ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN

ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN
Sidang Dara


__ADS_3

Azzam sedang mencari orang yang dia curigai. Azzam harus punya bukti akurat untuk lihat manusia mana hatinya terbuat dari limbah sampah. Busuk tidak ketolongan.


"Koko mau periksa CCTV dulu. Koko mau lihat siapa yang berani berbuat curang di rumah ini." kata Azzam tegas pada Afung.


Afung mengangguk setuju. Penjahat tak boleh dibiarkan keliaran dalam rumah. Kelak berapa banyak masalah lagi akan datang.


Azzam segera bergerak ke ruang kerja Alvan yang menyimpan layar monitor cctv. Heru dan Bu Sobirin menggeleng tak habis pikir anak model apa ini? Baru sadar dari pingsan sudah bergerak cari fakta siapa dalang di balik kecelakaan Citra.


"Azzam...kau istirahat dulu nak! Biar opa yang ceking CCTV." Heru melarang Azzam bergerak aktif karena baru saja siuman dari pingsan cukup panjang.


"Koko ingin cek sendiri siapa berani celakai mami. Koko tak sediakan kata maaf untuk orang itu." kata Azzam tegas dengan mata liar. Hati terdalam Azzam terluka akibat perbuatan manusia berhati penuh belatung. Berani berbuat harus berani tanggung jawab.


Heru dan Bu Sobirin tak dapat menahan Azzam yang sudah seperti orang gila. Kedua orang itu makin sadar kalau Azzam memang malaikat pelindung Citra. Anak itu dilahirkan untuk menjaga Citra seumur hidup.


Alvan harus hati-hati kalau ingin berbuat di luar batasan sebagai suami. Mereka yakin Azzam tak segan menghabisi Alvan bila ketahuan berselingkuh lagi.


Azzam masuk ke ruang kerja Alvan periksa layar monitor dari tayangan semalam setelah mereka tidur. Semua tampak kondusif sampai pukul tiga dini hari tampak satu sosok bayangan mengendap bawa satu gelas air atau apa.


Sosok itu tersenyum sejenak lalu menuangkan isi gelas ke lantai. Bahkan sosok itu melebarkan jangkauan cairan dengan tangan. Setelah itu sosok itu kembali ke belakang dengan hati-hati agar tidak menginjak cairan yang dia tumpahkan.


Darah Azzam mendidih karena kenal sekali pada sosok itu. Anak lajang ini mematikan monitor lalu berjalan keluar dari ruang kerja Alvan menuju ke ruang keluarga.


Ketiga orang tua di rumah masih menunggu kabar dari Azzam bagaimana hasil pantauan Azzam. Dari efek wajah Azzam jelas mengatakan dia telah mengetahui sesuatu.


"Azzam...duduk nak! Afung ambil air minum untuk Azzam." ujar Bu Sobirin. Sedikit banyak Afung mulai ngerti bahasa suaminya walau belum kuasai sepenuhnya.


Afung segera bangkit melaksanakan permintaan mertua. Sebenarnya Afung penasaran siapa yang tega melukai wanita hamil itu. Kalau terjadi sesuatu pada Citra dan anak-anak harapan dia juga akan sirna. Sesuai rencana Heru akan adopsi dua bayi Citra. Berhasil atau tidak tak jadi soal. Anak-anak Citra pasti akan dekat dengannya karena dia yang ada di rumah. Afung akan buat anak Citra lebih dekat dengannya ketimbang dengan mami sendiri. Rencana matang yang sudah dia garis dari awal.


Afung kembali dengan segelas air bening. Tanpa banyak bicara Afung berikan gelas pada Azzam.


Anak lajang itu menerima tak lupa ucapkan terima kasih dalam bahasa Afung. Lajang ini habiskan air bening untuk turunkan emosi agar tidak berbuat kasar pada orang yang dia anggap bertanggung jawab pada kecelakaan ini.


Azzam tak boleh berbuat semena-mena agar tidak dijerat hukum melakukan tindakan kekerasan pada orang. Kalau turuti emosi bisa mati tuh orang.


