
Azzam dan keduanya adiknya puas bermain sambil lepas kangen. Azzam dan Afifa pergunakan waktu sebaik mungkin nikmati hari bersama Afisa. Setelah ini ntah kapan lagi bisa kumpul.
Thomas juga tak kalah senang bisa nikmati liburan dengan bebas tanpa pengawalan ketat. Biasa anak ini dikawal dua puluh empat oleh orang suruhan keluarga Smith. Maklumlah Thomas anak satu-satunya dari trah keluarga kaya raya ini.
Pokoknya liburan kali ini bawa kebahagiaan bagi Afisa dan Thomas. Mereka bagai burung lepas dari sangkar emas terbang tinggi melihat dunia luas.
Besok Thomas dan Afisa sudah harus bertolak kembali ke Beijing untuk lanjutkan aktifitas sehari-hari. Sesuai janji keduanya akan bicara dengan Bu Sobirin tentang rencana kepindahan Alvan sekeluarga ke rumah baru mereka.
Azzam intip kapan Oma Uyut mereka ada waktu ngobrol dengan mereka. Mereka berdua tak mau Citra maupun yang lain ikut dengar pembicaraan tingkat tinggi ini. Azzam harus bisa yakinkan Oma Uyut untuk beri peluang pada Citra membentuk keluarga dan jadi ratu di hati anak dan suami.
Sekitar jam empat sore di saat semua pada istirahat Azzam dan Afisa menyeberang ke rumah Bu Sobirin mencari peluang bicara dari hati ke hati. Kedua anak itu mengendap-endap pantau sekeliling kalau-kalau ada yang ikut nguping.
Syukurlah dalam rumah tidak ada orang lain selain Bu Sobirin dan beberapa pembantu. Ini adalah waktu yang tepat untuk membicarakan keinginan hati Alvan pada Bu Sobirin. Azzam dan Afisa harus mampu meyakinkan Bu Sobirin untuk membiarkan Citra dan keluarganya membentuk keluarga merdeka tanpa campur tangan orang lain.
Bu Sobirin agak surprise melihat kedua cicitnya datang berdua dengan ekspresi agak aneh. Keduanya jarang sekali datang bertandang ke rumah sebelah kalau memang tidak ada keperluan penting. Angin apa yang membawa keduanya bertamu di rumah Uyut mereka.
"Lagi ngapain kalian?" tegur Bu Sobirin yang tengah santai minum teh sore hari. Kalau dilihat Bu Sobirin sendirian menikmati merupakan pemandangan yang sangat menyedihkan. Gimanalah bila Citra benaran pindah. Siapa lagi akan temani orang tua itu.
"Oma Uyut sedang apa?" tanya Afisa sok manis duduk di samping Uyutnya.
"Duduk santai tunggu opa Uyut kalian pulang!" Bu Sobirin tersenyum lembut seraya membelai pipi Afisa.
Azzam melihat sekeliling memang sepi senyap. Tak ada suara ciptakan kehangatan di rumah itu. Yang ada hanya hawa dingin seolah tak ada penghuninya. Padahal ada Heru dan Afung. Kalau Gibran tak bisa dimasukkan ke keluarga ini. Waktunya lebih banyak berada di rumah Citra.
Pantesan Citra tidak tega meninggalkan Oma Uyut mereka. Ternyata ini jawabannya mengapa mami mereka berat meninggalkan seorang perempuan tua merajut hari-hari dalam kesepian. Hati Azzam agak goyah setelah menyaksikan kebenaran bahwa Oma Uyut mereka kesepian. Kalau mereka pergi tentu akan makin sepi.
"Hei mengapa kalian diam? Lagi sakit gigi ya!" olok Bu Sobirin berusaha menyenangkan hati kedua cicit-cicitnya.
"Bukan itu Uyut! Besok Cece sudah harus balik ke Beijing. Cece mau pamitan sekalian ada sedikit hal mau diskusi dengan Oma Uyut." sahut Afisa ngeri-ngeri sedap takut Uyut mereka bakal sedih. Kalau marah Oma Uyut mereka tak mungkin marah. Orangnya pengertian dan selalu mengayomi.
