifa tak sekuat Azzam dan Afisa. Anak itu lemah dari lahir.
Citra takut Afifa akan drop bila dijauhkan dari idola barunya. Alvan pun pintar gunakan kesempatan cari simpatik Afifa. Tak butuh waktu lama laki itu berhasil curi perhatian Afifa.
Alvan gunakan waktu pergi ke kamar mandi untuk bersihkan diri. Alvan sudah tak ada baju ganti terpaksa pakai kembali pakaian semalam. Toh pakaian itu masih bersih karena Alvan tak aktifitas selain temani Afifa dalam kamar. Paling keringatan. Keringat cowok ganteng tentu tak kecut seperti keringat kuli bangunan. Apa lagi Alvan berstatus CEO kaya. Keringat yang mengalir berbau dolar.
Alvan melihat Citra termenung di samping tempat tidur Afifa. Apa gerangan mengganggu pikiran wanita itu. Raut wajah Citra pancarkan keseriusan seolah menanggung beban berat. Beban apa sedang dipikul wanita tersebut. Andai Citra mau berbagi Alvan siap jadi pendukung wanita itu.
"Citra...apa Afifa sudah bangun?" tanya Alvan dengan suara rendah takut usik Afifa.
"Belum tapi tak ada masalah. Demamnya mulai stabil. Kalau bapak mau pergi kantor silahkan! Jangan karena Afifa tugas bapak terbelangkai!" ucap Citra datar. Sejujurnya Citra kurang suka Alvan berada di sekeliling mereka. Citra sudah terbiasa hidup damai bersama anak-anak. Tanpa tatapan dengki dari musuh ataupun orang iri hati.
Citra yakin kehadiran Alvan akan menyeretnya dalam kemelut panjang lagi. Karin dan kedua orang tua Alvan tentu tak biarkan Citra hidup tenang.
"Afifa lebih penting dari bisnis. Uang bisa dicari tapi anak tak ada ganti."
"Anak dan tugas sama penting. Afifa sudah mulai sehat, aku takkan bawa lari dia. Kami masih di sini."
"Kau yakin takkan culik anakku?" guyon Alvan berusaha usir rasa canggung antara mereka.
"Aku induknya. Dari mana istilah culik anak. Yang ada bapak memaksa kehendak. Cepat berobat agar punya anak sendiri. Tak usah intip anakku lagi." ketus Citra
Alvan tertawa kecil lihat Citra sewot. Wajah imut Citra makin menarik bila manyun. Gemas hati Alvan ingin cubit pipi kayak anak kecil itu. Citra awet muda tak bertambah tua walau sembilan tahun berlalu. Citra tetap imut seperti dulu. Mengapa sekarang baru Alvan sadar punya isteri menarik.
"Kau bicara seakan aku tak punya andil terhadap anak-anak ini. Tanpa aku mereka juga tak ada."
"Ingat! Bapak mandul! Dari mana punya anak."
"Eit..tadi sudah ngaku bocil ini anakku. Kenapa berubah lagi? Nampaknya setiap perkataanmu harus direkam dibawa ke pengacara untuk punya kekuatan hukum."
"Rekam saja! Anak kecil tetap berada di bawah asuhan ibunya bila orang tua berpisah. Bapak punya pabrik buat produksi bila sembuh nanti." sungut Citra buang muka ke dinding sinis pada Alvan.
"Ok...pabriknya harus punya kekuatan hukum anaknya baru sah. Aku siap berproduksi asal pabriknya sudah beri ijin. Kapan kau akan obati aku?" Alvan berjalan ke arah Citra yang gugup.
"Jangan mendekat! Kita bukan muhrim lagi." Citra berkelit ogah berada jarak dekat dengan sumber masalah.
"Gampang! Kita panggil penghulu agar bisa berdekatan. Kau boleh periksa aku. Tak usah malu. Kau sudah pernah lihat bahkan rasakan!" olok Alvan kontan bikin pipi Citra berubah merah padam.
