ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN

ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN
Surprise


__ADS_3

Bu Dewi punya sesuatu yang membuat anak-anak segan berdekatan dengannya. Satu aura kejam yang tak disukai anak-anak.


"Kenapa kami harus tak suka pada Oma? Dia itu ibunya papi kami. Tugas kami adalah hormati orang tua dan orang tua harus beri kami rasa nyaman. Seekor burung saja dilepaskan pasti akan balik ke sangkarnya bila tempat itu janjikan kedamaian. Bila tempat itu tak nyaman melukai apa burung itu akan balik?"


Amang tergugu tak sangka seorang anak bau kencur mampu mengeluarkan kata menohok namun sopan. Di balik kesopanan tersimpan makna sangat mendalam. Bukan Azzam namanya kalau tidak bikin orang terpana.


"Amang paham. Amang hanya ingin pastikan kalian tetap sayang pada Oma kalian."


"Sayang karena beliau ibu dari papi." Azzam beri jawaban ambigu. Sayang Azzam hanya sebatas karena Bu Dewi orang tua dari papinya. Bukan sayang tulus dari sanubari terdalam.


"Oma kalian akan pergi ke Kalimantan. Kalian tidak sedih?"


Azzam hanya beri senyum tipis. Senyum penuh misterius yang tak dapat diartikan Amang. Sungguh anak ajaib.


"Setiap orang dekat yang pergi jauh kita tentu akan teringat. Kami pasti doakan Oma kami cepat sehat. Kakek tak perlu kuatir. Kami tetap tahu mana atas mana bawah. Kami tetap cucu yang harus hormati orang tua." ujar Azzam kalem bikin Amang gemas. Anak ini tetap jaga sopan santun namun buat orang bertanya-tanya apa makna dari setiap kalimatnya. Azzam tidak katakan tak suka tapi juga tak katakan suka secara pribadi. Suka secara global terikat oleh adat ketimuran. Orang tua tetap harus di nomor satukan.


"Lalu apa Azzam tak mau tinggal bersama Oma?"


"Kami ini ramai kakek! Dan lagi Oma sedang kurang sehat. Tak mungkin anak kecil anteng setiap waktu, pasti akan bikin ulah buat Oma terganggu. Maka itu lebih baik saling menjaga dari awal."


Satu penolakan yang halus menyentuh kalbu. Amang merasa sedang berhadapan dengan lelaki dewasa seumuran dia, bukan anak bau kencur.


"Oma kalian pingin tinggal bersama kalian. Merasakan tawa lucu adik-adik kamu tapi Oma kamu tak berani minta takut kalian salah sangka padanya lagi."


"Salah sangka gimana kakek? Memangnya apa yang sudah kami perbuat sampai oma berpikir begitu? Kita ini satu keluarga harusnya saling hormati baik sebagai orang tua maupun anak-anak. Jangan karena lebih besar boleh menekan yang kecil! Kakek lihat semut, mereka gitu kecil tahu sopan santun. Berjalan berbaris tertib, bekerja sama dalam suka duka dan tak ganggu orang walau kadang menjengkelkan. Herannya manusia yang jauh lebih besar suka aniaya semut sampai mati. Merasa diri lebih besar boleh semena-mena? Manusia memang selalu salah kaprah. Merasa lebih tinggi menekan yang kecil tanpa ingat yang kecil juga punya kelebihan. Sama seperti semut. Mereka kecil namun kalau mereka masuk ke dalam kuping manusia lancarkan aksi dalam kuping bukankah manusia itu menderita? Maksud Koko jangan meremehkan orang lain di kala kita di atas! Yang di bawah juga tak selamanya di bawah. Mereka bisa merangkak naik dan yang di atas bisa tergelincir jatuh." Papar Azzam seolah dia seorang ahli falsafah.


