ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN

ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN
Berkunjung ke Kantor


__ADS_3

Azzam dan Afifa saling berpandangan lalu tersenyum. Mereka ingin memberi kejutan kepada Andi karena laki itu tidak mengetahui kedatangan mereka. Azzam dan Afifa sembunyi di balik dinding sebelahnya dan mengetuk pintu kaca Andi.


Andi berdiri menatap ke arah pintu melihat siapa yang mengetuk pintu kalau bukan Alfan tentu untung karena cuma mereka berdua yang berada satu lantai dengannya. Andi tak melihat siapa-siapa di situ segera bangkit berjalan ke arah pintu untuk cek siapa yang mengetuk pintu.


Andi membuka pintu kaca menjulurkan kepala keluar untuk melihat siapa yang mengetuk pintu. Azzam dan Afifa segera keluar sambil berteriak keras membuat Andi terloncat kaget.


"Wow.... Astaghfirullahaladzim!" seru Andi sambil menepuk dada.


Belum hilang kaget Andi kemunculan dua bocah ini membuatnya cukup terkejut. Kehadiran Azzam dan Afifa membuat Andi tak percaya kalau itu memang bocah yang sangat dia sayangi.


"Koko...Amei..." seru Andi bergema di seluruh ruang luas ini.


Afifa meloncat ke pelukan Andi tak peduli laki itu siap atau tidak. Semula Andi kaget namun akhirnya tertawa lepas ditimpa tubuh gendut Afifa.


Afifa mengalungkan tangan ke leher Andi menatap laki itu face to face. Lama Afifa menatap wajah Andi lalu tertawa renyah.


"Kak Andi makin cantik!"


"Kak Andi Ini laki kok jadi cantik. Kak Andi nya tambah ganteng gitu dong!" Andi mencolek pipi Afifa yang main mirip bak pau. Gembul penuh daging.


"Kak Andi pasti rajin maskeran ya!"


"Iya dong! Kan sudah jadi orang penting. Wajah harus selalu fresh. Katakan pada kak Andi! Kalian datang dengan siapa?"


"Dibawa Papi kemari. Tadi kami dari sekolah mengambil hasil ujian. Koko juara 1 dan Amel juara 2."


Andi besarkan mata ikut bangga adik-adiknya mencapai prestasi yang sangat mengagumkan. Andi menurunkan Afifa lantas mengelus pipi Azzam sebagai ungkapan bangga pada adiknya itu.


"Selamat ya ko! Kamu tetap the best! Amei juga ya! Amei makin pintar. Tahun depan juara satu. Ayok masuk kantor kak Andi!" Andi membuka pintu kaca memberi jalan pada kedua anak itu masuk ke dalam ruang kerjanya yang tampak sangat bersih dan rapi. Seluruh ruangan mengeluarkan bau menyegarkan hidung.


Azzam dan Afifa duduk di atas 2 bangku yang memang disediakan untuk tamu. Andi senyam-senyum masih merasakan euforia keberhasilan kedua adiknya.


"Kak Andi tak punya apa-apa selain air mineral. Dan ini ada coklat almond. Koko dan Amei mau?" Andi membuka laci mengeluarkan dua batang coklat sama warna.


"Tidak usah kak! Nanti bentar lagi juga makan siang. Nanti mami marah kalau tidak bisa makan siang lagi. Apakah kak Andi betah kerja di tempat Papi?"


"Betah dong! Kata papi kak Andi harus les pembukuan biar lebih menguasai materi."


Azzam angguk-angguk setuju. Makin banyak belajar maka pengetahuan semakin banyak. Asal ada kemauan jalan untuk maju terbentang di depan mata. Tidak ada kata terlambat untuk belajar dan menimba ilmu.


"Apa setiap hari kak Andi duduk di sini?" tanya Afifa tak merasakan ada yang menarik dari ruang Andi selain bersih dan harum.


"Iya...kenapa?"


"Betapa bosannya ya kak!"


Andi ngerti maksud Afifa bahwa bekerja dalam ruangan tak ada tantangan. Tiap hari berhadapan dengan kertas dan komputer. Di mana ada keseruan?


