
Bu Dewi makin tak paham apa yang telah terjadi selama dia pulang kampung halamannya. Begitu banyak kejadian lolos dari pantauan mata tuanya.
"Mungkin kita harus duduk bersama bahas cerita kalian. Apa sekarang kamu telah rujuk dengan Citra?"
"Tidak perlu rujuk karena perceraian kami tidak sah karena talak yang kuucapkan di bawah tekanan. Alvan hanya minta mama sayangi Citra dan anak-anak. Tak usah berpikir Citra seperti Karin hanya tahu uang. Citra itu tulus berhati emas. Ayok kita masuk! Citra telah menunggu kita!"
Bu Dewi mengangguk setuju menemui suaminya. Bu Dewi harus belajar menyingkir prasangka buruk pada Citra. Yakin Citra adalah yang terbaik untuk Alvan. Citra telah berikan hadiah tak ternilai pada keluarga Lingga yakni anak-anak pewaris kerajaan Lingga.
"Ayok kita temui papamu! Mama belum mau temui Karin bila dia memang sejahat ceritamu!"
"Tak usah bahas itu dulu! Kita temui papa dulu! Ingat mama harus tegar!"
Alvan kembali menggandeng mamanya menuju ke ruang pak Jono dirawat. Citra dan kedua anaknya masih menunggu dekat meja informasi. Citra tetap tenang tidak berubah raut muka walau sempat diragukan Bu Dewi. Hanya Azzam belum menurunkan suhu panas di hati. Bawaan anak itu masih kaku. Azzam belum puas umbar rasa kesal karena Omanya merendahkan nilai Citra. Bagi Azzam Citra adalah segalanya.
Alvan dan bu Dewi berjalan menghampiri Citra dan kedua anaknya. Dalam lubuk hati yang terdalam Bu Dewi memang tidak meragukan Citra namun sebagai seorang ibu rasa was-was itu tetap ada. Citra yang menghilang sekian tahun tiba-tiba muncul membawa anak-anak untuk menemui Alvan. Siapapun akan ragu akan ketulusan Citra.
"Ayo kita naik ke atas menjenguk Opa!" kata Alvan sambil meraih tangan Afifa agar ikut dengannya menuju ke ruang VVIP.
Citra dan Azzam tidak berkata apapun selain ikut dari belakang. Untuk saat ini Citra memilih berdiam diri memberi kesempatan pada Alvan untuk menjelaskan pada mamanya. Kalau Citra yang mengeluarkan pembelaan diri nanti mama Alvan mengira Citra omong kosong. Biarlah semua mengalir seperti air! Karena yang bening akan tetap mengeluarkan kejernihan sejati.
Beriringan mereka berlima masuk ke dalam lift untuk menuju ke ruang di mana Pak Jono dirawat. Saat ini tak ada yang ingin mengeluarkan kata-kata karena masih merasa ada sesuatu yang mengganjal di hati. Apapun itu akan dibicarakan nanti setelah jumpa dengan Pak Jono. Citra tak ingin memperburuk suasana hati semua orang. Makanya Citra memilih mengalah.
Bunyi Ting tanda lift berhenti. kelima orang itu keluar dari lift bergerak menuju ke ruang rawat Pak Jono. Bu Dewi yang berjalan paling depan karena tak sabar ingin melihat kondisi suaminya. Pada kesempatan ini Alvan meraih tangan Citra memohon pengertian wanita yang dia cintai ini.
Citra melirik tangan Alvan sekilas lalu tersenyum. Tak ada tanda-tanda Citra akan memarahi Alvan.
"Terima kasih sayang!" bisik Alvan sangat bersyukur pada kemurahan hati Citra tidak mempermasalahkan pertanyaan Bu Dewi.
"Sudahlah mas! Lupakan semua itu!" ujar Citra dengan suara pelan takut didengar oleh Azzam.
Bu Dewi segera masuk ke dalam ruang rawat inap Pak Jono tanpa mengetuk pintu. Hati wanita tua ini sangat teriris melihat suaminya terbaring tak berdaya di atas ranjang rumah sakit. Pak Jono tertidur pulas dijaga oleh seorang perawat yang tak lain adalah Nadine.