"Oh? Mau omong apa? Uyut siap dengar." Bu Sobirin perbaiki letak posisi badan tegak siap dengar curhatan kedua cicitnya.
Azzam dan Afisa saling tukar pandangan mata sebelum mulai ke titik pembicaraan. Oma Uyut heran pada tingkah aneh kedua cicitnya. Misteri apa sedang disembunyikan dia bocah ini.
"Sayang ..ayok bicara! Apapun masalah kita bahas bersama sampai dapat solusi. Ok?"
Azzam makin ragu karena Uyut mereka sangat baik. Tapi mereka juga tak mungkin abaikan niat Alvan bawa keluarga keluar dari lingkungan seharusnya.
"Begini Oma uyut... Sebelumnya kami berdua minta maaf bila telah lancang ajak Oma Uyut bahas masalah ini." Afisa yang buka mulut karena melihat Azzam sudah diam.
"Kalian bikin Uyut deg-degan! Emang ada apa?"
"Begini...Uyut kan tahu posisi papi sebagai seorang pemimpin perusahaan. Jadi beberapa waktu ini ada segelintir orang bilang papi numpang hidup pada keluarga isteri jadi papi sangat terluka harga dirinya. Jadi..."
"Papi kalian mau pindah dari sini?" potong Bu Sobirin cepat mulai paham ke mana arah pembicaraan.
Azzam dan Afisa mengangguk secara serentak. Bu Sobirin termenung memahami posisi Alvan. Mereka memang sekeluarga tapi tetaplah ada jarak antara mereka. Alvan tentu punya harga sendiri di mata masyarakat apalagi dia seorang pemimpin puluhan perusahaan.
__ADS_1
"Uyut maklum...tapi papi kalian bisa beli rumah kalian dari mami kalian! Bukankah itu jadi milik papi kalian?"
"Dalam keluarga memang bisa kita kompromi. Tapi di luar sana orang tak mau tahu. Ceritanya Alvan numpang pada Citra Perkasa. Kasihan papi jadi bahan ejekan orang. Papi berusaha sabar demi mami, Uyut dan seluruh keluarga kita. Kami datang ke sini minta pengertian Uyut karena kasihan pada papi. Ini rencana kami berdua beri tempat layak pada papi." timpal Azzam menambah kata Afisa agar lebih kuat.
Bu Sobirin angguk-angguk berusaha paham. Azzam dan Afisa angkat salut pada Oma Uyut mereka tidak egois memaksa keinginan seperti Oma kandung mereka yang rada ego..
"Kalian punya solusi?"
"Punya...Senin sampai Jumat kami tinggal di rumah papi. Sabtu Minggu kami di sini. Setiap weekend kami pulang sini. Kalau Uyut mau tinggal bersama kami juga boleh. Di rumah ada tempat untuk opa dan Oma Uyut. Artinya kita tetap bersama hanya kadang terpisah oleh sedikit jarak. Tapi kita masih berada dalam satu payung." kata Azzam mulai keluarkan jurus ahli falsafah.
"Satu payung? Maksudnya apa?"
"Kita berada di bawah langit yang sama. Kita masih satu kota. Setiap saat Uyut kangen bisa datang ataupun telepon kami untuk datang. Kami tetap cicit Oma Uyut. Tidak tergantikan!" gombal Azzam menyenangkan Uyut mereka.
Bu Sobirin tertawa lepas tak anggap pindahnya Alvan dan anak-anak jadi beban. Betul kata Azzam, Alvan perlu harkat sebagai seorang kepala rumah tangga. Alvan harus berdiri di atas kaki sendiri perlihatkan pada dunia dia punya wibawa atas nama Lingga.
"Ok...Uyut kasih ijin tapi dengan satu syarat!"
"Syarat apa?" tanya Azzam dan Afifah serentak. Keduanya tak sabar ingin mendengar apa syarat dari Oma Uyut mereka. semoga saja Oma Uyut tidak menyulitkan Alvan dengan perpindahan ini.
