
Alvan melarikan mobil secepat mungkin menuju ke rumah sakit untuk bertemu wanita tercinta. Mengapa perasaan ini selalu membuncah bila ingat nama Citra. Dulu Karin ke mana, tidak pulang seminggu Alvan tidak merasa kehilangan. Alvan cuek bebek yakin Karin bisa melindungi diri sendiri.
Kemacetan saat orang pulang jam kantor bikin Alvan merasa terpenjara di ruang terbuka. Mobil merayap ikuti kenderaan yang telah duluan merayap di sepanjang jalan raya. Alvan mengurut dada melihat panjangnya antri mobil.
Alvan segera angkat telepon hubungi Citra kalau dia akan telat sedikit. Alvan jadi sensitif takut Citra berpikiran buruk padanya. Ini akibat timbul rasa takut kehilangan Citra sekali lagi.
Ponsel Alvan terhubung dengan ponsel Citra. Dari seberang terdengar jawaban panggilan.
"Assalamualaikum mas..."
"Waalaikumsalam...maaf ya sayang! Mas terjebak macet!"
"Oh...mas masih jauh? Atau aku pulang dengan ojek online saja! Mas langsung ke rumah jadi nggak usah mutar-mutar."
"Enak banget tuh tukang ojek. Dekat-dekat istri aku! Nggak boleh...nanti tukang ojek jatuh cinta sama kamu!"
Citra tak dapat tahan tawa lihat betapa konyol Alvan. Kalau tukang ojek jatuh cinta pada pelanggan berarti satu hari berapa puluh kali jatuh cinta.
"Macam saja Mas ini! Tukang ojek tidak punya satu gunung cinta. Masa setiap pelanggan harus jatuh cinta."
"Kan tidak semua cewek secantik kamu! Aku yakin dia akan main mata sama kamu!"
"Dasar tukang cemburu! Aku tunggu di sana saja! Awas jangan sampai isterinya tumbuh jamur menanti sang pangeran katak datang menjemput."
"Namanya juga pangeran katak, melompat pelan tapi pasti datang. Duduk manis di dalam jangan kena angin! Ntar masuk angin."
"Iya mas! Fokus di jalan...jangan lirik kiri kanan lihat paha mulus! Mata bintilan nanti! Daa.. assalamualaikum"
"Waalaikumsalam.."
Alvan lega Citra pengertian. Coba kalau Citra bersifat kekanakan. Rambut Alvan kontan gugur bagai pahlawan gugur di Medan perang. Alvan hemat sampo karena kepala sudah klimis bebas dari rambut.
Butuh waktu satu jam Alvan baru berhasil mencapai tempat Citra bertugas. Perjuangan menjemput istri jadi ajang uji kesabaran Alvan. Hanya menjemput istri tapi seperti baru lepas dari sergapan puluhan musuh di arena perang. Perjuangan mengharukan.
Alvan memarkir mobil turun mencari Citra. Kalau Alvan hanya telepon minta Citra datang ke parkiran tidaklah menunjukkan niat tulus terhadap isteri. Menjemput harus keluar dari hati langsung sampai di tempat.
Alvan menemukan Citra duduk termangu di antara pengunjung rumah sakit. Dari jauh Alvan seolah melihat sesosok arca terpahat sempurna. Siluet tubuh Citra memancarkan cahaya terang kena bias lampu yang menyala di atas plafon.
Alvan hentikan langkah menatap pemandangan indah tertangkap mata. Pemandangan alami tanpa rekayasa pose buatan.
Alvan tersadar setelah seorang anak kecil tak sengaja menabrak Alvan. Kaki Alvan bergeser ke belakang akibat tabrakan dalam ruangan. Bukan Alvan yang jatuh melainkan anak itu terjerembab ke lantai.
Alvan menurunkan badan membantu anak itu berdiri. Anak itu menatap Alvan ketakutan tahu dia yang salah telah berlarian di lantai rumah sakit yang licin. Alvan mengembangkan senyum agar si bocah tidak takut. Alvan teringat pada anak-anak yang berada jauh di mata. Ketiga anaknya telah terbang jauh mencari hiburan.
