ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN

ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN
Membeli Hati Afisa


__ADS_3

Alvan keluar melihat kedua bocahnya duduk berdampingan di bangku stainless sepanjang koridor rumah sakit. Alvan menarik nafas lega melihat kedua anaknya tidak membuat masalah. Sebenarnya Alfan percaya bahwa kedua anaknya itu tidak akan membuatnya tambah pusing. Berdua anak-anak yang bijak.


Alvan meringankan langkah dekati kedua anaknya yang sedang berbincang. Alvan bukannya ingin mengetahui perbincangan kedua anak itu tetapi ingin mendekati Afisa agar mereka bisa lebih akrab. Alvan ingin membangun rasa percaya Afisa kepada dirinya.


Alvan duduk di samping Afisa sambil mengelus pundak anak gadisnya. Gerakan Alfan demikian lembut untuk menunjukkan bahwa dia menyayangi Afisa juga. Afisa melirik tangan Alvan yang berada di pundaknya dengan ekor mata. Mata avisa menyiratkan bahwa dia tidak menyukai sentuhan Alvan. Bagi Afisa Alvan adalah orang asing.


"Kapan rencana balik Singapura?" Alvan awali obrolan bertanya jadwal kegiatan Afisa.


"Mungkin lusa. Aku harus latihan sebelum bertanding. Kami harus menyesuaikan diri di tempat baru. Kenali arena tanding." Afisa bercerita tanpa nada sinis. Azzam memandang tajam ke arah Afisa pantau cara bicara adiknya kepada Alvan. Afisa melirik Azzam dengan ngeri-ngeri sedap takut kelepasan emosi.


"Oh gitu ya! Papi akan antar kamu balik ke Singapura. Papi akan usaha temani kamu selama di Singapura."


"Tidak usah. Papi fokus saja sama kesehatan Oma. Aku sudah terbiasa jalan sendiri. Kami para atlet sudah terlatih dari kecil untuk mandiri." Afisa menolak secara halus. Alvan menggeleng berusaha agar bisa kenal lebih jauh anaknya yang satu ini. Sifatnya lebih keras dari Azzam. Tidak suka dikritik juga keras kepala. Bagaimana pelatihnya mengurus anak sekeras ini. Pasti suka membantah.


"Papi sudah lama ingin kunjungi kamu. Ini ada kesempatan bisa saling kenal kan papi harus gunakan kesempatan baik ini. Kamu harus kenal papi dan sebaliknya."


"Aku sudah mengenal papi lewat Koko. Koko banyak bercerita tentang papi. Cuma Cece tak suka cara Oma didik kami. Kalau kami salah boleh ditegur. Kami bukan anak berotak bebal." Afisa yang asli mulai unjuk gigi. Dari tadi Afisa ingin kemukakan suara hati. Namun Azzam telah berpesan jangan buat ulah dulu. Alvan masih dalam suasana duka.


"Maafkan Oma! Oma hanya terhasut orang lain. Oma itu dasarnya baik tapi sejak pulang dari Kalimantan berubah jadi aneh. Papi juga tak ngerti mengapa Oma berubah total."


Afisa menangkap nada putus asa papinya. Bukan Afisa namanya kalau cepat tersentuh. Afisa telah ditempa secara keras oleh orang tua angkatnya. Anak sekecil ini disuruh lihat dunia dari realita. Bukan dari kata andai ke andai. Dalam kamus Afisa tak ada kata andaikata.


"Sebagai orang tua Oma harus bijak. Kalau mau dihargai kita harus hargai orang dulu. Kita tak boleh menanjak ke atas dengan menginjak kepala orang lain."


"Papi ngerti nak! Kadang kita harus gunakan orang lain sebagai batu loncatan untuk bisa seberangi sungai. Contoh papi ingin dekat dengan kalian tapi kita masih asing. Jadi papi harus gunakan mami kalian sebagai batu loncatan agar capai niat papi. Tidak semua orang itu buruk nak!"


"Tapi kita tetap salah gunakan orang lain untuk capai tujuan."


