
Alvan sengaja gunakan hobi Azzam untuk menjebak anak itu ke dalam perangkap Alvan. Azzam pasti akan makin dekat dengannya. Alvan harus pandai gunakan kesempatan mencuri kasih sayang Azzam.
"Tokcer...belok ke pet shop terdekat!" perintah Alvan pada supir pribadi keluarga. Tokcer dengan sigap menuju ke tempat yang diinginkan Alvan.
Tokcer bukannya tak tahu kalau Alvan sedang mencari perhatian Azzam. Tidak semua orang bisa bergaul dengan si mulut pahit itu. Anak model Azzam tidak banyak, pinter dan cerdik. Tahu kesusahan Citra membesarkan mereka maka Azzam tak pernah menuntut sesuatu membuat yang membuat Citra harus kehilangan isi kantong.
Mobil Tokcer berhenti di pet shop yang lumayan besar. Toko itu berkaca putih tebal. Dari luar tampak beberapa binatang yang terdiri dari kucing anjing kelinci dan marmut. Ada beberapa ekor anjing model Chihuahua pelarian sedang berlarian dalam kandang yang tampak dari luar. Kalau bukan memelihara anjing dilarang oleh agama rasanya Alvan ingin membeli anjing itu untuk Azzam.
Tokcer memarkir mobil di tempat yang aman. Tidak banyak kendaraan terparkir di depan toko itu. Hanya ada beberapa motor dan sebuah mobil lain terparkir di sana.
Setelah yakin mobil telah terduduk dengan baik. Tokcer segera membuka pintu mobil untuk Azzam dan Afifa. Tokcer tidak ragu-ragu menggandeng Azzam dan Afifa menuju ke pet shop yang dimaksud.
Wajah Azzam berseri-seri melihat begitu banyak piaraan berada di pet shop itu. Beda dengan Afifa yang kurang suka binatang dikurung. Maunya Afifa binatang itu hidup bebas di alam bebas. Tidak terkurung dalam kandang. