ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN

ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN
Mertua Galak


__ADS_3

Benar Citra masih dipenuhi berbagai pertanyaan. Kalau memang Alvan mencintainya mengapa tegas menjatuhkan talak walaupun dipaksa oleh kakek Wira. Sebagai seorang lelaki seharusnya Alvan berani melawan demi cinta sucinya.


Citra berjalan sambil melamun sehingga tidak sadar menabrak orang di depannya. Citra mengaduh seperti menabrak tembok tebal. Jidatnya berdenyut kesakitan karena menabrak dada seseorang.


"Berjalan sambil melamun sangat berbahaya bu dokter!" kata seseorang membuat Citra terbelalak.


Orang di depan Citra meraih kepala Citra lalu mengusapnya penuh kasih sayang. Lelaki itu tidak malu-malu ekspresikan kemesraan di depan umum. Beberapa orang yang menyaksikan adegan mesra ini mengulum senyum. Tontonan gratis antara dokter dan pengusaha kaya.


"Mas Alvan...ngapain ke sini? Bukankah di kantor masih banyak masalah?" Citra menarik badan jauhi Alvan agar tidak muncul gosip tidak menyenangkan.


"Sudah ke kantor...Aku mau ajak kamu jenguk papa sekalian makan siang bersama. Daniel akan gabung dengan kekasih kecilnya."


"Kekasih kecil? Sejak kapan dia bermain petak umpet?"


"Sejak gadis itu datang! Yok kita jenguk papa! Kau dari mana?"


"Dari kak Karin. Dia minta pulang. Aku akan urus prosedur dia pulang!"


Alvan memejamkan mata hampir melupakan wanita yang telah khianati dirinya. Bayangan Karin makin menjauh dari pikiran Alvan. Alvan terlalu fokus pada Citra dan anak-anak hingga lupakan orang samping. Mengapa justru wanita yang dilukai Karin beri perhatian berlebihan.


Alvan tak tahu Citra lakukan semuanya karena dia seorang dokter atau karena berhati malaikat.


"Biar kusuruh Hans atur! Kita ke tempat papa saja! Kau sudah kontrol kesehatan papa?"


"Belum...aku ke tempat kak Karin dari ruang operasi! Rencana setelah ini aku akan kontrol pasien. Tampaknya aku tak bisa ikut kalian makan siang. Tugasku masih banyak!"


"Tak bisakah kau alihkan pada dokter lain?"


"Setiap dokter punya pasien sendiri pak Alvan! Apa mas sedang ajar pegawainya bermalasan?"


"Aku pingin makan siang dengan isteri aku! Aku masih rindu pada gigitan manjamu! Nanti kau obati luka di dadaku ya! Kena cakar kucing imut!" bisik Alvan membuat Citra tersipu-sipu. Citra mundur selangkah agar tak jadi pusat perhatian. Mata orang awam itu ganas. Lebih jeli dari mata kucing.


Citra belum siap jadi bulan-bulanan masyarakat. Dia pasti dianggap wanita nakal menggoda Alvan yang di kenal punya isteri selebgram top. Orang mana tahu apa yang terjadi di dalam. Mereka beramai hanya lihat dari kulit luar.


"Mas jangan cerewet! Aku akan segera kontrol pasien satu persatu. Pasienku tidak banyak. Nanti terakhir baru ke tempat papa."


"Ok...aku tunggu kamu! Makan yang banyak biar kuat meong nanti malam!" bisik Alvan sebelum pergi.


"Dasar mesum..."


"Eh...hampir lupa! Gimana hasil test DNA kamu? Semoga kamu bukan bagian Perkasa! Aku takkan mampu melawan nenek tua berebutan cucu."


"Harapan apa itu? Sayang harapan mas meleset! Aku memang bagian dari Perkasa."


"Ya ampun... siap-siap perang! Nenek lawan nenek rebutan cucu. Apa kau pikir mama akan ijinkan cucunya di bawa ke Perkasa?"


Citra hampir melupakan masalah baru yang bakal datang. Bu Dewi dan Bu Sobirin pasti akan kobarkan bendera perang merebut hak asuh cucu mereka. Belum apa-apa keduanya saling klaim ingin membawa cucunya pulang ke rumah. Keduanya sama-sama berhak atas cucu-cucu mereka. Yang bingung pastilah Alvan dan Citra.