"Dasar laki mesum! Bangunkan Afifa." Citra gunakan kesempatan menyelinap dari tubuh Alvan yang besar. Citra selamatkan diri dari kenakalan Alvan. Citra belum siap berdekatan dengan laki manapun untuk sementara termasuk Alvan. Trauma dibuang Alvan masih segar di otak Citra.
Alvan tertawa garing sampai tubuhnya tergoncang saking gemas lihat Citra seperti kucing kecil jumpa lawan tangguh. Si kecil Afifa buka mata gara-gara suara bising Alvan. Si kecil langsung tersenyum sewaktu lihat idola barunya masih di kamar bersama mami. Inilah yang di harap gadis kecil itu. Punya keluarga utuh.
"Papi..." lirih Afifa namun jelas di kuping Alvan. Alvan berhenti goda Citra. Kini Alvan curahkan perhatian pada anaknya itu.
"Anak papi sudah bangun. Sudah enakan?" Alvan membantu Afifa bangun. Afifa duduk menatap kedua orang tuanya bergantian. Senyum manis tergaris di bibir kecil Afifa. Dekik kecil ikut unjuk gigi terhias di pipi.
"Amei mau pulang! Kita naik kereta api."
"Belum boleh pulang! Tunggu kabar dari pak dokter! Afifa kan anak baik. Papi pasti ajak Afifa naik kereta api kalau sudah sembuh benar. Papi lap muka Afifa dulu ya! Biar segar."
"Biar aku saja pak! Ini tugas mami. Papi panggil perawat ganti infus Afifa. Sudah hampir mentok."
__ADS_1
Alvan melirik kantong darah di tiang gantung infus. Memang tinggal sedikit lagi. Alvan segera ringankan langkah cari perawat yang bertanggung jawab pada perawatan Afifa.
Citra ambil handuk kecil untuk bersihkan wajah kusut Afifa. Gadis kecil itu tak banyak membantah. Citra mendidik anak dengan baik tahu diri dan sopan. Sebagai anak Citra tak diijinkan banyak menuntut. Citra bukan dokter kaya macam dokter lain. Tanggungan Citra lumayan banyak karena biaya pendidikan Afifa dan Azzam kuras kantong Citra.
Alvan kembali dengan dua perawat. Masing-masing bawa kantong berbeda. Satu bawa obatan dan cairan infus. Sedang satunya lagi bawa sarapan untuk keluarga Alvan.
Sarapan di letakkan di meja barulah kedua perawat laksanakan tugas urus cairan infus Afifa. Mata bening Afifa pelototi setiap gerakan dua perawat itu. Tak ada keluhan maupun rengekan keluar dari bibir mungil Afifa. Biasa anak kecil akan nangis ketakutan lihat suntikan. Afifa memang anak tabah.
"Nah nona cantik! Sudah beres. Sudah enakan?" salah satu perawat ajak Afifa ngobrol.
"Sudah Tante suster! Amei boleh pulang?"
"Kita tanya pak dokter dulu ya! Sekarang makan yang banyak biar cepat pulih. Amei boleh pulang kalau sudah fit."
"Iya Tante...terima kasih!" Amei tidak pelit bagi keindahan dekik di pipi. Perawat itu gemas tak tahan untuk tidak mencolek pipi manis itu.
"Tante suster pergi dulu ya! Nanti Tante balik lagi. Pak ibu...permisi!" kedua perawat itu pergi dengan sopan.
Citra bergerak sediakan sarapan untuk Afifa dan Alvan. Di sini Citra tak ubah isteri alim buat Alvan. Melayani anak dan suami. Mereka tak ubah satu keluarga kecil sedang nikmati liburan di hotel bintang lima. Bedanya ini bukan hotel betulan cuma kamar rawat Afifa yang demam.