"Kalau kita kerja tiap hari beda tugas karena perusahaan papi sangat banyak. Koko dan Amei harus cepat gede biar bisa bantu papi. Kapan kalian libur?"


"Mulai besok sudah libur. Kita mau berangkat jumpa Cece. Kak Andi mau ikut?" tanya Afifa lugu. Afifa tak tahu tanggung jawab Andi terhadap tugas cukup besar. Apa lagi perusahaan sedang dalam perbaikan sistim agar tak terulang lagi kejadian Selvia dan pak Hakim.


"Sekarang Kak Andi tak bisa menemani Amei berlibur karena pekerjaan kak Andi sangat banyak. Kak Andi hanya doakan kalian bahagia bersenang-senang dengan cece di sana. Terpenting jangan lupa bawa pulang oleh-oleh untuk kak Andi!"


"Beres kak! Nanti Amei beli tas yang paling cantik untuk kak Andi."


"Untuk apa tas? Kak Andi kan cowok. Beliin jaket yang keren ya!" rayu Andi tak bisa tinggalkan sifat feminim.


Azzam mengulum senyum lihat Andi merayu Afifa untuk dapatkan keinginan hati. Tak usah diminta Azzam pasti akan beli sesuatu untuk ketiga jagoan neon.


"Iya kak! Amei akan minta Cece pilih yang paling bagus untuk Kak Andi." janji Afifa diiyakan Andi.

__ADS_1


Selanjutnya hanya ada kelakar lucu ketiga orang ini. Semua kalimat koplak nan lucu bergema dalam ruang itu. Untuk sejenak Andi terhibur oleh kehadiran kedua bocah itu.


Di dalam ruangan Alvan meneleponi induk dari anaknya untuk kasih kabar baik mengenai prestasi mereka. Citra pasti bangga pada anaknya. Hasil kerja keras Citra berbuah hasil manis.


Alvan sengaja pindah duduk di sofa agar dapat posisi rilex ngobrol dengan isteri tercinta.


"Halo... assalamualaikum sayang! Lagi banyak pasien?"


"Waalaikumsalam..Ada juga...sudah pulang dari sekolah anak mas?"


"Kok anak mas? Anak kita sayang...mas sangat bangga pada kedua anak kita. Azzam ranking satu dan Afifa ranking dua."


"Amei dapat ranking dua? Alhamdulillah...jerih payahnya tidak sia-sia! Kalau Koko aku tidak heran. Dia hafal luar dalam materi ujian. Amei yang bikin kejutan."


"Selamat ya sayang! Harapan mu berhasil terwujud. Aku seperti dapat laba lipat ganda lihat prestasi anak-anak kita. Dapat proyek raksasa juga tidak sesenang ini. Kini tinggal tunggu kiprah Afisa. Apa bisa saingi kedua saudaranya."


Alvan mendengar tawa Citra sebut prestasi Afisa. Sedikitpun Citra tidak meragukan keunggulan Afisa. Prestasi Afisa tidak perlu diragukan. Citra yakin akan melampaui kedua saudaranya.


"Kalau Afisa mas tak perlu ragu. Dia anak tahu diuntung. Dia akan tunjukkan prestasinya untuk membanggakan keluarga di Beijing dan keluarga kita di sini."


"Mas percaya...lalu bagaimana rencana liburan anak-anak?"


"Itu kita harus tanya om Heru! Apa dia sudah siap bawa anak-anak terbang ke tempat Afisa."


"Nanti malam kita bahas di rumah! Apa kamu tidak ingin beri penghargaan pada anak-anak atas prestasi mereka?"


"Tak boleh...mereka berjuang untuk masa depan sendiri. Kita hanya boleh beri dukungan bukan banjiri mereka hadiah. Mereka belajar bukan untuk hadiah." tegas Citra terdengar kejam di kuping Alvan. Anak prestasinya bagus harusnya di beri sedikit rangsangan agar kelak makin semangat.


"Apa tidak kelewatan tidak hargai usaha mereka?"


