ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN

ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN
Kenangan Karin


__ADS_3

Karin juga membawa satu kotak terbuat dari kayu jati. Kotak itu tampak terukir indah dengan gembok kecil tergantung di depan. Karin menarik Afifa ke sofa lalu berikan kotak itu pada gadis kecil ini sambil beri kunci yang sangat mungil.


Afifa terpaku diberi kotak yang ntah apa isinya. Otak Afifa tidak selicin Azzam tak bisa cerna apa kemauan Karin.


"Apa ini Bunda?"


"Afifa simpan ini ya! Hadiah Bunda untuk Afifa. Kelak Afifa sudah dewasa butuh semua ini. Bunda sudah tak butuh barang ini. Ini kenangan dari bunda untuk anak bunda." Karin menepuk bahu gadis kecil itu.


Afifa masih bingung tak tahu harus bagaimana. Mereka sudah dilatih tak boleh terima pemberian orang. Mau tolak takut Karin tersinggung. Kotak yang diberi Karin cukup berat untuk ukuran anak sekecil Afifa.


Alvan dan Citra sudah duluan keluar menyusun koper Karin ke dalam mobil. Mereka berdua tidak mengetahui Karin menitipkan satu kotak pada Afifa.


"Bunda ini berat sekali. Amei tidak sanggup angkat." Afifa meletakkan kotak itu di atas sofa tak berniat memiliki kotak indah itu.


Karin berjongkok di depan Afifa sambil mengelus kepala anak itu. Karin ingin memberi yang terbaik yang dia miliki pada Azzam dan Afifa untuk menembus kesalahan di masa lalu. Tak ada yang dapat Karin lakukan saat ini selain memberi apa yang dia rasa berharga kepada Azzam dan Afifa.


"Sayang...bunda menitip ini kepadamu dan kamu harus jaga sebaiknya sampai kamu dewasa. Amei janji mau jaga amanah Bunda?"


"Iya bunda!"


"Bagus..bunda bantu naikkan ke mobil! Nanti sampai di rumah berikan pada mami ya! Bilang titipan bunda."


Kepala kecil Afifa mengangguk. Afifa menerima saja karena Karin mengatakan menitip bukan memberi. Kalau diberi Afifa pasti akan menolak. Dari sejak sudah terdidik tak boleh tamak.


Karin tinggalkan Afifa sejenak untuk jumpa dengan Bik Ani dan Iyem di dapur. Karin ingin pamitan dengan kedua pembantu yang telah temani dia bertahun-tahun. Jasa mereka takkan terlupakan oleh Karin. Mereka yang melihat Karin jatuh bangun selama menjadi isteri Alvan.


Bik Ani dan Iyem tak dapat menyembunyikan rasa sedih harus berpisah dengan Karin walau untuk sementara. Karin memang judes sebagai majikan. Namun Karin royal pada mereka, tidak masalahkan segala pengeluaran walau tanpa catatan. Ada majikan pegang kalkulator ke manapun pergi. Setiap pengeluaran dihitung sampai ke pecahan duit terkecil.


"Bik...Yem...kalian jaga rumah ya! Kalau pak Alvan minta kalian tinggal bersama Citra kalian pergi saja. Citra itu baik sekali orangnya. Dia beratus kali lebih baik dariku."


"Kapan nona Karin balik?" buru Iyem tak kuasa menahan sedih.


"Belum tahu...doakan saja! Aku permisi dulu." Karin memilih segera angkat kaki sebelum runtuh air mata. Mereka tetap mendapat tempat di hati Karin walau cuma pembantu. Tak bosan mereka melayani majikan menyebalkan macam Karin.


Karin melihat Afifa masih duduk di sofa memandangi kunci dan kotak pemberian Karin. Kedua benda ini menarik perhatian Afifa cuma Afifa tidak berani gegabah buka tanpa ijin Karin. Di tambah amanah untuk serahkan ke Citra. Afifa harus lebih teguh laksanakan amanah dari bunda mereka.