Nadine terngantuk-ngantuk segera berdiri begitu melihat kehadiran keluarga Pak Jono. Nadine membungkuk memberi hormat kepada keluarga Pak Jono walaupun dia sangat mengenal mereka. Masalah pribadi dan tugas tetap harus dibedakan.
"Aku keluar sebentar!" Nadine tahu diri minta pamit keluar untuk memberi kesempatan pada keluarga ini berkumpul. Nadine tetap orang luar yang tidak berhak mencampuri urusan dalam keluarga.
Bu Dewi berusaha menahan tangis agar tidak mengganggu tidur Pak Jono. Suami yang baru ditinggal beberapa waktu nampak kurus dan pucat. Apa yang telah terjadi pada suaminya itu? Mengapa mendadak lelaki yang biasa sehat drop drastis.
"Ssssttt... Mama harus kuat! Papa itu hanya stroke ringan dan akan segera pulih kembali."Alvan menguatkan Bu Dewi supaya tegar.
Azzam dan Afifa memilih duduk manis di sofa. Kehadiran mereka hanyalah sebagai pelengkap untuk menyenangkan Bu Dewi dan Pak Jono.
Perlahan Bu Dewi mendekati Pak Jono lalu mengelus wajah suaminya dengan lembut. Hati Bu Dewi teriris melihat kondisi suaminya. Mungkin ini karma yang harus diterima Pak Jono untuk menebus semua kesalahan yang telah diperbuat pada anaknya.
Sentuhan Bu Dewi membangunkan Pak Jono dari tidur. Sinar mata yang mulai meredup tampak menyimpan sejuta duka dan rasa bersalah. Namun Pak Jono tak mungkin mengungkap kesalahan yang telah dia perbuat pada istrinya. Nanti malah akan membawa akibat yang lebih fatal.
__ADS_1
"Mama sudah pulang?" tanya Pak Jono berusaha menahan Isak. Keangkuhan seorang lelaki kokoh tak tersisa sedikitpun. Yang ada hanya sesosok lelaki tua rapuh tak berdaya.
"Maafkan Mama meninggalkan Papa dalam kondisi tidak sehat. Mama sangat egois meninggalkan Papa sampai jatuh sakit. Berjanji tidak akan pergi kemanapun lagi!" Bu Dewi menggenggam erat tangan suaminya yang bergetar.
Mendengar kata-kata istrinya hati Pak Jono makin dipenuhi oleh gumpalan rasa bersalah. Kalau bukan dia berbuat serong kejadian hari ini mungkin tidak pernah ada. Alvan tidak akan menghukumnya dengan mengasingkan dirinya ke Jogja. Tapi itulah risiko orang yang bersalah.
"Papa juga bersalah ma! Tidak bisa memberi Mama kenyamanan. Tapi kini Papa telah sehat berjanji akan menjadi suami yang lebih baik. Dan jadi opa yang baik buat cucu-cucu kita. Mama sudah jumpa dengan cucu-cucu kita yang cantik?"
Bu Dewi mengangguk sambil melirik ke arah Azzam dan Afifa. Ternyata Pak Jono sangat menyukai kedua cucunya.
"Iya mereka sangat cantik! Papa harus cepat sembuh agar kita bisa menjaga cucu kita."
"Iya...papa bangga punya menantu sebaik Citra. Dia bagai matahari menyinari rumah kita yang kelam. Sinilah Citra! Papa ingin ucapkan terima kasih telah menjadi pelita di keluarga!"
Citra hampiri pak Jono tanpa ragu. Ini untuk menunjukkan bakti sebagai seorang anak mantu. Citra menepuk pundak mertuanya dengan senyum tulus. Bisa membagi kebahagiaan merupakan harapan Citra sebagai insan. Kalaupun Pak Jono bukan bagian dari keluarga Alvan Citra tetap akan berusaha memberi yang terbaik.