"Kau tak apa nak?" tanya Alvan lembut.
"Maafkan aku om! Candra tidak sengaja."
Tangan Alvan terulur mengusap kepala anak itu. Wajah anak itu tidak tegang lagi mendapat perlakuan halus dari Alvan.
"Tak apa...kamu kok sendirian di sini? Mana orang tua kamu?"
"Mama sedang ambil obat. Aku di suruh tunggu sini!"
"Papa kamu mana?"
"Papa sudah pergi dengan Tante lain. Mama jadi sakitan gara papa pergi." kata itu polos. Perkataan anak itu mencubit hati Alvan terasa sakit. Alvan sedih mendengar kisah anak ini.
Ternyata begini nasib anak ditelantarkan oleh bapak. Memendam kesedihan tak tahu harus mengadu pada siapa. Pada orang asing seperti dirinya saja anak itu langsung ungkap kronologi mengapa dia berjalan sendiri.
__ADS_1
Bagaimana Citra hadapi semua ini sendirian. Dengan tiga anak pula. Segalanya dia hadapi sendirian. Alvan makin bersalah pada Citra. Betapa ratus tahun Alvan harus merenungi kesalahan baru terbayar semua penderitaan Citra. Apa yang dia lakukan saat ini belum secuil tebus rasa bersalah.
"Ayo om antar ke mama kamu!Jangan berlari-lari di rumah sakit! Nanti jatuh lagi!"
"Itu mama!" anak itu menunjuk seorang wanita yang datang hampiri mereka dengan tergesa-gesa.
"Maaf...maaf...anak aku menyusahkan ya!" wanita itu langsung minta maaf walau belum tahu apa yang terjadi.
"Oh tidak...aku hanya heran anak ini sendirian di rumah sakit!" sahut Alvan ramah.
"Iya..aku ambil obat tadi! Terima kasih sudah menjaga anakku. Kami permisi." wanita itu menggandeng anaknya berlalu dari hadapan Alvan.
Anak itu melambai di balas Alvan dengan lambaian juga. Jujur Alvan ikut prihatin pada keadaan wanita itu. Tersirat duka di mata namun dia berusaha tegar. Alvan memetik pelajaran baru dari insiden kecil ini.
Kerakusan seorang lelaki melukai banyak orang. Hanya gara sifat buruk seorang cowok tenggelamkan satu kapal. Laki itu mendapat kebahagiaan semu sementara si perusak bahagia di atas derita orang. Yang paling derita tentu wanita tercampakkan dan anak-anak.
Alvan angkat sumpah takkan duakan Citra walaupun ada bidadari turun dari kahyangan khusus jumpai Alvan. Penyakit hati itu harus dienyahkan supaya tak ada kata duka.
Alvan melangkah mantap dekati wanita yang cukup lama menantinya. Kalau bukan di tempat umum Alvan ingin memeluk Citra erat-erat menyatakan penyesalan tak terhingga. Di sini Alvan hanya bisa menggenggam tangan Citra membawanya keluar dari rasa bosan menunggu.
Citra yang tak mengerti apa-apa hanya manut dibawa Alvan ntah ke mana.Ke manapun pergi tak masalah asal bersama orang yang kita harapkan ukir kata home sweet home.
Keduanya meninggalkan rumah sakit pulang ke rumah. Hari ini Citra pasti sangat lelah lakukan operasi cukup lama. Rencana Alvan ajak Citra nonton terpaksa disimpan dulu.
Istirahat adalah kata yang tepat untuk Citra. Malam ini Alvan berjanji pada diri sendiri untuk memanjakan Citra. Apapun keinginan Citra adalah sabda yang harus dilaksanakan.
Bik Ani dan Iyem sudah memasak untuk mereka berdua. Masakan sekarang lebih sederhana karena yang makan cuma Alvan dan Citra. Tak perlu masak seheboh sebelumnya.