"Bapak makan dulu biar Amei kuurus!" Citra letakkan gelas kopi dan roti bakar dalam plastik bening di atas meja.
"Kau duluan. Biar kusuap Afifa. Afifa mau makan sama siapa?"
"Papi saja."
Citra angkat tangan biarkan Alvan laksanakan tugas sebagai papi idaman Afifa. Apapun permintaan Afifa saat ini akan Citra kabulkan asal tidak lewat batas. Menjaga mood pasien tetap bahagia akan percepat penyembuhan. Afifa butuh Alvan selain obat-obatan. Citra tak mau merusak kebahagiaan Afifa karena egois.
Afifa cepat habiskan buburnya dengan wajah sumringah. Pagi cerah secerah hati Afifa. Gadis kecil itu tak perlihatkan gejala sedang demam. Telah kembali segar bak ikan hidup dari sungai.
"Sayang papi kenyang?" tanya Alvan sambil letakkan mangkok kosong ke atas meja kecil.
"Kenyang...ayok pulang!" rengek Afifa tak sabar ingin keluar dari ruang membosankan itu.
"Ssttt..Afifa harus sabar tunggu pak dokter. Afifa mau ke kamar mandi? Dari kemarin Afifa tidak pipis maupun pup. Papi gendong ya!"
Citra tersadar kata-kata Alvan. Dari kemarin Afifa memang tak minta buang air kencing maupun buang air besar. Ke mana cairan tubuh yang masuk? Penyakit apa lagi tertanam di tubuh mungil itu.
"Amei mau pipis?" tanya Citra ulang pertanyaan Alvan.
Kepala mungil Afifa angguk. Citra bergerak menurunkan infus lalu menguncinya agar tidak mengalir bisa sebabkan penumpukkan darah di selang. Citra beri kode pada Alvan agar bantu Afifa ke kamar mandi. Keduanya barengan bantu Afifa di kamar mandi.
Alvan dengan hati-hati letakkan anaknya di kloset duduk warna putih bermerek mahal. Benda berbahan batu keramik itu terpadu serasi dengan bathtub di sudut kamar mandi. Kamar mandi ini terlalu mewah untuk jadi kamar mandi rumah sakit.
"Papi keluar aja deh! Amei sama mami saja." Afifa malu-malu kucing Alvan berada dalam kamar mandi menunggunya pipis. Gimanapun Afifa gadis kecil punya rasa malu kendatipun itu bapaknya. Afifa ingin tampil layak nona sempurna di mata Alvan.
"Ok...papi tunggu di luar! Sudah siap panggil papi ya!" Alvan tahu diri segera undur diri.
Afifa merasa lebih leluasa buang air kecil beserta pup yang tertahan sejak kemarin. Rasa kuatir Citra berubah rasa lucu melihat anak gadisnya mulai lakukan ritual panggilan alam.
Air seni Afifa lumayan banyak. Bunyi air jatuh ke kloset cukup panjang durasinya. Air seni yang terkumpul sejak kemarin kini berlomba keluar berbaur dengan air lain.
__ADS_1
"Amei mau pup?"
"Ngak mi...cuma pipis! Mami mau cebokin Amei?"
"Tentu sayang..." Citra ambil selang shower bidet untuk bersihkan daerah kewanitaan Afifa. Sebagai umat Islam wajib bersihkan daerah kewanitaan bila selesai buang hajat. Baik hajat besar maupun hajat kecil. Hukumnya tetap sama.
"Sudah mi! Tak usah panggil papi. Amei bisa jalan sendiri kok!"
"Oh gitu ya! Syukurlah anak mami mulai kuat! Ayok mami bantu!" Citra meraih cairan infus lalu bantu gadisnya keluar dari kamar mandi. Langkah Afifa masih lemah belum fit seratus persen.
Demam berdarah bawa efek cukup banyak. Tulang sakit dan kulit akan tumbuh ruam merah berbintik. Afifa belum lalui fase itu. Semoga saja imun Afifa bagus bisa lalui tahap demi tahap capai kesembuhan total.