"Panggil Bik Ani!" kata Azzam dingin.


Bu Sobirin dan Heru kaget target Azzam Bik Ani yang sudah tua. Mengapa harus perempuan tua itu jadi penjahat. Heru dan Bu Sobirin tak habis pikir mengapa Bik Ani jadi tersangka pertama.


Afung segera masuk ke dapur panggil Bik Ani. Afung juga deg-degan mau tahu gimana cara Azzam bela maminya.


Bik Ani datang dengan wajah tanpa dosa. Perempuan tua ini tidak tampakkan rasa takut karena merasa tak berbuat salah.


Semua diam tak bersuara menunggu Azzam buka suara. Lajang kecil duduk tegak berwibawa layak orang dewasa tangani masalah.


"Nek...nenek tahu baru saja lewati satu bencana?" tanya Azzam dingin tanpa menekan Bik Ani.


"Tahu nak! Bagaimana kondisi mami kamu?"


"Alhamdulillah sudah stabil. Koko ingin tanya siapa dan apanya nenek kak Dara itu?"

__ADS_1


"Oh dia anak dari saudara nenek! Ada apa Azzam? Dara berbuat salah?"


"Nenek begitu baik mengapa punya saudara mirip setan? Dia yang celakai mami. Sebelumnya Koko minta maaf pada nenek kalau Koko harus berbuat adil buat mami dan adik-adik Koko. Koko akan penjarakan kak Dara."


Semua terkesima mendengar penjelasan Azzam. Anak hebat tidak langsung tuduh Dara melainkan minta ijin pada Bik Ani selalu wali Dara di sini. Azzam sudah berbuat benar tidak tangkap Dara. Azzam butuh penjelasan mengenai sosok Dara.


Heru angkat topi salut pada Azzam bertindak sangat dewasa. Kalau Heru yang tangani pasti akan langsung hajar Dara. Wanita jahat itu tak pantas berada di antara mereka.


"Astaghfirullahaladzim.. Dara? Dia yang lakukan kejahatan ini?" tanya Bik Ani linglung sampai mundur beberapa langkah.


"Iya... rekaman CCTV menunjukkan kak Dara tuang cairan ke lantai sekitar pukul tiga dini hari. Rekaman itu masih ada kok! Bisa jadi barang bukti di kantor polisi."


"Ya Allah...Dara... apa yang kau lakukan? Nenek panggil dia!"


"Nenek di sini saja! Biar Oma Afung yang panggil. Kita mau dengar penjelasan kejahatan dia!"


Afung segera melesat ke belakang cari tersangka utama. Semua sudah sangat geram pada kejahatan Dara. Baru datang kerja sudah bawa petaka bagi keluarga yang bahagia ini. Tak ada yang ingin maafkan Dara. Perbuatan Dara sangat fatal bisa merengut nyawa manusia.


Dara datang bersama Afung dengan santai. Dara seolah tidak terjadi sesuatu pada keluarga ini. Wanita ini tak tahu ada hotel gratis sedang menunggunya.


"Ada apa? Ada berita duka ya?" tanya Dara sambil pasang wajah sedih. Padahal dalam hati bersorak rencananya sukses.


"Benar ada kabar duka. Kami sangat berduka ada warga rumah ini akan masuk penjara. Mungkin kak Dara bisa tebak orangnya?" tanya Azzam tajam menusuk jantung.


"Kok penjara? Apa bukan ke taman pemakaman?"


Heru sudah tak dapat menahan emosi dengar pertanyaan Dara jelas berharap ada kematian di rumah mereka. Heru mengebrak meja kaca sampai pecah berkeping-keping. Suara pecahan sampai terdengar keluar rumah memancing para satpam berhamburan masuk ke dalam.


"Kau Dara...kenapa kau celakai keponakan aku? Kau pikir kami tak tahu kamu yang siram cairan di lantai! Apa maksudmu?" bentak Heru dengan suara menggelegar.