Jam delapan malam Alvan menerima telepon dari Heru mengatakan mereka sudah berada di Beijing. Semua berjalan lancar berkat kepintaran Azzam mengurus mereka melewati semua prosedur masuk negara itu. Azzam tampak ngerti sekali di mana harus melapor. Heru makin bangga pada cucunya itu.
Citra dan Alvan menarik nafas lega sehubungan mendaratnya keluarga besar mereka di tempat jauh di mata. Tinggal Azzam dan Afifa bahagia berkumpul dengan saudara kembar mereka.
Citra mengajak Alvan menikmati teh penenang jiwa sebelum merebahkan diri di kasur menyongsong mimpi. Sudah lama Citra tidak rilex mencicipi minuman kesukaannya. Pasangan muda ini minum teh sambil nonton TV di ruang keluarga. Kegiatan ini nyaris tak pernah mereka lakukan sejak berjumpa hingga sekarang.
"Mas...kalau kita ke Beijing bagaimana perusahaan?"
"Aku percaya pada Untung dan Andi. Untuk proyek aku tutup dulu sampai kita balik. Aku tak ingin waktu kita terganggu. Kita harus gunakan liburan ini menyatu hati kita."
"Mas yakin bisa tinggalkan pada Untung dan Andi?"
"Insyaallah...kau ada pasien urgen?"
"Pasien itu tidak dapat kita prediksi. Hari ini tak ada Mungin besok berjibun. Sakit kan tak dapat kita ramal."
Alvan tertawa akui kebenaran kata Citra. Sakit mana bisa diramal kecuali sakit bohongan.
"Kau benar...Oya...gimana kesehatan mama? Ada laporan dari dokter sana?"
"Sejauh ini aman. Cuma butuh fisioterapi. Untuk operasi mungkin tidak perlu lagi. Cuma Mama tak mungkin sembuh total kayak dulu. Dia tetap ada cacatnya. Kalau papa bisa pulih total cuma harus jaga diri jangan sampai stroke kedua."
"Kalau mereka pulang sini bolehkah mereka tinggal bersama kita?"
Citra terdiam sesaat tak segera menjawab. Citra sama sekali tak keberatan cuma takut anak-anak tak bisa akur dengan Oma mereka. Bu Dewi terlalu egois mau menang sendiri. Citra hanya kuatir pada Azzam dan Afisa.
"Aku sih tidak keberatan tapi gimana Azzam? Aku takut dia adu mulut dengan Omanya. Ini akan bawa dampak buruk pada kesehatan beliau."
Alvan memaklumi rasa kuatir Citra. Alvan akui sifat aneh Azzam. Anak tak mudah menerima orang asing terutama yang suka buat masalah. Alvan sendiri berkali-kali terlibat konflik dengan putranya itu.
"Kita tak mungkin biarkan papa dan mama tanpa pengawasan."
__ADS_1
"Aku tak keberatan mas tinggal bersama orang tua mas. Mas bisa datang kalau ada waktu luang."
Alvan menyentik dahi Citra tak suka istrinya beri masukan tak masuk akal. Mana ada pasangan suami isteri tinggal berpisah. Itu sama saja pisah ranjang. Alvan maunya setiap detik melihat Citra. Jika perlu beli kain gendong ikat Citra di dalam gendongan biar tak terpisah.
"Mau pisah lagi? Ogah...aku mesti beli obat tidur! Aku tak bisa tidur tanpa kamu."
"Sejak kapan kena insomnia?"
"Belum kena...kalau kita pisah jamin kena insomnia! Apa kau tak iba lihat suami linglung mikirin pujaan hati?"
Citra mencubit pinggang Alvan geli dirayu malam begini. Alvan tidak berkelit biarkan Citra berbuat sesuka hati. Jepitan jari Citra mana ada terasa di kulit tebal Alvan. Malah seperti digaruk kepiting kecil.
"Tua-tua keladi.."
"Makin tua makin menjadi. Ya kan?" gurau Alvan menyambung olokan Citra.
Jari Citra kembali beraksi dengan jepitan lebih kencang. Kali ini Alvan mengaduh perih karena cubitan mendarat di perut.
"Sakit..."
"Tuhlah hadiah buat orang kesambet jin cabul!"
