
Pagi hari Alvan mulai rewel ingin pulang. Laki itu persis anak kecil merengek pada ibu minta sesuatu. Citra harus lakukan pemeriksaan terakhir sebelum ijinkan Alvan pulang. Citra tetap seoang dokter yang harus patuhi peraturan pengobatan walau dia isteri Alvan. Peran isteri dan dokter adalah dua karakter berbeda.
Citra cek ulang semua kesehatan Alvan baru urus administrasi cek out dari rumah sakit. Citra sebagai dokter dan isteri dari pemilik rumah sakit justru harus beri contoh lebih baik dari orang lain.
Sebelum bawa Alvan pulang Citra menyempatkan diri menjenguk Laura yang berada tak jauh dari ruang rawat Alvan. Citra belum sempat cek kondisi Laura setelah operasi. Laura ada dokter sendiri jadi Citra tak boleh ikut campur ranah dokter lain. Untuk sekedar pantau mungkin tak jadi masalah.
Citra mengetuk pintu ruang rawat Laura. Citra berharap ada yang membuka pintu untuknya.
"Masuk!" terdengar sahutan dari dalam.
Tanpa ragu Citra menggeser pintu lihat ke dalam. Di dalam hanya ada seorang wanita paro baya dan Laura berada di atas brankar. Tangan gadis itu terbalut perban cukup panjang. Sekilas dilihat kondisi Laura cukup bagus.
"Bu dokter..."
Citra tersenyum sebagai balasan sapaan Laura. Seulas senyum tulus merupakan obat bagi si sakit.
"Bagaimana keadaanmu? Apa ada yang tidak enak?"
"Aman dah bu dokter...kapan aku bisa ikut bu dokter praktek lagi?"
"Huusss... tunggu sehat dulu! Hari ini aku tidak praktek karena suami aku cek out. Mungkin senin nanti aku baru masuk kerja lagi. Siapa teman kamu semalam?"
Laura tersipu malu tatkala citra bertanya siapa temani Laura. Citra menduga ada sesuatu buat gadis itu kesenangan. Apa lagi kalau bukan pujaan hati berada di samping. Tanpa perlu dijawab Citra sudah dapat duga siapa orang itu.
"Mas Daniel yang temani aku! Dia pulang agak pagian karena harus cafe." kata Laura terdengar bahagia.
Dalam hati Citra hanya bisa berdoa semoga ada benang merah tersambung antara dua insan ini. Daniel sudah cukup umur untuk menjadi seorang ayah. Laura juga sudah pantas menjadi seorang ibu rumah tangga. Biarlah Tuhan buka jodoh merea berdua.
"Aku permisi dulu. Semoga cepat sembuh ya! Jaga kesehatan!"
"Terima kasih bu dokter! Sampai jumpa senin nanti!"
Citra pamitan serta lega Laura dalam kondisi stabil. Kayaknya angin badai mulai reda dalam hidup Citra. Satu persatu kabar baik sampai ke telinga. Kini tinggal menunggu berita dari Beijing bagaimana kondisi keluarganya yang berada di sana. Citra sudah tidak sabar ingin segera berangkat ke sana untuk jumpa anak-anak.
Untung datang menjemput Alvan untuk pulang ke rumah. Asisten setia itu harus standby 24 jam untuk melayani majikan serta mengurus segala keperluan di kantor. Untung tak dapat menjenguk Alfan di rumah sakit karena mengurus segala sesuatu dengan sendiri.
Alvan sangat lega bisa pulang ke rumah sendiri walaupun di rumah sakit cukup nyaman. Senyaman apapun di luar tetaplah tidak dapat menandingi rasa aman dan tentram di dalam rumah. Rumah sendiri adalah tempat terbaik di dunia ini.
Alvan istirahat di kamar sementara Citra sibuk di dapur persiapkan makanan untuk Alvan. Untuk sementara Alvan harus jaga makan agar luka cepat sembuh. Banyak pantangan harus dihindari agar cepat pulih total.