Amang semakin terpana tak sangka seorang Alvan kecil mampu beri kuliah gratis padanya. Amang kok merasa dia sedang duduk di bangku sekolah sedang dididik tentang moral. Di jaman Amang sekolah ada pelajaran yang namanya Pendidikan Moral Pancasila disingkat jadi PMP. Amang tak tahu apa di jaman ini pelajaran ini masih di masukkan ke dalam kurikulum.


Amang menggeleng kepala berkali-kali yakin diri dia tidak sedang bermimpi bahas moral dengan anak kecil. Parahnya doa kalah telak dari si bocah.


"Kau benar nak! Amang bodoh tak tahu anak sekarang canggih. Amang hanya minta kamu sayang pada Oma kamu. Sekarang dia tak berdaya. Hanya kalian harapan beliau."


"Kami tetap ada karena sampai kapanpun kami ini keturunan Lingga. Bukan keturunan orang lain." tegas Azzam gagah.


Amang acung jempol puji sikap gagah Azzam akui dia anak Lingga. Alvan pasti bangga punya anak sebijak Azzam. Umur seupil namun pandangan jauh banget ke depan.


"Semoga gitu selamanya!"


"Amin... kami titip Oma kami! Jagalah beliau baik-baik! Kami akan rajin kirim doa semoga Oma diberi kesembuhan.


"Terima kasih sayang! Kau pantas jadi Lingga."


"Pantas atau tidak Koko adalah Lingga." jawab Azzam pede pada diri sendiri.


Mulut Amang terkatup rapat tak tahu harus omong apa lagi pada Azzam. Sekata Amang berkata berpuluh kata muncrat dari mulut Azzam. Anak itu bicara sopan tapi maknanya menembus ke jantung. Yang jantung lemah pasti lewat dah di tangan Azzam.


"Kapan-kapan kalian ke tempat kakek ya! Itu juga rumah kalian. Semua ingin kenalan sama anak-anak papi kamu."


Azzam tersenyum manis terima undangan dari Amang dengan senang hati. Azzam tentu saja ingin bertamu ke tempat orang tua papinya. Mengenal satu lingkungan baru sama saja menambah wawasan. Makin jauh mata memandang makin lapang lingkup mata mengenal dunia.

__ADS_1


"Kami pasti datang. Kakek tunggu saja kami."


Amang menepuk bahu kecil Azzam hargai semua yang telah mereka bincangkan. Amang harus akui Azzam anak luar biasa. Pandai bertutur kata bikin orang mati kutu.


Amang belum tahu kalau semua juluki Azzam si ular beracun. Sekali kena semburan racun lalu mati kutu.


Pesta syukuran berlangsung sampai sore hari. Hari ini ada dua peristiwa penting di dalam dua keluarga ini. Syukuran anak Alvan dan kehamilan Afung. Dalam hati Heru berharap bisa segagah Alvan. Sekali cetak dapat anak kembar. Kembar berapa juga boleh asal saingi Alvan yang terlalu tokcer.


Menjelang senja ada satu mobil mewah berhenti di depan pintu gerbang yang terbuka lebar terima tamu. Kehadiran mobil itu sangat menyolok memaksa orang memutar leher lihat siapa yang datang.


Andi sebagai panitia segera keluar sambut tamu sudah pasti penting. Dari tunggangan sudah jelas bukan dari kalangan biasa.


Dari dalam mobil keluar satu sosok cowok bule berambut pirang di susul seorang gadis kecil kuncir kuda. Lagi-lagi kejutan datang test mental dua keluarga ini.


"Cece datang .." teriak Andi kegirangan Afisa telah datang. Dikawal seorang laki bule yang sudah berapa kali datang ke tempat mereka. Setiap ada Afisa si bule tetap hadir.


"Hai kak Andi... Assalamualaikum..." sapa Afisa manis bikin Andi gregetan. Anak ini makin cantik dari hari ke hari.