Karin hentikan langkah menatap bocah kecil yang duduk terpaku terpana pada kotak di atas sofa. Citra memang jago segalanya. Jago didik anak, jago mengambil hati orang dan jago sebagai dokter handal. Julukan apa cocok disematkan pada nama Citra. Dr. Citra Perfect. Itu julukan cukup pantas.


"Sayang...yok kita ke depan! Kotak ini Amei kasih ke mami setelah sampai rumah. Sekarang diam saja. Kita kasih kejutan buat mami ya!" Karin mengangkat kotak itu diikuti Afifa dari belakang. Kunci kecil masih berada dalam genggaman gadis kecil ini. Benda kecil itu sangat berarti bagi Afifa karena barang amanah.


Alvan dan Citra sudah berada dekat mobil menanti Karin keluar. Mereka tidak terlalu perhatikan kotak yang dibawa Karin. Karin memasukkan kotak itu di jok belakang lalu letakkan di bawah kaki agar tak menarik perhatian orang. Kotak itu berisi semua barang berharga Karin selama menjadi isteri Alvan. Sudah saatnya kembali pada yang berhak.


Alvan tersenyum tatkala lihat Karin telah datang bersama Afifa. Kedua tampak akrab melegakan Alvan. Andai Karin tidak kena HIV cerita tentu akan lain. Alvan takkan mudah lepas tanggung jawab terhadap Karin. Nafkah lahir batin tetap harus Alvan berikan pada wanita itu. Di sini Citra dijamin akan menjauh. Dalam satu rumah tak mungkin ada dua koki.


Panggung sandiwara hidup Alvan cocok diangkat jadi satu buku novel. Penuh lika liku mencapai kata bahagia. Semoga ini akhir dari kepahitan hidup Citra. Karin pergi untuk mencari jati diri di pondok pesantren.

__ADS_1


"Kita berangkat?" tanya Alvan setelah Karin datang.


"Iya Van.."


Bik Ani dan Iyem turut mengantar Karin sampai ke dalam mobil. Mereka juga berharap Karin menemukan jawaban untuk hari depan.


Karin melambai pada Bik Ani dan Iyem. Bik Ani melihat kabut tebal di mata Karin harus tinggalkan rumah yang telah dia tempati puluhan tahun. Banyak kenangan indah terukir di rumah itu. Karin telah rela kepemilikan diberikan pada anak-anak Alvan. Cepat atau lambat semuanya akan kembali pada orang yang berhak. Karin tak mau kelak ada saudaranya menuntut hak atas rumah itu.


Keluarga Karin tak pernah open pada Karin. Yang penting transferan Karin masuk tiap bulan itu merupakan kewajiban Karin. Alvan sendiri kurang dekat dengan keluarga Karin. Setahun tak jumpa sekali. Ntah apa usaha mereka Alvan juga tak tahu.


Perlahan mobil yang ditumpangi Karin meninggalkan rumah sarat kenangan. Hubungan Karin dengan rumah itu terpenggal bersama kepergian Karin. Karin sudah yakin ingin menghabiskan sisa hidup di pesantren yang dipimpin oleh Abi Syahdan. Mungkin Karin akan menemukan kebahagiaan dari sisi lain walau tidak bersama Alvan lagi.


Alvan melirik Karin yang memasang wajah sendu duduk di samping Afifa. Ada rasa iba mengalir dalam urat darah Alvan. Mengapa seorang wanita punya reputasi tinggi macam Karin harus terlempar ke lembah nestapa. Terlalu angkuh menantang arus hidup? Karin lupa bahwa setiap manusia punya batas tersendiri. Tidak megah selamanya. Setiap detik dapat merubah jalan hidup seorang insan bila tak disikapi dengan baik.


"Kak...kalau tidak betah kasih kabar ya! Mas Alvan akan jemput kamu!" Citra menguarkan suara memecah keheningan.


"Iya...kalian harus baik-baik. Jangan bertengkar untuk hal sepele! Alvan sebagai kepala keluarga harus tegas katakan tidak pada orang yang tidak penting. Aku bukan tak tahu banyak wanita seperti aku antri mau masuk dalam hidup Alvan. Aku cuek karena merasa berada di puncak. Semua kuanggap remeh. Ternyata berakhir tragis."