"Kamu betul nak! Cuma tidak setiap batu loncatan itu salah. Tergantung kita pakai di mana. Tujuan papi kan bersih ingin kenali anak-anak papi. Papi telah banyak memupuk rasa bersalah pada mami kalian. Banyak sekali rintangan mencari kalian. Sekarang kita telah bertemu. Haruskah pertemuan yang indah ini berakhir berantakan?" Alvan kembali menyentuh tubuh Afisa berharap gadisnya tidak menolak setiap sentuhan papi sendiri.


Kening Afisa berkerut berusaha mencerna makna kata Alvan. Afisa berpikir panjang untuk paham.


"Papi tak usah kuatir. Kami akan dukung papi lalui rintangan. Jangan terlalu banyak pikir! Fokus ke Oma dan perusahaan. Kami akan baik-baik saja." Azzam ikut ngobrol membantu Afisa menjawab pertanyaan Alvan. Afisa tidak fleksibel jadi anak. Afisa terpaku pada sistim didikan sebagai atlet. Disiplin tepat waktu.


"Papi bangga punya kalian! Papi menyesal mengapa tidak cepat jumpa kalian. Waktu kita banyak terbuang. Papi telah mendapat ganjaran atas kesalahan papi. Kalian lihat? Uang perusahaan dicuri orang, Oma sekarat. Inilah akibat berbuat salah pada keluarga. Papi tak mau mengulangi kesalahan sama." kata Alvan dengan mata berkaca-kaca menyesal telah terlantarkan anak isteri.


Keheningan menyergap sesaat. Tak ada yang ingin berpendapat soal kesalahan Alvan pada anak isteri. Diulang sepuluh kalipun kisahnya tak berubah. Tetap kisah Alvan melupakan keluarga sendiri.


"Siapa mencuri uang perusahaan?" meluncur juga pertanyaan dari bibir mungil Afisa. Mencuri uang perusahaan bukan kerja gampang kalau tanpa akses. Orang itu pasti punya data lengkap perusahaan baru tahu berapa uang tersimpan di perusahaan.


"Wakil papi. Sekarang sudah di penjara. Dia telah mengembalikan sebagian uang kita. Tapi hukum tetap berjalan."


"Pasti cewek..." tebak Afisa mengerling Azzam ijin bicara sesuai isi hati.


"Afisa kok tahu?"

__ADS_1


"Tahulah! Hanya cewek cantik bisa perdayai bos nakal. Digoda dikit langsung klepek-klepek jatuh cinta. Lupa arah jalan pulang rumah!"


"Nggak gitu nak! Dia itu wakil papi, punya saham di perusahaan walau sedikit. Papi tak punya hubungan apapun dengan wanita jahat itu. Papi memang pernah bersalah pada kalian tapi papi kalian bukan orang bejat. Maukah kalian memaafkan papi?" Alvan merendahkan gengsi demi meraih simpatik Afisa.


Harta segunung tak ada artinya bila tak punya sandaran kuat. Sandaran yang kokoh ada tiang keluarga. Bersatu kita teguh, bercerai kita rubuh. Contoh sebatang lidi mudah dipatahkan begitu digabungkan beberapa batang lidi sulit dipatahkan. Pendek kata kekompakan adalah pemersatu segalanya. Baik dalam berkeluarga, berteman bahkan bernegara.


"Jangan diulang lagi kisah lama Pi! Kita bersama buka lembaran baru. Tak ada yang bisa kalahkan kebaikan." ujar Azzam tak tega Alvan menunduk ke bawah untuk anak. Bagaimanapun Alvan tetap orang tua mereka.


"Terima kasih...bolehkah papi memeluk kalian?" Alvan menatap kedua anaknya silih berganti. Hanya Azzam mengangguk ijinkan Alvan lakukan tugas sebagai papi yang patut dibanggakan.


Alvan melingkar kedua tangan panjangnya ke pundak Azzam dan Afisa kiri kanan. Alvan menarik tubuh kecil kedua anaknya merapat ke tubuhnya. Betapa nikmat memiliki surga di dalam keluarga.


"Terima kasih...sekarang anak-anak papi tidur di kamar opa ya! Atau papi minta perawat buka satu kamar untuk kalian."


"Tidak usah repot. Kami istirahat di kamar opa saja!" sahut Azzam tak ingin menambah kebingungan Alvan. Mereka seharusnya meringankan beban Alvan, bukan menumpuk beban baru.