"Waalaikumsalam... ya Allah! Akhirnya Cece datang nengok adik!" Andi menggandeng Afisa masuk ke dalam. Dari belakang si Thomas ikut masuk bawa paper bag yang tak tahu apa isinya. Tampaknya barang kecil karena ringan di jinjing.


Afifa menyalami para orang tua satu persatu diiringi tatapan kagum para tamu. Perpaduan sangat sempurna. Abang ganteng dan adik-adik semua terlahir cantik. Ini balasan untuk orang sesabar Citra.


Sesungguhnya Alvan tak pantas terima berkah demikian mahal. Kelakuan Alvan di masa lalu sangat buruk. Si raja tega demi seorang wanita berhati hitam. Semua telah dapat ganjaran sesuai porsi masing-masing.


Thomas menyerahkan paper bag pada Citra sambil ucapkan selamat dalam bahasa Inggris. Citra tentu saja paham apa yang dikatakan Thomas. Seterusnya Afisa dan Thomas pergi lihat si kembar empat.


Puas melihat adik bayi, Afisa mencari Afifa dan Azzam. Azzam masih duduk di samping Amang sedang Afifa berpangku tangan pasang wajah seram akibat Afisa tidak menyapa dia duluan.


Sudah ada adik maka dia diabaikan. Biasa dia yang diutamakan kini sudah tersingkir oleh pesona makhluk yang lebih imut.


Afisa dekati Afifa duluan untuk halau wajah horor Afifa. Afisa merentangkan tangan memeluk adiknya itu.


"Erce sayang...makin cantik saja!" puji Afisa ambil hati adiknya agar buang muka horor.


"Kalah cantik sama Cece. Datang kok tidak bilang?"


"Mau bikin surprise. Erce kan kaget Cece datang. Gimana sudah jadi kakak? Senang?"


"Sedikit?" sahut Afifa jujur isi hatinya.


"Kok sedikit? Harusnya senang dong!"


"Semua asyik lihat adik bayi! Tak ada yang open Erce lagi. Semua puji adik bayi." keluh Afifa mulai termakan api cemburu.


"Nah itu Erce salah! Bukan tidak open tapi anggap Erce sudah dewasa. Orang dewasa mana diperlakukan kayak anak kecil lagi. Orang dewasa harus mandiri. Kita ini sudah jadi Cece dari adik-adik jadi tak boleh manja. Kita wajib jaga adik kita dari segala bahaya." rayu Afisa membuat orang di samping dua anak ini salut cara bijak Afisa naikkan harga Afifa.


Afifa manggut termakan kata Afisa. Apa yang dikatakan Afisa adalah benar. Kalau dia mewek artinya dia belum tumbuh dewasa. Hanya anak kecil suka ngambekan. Kalau tak mau dianggap anak kecil Afifa harus berubah pola pikir.


"Cece betul...Erce kan sudah gede! Tak boleh manja. Maafkan Erce ya!"

__ADS_1


Afisa kembali memeluk Afifa dengan erat-erat. Sekali-kali jumpa bikin hati terbalut rasa kangen. Untuk seminggu ini Afisa bisa lepaskan kangen pada kelima adik dan satu Koko.


"Ayok kita menyapa Koko! Cece rindu pada Koko!" Afisa menarik tangan Afifa berjalan ke arah Azzam dan Amang. Langkah Afisa gemulai sesuai profesinya sebagai pesenam.


Thomas dibiarkan ngobrol dengan tamu lain. Tentu saja yang ngerti bahasa Inggris. Thomas total tak paham bahasa Indonesia. Kalau dikumpulkan dengan jagoan neon mungkin cuma Andi bisa ngerti dikit karena anak itu mulai go internasional sejak kerja di kantor Alvan.


"Hai ko...apa kabar?" Afisa ulurkan tangan menyalami Azzam dengan takzim. Salam adik kepada orang yang dianggap lebih tua.


"Baik..ayo Salami kakek dari Kalimantan! Ini Afisa kek! Afisa tinggal di Beijing lanjutkan sekolah di sana."