Alvan bosan tiduran mencoba jalan-jalan sekitar kamar. Betapa bosan hidup tanpa kegiatan. Mengapa para pengangguran betah makan tidur tanpa terpikir cari kesibukan positif. Bagi orang normal sehari tidak lakukan kegiatan tulang rasanya karatan. Sakit sana sini.
Alvan melihat keluar jendela cari apa yang bisa menyejukkan mata. Tidak sepesial selain rumah mertua serta taman bunga mini. Rasa bosan makin menyergap.
Untunglah pengusir bosan datang. Ponsel Alvan berdering tanda ada panggilan. Perlahan Alvan meraih ponsel di meja lihat siapa menelepon. Alvan berharap itu Daniel. Hanya Daniel bisa hibur Alvan dengan guyonan khas Daniel.
Harapan Alvan ambyar karena di layar tertera nama Heru. Ada kabar apa dari sana?
"Halo...keponakan! Apa kabar?" terdengar suara full energi. Alvan lega dengar nada bersemangat Heru. Artinya di sana tak ada masalah.
"Assalamualaikum..." Alvan sengaja sindir Heru lupa kasih salam.
__ADS_1
"Waalaikumsalam...sewot amat suaranya? Tak dapat jatah dari anakku ya?"
"Cerewet...gimana kondisi orang tuaku juga anak-anak?"
"Mamamu sudah mulai belajar jalan. Mama angkat Afisa bawa mama kamu berobat ke ahli akupuntur. Kulihat banyak kemajuan dari sana. Mereka asli orang sangat baik. Mereka tulus rawat keluarga kamu. Kalau papamu tak usah dibilang. Tiap pagi joging dengan opa Uyut anak-anak. Afisa hari ini terakhir ujian." lapor Heru dengan suara nyaring.
"Oh bagus...kapan kalian pulang? Gantian kami ke sana! Mudahan dalam berapa hari ini kami bisa ke sana. Waktu liburan Azzam makin menipis."
"Maaf Van...ada yang ingin aku diskusi denganmu! Aku dan Afung akan menikah di sini sebelum aku balik ke tanah air."
"Jadi kau mau curi waktu kami?" seru Alvan berteriak kesal. Kalau tahu begitu Alvan tidak akan izinkan Heru membawa anak-anak ke Beijing. Yang diuntungkan hanya Heru sementara mereka harus memendam rasa rindu pada Afisa.
"Ini permintaan keluarga Afung. Afung sudah masuk Islam dibantu oleh guru agama di sini. Jujur omong aku suka kehidupan di sini. Orangnya tulus dan ramah. Kalau bisa berkembang bisnis di sini aku siap pindah ke sini. Cuma sayang aku tak bisa tinggalkan apa yang sudah dibangun oleh keluarga."
Ternyata banyak kejadian terjadi di sana. Semua berubah secara mendadak. Rencana yang sudah tersusun rapi ambyar gara Heru karang cerita baru di luar skenario. Alvan menggeram tapi tak tahu harus lampiaskan pada siapa. Heru sudah keterlaluan merusak rencana yang telah dia susun dari pertama jumpa anak-anak.
"Kau keterlaluan merusak rencana aku dan anak-anak. Mereka pasti kecewa tak bisa berlibur."
"Aku akan bawa Afisa pulang ke sana setelah menikah. Afisa setuju liburan ke Bali."
"Lalu Azzam dan Afifa? Kau ada jaga perasaan mereka? Kami susun rencana ini berbulan lalu. Ach...betapa kecewa anak-anak!"
"Kenapa kau tak telepon Azzam tanya pendapat mereka? Justru mereka dukung aku segera nikahi Afung. Oya Afung sudah ganti nama. Kukasih nama baru Aisyah ikuti nama isteri nabi."
Alvan ingin sekali tinju wajah dewa Yunani itu. Sakit hati Alvan dirusak rencana berlibur dengan anak-anak. Susah payah atur waktu agar bisa rasakan kebahagiaan berkumpul dengan anak-anak. Satu kata Heru membuyarkan kebahagiaan Alvan.