Alvan agak cemburu melihat Citra dekat dengan papanya. Masih terbayang di mata Alvan hubungan Karin dan Pak Jono. Semoga saja tidak terulang lagi kejadian yang sangat tidak menyenangkan.
"Mulai saat ini keluarga kita tidak akan terpisahkan lagi. Berharap kita saling memaafkan kalau memang terjadi kesalahan." kata-kata itu sebenarnya ditujukan kepada Alvan. Pak Jono ingin meminta maaf pada Alvan secara tidak langsung.
"Tidak ada yang disalahkan Pa. Penting Papa sehat dulu baru bisa menjaga cucu-cucu kita." kata Bu Dewi menyemangati suaminya.
Pak Jono manggut-manggut setuju pada kata istrinya. Semoga saja skandalnya dengan Karin tidak terkuak. Ini tergantung pada kebaikan hati Alvan. Kalau Alfan ingin menutup semua kesalahan Pak Jono maka keluarganya akan aman selamanya.
"Tidak.. tidak.. Mama akan di sini menjaga papa. Mama sudah sangat rindu ingin ngobrol dengan papa tentang perjalanan mama. Apa Papa tidak rindu pada mama?" tanya Bu Dewi tak urung merasa malu mesraan dengan suami di depan anak cucu.
"Pasti rindu ma... hari sudah mulai senja! Lebih baik kalian bawa pulang anak-anak untuk beristirahat. Cucu-cucu opa nampak sangat lelah."
"Sebaiknya Mama pulang dulu! Istirahat semalam besok baru datang ke sini lagi." pinta Alvan bujuk Bu Dewi agar pulang ke rumah.
Bu Dewi menggeleng tidak menerima usul Alfan karena merasa berdosa telah meninggalkan suaminya sehingga jatuh sakit. Padahal semua itu tidak ada hubungan dengan Bu Dewi. Pak Jono sendiri yang cari masalah mengkhianati keluarga.
"Biarkan Mama menemani papa mas! Ini akan bagus bagi Papa dan Mama. Nadine akan mengawal kesehatan Papa dan Mama. Aku akan duluan pulang membawa anak-anak untuk bersih-bersih." ucap Citra mengizinkan Bu Dewi menemani pak Jono. Kalau Bu Dewi dilarang bersama suaminya malah akan menambah beban pikiran.
"Aku akan mengantar kalian!"
"Tidak perlu mas. Kami bisa pulang dengan taksi online. Mas temani saja Papa dan Mama ya!" Citra berkata dengan sangat penuh pengertian.
Citra ingin memberi waktu pada Alvan untuk berkumpul dengan kedua orang tuanya. Pasti banyak yang akan dibincangkan oleh mereka. Salah satunya adalah kemunculan dirinya dan anak-anak. Citra dan anak-anak pasti tidak akan luput dari pembahasan keluarga ini. Citra berada diantara mereka maka akan terjadi kecanggungan.
"Baiklah! Hati-hati di jalan! Aku akan segera pulang! Aku akan usahakan pulang untuk makan malam bersama."
Citra hanya tersenyum menanggapi kalimat-kalimat Alvan.
"Ayok anak-anak beri salam opa dan Oma! Kita pamitan pulang." Citra memberi aba-aba pada kedua anaknya untuk menyalami Bu Dewi dan Pak Jono.
__ADS_1
Kedua anak yang terlatih sopan itu segera bergerak menjalani Bu Dewi dan Pak Jono tidak ketinggalan Alvan. Kedua anak itu pun sudah tidak sabar ini meninggalkan ruang yang sangat sumpek bagi mereka.
Dua pasang mata tua itu berbinar melihat satu persatu cucunya menyalami mereka. Afifa dengan kecantikan yang mirip boneka dan Azzam yang gantengnya 11 12 dengan Alvan. Tidak perlu tes DNA sudah dipastikan kedua anak itu milik Alvan.
"Assalamualaikum..." Citra pamitan tinggalkan ruang rawat Pak Jono.