Alvan menanti di depan pintu kamar mandi tersentak waktu lihat putrinya sudah sanggup berjalan di atas kaki sendiri. Alvan cepat-cepat bantu Afifa capai tempat tidur. Afifa mulai sehat tapi belum sembuh total.
Berkat bantuan Alvan kini Afifa duduk manis di atas kasur. Gadis kecil ini berseri saksikan kedua orang tuanya akur. Ke apa tidak dari dulu mereka kumpul begini. Afifa kan bisa pamer punya papi ganteng dan kaya.
"Papi makan dulu biar kuat gendong Amei! Amei ini berat lho walau kecil. Koko saja tak sanggup gendong Amei."
"Oh iya...siang nanti anak papi mau makan apa?"
"Dim sum seafood, es krem, crepe cokelat dan bakpao isi kacang hijau."
Makanan Afifa lebih condong ke menu Chinese. Mungkin lama tinggal Tiongkok membuat selera Afifa mengarah ke sana. Alvan kok jadi kuatir kehilangan putrinya bila terusan hidup seperti orang Tiongkok. Bisa saja Citra bawa kabur anak-anaknya lagi. Di mata Citra belum ada keikhlasan Alvan masuk ke hidup anak-anaknya.
"Papi akan beli untuk anak papi yang cantik. Papi sarapan dulu ya!"
"Ok..." Afifa tertawa perlihatkan gigi depan yang ompong. Gigi susu anak ini mulai tanggal satu persatu ganti gigi orang dewasa. Setiap orang akan lalui tahap ini.
Alvan duduk di sofa cicipi kopi yang mulai dingin. Laki ini tak protes berusaha maklumi keadaan. Tak mungkin Alvan kejam paksa Citra cari kopi panas. Mereka berada di rumah sakit bukan di rumah.
Alvan rindu juga pada masakan dan pelayanan Citra yang nyaris perfect selama menjadi isteri Alvan. Masakan Citra enak cocok dengan selera Alvan. Tidak mewah berjejal daging, namun sedap di lidah.
"Bapak tidak masuk kantor? Afifa bisa menunggu bapak! Pergilah kerja! Afifa sudah baikan kok!" Citra beri nasehat merasa tak enak merampas waktu kerja Alvan.
"Tak ada niat kabur?" Alvan angkat kepala kontak langsung dengan mata Citra.
"Kabur ke mana? Dokumen aku di tangan bapak. Atau bapak berbaik hati kembalikan dokumen aku?"
"Ngak usah mimpi! Aku akan balik siang nanti. Hubungi aku bila ada apa-apa."
"Baik..." sahut Citra ringan.
"Baik apaan? Memang kamu tahu nomor hp aku? Jelas sekali berbohong! Mana ponselmu?"
"Aduh tuan Takur! Pak Hans kan ada nomor ponsel bapak. Kenapa dibikin ribet? Sudah pergi sono!"
Alvan tidak open kata-kata Citra. Laki ini tetap tuntut Citra beri ponselnya agar mereka bisa saling berhubungan tanpa libatkan orang lain. Alvan sudah tahu Hans ada niat terselubung pada Citra. Mana mungkin Alvan bahayakan diri beri kesempatan pada Hans makin dekat dengan Citra. Bila perlu Citra tak usah kerja lagi. Cukup di rumah urus anak-anak.
Sayang orang itu Citra tak suka berhutang budi sekalipun itu bapak anak-anak. Makin jarang komunikasi makin bagus bagi Citra. Jika perlu tak usah saling kontak sama sekali.
Alvan berdiri di hadapan Citra pamer tubuh besarnya. Citra mendongak panjangkan leher balas tatapan Alvan dengan hati mengkal. Gaya diktator Alvan belum sembuh walau Citra telah persembahkan bocil-bocil cantik.
__ADS_1