"Kalian boleh pindah setelah adik kalian mencapai berat badan ideal. Sekarang mereka masih butuh banyak perhatian. Oma Uyut takut mami kalian tidak bisa merawat adik-adik kalian dengan telaten karena mereka sangat ramai. Oma bukan ingin melarang kalian pindah tetapi memikirkan kesehatan adik kalian. Bagaimana dengan syarat ini?"
"Baik Oma Uyut! begitu adek-adek sudah mencapai berat badan cukup maka kami akan menempati rumah papi. Bukankah begitu Oma Uyut?" Azzam setuju karena adiknya memang masih membutuhkan perhatian lebih akurat. Mereka lahir sebelum waktunya maka butuh perhatian lebih.
"Ok...tak ada masalah toh! Tapi kalian harus tepat janji setiap Sabtu pulang sini!"
"Ada bukti kalian tidak ingkar janji?"
"Ada dong!" Afisa bangkit lalu kecup pipi Oma Uyut mereka dengan suara kencang. "Ini stempel tanda kami tidak ingkar janji! Bukti akurat takkan pernah hilang walaupun apa yang terjadi."
Oma Uyut tertawa terbahak-bahak melihat kelucuan cicitnya. Jauh di dalam relung hati Bu Sobirin sedih namun demi kebahagiaan anak dan cucunya serta cicitnya Bu Sobirin bersedia mengalah. Yang penting semua menikmati hidup bahagia aman dan tentram. Hanya itu harapan Bu Sobirin sebagai orang tua.
"Nih Koko juga beri stempel biar Oma Uyut tidak kuatir kami ingkar janji." Azzam tak mau salah ikut mengecup pipi Oma uyuknya dengan gaya lebih kalem. Bu Sobirin sangat terharu pada kebijakan kedua cicitnya itu. Mereka memang anak-anak yang luar biasa. Masih kecil tetapi telah sangat bijak.
"Terima kasih Oma Uyut! Oma Uyut is the best!" Afisa tidak berhenti di situ. Gadis kecil ini melingkarkan tangan di leher Bu Sobirin beri kecupan beruntun untuk luapan rasa senang punya Uyut bijak tak persulit mereka.
Antara sedih dan haru Oma Uyut membalas pelukan Afisa. Bu Sobirin jarang berinteraksi dengan Afisa karena dia berada di tempat jauh. Ternyata anak gadis ini adalah anak baik dan hangat.
"Besok berangkat jam berapa?" tanya Bu Sobirin pada Afisa.
"Jam delapan. Kami akan singgah di Singapura dulu karena orang tua Thomas menunggu di sana. Dari sana kami langsung ke Beijing. Thomas akan sekolah di Beijing."
"Kau suka pada Thomas?"
"Suka dong! Dia itu teman yang sangat baik dan pengertian. Thomas tidak pernah membantah apapun yang dikatakan oleh Cece."
"Cuma teman?"
__ADS_1
"Iya dong teman! Emang dia mau jadi apa? Pacar atau suami? Kepagian Oma... waktu kami masih panjang! Sekolah dulu sampai berhasil jadi sarjana baru berpikir pacaran." sahut Afisa yakin tak ada niat lain berteman dengan Thomas.
Bu Uyut percaya Afisa anak bertekad kuat. Buktinya dia mampu berprestasi di internasional dan tidak sombong. Masih rendah diri seperti anak umum lain.
"Oma percaya. Malam ini Afisa mau Oma Uyut masakin apa?"
"Ikan kukus dengan bawang dan sedikit cabe. Ikannya lembut bikin tagih."
"Ok...Oma Uyut akan sediakan untuk makan malam kamu."
"Terima kasih Oma Uyut! I love you." Afisa kembali bermanja pada Oma Uyut. Azzam mana berani bertingkah pecicilan kayak anak perempuan. Bisa hilang keren seorang Azzam. Seorang cowok harus cool habis baru dijadikan idola para cewek. Cowok sejati mana ada pecicilan.
"Ayok kawani Oma Uyut ke dapur! Oma Uyut ajar Afisa masak biar kelak bisa masak sendiri kalau pingin makan."
"Ok Oma Uyut!" sahut Afisa dengan semangat berkobar tinggi. Menyenangkan orang tua termasuk kumpul pahala.
Azzam merasa tidak ada hubungan dengan dapur pilih balik ke rumah sebelah. Lajang ini lega telah sukses selesaikan misi diberi oleh Alvan. Mereka telah dapat persetujuan pindah tinggal tunggu waktu pas.
Anak ini pulang dengan hati riang. Tak ada kendala bagi mereka untuk pindah, cuma Azzam iba juga lihat Oma Uyut kesepian duduk sendirian menyongsong berpulangnya fajar berganti malam. Oma Uyut memang punya anak dan menantu tapi menantu yang satu ini ngomongnya tidak nyambung. Apa yang mau mereka obrolkan bila satu ngomong bahasa ayam dan satu omong bahasa bebek.
Namun Azzam bersyukur punya Oma Uyut sangat baik tidak egois mau menang sendiri. Dia masih pertimbangkan status Alvan di masyarakat.
Azzam tidak serta merta melapor pada Citra soal kesuksesan mereka bujuk Oma Uyut. Azzam ingin ngobrol dengan Alvan dulu beri sedikit toleransi pada Oma Uyut dan Citra besarkan adik kembarnya.
Acara makan malam tetap berlangsung riang gembira tak ada tanda adanya perubahan pada sikap Oma Uyut. Wanita paro baya itu tetap ceria seolah tak ada terjadi sesuatu.
Alvan dan Citra menduga kedua anak mereka belum bicara dengan Oma Uyut. Semua masih berjalan lancar. Gelak tawa masih penuhi ruang makan Citra. Tawa canda bersahutan saling menggoda antara dua keluarga ini. Kalau rumah yang ditempati Citra adalah hasil keringat Alvan mungkin tak ada perpisahan. Namun sayang rumah itu terlanjur jadi trademark keluarga Perkasa maka Alvan tak ingin menetap di situ.
"Setelah ini Afisa kapan datang lagi?" tanya Heru sedih juga ditinggal pergi oleh cucu membanggakan.
"Liburan musim panas nanti. Adik-adik pasti sudah bisa jalan ya!"
"Belum dong! Paling belajar duduk. Emang kau pikir adikmu anak sapi. Baru lahir sudah bisa jalan. Mungkin tunggu musim semi tahun depan baru jalan." sahut Citra menerangkan adik Afisa butuh waktu untuk belajar dari tahap ke tahap lain.
"Ya...lama amat! Pikir setengah tahun lagi sudah jalan. Memangnya kami juga begitu?" Afisa belum percaya proses bayi berjalan butuh waktu sangat panjang.
"Semua anak seluruh dunia begitu sayang! Pertama belajar balik badan, tengkurap lalu belajar duduk, merangkak baru jalan." jelas Bu Sobirin sabar.
"Oh gitu ya! Wah...kasihan mami harus ajar adik-adik satu persatu." Afisa memberi penghargaan pada kesabaran Citra bimbing mereka sampai sebesar ini.
"Itu mereka pelajari secara alami. Tak perlu diajar cukup kita bantu mereka lalui tahap demi tahap. Dulu kamu juga gitu!" Bu Sobirin masih beri penjelasan.
Si cuek bebek Afifa tidak tertarik pada obrolan. Dia lebih fokus pada hidangan di meja. Makanan malam ini tidak terlalu pedas sangat cocok dengan selera Afifa. Maka Afifa isi perutnya dengan aneka hidangan perpisahan yang dibuat Oma Uyut khusus untuk Afisa.
"Afisa harus lebih rajin belajar agar cepat tamat sekolah." opa Uyut beri nasehat ingin cicitnya ini pulang tanah air. Bagaimana pun Afisa adalah keturunan mereka yang lebih pantas berada di samping orang tuanya.
"Pasti opa Uyut! Cece akan persembahkan ranking pertama untuk opa Uyut. Medali emas senam lantai untuk pertandingan musim panas di Australia untuk Oma Uyut tercinta. Gimana? Opa dan Oma Uyut puas?"
__ADS_1
Pak Sobirin acung jempol puji semangat Afisa menyenangkan keluarga dengan prestasi.