Citra kurang suka Karin mengeluh di depan Afifa. Afifa belum waktu mendengar kisah sedih Karin. Anak itu belum mengerti kalau papinya punya banyak penggemar wanita. Penggemar yang bisa hancurkan mereka dalam sekali tepuk.


Semua itu tak wakili apapun bila Alvan teguh tak goyah digoda setan bermake up tebal. Dari luar tampil sebagai sesosok wanita cantik tapi isi dalam belatung.


"Kak ..ada Amei..." ucap Citra kuatir Afifa terpengaruh pada kata Karin. Nanti malam si cilik pasti akan lontarkan pertanyaan pada Citra. Gadis kecil ini selalu ingin tahu apabila ada hal menyangkut papi tercintanya.


Afifa tak banyak mulut tak ingin menjawab. Si cilik ini Mempunyai pola pikir tersendiri. Afifa menyadari ada sesuatu yang tak beres dengan hubungan Karin dengan kedua orang tuanya. Satu kisah rumit yang tak dapat diurai hanya pakai sepatah dua patah kata. Butuh waktu bertahun untuk jelaskan pada Afifa. Untuk saat ini Citra tak mau mengacaukan pikiran Afifa. Afifa lugu tidak seperti Azzam mampu memilah masalah.


Mereka tiba di bandara langsung disambut dua wanita muda berhijab. Mereka ditugaskan Abi Syahdan untuk menjemput Karin ke Demak. Mereka akan tiba di Semarang baru melanjutkan perjalanan lewat darat ke Demak.


Alvan hanya menyalami Karin tanpa pelukan perpisahan. Laki ini betulan sudah mati rasa pada Karin. Semua kelakuan Karin telah mengikis rasa cinta Alvan.


Alvan minus pelukan, Karin mendapatnya dari Citra dan Afifa. Kedua wanita Alvan memeluk Karin sebagai salam perpisahan. Citra hanya berharap Karin mendapat hidayah. Semua dilapangkan.


Karin berangkat bersama dua wanita yang menjemput Karin. Ada rasa iba dan sedih di hati Citra. Wanita yang selalu arogan akhirnya jatuh ke level paling rendah. Citra akan petik pelajaran berharga dari kesalahan Karin. Semoga Citra tidak khilaf terjerembab macam Karin. Hanya itu doa dari Citra.


Alvan mengajak kedua wanitanya meninggalkan bandara. Alvan berencana bawa Afifa dan Citra jalan-jalan mumpung hari masih siang. Mereka jarang sekali punya waktu luang untuk habiskan bersama.


Afifa lebih banyak berdiam diri sejak kepergian Karin. Wajahnya juga tak secerah waktu pertama kali jumpa Karin. Citra perhatikan anak gadisnya berulang kali cari di mana kunci kesuraman Afifa.


Afifa biasanya tak pandai simpan rahasia suka ceplas-ceplos kini muram durja. Mata anak itu sebentar-sebentar lihat ke bawah jok pantau barang titipan Karin. Apa isi kotak itu? Mengapa harus main rahasia?


"Sayang ..kok diam?" tegur Alvan heran tak mendengar ocehan Afifa.


"Pi...siapa sih bunda itu? Apa hubungan dengan papi dan mami?"


"Sayang...bunda itu saudara kita! Kita mau ke mana?" Alvan berusaha alihkan perhatian Afifa ke tempat lain agar tidak fokus pada Karin.

__ADS_1


"Pulang pi... Amei mau lanjut belajar!"


"Lha...kita sudah keluar kenapa tidak jalan-jalan? Gimana kalau kita main ke taman hiburan?"


"Nggak Pi...pulang saja!" jawab Afifa buang mata ke luar jendela mobil.


Apa yang dikuatirkan Citra tiba juga. Semula Citra mengira masalah akan datang dari Azzam ternyata dugaan Citra meleset. Orang tak masuk hitungan justru jadi batu sandung. Afifa pasti terpengaruh pada kata Karin sewaktu dalam mobil. Anak itu menyimak setiap kalimat Karin.