Afisa lakukan hal sama pada Amang setelah diperkenalkan Azzam. Amang tak pungkiri semua anak Citra terdidik baik dan sopan. Cucunya sendiri di Kalimantan tak satupun bisa menyamai anak Citra. Anak-anak ini kecil tapi tahu diri dan bijak.


Amang ngobrol dengan Azzam sudah cukup pusing gimana kalau Afisa ikut dalam obrolan. Amang pasti terdepak sampai ke jalan raya tak mampu lawan kedua mulut berbisa kedua anak Citra.


"Kenapa tidak pulang sekolah sini saja? Kan enak kumpul keluarga."


"Maunya gitu kek! Tapi Cece sudah terlanjur berkarir di sana ya harus tuntaskan sampai selesai." jawab Afisa sopan.


"Berkarir di sana? Oya...papi kamu ada cerita kamu ini pesenam. Prestasi kamu sangat bagus. Papi dan mami kamu pasti bangga padamu. Semoga kamu cepat pindah pulang sini berkumpul dengan keluarga."


"Semoga kek! Cece cuma dapat liburan seminggu lalu harus balik sekolah lagi. Oma kan juga akan balik sana untuk lanjutkan pengobatan."


"Mungkin tidak nak! Oma kamu akan coba pengobatan tradisional di Kalimantan. Kalau tak ada perubahan baru balik ke Tiongkok. Apa kamu ikut rawat Oma selama di sana?"


"Nggak juga. Ada papa dan mama aku rawat Oma dibantu Tante Nadine. Aku hanya kerjakan yang kecil saja! Aku tidak satu rumah dengan Oma karena agak jauh dari sekolah. Aku tinggal bersama papa dan mama."


"Kau sering jenguk Oma kamu?"


"Sering juga. Sabtu Minggu aku sering jenguk opa dan Oma. Cuma sayang Oma tak bisa bicara. Semoga Allah beri jalan kesembuhan."


Amang anggap Afisa lebih ramah dari Azzam. Amang tak tahu belum ke injak ekor Afisa maka dia tidak menjerit gigit orang. Afisa jauh lebih garang dari Azzam.


"Oma kalian pasti sembuh bila didoakan oleh cucu-cucu tercinta."


Afisa menatap Azzam tatkala Amang bilang cucu tercinta. Afisa mau membantah namun Azzam menggeleng tak ijinkan Afisa berkata apapun. Azzam tahu kadang Afisa bisa keluarkan kalimat kasar menyudutkan Oma.


Afisa mengerti maksud Azzam segera menelan kembali kalimat yang hampir menyembur keluar. Kalimatnya pasti akan mengucilkan Bu Dewi yang kejam pada mami mereka.


"Cece tak mau jumpa Oma Afung? Tadi dia jatuh sewaktu gendong Alika. Untung tidak apa-apa." Azzam mengusir Afisa secara halus sebelum obrolan jadi panas. Afisa tak pandai basa basi kayak Azzam. Afisa akan langsung kupas topik tanpa jaga perasaan orang.


"Ya ampun...apa Alika terluka?" tanya Afisa kuatir pada keselamatan adiknya.


"Cece tak lihat bagaimana Koko tangkap Alika. Seperti Superman perkasa menyambar Alika. Alika selamat tidak jatuh ke lantai. Koko itu hebat dan keren." timpal Afifa mengulang kejadian yang nyaris melukai Afung dan Alika.


"Wah Koko aku is the best. I love you!" Afisa memeluk Azzam beri penghargaan jadi juru selamat adiknya.


Azzam hanya tersenyum kalem tidak sok super Hero. Menjaga adik-adik merupakan kewajiban dia. Untuk apa segala pujian.


Amang betul dibuat takjub oleh ketiga anak Alvan. Mereka bukan hanya sekedar anak kecil tapi anak super jenius bertalenta.

__ADS_1


__ADS_2