Dara mundur beberapa langkah mencekal tangan Bik Ani. Ada rasa takut di hati Dara melihat amarah Heru. Janda muda ini tak sangka kejahatannya cepat terungkap. Dia hanya ingin duduk di jabatan Citra. Maka tega berbuat nekad celakai Citra. Tanpa Citra jalannya pasti akan mulus naik ke pentas Lingga. Siapa tak mau jadi nyonya besar dengan kekayaan melimpah.


"Jawab!" bentak Bu Sobirin tak kalah keras. Bu Sobirin nyaris kehilangan cucu dan cicit. Mana mungkin tidak marah.


Dara menggigit bibir ketakutan tak tahu harus omong apa. Berlindung pada Bik Ani adalah jalan terbaik. Dara kira Bik Ani akan lindungi dia dari kejahatan kecil ini.


Bik Ani menepis tangan Dara tak kalah marah atas ulah Dara hampir celakai Citra. Anak dalam kandungan Citra adalah anak Alvan. Bik Ani menyayangi Alvan melebihi nyawa sendiri. Anak Alvan sama saja dengan cucu kandung bagi Bik Ani.


"Dara..bibi tak sangka kamu sangat jahat! Setan mana kuasai hatimu sampai tega celakai nak Citra. Dia itu orang baik." tukas Bik Ani geram pada keponakannya.


"Aduh Bi.. Dara dengar cerita dari Iyem kalau Pak Alvan itu doyan cewek sintal. Bininya banyak tapi sejak jumpa Citra dia cinta mati. Maka kupikir kalau tak ada Citra akulah pengganti dia!" kata Dara gugup.


"Kau gila ya? Siapa mau kamu? Sampah di luar lebih berharga dari kamu. Beraninya kamu hina papi aku! Papi aku tidak buta mau pungut sampah busuk macam kamu." seru Azzam tersulut emosi Dara merendahkan Alvan. Dipikir Alvan mau sama sembarangan wanita. Banyak yang lebih menarik tak mampu ketok hati Alvan.


"Bukan hanya Iyem bilang gitu. Nona yang kutemui juga bilang gitu. Asal aku berhasil singkirkan Citra akulah nyonya besar rumah ini." balas Dara mulai angkuh. Wanita ini merasa benar ada backing di belakang.


"Nona? Nona mana?" tanya Heru mulai cium ada bau-bau rubah nakal.


"Ya nona yang kutemui di simpang jalan mau masuk rumah ini."

__ADS_1


"Siapa namanya?"


"Namanya aku tak tahu. Aku jumpa dia sewaktu mau masuk sini. Dia panggil aku dan dia ajak ngobrol di restoran bagus. Dia bilang anak dalam kandungan Citra itu bukan anak pak Alvan. Aku harus singkirkan Citra secepatnya agar bisa kuasai pak Alvan. Dia yakin akulah wanita yang ditunggu pak Alvan." Dara cerita dengan lugas seperti senang misinya ada hasil.


"Kau ini perempuan sinting yang baru keluar dari rumah sakit jiwa ya? Main tuduh seenak perut. Adik-adik aku itu murni anak papi aku. Mami aku wanita mulia bukan sampah kayak kamu. Kamu harus sadar diri...pak satpam saja emoh sama kamu apa lagi papi aku." bentak Azzam makin panas maminya dituduh berselingkuh.


"Aku tak salah toh kalau berusaha menjadi nyonya besar! Dan lagi enak jadi orang kaya. Punya uang banyak bisa belanja sesuka hati. Nona itu beri aku uang untuk beli baju bagus agar pak Alvan jatuh cinta." kata Dara tersipu malu ingat rencana indahnya. Wanita ini belum tahu bahaya besar sedang mengancamnya.


"Kau kenal orang itu?" tanya Heru melunak untuk korek keterangan orang di belakang layar hasut Dara jadi gila.


"Tidak kenal. Begitu aku mau masuk rumah dia sudah hadang duluan ajak aku ngobrol di restoran mahal. Makanannya enak lho! Tapi aku punya nomor hpnya. Katanya kalau aku berhasil dia akan datang ucapkan selamat atas keberhasilan aku menjadi nyonya rumah besar ini."