"Baiklah! Janji jangan ke mana-mana! Papi harus jumpai saudara mami. Tak enak biarkan mereka tunggu di luar." Alvan masih merangkul kedua anaknya belum puas memiliki pancaran kehangatan dari tubuh yang tercipta dari bagian dirinya.


"Papi pergilah! Kami akan manis di sini!" usir Afisa halus. Ntah tak suka dekat Alvan atau memang tulus bantu Alvan jadi seorang tuan rumah yang baik.


"Baiklah! Papi percaya pada kalian. Masuklah ke dalam sambil jaga adik kalian."


"Iya Pi.." sahut Azzam dan Afisa barengan.


Alvan bangkit meninggalkan kedua anaknya menuju ke lantai bawah. Azzam cukup iba lihat kondisi Alvan. Kalau nasib sial telah datang buah yang baru keluar dari batang langsung gugur tanpa punya kesempatan buah seutuhnya.


"Tapi dia telah buang kita bertahun-tahun. Apa kau tak lihat penderitaan mami kita?"


"Papi tidak tahu kalau mami hamil kita. Dia dihasut perempuan bernama Karin. Sekarang perempuan itu sekarat. Perempuan itu telah bela mami di depan umum. Mungkin dia telah bertobat."


"Cece belum bisa terima papi secara tulus."


"Tak apa..tak kenal maka tak sayang. Nanti kamu akan sayang bila telah mengenal papi. Yok kita lihat Amei! Ntar jatuh pula dari sofa."


Afisa tertawa kecil ingat adik mereka yang lugu. Afifa bahagia dalam dunianya yang tidak ribet. Selalu positif thinking. Tidak menyusahkan diri macam Azzam dan Afisa. Suka pikir panjang lebar satu masalah.


"Yok ko!" Afisa mengambil lengan Azzam menggandengnya masuk ke dalam ruang rawat pak Jono. Beginilah contoh anak pengertian. Patuh pada perintah orang tua.


Di lantai bawah Alvan menemui keluarga Perkasa yang masih setia menunggu hasil operasi. Alvan tak enak hati menyusahkan kerabat Citra. Niat mereka memang tulus ingin beri kekuatan pada Alvan atas musibah ini. Taruhan Bu Dewi sangat besar. Bertarung dengan maut di meja operasi.


Keluarga Perkasa masih setia menanti di lobby rumah sakit. Mereka duduk berkelompok di sepanjang bangku. Ada yang berbincang. Ada yang main ponsel serta ada yang hanya cuci mata lihat kegiatan para medis.


Alvan hampiri keluarga istrinya bersyukur tambah saudara berakhlak baik. Mereka beri dukungan pada Alvan untuk kuat.


"Maaf..telah membuat anda sekalian ikut susah hati." kata Alvan di depan semua warga Perkasa.

__ADS_1


"Jangan omong gitu! Kita kan sekeluarga. Di mana anak-anak?" Heru mencari bayangan ketiga anak Alvan.


"Anak-anak istirahat di atas. Ada opa mereka sedang dirawat. Lebih baik kalian semua pulang istirahat! Hari sudah malam. Aku akan kabari kalian bila sudah selesai operasi."


"Tapi Van .." sanggah Heru tak enak hati tinggalkan Alvan di kala sedang butuh support.


"Aku tidak apa! Anak-anak biar di sini. Aku akan antar mereka kalau mereka minta pulang."


Heru mengedarkan mata ke sekeliling minta pendapat. Semua setuju pulang. Tinggal di rumah sakit pun mereka tak bisa bantu. Justru hanya merepotkan Alvan dengan bergerombolan di tempat tak semestinya.


" Baik...kalau gitu kami permisi! Kabari kami kalau ada kabar baik. Anak-anak akan kami jemput bila mereka mau pulang." ujar Heru Galant.


"Bawa pulang saja! Anak kecil tak boleh lama di rumah sakit." Bu Sobirin mau cicitnya ikut bergadang malam hari. Mereka hanya anak kecil butuh waktu tepat untuk tidur.