"Mas sudah salah cara mendidik anak-anak. Kita harus mendidik mereka berdasarkan kemauan sendiri bukan harus dipaksa atau mengharap satu imbalan. Aku akan pulang cepat memasak enak tapi tanpa hadiah."


"Terserah nyonya besar saja! Sekarang mereka bersama Andi. Aku tak bawa Meraka pulang makan siang. Kami makan di sini saja!"


"Siap nyonya Alvan..tutup dulu ya! Assalamualaikum..."


"Waalaikumsalam..."


Alvan termenung lihat tangan besi Citra mendidik kedua anaknya. Cara Citra agak diktator namun cukup berhasil. Kedua anaknya tidak banyak menuntut barang-barang mainan layak anak kecil lain. Kedua anak itu menerima kalau dikasih. Tak pernah ada permintaan menguras kantong Alvan walau Alvan mampu penuhi segala tuntutan sang buah hati.


Lama berpikir Alvan meneleponi Andi untuk antar anaknya ke ruangnya. Alvan ingin memberi sesuatu pada kedua anaknya sebagai tanda Alvan peduli pada keduanya. Alvan bukan tidak ingat kata Citra tak boleh banjiri anak dengan hadiah tapi Alvan ingin tunjukkan kepeduliannya pada Azzam dan Afifa.


Andi membawa kedua bocah ke ruang Alvan. Andi mengetok pintu sebelum masuk sesuai adat ketimuran hargai tata krama.


"Masuk ..." kata Alvan dari dalam.


Andi dan kedua bocah itu masuk ke dalam. Kedua bocah itu menatap kagum pada ruang kerja Alvan yang mewah. Jauh beda dengan ruang Andi yang gersang. Di tempat Andi hanya ada kursi sedang di tempat Alvan ada sofa gede dan meja besar.


Afifa berlari ke arah Alvan lalu melihat pemandangan ke bawah lewat jendela kaca. Seluruh benda di bawah tampak kecil di lihat dari atas. Mobil-mobil di parkiran tampak seperti korek api.


"Kau kembali kerja. Oya pesan pada Untung untuk pesan makan siang untuk Azzam dan Afifa."


"Memangnya mau makan apa?"


"Untung akan atur."


"Sekalian punya aku ya pak!" ujar Andi ngeri-ngeri sedap. Takutnya kena semprot berani numpang titip orderan.


"Terserah kamu!"


Andi mengedipkan mata kepada Azzam. Anak lajang itu tidak lasak seperti Afifa. Azzam duduk manis di sofa menanti kata Alvan untuk mereka.

__ADS_1


"Pi...papi setiap hari sembunyi di kamar ini apa tidak bosan?" tanya Afifa setelah puas manjakan mata dengan pemandangan dari balik kaca tebal.


"Papi kan cari uang untuk Azzam dan Afifa. Biar banyak uang untuk sekolahkan kalian sampai ke luar negeri."


Afifa manggut kecil tanda paham. Alvan menarik tuan putrinya agar mendekat. Alvan ingin memeluk putri kesayangan sekali lagi atas kegigihan Afifa mengejar prestasi Azzam.


"Sini nak! Papi mau tanya Afifa mau hadiah apa?"


Afifa bukannya menjawab malah melempar pandangan ke arah Azzam. Afifa tak berani jawab takut salah omong. Mami mereka selalu ajar melakukan sesuatu tak boleh harap pamrih.


"Pi...kami tak perlu hadiah! Kami hanya minta papi dan mami saling sayang saja! Itu sudah merupakan hadiah paling berharga." Azzam wakili Afifa menyahut. Azzam cepat menyahut sebelum adiknya yang lugu meminta sesuatu.


Permintaan menusuk jantung. Azzam anggap hadiah dari Alvan cukup memberi kedamaian pada mami mereka. Citra sudah lama menderita karena Alvan. Sudah saatnya petik kebahagiaan tanpa ada gangguan lagi.


"Papi jamin itu nak! Hanya ada kita serta saudara kita yang lain. Opa Heru, om Gi, Uyut dan opa Oma. Tentu saja dengan kakak-kakak kalian. Papi janji." sahut Alvan terbata-bata.