Mereka tak mungkin menyakiti hati orang tua yang sangat mendambakan kehadiran cucu-cucu mereka. Ini bukan persoalan kecil yang bisa diselesaikan hanya dengan kompromi. Andaikata Azzam dan Afifa dioper sana-sini ikan akan mempengaruhi kehidupan anak-anak itu. Mereka pasti bingung menentukan di mana mereka harus menetap. Tidak mungkin seminggu di sini seminggu di sana. Jadwal sekolah mereka pasti terganggu.

__ADS_1


"Gimana ini mas? Kok aku merasa ngeri?"


"Sudahlah nanti itu kita pikirkan. Sekarang kamu pergilah bertugas dan jumpai kami di kamar papa!"


Citra mengangguk patuh pada Alvan. Untuk saat ini Citra tidak memiliki ide ke mana mereka harus menetap. Yang penting cari solusi menyelesaikan rasa lapar nenek-nenek itu terhadap cucu.


Citra meninggalkan Alvan dengan hati penuh tanya. Mungkinkah Alvan mempunyai solusi menyelesaikan permintaan kedua belah pihak. Keduanya mempunyai kuku yang sangat tajam mencengkeram segala masalah di bawah telapak tangan. Apa kata dunia kubu yang sama kuat memperebutkan hak asuh cucu-cucu mereka. Bisa bisa menjadi santapan para wartawan yang haus akan berita. Waktu itu kedamaian akan sirna dalam hidup Citra.


Alvan menemui papa dan mamanya di ruang rawat pak Jono. Hari ini tampak lebih ceria. Wajah pak Jono mulai cerah tidak sepucat kemarin. Kehadiran Bu Dewi menjadi obat mujarab bagi pak Jono.


Di dalam ruangan hanya ada Bu Dewi dan Pak Jono saling cengkeraman membahas kisah cinta mereka. Apalah jadinya bila terbuka aib pak Jono berselingkuh dengan Karin. Bu Dewi pasti akan drop tak memaafkan manusia bermoral Dajjal itu. Tapi untunglah Alvan masih menahan diri tidak buka kesalahan papanya.


"Assalamualaikum..." sapa Alvan maju sampai ke depan Bu Dewi.


"Waalaikumsalam...sendirian? Mana Citra?" Bu Dewi mencari sosok menantunya yang satunya.


"Lagi kontrol pasien. Sebentar lagi juga ke sini! Gimana papa? Sudah enakan?"


"Sudah...papa ingin istirahat di rumah saja! Citra kan bisa merawat papa di rumah."


Alvan tersenyum pahit dengar keinginan papanya. Pak Jono tak tahu kalau Citra bukan hanya milik mereka. Citra juga punya tulang punggung tak kalah kuat menopang belakangnya. Keluarga Perkasa tak kalah dari keluarga mereka.


"Pa...Baru hari ini Alvan tahu kalau Citra itu cucu kandung pak Sobirin. Suroso supir kakek itu anak pak Sobirin aslinya bernama Hamka. Mereka sudah test DNA dan hasilnya memang Citra keturunan Perkasa. Bukan mudah kita bisa bawa Citra pulang ke rumah karena mereka juga menuntut cucu dan cicit mereka."


Bu Dewi dan Pak Jono melongo. Kisah baru lagi? Mengapa banyak sekali kejadian terjadi akhir-akhir ini. Mengapa Tuhan tak biarkan mereka menikmati hari tua dengan tenteram. Baru saja dapat kabar gembira punya cucu cantik kini ada yang ingin rebut hak asuh cucu mereka.


"Itulah fakta! Mereka juga sangat mendambakan cucu dan cicit mereka. Kita harus cari jalan terbaik supaya tidak ada yang tersakiti. Kita semua punya hak yang sama."


"No...no...itu anak-anak kamu Van! Mereka lebih condong ke kita!" Bu Dewi mulai lagi dengan sikap egonya. Sebelumnya hujat Citra ingin harta kini ingin kuasai Azzam dan Afifa.