"Aku tutup dulu! Assalamualaikum..." Alvan mematikan ponsel tanpa jaga perasaan Heru. Laki itu tak jaga perasaannya untuk apa jaga dia.
Alvan meremas rambut kesal tak bisa penuhi janji pada ketiga anaknya. Ini satu pukulan terbesar bagi Alvan. Marah, benci, jengkel campur aduk berkecamuk di benak Alvan.
Citra beserta kedua asisten rumah tangga sibuk godok ikan dan sayuran jadi lauk. Untuk sementara daging dilarang sampai Alvan pulih seratus persen. Citra seorang dokter pasti tahu yang terbaik untuk suaminya.
"Citra.." panggil Alvan ganggu konsentrasi Citra.
Citra cepat menoleh tinggalkan dapur hampiri Alvan. Wanita ini heran mengapa Alvan sampai turun ke dapur mencarinya.
Citra segera menuntun Alvan ke ruang tamu. Tak baik terlalu banyak jalan dalam masa penyembuhan. Luka Alvan belum kering total.
"Ada apa mas? Lapar ya?" Citra membantu Alvan duduk di sofa. Alvan menatap Citra dalam-dalam dengan mata berembun. Seorang lelaki tinggi besar menyerah pada keadaan tak sanggup tahan kesedihan. Berapa dalam kesedihan Alvan harus ingkar janji pada buah hati.
Citra tertegun lihat kondisi emosi Alvan terkurung dalam kesedihan. Kejadian apa bisa antar laki ini terpuruk dalam duka. Seingat Citra sewaktu dengar ibunya stroke Alvan masih tegar. Kenapa hari ini cengeng seperti anak kecil.
"Mas...ada apa?" tanya Citra pelan dan halus.
"Heru mau menikah di sana!"
"Bagus dong! Artinya om dan Afung tidak main-main."
"Bagus buat Heru lalu aku? Aku telah persiapkan semuanya untuk berangkat dalam Minggu depan. Apa kata anak-anak kita batalkan rencana liburan?"
Citra menemukan jawaban atas kesedihan Alvan. Ternyata laki itu tidak terima rencana yang sudah dipersiapkan secara matang buyar hanya karena omnya akan menikah di sana.
__ADS_1
Citra dilanda kebimbangan. Ikuti rencana Heru menikahi Afung atau tetap lanjut liburan dengan anak-anak. Tapi kalau mereka pergi semua bagaimana dua perusahaan raksasa tanpa kapten?
Bukan cuma Alvan bingung, kini Citra juga ikut bingung. Anak-anak bagaimana tanggapan.
Citra terduduk tak tahu harus jawab apa? Kini mereka berdua dilanda tsunami dahsyat. Porak poranda seluruh rencana awal mereka. Keduanya membisu tenggelam dalam kegundahan masing-masing.
"Coba hubungi Azzam!" pinta Alvan berserah pada anak sulungnya. Bila Azzam minta mereka berangkat Alvan siap tinggalkan seluruh kegiatan dua perusahaan. Anak lebih penting dari segalanya.
"Aku tak berani mas! Takut Azzam kecewa." lirih Citra hilang nyali.
"Azzam kan saksikan sendiri bagaimana keluarga di sana susun rencana. Kesalahan bukan datang dari kita. Mana boleh salahkan kita! Biar Azzam sikat opanya itu!"
"Baiklah! Tunggu aku ambil ponsel dulu!" Citra berlari kecil menuju ke kamar. Ponsel Citra tersimpan di meja kamar. Ponsel itu tergeletak di atas meja sementara majikan memasak di dapur.
Citra bawa ponsel video call dengan Azzam dan Afifa untuk cari kejelasan. Azzam itu sensitif sekali. Sekali terima janji dia akan ingat terus.
Tak butuh lama tersambung dengan ponsel Azzam. Wajah anak ganteng itu menyembul di layar ponsel. Wajah itu berseri menunjukkan betapa anak itu bahagia berada di sana. Pipi Azzam berona merah persis dua buah tomat siap petik. Apa pengaruh udara panas di sana?