"Terima kasih Pi! Hanya itu yang ingin Koko dengar!"


"Baik...cuma itu? Afifa tak mau beli boneka baru?" Alvan menawarkan tawaran menarik memancing hasrat Afifa untuk minta sesuatu.


"Nggak usah Pi! Kalau boleh Amei ingin tas baru. Tas Amei ada yang koyak pinggiran."


"Ok...lainnya?"


"Sepatu baru... pokoknya semua peralatan sekolah yang baru."


"Baik...nanti papi bawa kalian belanja! Sekalian punya Koko ya!" Alvan memalingkan wajah kepada Azzam.


Azzam hanya angguk tipis. Alvan tersenyum senang akhirnya berguna juga sebagai seorang papi. Anak berprestasi tidak memberi sesuatu untuk menyenangkan anak rasanya kelewatan.


"Kalau kalian lelah mau tidur di situ ada kamar. Masuk dan tidur. Papi akan bangunkan kalian kalau waktunya makan siang." Alvan bangkit dari kursi membuka pintu kamar istirahatnya untuk kedua anaknya.


Afifa si lincah duluan nyelonong masuk lihat apa isi di balik pintu yang dibuka Alvan. Azzam ragu untuk masuk karena itu ruang privasi Alvan. Azzam segan melangkah masuk takut menemukan sesuatu yang mencurigakan. Azzam hanya berdiri di depan pintu tidak susul Afifa yang duluan masuk. Afifa langsung naik ke atas tempat tidur tanpa banyak pikir. Beda dengan Azzam yang pikir panjang kali lebar.


"Azzam tidak mau istirahat?" tanya Alvan merasa anak lakinya menyimpan sesuatu.


"Siapa pemilik kasur ini?" tanya Azzam terdengar seperti menuduh.


"Itu tempat tidur papi kalau capek ataupun lembur. Kenapa? Azzam pikir ke mana?"


"Iya ruang ini punya papi tapi tempat tidurnya bisa saja milik bunda-bunda lain."


"Astaghfirullah..Azzam kok pikir gitu? Ini kantor nak! Tidak boleh ada maksiat. Ini murni tempat istirahat papi. Apa Azzam tak lihat papi tidak ijinkan pegawai lain baik ke lantai ini selain om Untung dan Kak Andi."


Azzam menyipitkan mata persis Citra interogasi Alvan pertama kali lihat kamar ini. Gaya anak ibu sama saja. Detektif selidiki kehidupan pribadi Alvan.


"Sengaja tak ijinkan orang ramai biar tidak tersiar gosip ada kuntilanak keliaran di sini?"


Alvan menghela nafas. Mulut beracun Azzam belum habis bisanya. Sekali-kali keluar juga bisanya menyembur pada Alvan. Perdamaian antara anak papi ini belum sepenuhnya total. Hanya gencatan senjata sementara, kapan saja bisa berkobar perang lagi.


"Azzam...papi bukan lelaki nakal suka simpan kuntilanak. Untuk apa sembunyikan hantu di kantor. Bikin aura kantor jadi suram."


"O ya?"


Dua kata o ya seperti tuduhan lebih mendetail. Azzam tak percaya maka keluarkan jawaban sekaligus pertanyaan.


"Azzam boleh tanya om Untung apa ada kuntilanak mampir di kamar ini! Tempat kita mencari rezeki tak boleh dikotori oleh maksiat. Azzam tak usah meragukan papi akan berbuat hal memalukan kalian."


"Iya...Koko di duduk di luar saja! Biar Amei main di dalam." Azzam menggeserkan kaki kembali duduk di sofa.


Alvan susah sekali baca pikiran Azzam. Anak itu selalu curiga pada Alvan padahal Alvan sudah sekuat tenaga tunjukkan ketulusan pada keluarga.

__ADS_1


Alvan tak menyalahkan Azzam masih curiga padanya. Ini tak lepas dari kesalahan Alvan di masa lalu. Alvan harus lebih giat cuci semua bayangan buruk dari otak Azzam.


__ADS_2