"Ma...bukan Alvan yang besarkan anak-anak. Itu murni hasil keringat Citra! Kalau dibilang hak, kita semua tidak ada hak. Hanya Citra yang berhak. Dia belum pernah meminta satu senpun dari Alvan jadi biarkan Citra yang tentukan. Dia sangat bijak walau usianya masih muda."


"Kamu ini selalu bela Citra.. tanpa kamu memang dari mana anak-anak? Tidak bisa.. Azzam dan Afifa harus tinggal bersama mama. Anak Karin sudah keguguran. Azzam dan Afifa jadi harapan kita!"


"Bu...Alvan itu benar! Alvan sudah banyak salah pada Citra. Masih untung Citra ijinkan Alvan mengenal anaknya. Kalau dia bilang itu bukan anak Alvan bisa saja! Hargai Citra! Dia itu anak baik." bujuk pak Jono tak ingin perpanjang masalah apalagi telah bawa nama Karin. Dengar nama itu saja perut pak Jono terasa mules ingin muntah.


"Gimana kalau Citra pilih pulang ke Perkasa?"


"Citra bukan orang gitu Bu! Dia pasti akan pikir solusi terbaik." bujuk pak Jono meredakan keegoisan istrinya. Menantu sebaik Citra belum memuaskan Bu Dewi. Gimana pula Karin yang binal kayak kuda liar. Meringkik sana sini.


"Pokoknya Azzam dan Afifa harus tunduk pada kita." ketus Bu Dewi buang muka.


Alvan menghela nafas merasa dadanya sesak. Mengapa ibu yang biasa bijak berubah tingkah laku jadi egois. Apa angin Kalimantan mengubah wanita itu jadi keras?


Bu Dewi tidak sadar mempunyai cucu luar biasa. Kalau Bu Dewi masih bertahan dengan sikap angkuh bisa jadi akan jadi bulanan Azzam. Anak itu mana ijinkan orang menghujat maminya. Cukup beberapa kalimat Azzam akan bungkam kan mulut Bu Dewi.


"Ma...Alvan beruntung jumpa Citra lagi! Kenapa mama berubah sinis pada Citra? Kita yang harus malu pada Citra telah biarkan dia menderita besarkan tiga anak tanpa didampingi siapapun. Jujur Alvan tak berani memaksa Citra beri hak pada kita. Tapi Alvan percaya Citra bukanlah orang egois!"


"Bukankah dia cucu orang kaya? Bagaimana bisa menderita?"

__ADS_1


"Ma...hasil test baru keluar hari ini! Citra juga baru jumpa keluarganya! Hargai jerih payah Citra dong! Kok Alvan malu mama asyik sudutkan Citra?"


Bu Dewi menghempas badan ke sofa dengan wajah tidak ramah. Bu Dewi tidak rela cucunya dibagi dengan orang lain. Itu keturunan Lingga. Jadi harus ikuti peraturan Lingga.


"Mama akan bilang sama Citra kalau Azzam dan Afifa harus ikut ke rumah keluarga Lingga."


Alvan tak tahu harus ngomong apa pada mamanya yang sangat egois itu. Citra sudah banyak mengalah masa harus ditekan terus. Alvan harus memikirkan solusi terbaik agar diantara dua keluarga besarnya tidak ada yang tersakiti. Wajar saja keluarga Perkasa juga menginginkan cucu dan cicit mereka. Di mana-mana orang tua tetap menginginkan keturunan mereka apalagi Hamka telah meninggal. Citra adalah satu-satunya peninggalan Hamka.


"Ma ..Alvan baru saja baikan dengan Citra dan Azzam. Apa tega membuat kami ribut lagi hanya masalah sepele! Kami akan cari jalan terbaik agar semua puas. Alvan harap mama jangan sempat membuat Citra pergi lagi dari hidup Alvan. Alvan sudah bahagia bersama Citra dan anak-anak." kata Alvan dengan nada parau. Dada Alvan cukup sesak dibuat oleh mamanya. Dia bisa menerima Karin dengan segala kekurangan tapi mengapa tidak bisa menerima Citra dengan segala kelebihan.