"Cabul tapi suka kan?"
Citra buang muka menutupi rasa jengah diolok Alvan. Sikap Citra masih ada malu-malu kucingnya. Padahal ekor sudah ada tiga. Masih saja malu pada Alvan.
"Mas...apa kak Karin tidak ada kabar sama sekali? Aku kuatir terjadi sesuatu padanya. Kapan kita pergi lihat dia?"
Alvan pererat pelukan menimbang buka perceraian dia dengan Karin atau tidak. Apa Citra sudah siap dengar kisah berakhir sedih antara dia dan Karin.
"Sayang...bagaimana kalau Karin menemukan kebahagiaan di pesantren. Dia menemukan orang yang bisa pahami dia. Apa yang harus mas lakukan?"
Citra memutar kepala menatap Alvan menyimak apa tujuan Alvan omong begitu. Apa Citra ketinggalan sesuatu dari kisah Karin?
"Maksud mas?"
"Karin telah menemukan orang yang cocok dengannya yakni ustad Syahdan. Mereka merasa senasib nyambung merangkai hari-hari ke depan. Apa mas harus menahan dia meratapi hari tanpa masa depan?"
"Kita tak berhak melarang dia! Kak Karin pantas mendapat kesempatan kedua. Mungkin begitu dia akan sehat."
"Iya mas juga pikir gitu maka mas ambil keputusan bebaskan dia cari kebahagiaan yang dia dambakan."
"Mas ikhlas?"
"Seikhlasnya...mas tak boleh mengikat Karin tanpa sanggup beri apa yang dia mau. Mas sudah ceraikan dia disaksikan ustad Syahdan. Habis masa Iddah mereka akan menikah." Alvan berterus terang walau tak tahu bagaimana reaksi Citra.
Alvan merasakan kuku jari Citra menancap dalam dagingnya. Sakit namun Alvan diam tak berteriak sakit. Alvan tahu reaksi Citra tidak sepele. Istrinya ini pasti akan syok Alvan telah menceraikan Karin di saat wanita itu butuh biaya pengobatan. Penyakit Karin butuh biaya tidak sedikit karena tiap hari harus konsumsi obat. Bagaimana kalau Alvan hentikan bantuan pada Karin. Umurnya berada di ujung tanduk..
"Mas...kenapa tidak diskusi dulu?" tanya Citra dengan suara bergetar.
"Karin memaksa karena dia ingin cepat dihalalkan ustad. Aku bahkan bilang tunggu aku ada waktu ke sana bersamamu tapi dia menolak. Mas tak bisa menahan dia sambut hari bahagianya."
"Pengobatan dia bagaimana?"
"Mas sudah janji tiap bulan bantu biaya pengobatan seluruh santri di sana. Bukan cuma Karin kita bantu tapi seluruh warga di sana. Mas juga sudah transfer sedikit uang untuk Karin sebagai pegangan. Rumah sudah dia wariskan pada Azzam sedang perhiasan dia berikan pada Afifa. Itu sudah tunjukkan niat baik Karin. Dia bilang tak butuh semua itu lagi. Dia cuma butuh kedamaian. Dia juga minta maaf padamu!"
Citra sedih sekali mengingat nasib Karin. Dari seorang top terpuruk dalam kubangan penyakit. Kebanggaan apa bisa dipamerkan wanita itu lagi. Selagi ada dia lupa daratan, mabuk dalam dosa. Kini tersisa hanya sepenggal nafas yang ntah kapan berhenti.
Citra merebahkan kepala ke dalam pelukan Alvan. Kali ini Alvan telah bertindak benar bila semua yang diceritakan Alvan sesuai fakta. Alvan tak boleh merampas hari damai Karin.
__ADS_1
"Apa kak Karin bahagia sekarang?" tanya Citra sambil dengar irama detak jantung Alvan yang teratur. Tak ada degup kencang artinya pemilik jantung tidak sedang menyimpan kebohongan.
Jantung orang berbohong akan berdetak lebih kencang terpicu oleh rasa gugup. Jantung Alvan berdegup tenang buat Citra sedikit lega.