Tiga pasang mata menetap punggung ketiga orang yang hilang di balik pintu. Hati Alvan serasa kosong setelah ditinggalkan oleh ketiga orang yang sangat dia sayangi. Sejujurnya Alvan tidak rela ditinggal oleh Citra walau hanya untuk beberapa saat.
Alvan sendiri heran mengapa dia bisa jadi bucin akut pada Citra. Padahal dia tak pernah kuatir ke manapun Karin pergi. Menghilang berminggu juga tak soal asal ada kabar. Apa ini yang namanya mabuk cinta? Cinta yang datang terlambat.
"Van..." panggil Bu Dewi membuyarkan pesona Citra di mata Alvan.
"Ya ma...pingin sesuatu?"
"Nanti koper Mama diturunkan di sini karena pakai Mama di dalam semua. Jadi Mama tidak perlu pulang ke rumah untuk mengambil pakaian lagi."
"Iya ma...Alvan akan ambil untuk mama. Nanti malam Alvan harus pulang ke rumah Citra. Untung akan kawal papa dan mama. Kalau butuh sesuatu katakan pada Untung."
"Tenang saja...Suster Nadine itu cekatan dan rajin. Dia sangat terlatih." sahut Pak Jono menepis segala kekuatiran Alvan.
"Alvan tahu tapi tetap harus ada Untung."
"Terserahlah! Oya...apa rencanamu terhadap Afisa? Apa kau akan biarkan anakmu diasuh orang luar? Lama-lama dia akan lupa pada kita!" Pak Jono teringat pada anak kembar Alvan yang jauh di mata.
Alvan melempar diri ke sofa tak punya planning untuk bawa Afisa pulang ke tanah air. Citra wanti-wanti pada Alvan untuk tidak usik Afisa. Anak itu punya prestasi di negara lain. Bukan hal gampang jemput Afisa.
"Alvan belum punya rencana. Kita akan usaha bawa dia pulang. Selama Citra dan anak-anak masih di sini kita tetap punya kesempatan."
"Apa maksudmu nak? Apa Citra berniat pergi lagi?"
"Dulu iya dia berencana menetap di Tiongkok gabung dengan Afisa." Alvan jujur cerita rencana besar Citra ingin tinggalkan dia karena tak ingin usik kebahagiaan Alvan dan Karin. Tak disangka cerita berbalik arah. Semua berantakan karena ulah Karin.
"Apa maksudnya bawa pergi anak-anak kamu?" seru Bu Dewi menegang.
"Ma...Citra tak bersalah. Yang salah itu Alvan. Alvan yang terlantar dia! Dia tidak tertarik pada segala warisan maupun materi. Dia punya harta tak ternilai yakni anak-anak pintar. Mama jangan memojokkan Citra! Dia bukan Karin yang gila segalanya."
Bu Dewi termenung mendengar penjelasan Alvan. Apakah Citra setulus itu terhadap Alvan?
"Mengapa dia muncul setelah sekian tahun menghilang?"
"Citra tidak mencariku tapi aku yang menemukannya. Kalau Alvan tidak datang ke rumah sakit ini maka selamanya Alvan tidak akan mengetahui kalau Citra berada di rumah sakit ini. Kalau dia memang menginginkan harta keluarga kita maka dari dulu dia telah menuntutnya. Mengapa dia lebih rela bersusah payah membesarkan anak tanpa bantuan kita. Itu karena dia tidak mau Alvan hadir kembali di dalam hidup dia."
"Lalu mengapa sekarang dia menerimamu?"
"Kalau bukan berkat bantuan Afifa dan Azzam Sampai detik ini aku tidak dapat mendengar Citra. Aku butuh waktu untuk meluluhkan hatinya. Dan kini aku telah mulai mendapatkan kepercayaan Citra Alvan mohon Mama tidak merusak apa yang telah Alvan capai." Alvan bangkit dari sofa membungkukkan badan memohon pada Dewi agar tidak menghujat Citra. Citra terlalu mulia untuk dijadikan kambing hitam dari semua kesalahannya.
__ADS_1