"Mamaku betul Van! Biarlah anak-anak ikut kami pulang! Kami akan urus mereka kok!" kata Heru setuju ajak Azzam dan adiknya ikut pulang. Sependapat dengan semua orang kalau anak kecil dihindarkan dari tempat berkumpul jutaan virus aneka jenis. Di tambah lagi munculnya virus Covid 19 yang merajai seluruh dunia dalam kurun waktu ini.


"Ok....akan kubawa anak-anak ke sini! Aku ucapkan ribuan terima kasih telah menjaga keluarga kecil saya."


"Ngomong apa itu? Memangnya Citra dan anak-anak bukan keluarga kami? Kita keluarga besar tidak ada perbedaan dalam mengasuh anak-anak. Yang penting anak-anak hidup sehat dan bahagia." cetus Bu Sobirin tak suka Alvan terlalu sungkan dalam menyikapi keberadaan Citra dalam keluarga mereka.


"Terimakasih Oma..."


Bu Sobirin tertawa renyah mendengar Alvan memanggilnya Oma. Siapa tidak bangga memiliki cucu dalam usia relatif muda. Bu Sobirin belum terlalu tua untuk menjadi seorang Oma. Cucunya pun sudah cukup berumur. Bahkan ada teman Bu Sobirin seumur gini cucu yang bayi saja belum ada. Bu Sobirin malah telah memiliki cicit yang telah beranjak remaja.


Alvan terpaksa balik ke atas menjemput anak-anak agar pulang bersama keluarga Perkasa. Tujuan baik keluarga Perkasa tidaklah mungkin ditolak oleh Alvan. Mereka juga memikirkan kesehatan anak-anak.


Untunglah Azzam dan Afisa tidak cerewet minta tinggal. Alvan menduga mereka telah ngantuk butuh tempat nyaman untuk merebahkan tubuh kecil mereka. Afifa memang sudah berlayar keliling dunia dalam mimpinya.


Alvan membopong Afifa untuk diserahkan pada Perkasa. Alvan bersyukur jumpa keluarga baik bersedia membantu menanggung sebagian beban.


Alvan menyerahkan Afifa pada Heru. Gadis kecilnya tidak mau bangun dari mimpinya. Dia tidur dengan nyenyak tak peduli dunia mau kiamat. Yang penting bermimpi indah.


"Kutitip anak-anak ya!" Alvan menyerahkan tanggung jawab anaknya pada Heru. Alvan yakin Heru sekeluarga pasti akan menjaga anaknya dengan baik. Anak Alvan kan keturunan Perkasa juga.


"Anak kok dititip? Emang helm main dititip. Ok deh! Kita permisi! Jangan sungkan telepon kalau perlu bantuan! Ayo anak-anak kita pulang!" Heru membopong Afifa dalam pelukan. Sementara Azzam dan Afisa digandeng Oma Uyut mereka.


Satu persatu tamu Alvan pergi tinggalkan rumah sakit. Sekeliling yang tadinya ramai kontan berubah sunyi. Kegiatan para medis juga menyusut karena malam telah berlari jauh. Pasien nyaris tak ada selain petugas membereskan sisa keramaian tadi.


Alvan menutup mata rasanya tak ingin bangun hadapi segitu banyak kemelut. Kemelut datang silih berganti seakan sedang menghajar Alvan untuk dosa di masa lalu. Terlantarkan istri sedang hamil dan juga anak yang masih bayi.


Berapa banyak lagi hutang Alvan pada anak istri? Belum lunaskah Alvan bayar? Pertanyaan itu silih berganti bermain di benak Alvan. Kalau saja waktu bisa diulang Alvan ingin kembali ke sepuluh tahun lalu. Menjadi suami setia buat Citra. Tidak akan bawa Karin si ayam loncat dalam hidupnya.


Sayang seribu sayang itu hanya angan kosong orang stress. Waktu yang telah berlalu tak tergantikan.


"Woi...mikirin gacoan baru ya?" satu tepukan keras mendarat di punggung Alvan.

__ADS_1


Tak usah ditebak Alvan sudah tahu siapa orang kurang kerjaan itu.


SEMOGA ALLAH SELALU ANUGERAHKAN KITA SEMUA REZEKI DAN KESEHATAN UNTUK BERADA DI MOMENT INI. MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN. SELAMAT HARI RAYA AIDUL ADHA 2022.


__ADS_2