"Bu...kalau ibu asyik tekan Alvan maka kita akan kehilangan segalanya. Biarkan Alvan dan Citra yang atur jalan terbaik. Papa rasa Citra takkan biarkan kita kehilangan cucu."


Bu Dewi berdiam diri memikirkan upaya buat Citra takluk pada peraturan Lingga. Azzam dan Afifa jelas-jelas anak Alvan mengapa harus takluk pada keputusan Citra. Citra hanya anak mantu, harusnya tahu diri ikuti semua perkataan suami.


"Assalamualaikum..." sapa Citra menyembulkan kepala dari balik pintu. Citra datang kontrol kesehatan pak Jono ditemani suster dan dokter magang.


"Waalaikumsalam... ayo masuk nak!" balas Pak Jono senang melihat Citra datang menjenguknya.


"Gimana perasaan papa hari ini?" Citra membuka lembaran riwayat catatan medis pak Jono dari kemarin.


"Sudah agak lega tapi masih ada rasa kaku! Kapan papa boleh pulang?"


"Kita cek dulu ya!" Citra memasang stetoskop ke kuping untuk cek semua organ tubuh pak Jono. Citra angguk puas melihat perkembangan mertuanya. " Secara umum papa mulai sehat. Tapi harus rajin fisioterapi untuk lancarkan motorik pergerakkan. Tidur saja bukan jawaban untuk kesembuhan. Kalau mau besok papa boleh pulang!"


"Benarkah? Apa tak perlu datang ke sini lagi?"


"Ya harus dong! Minggu depan kita cek up sekali lagi. Citra akan fisioterapi papa tiap sore agar cepat sehat. Papa yang semangat ya!" Citra mengambil catatan medis lalu menulis beberapa catatan di situ untuk jadi notes ke depan.


"Gimana pulang hari ini?" tanya Bu Dewi tiba-tiba.


"Ma...biarkan papa nginap satu malam lagi! Besok Citra akan periksa lagi untuk pastikan papa bisa pulang. Kita habiskan dulu obat sampai besok. Sabar satu malam lagi ya!" ujar Citra penuh kesabaran.


"Iyalah! Apa bisa bawa Azzam dan Afifa ke sini? Mama pingin jumpa mereka."


"Jam segini mereka masih sekolah. Mereka pulang jam empat sore."


"Sekolah apa itu habiskan waktu anak seharian. Kapan mereka bisa main? Mereka itu anak kecil bukan robot. Pindahkan sekolah biasa saja!" sungut Bu Dewi keberatan Azzam dan Afifa di press sekolah seharian.


"Ok...kalian lanjutkan tugas kalian! Nanti ibu menyusul!" Citra beri aba-aba pada perawat dan dokter magang untuk keluar duluan. Tak enak bila orang luar lihat mereka bersitegang hanya karena sekolah anak-anak.


"Ya Bu dokter..." ketiga anak muda itu pergi keluar tinggalkan Citra bersama keluarga pemilik rumah sakit.


Setelah merasa aman barulah Citra bicara tentang pendidikan Azzam dan Afifa. Citra susah payah masukkan kedua anaknya ke sekolah internasional untuk dapat pendidikan memadai demi masa depan gemilang Azzam dan Afifa. Mana mungkin Citra cabut anaknya dari sekolah bagus.


"Ma...mereka itu pindahan sekolah internasional dengan prestasi sangat bagus. Azzam selalu dapat ranking satu. Dia bisa ikuti semua pelajaran dengan baik. Sayang kalau kita cabut mereka dari sekolah. Dasar pendidikan Azzam dan Afifa adalah bahasa Inggris dan Mandarin. Kalau sekolah di sekolah reguler masih harus adaptasi lagi. Jadi kumohon jangan usik sekolah mereka!" Citra merangkap tangan mohon pengertian ibu mertuanya. Cara Citra sopan hargai Bu Dewi.


"Tapi mereka tidak dapat main seperti anak lain. Mama kasihan mereka."


"Mereka sekolah sampai hari Jumat. Sabtu Minggu mereka libur total. Itu waktu mereka main!"

__ADS_1


__ADS_2