"Assalamualaikum...mi. Ni Hao ma?(Apa kabar?)" sapa Azzam riang.
"Waalaikumsalam.. Papi dan mami baik saja! Amei mana?"
"Amei di rumah Nainai( Nenek). Afung ie dan opa mau nikah. Semua sibuk bersiap pesta. Koko juga sibuk tempel hiasan pintu. Pokoknya asyik deh!"
"Ko...kalau opa Heru pesta papi dan mami tak bisa ke sana. Di sini tak ada yang jaga. Kantor opa papi juga yang jaga. Papi kecewa tak dapat liburan bareng kalian. Tuh lihat papi sangat syok dengar rencana ini!"
"Gitu ya! Koko pikir papi dan mami bisa gabung ikut pesta." Azzam tertegun tak sangka Alvan dan Citra tak bisa datang. Memang sayang kalau kantor harus ditinggal lama. Ke sana tak mungkin satu dua hari. Paling sedikit seminggu.
"Papi dan mami sangat kecewa opa tidak diskusi dulu dengan kami di sini. Seharusnya kan bisa ditunda sampai liburan kalian selesai."
"Jadi bagaimana ini? Segala sudah disiapkan. Setelah menikah Afung langsung pelatihan."
"Koko dan Amei gimana? Mami terserah kalian. Yang penting anak-anak mami tidak kecewa. Mami hanya mau kalian bertiga bahagia. Bicara soal sedih ya pasti sedih. Papi Koko sampai nangis pikir batalnya rencana liburan." Citra mengarahkan ponsel ke wajah Alvan yang kusut.
Azzam meneliti wajah papinya cari kejujuran di wajah laki itu. Azzam melihat duka mendalam di dalam kolam mata Alvan. Hati Azzam tersentuh tak sangka sang papi sedih tak bisa nikmati liburan bersama mereka. Janji yang telah terucap pupus sudah.
"Kami akan segera pulang begitu siap pesta. Cece juga pulang. Dia liburan selama sebulan. Kita liburan yang dekat saja. Raja Ampat atau Bali?"
"Ya ampun sayang...raja Ampat itu jauh banget! Di Papua Sono." sahut Citra menanggapi kata Azzam.
"Jadi sekarang bagaimana? Kita minta Opa tunda sampai Afung siap tanding? Itu opa harus tunggu sampai tahun depan. Mereka tanding musim dingin ini."
"Kau bilang saja suruh batal. Bikin rencana tidak berembuk. Ini merugikan kita. Papi batalkan banyak kontrak kerja demi liburan ini. Enak saja rebut liburan kita. Enak di opa kalian rugi di papi." rengut Alvan tidak ingin Heru langkahi haknya.
Azzam tersenyum. Ketulusan Alvan telah terukir di hati Azzam. Papinya memang ingin habiskan waktu bersama mereka namun terjadi salah teknis. Mana yang harus didahulukan?
"Papi...kita masih banyak waktu untuk liburan. Sedangkan opa sudah tua tak bisa menunda lagi. Takutnya nanti beliau sakit lutut tak bisa gendong Afung ie naik ke pelaminan. Kita liburan ke Bali bersama Cece. Cece sebulan penuh milik kita."
Alvan ingin ketawa lihat cara Azzam membujuknya. Heru dijadikan tokoh jompo tak punya waktu cukup untuk menunda pernikahan. Kadang Azzam menjengkelkan tapi kadang bijak melebihi orang tua.
"Azzam tidak kecewa kita tidak liburan di sana?" tanya Alvan hati-hati takut anaknya tersinggung.
__ADS_1
"Koko percaya pada papi takkan ingkar janji. Waktu Koko dan papi masih panjang banget! Kita bisa liburan setiap tahun asal papi sehat. Koko lihat wajah papi agak pucat. Jaga kesehatan karena papi punya dua anak gadis harus dijaga. Anak cewek itu susah di rawat. Enakan punya anak laki."
Citra dan Alvan memuji insting Azzam bisa lihat perubahan rona wajah Alvan. Padahal Alvan tidak banyak berubah dibanding sebelum operasi.