Azzam dan Heru saking tukar pandangan. Mereka harus bisa jebak orang itu muncul agar bisa dijebloskan ke penjara bersama Dara. Dara ini ada sedikit miring. Otaknya kurang beres. Berbuat jahat masih merasa diri benar.


"Kak Dara...sekarang kak Dara sudah sukses celakai mami. Teleponi orang itu minta jumpa. Katakan kak Dara sukses celakai mami dan siap jadi nyonya besar." Azzam terpaksa menekan emosi untuk mencari dalang utama.


"Benarkah? Kau betul nak! Aku akan jadi ibu tirimu. Kau harus patuh padaku ya!"


Azzam mengangguk buat Dara kesenangan. Bik Ani ingin sekali menangis lihat otak keponakannya sedikit tak beres. Sungguh menyesal telah bawa orang bermasalah pada keluarga ini. Beberapa nyawa nyaris melayang akibat dari perbuatan gila Dara.


"Ayok telepon! Katakan ingin jumpa di restoran dulu! Kak Dara masih ingat namanya?" bujuk Azzam tidak keras lagi. Dia harus sabar untuk pancing ikan besar keluar dari persembunyian.


"Tidak ingat tapi ada lambang kepiting dan udang gede di depan restoran."


Heru beri kode sudah paham tempat yang dimaksud Dara. Mereka benar penasaran siapa orang kasih angin pada Dara untuk habisin Citra. Pasti bukan orang jauh. Dia bisa tahu cerita Citra pasti kenal baik keluarga ini.


"Ok...kak Dara teleponi dia bilang Citra sudah masuk rumah sakit! Katakan keinginan kak Dara berjalan sukses. Kak Dara ingin jumpa dia di restoran dulu. Dia pasti akan kasih uang sama kak Dara lebih banyak."


"Yang bener?"


"Bener...bukankah dulu dia pernah jadi uang buat kak Dara? Nanti dia pasti kasih lagi." bujuk Azzam lembut.


"Oiya...Ini ponsel aku! Coba cek nomor miscal dari dia!" Dara dengan tenang berikan ponsel pada Azzam.


Azzam dengan jeli perhatikan setiap nomor yang ada di ponsel jadul Dara. Tak banyak panggilan keluar masuk. Hanya tertera nama ibu dan mas Kamto. Dan sebuah panggilan tak terjawab. Azzam duga itu pemilik nomor misterius yang kompori Dara.


"Telepon kak!" Azzam menyerahkan ponsel pada Dara setelah catat nomor itu di otak.


Dara tampak semangat merasa telah menang. Wanita ini tampaknya ada gangguan jiwa. Untunglah cepat ketahuan. Kalau tidak ntah kejadian apa bakal hampiri keluarga ini. Bisa jadi selanjutnya Afung jadi target wanita itu.


Bik Ani menjadi tak enak hati bawa masalah bagi keluarga ini. Sedikitpun Bik Ani tak tahu keponakannya telah stress akibat dicerai suami. Bukan salah suaminya ceraikan Dara. Wanita itu ketangkap selingkuh berkali-kali. Laki mana mau istri mirip kutu loncat. Tak pernah puas isap darah dari kepala ke kepala lain.


"Halo...halo...nona ini Dara!"


"Dara? Dara yang mana?" terdengar sahutan di seberang.


"Itu lho Dara yang nona kasih uang buat beli baju! Aku mau kasih tahu kalau rencana kita berhasil. Sekarang Citra sudah celaka. Dia di rumah sakit. Kayaknya mau mati gitu."


"Oya? Hebat kamu.."

__ADS_1


"Aku mau jumpa biar bisa lama bicara. Nona mau jumpa aku lagi?"


"Boleh...kujemput kamu ya! Kamu jalan keluar rumah dan tunggu di simpang kita jumpa dulu. Hati-hati jangan ketahuan!"


__ADS_2