"Baiklah kita pulang!" ucap Citra turuti keinginan Afifa. Anak itu tak boleh bad mood karena besok dia harus ujian naik kelas. Citra bukan memaksa Afifa harus dapat ranking bagus tapi anak itu harus dapat nilai bagus agar naik kelas.


Alvan menyadari perubahan buah hatinya tak banyak omong lagi mengarahkan mobil ke rumah. Arah angin tak dapat diprediksi. Angin topan yang ditakuti tidak bertiup ke arah mereka. Justru serangkum angin mamiri merusak tataan yang telah tersusun rapi.


"Sayang ..kenapa tidak senang?" tanya Alvan sambil nyetir.


Kenderaan tidak banyak di jalan membuat mobil melaju bebas menuju ke tujuan. Hari Minggu orang pada istirahat di rumah ataupun ajak keluarga ke luar kota. Tanpa kemacetan jalan raya menjadi tempat nyaman berkendaraan. Mobil Alvan melaju mulus.


"Amei capek Pi..." sahut Afifa singkat.


"Ya sudah kita pulang!"


Keheningan mencekam dalam mobil sampai tiba di rumah. Afifa paling duluan turun berdiri di samping pintu begitu mobil berhenti. Pintu mobil di biarkan terbuka lebar tanpa ada niat menutup pintu itu.


Alvan menyusul turun melihat mengapa anaknya berubah aneh. Alvan tak mungkin biarkan Afifa berada dalam dunia asing yang tak pernah dia lalui. Anak itu jarang pikir macam-macam kayak Azzam. Sekali berpikir lebih menyeramkan dari Azzam. Kalau Azzam kontan hajar orang pakai untaian kalimat sedang Afifa memilih pendam perasaan. Satu lagi pengenalan sifat anaknya.


"Papi gendong?" tawar Alvan hibur anaknya agar jangan manyun.


Afifa menatap Alvan tanpa bersuara. Anak ini menunjuk kotak di bawah jok mobil. Alvan tancapkan ke arah yang ditunjuk Afifa. Satu kotak ukiran dari kayu jati terduduk di bawah jok mobil. Alvan belum pernah lihat kotak itu tak urung heran dari mana kotak itu.


Citra memutar langkah ikut melihat apa yang sedang dilihat anak dan suaminya. Citra mengernyit alis heran mengapa benda itu tiba-tiba ada dalam mobil. Perasaan tadi tak ada.


"Apa itu sayang?"


"Itu titipan bunda. Katanya untuk Amei tapi simpan sama mami."


Alvan tundukkan kepala masukkan setengah badan ke dalam mobil mengeluarkan kotak amanah Karin. Lumayan berat untuk ukuran anak sekecil Afifa. Tentu bukan Afifa yang masukkan kotak itu ke dalam mobil. Karin sendiri bawa kotak itu luput dari jangkauan mata Alvan dan Citra.


"Ini kuncinya!" Afifa menyerahkan kunci mungil kepada Citra tidak antusias seperti biasa. Itu bukan gaya Afifa tidak riang dapat kejutan.


Citra dan Alvan saling berpandangan tak paham maksud Karin memberi kotak itu pada Afifa. Isinya bikin penasaran.


"Yok kita masuk!" ajak Alvan sambil bawa kotak dari Karin. Alvan cukup penasaran apa tujuan Karin main rahasia. Mengapa dia tak langsung omong dengan Citra. Mengapa melalui anak kecil.


Citra membuka pintu gunakan kunci pribadi. Pintu terkuak harum mints menyeruak memanjakan penciuman. Citra menduga Omanya menyuruh pembantu membersihkan rumahnya setelah mereka pergi.


Omanya memang orang tua the best. Selalu memikirkan yang terbaik untuk cucu dan cicitnya. Citra makin cinta pada ibu yang telah melahirkan ayahnya.

__ADS_1


__ADS_2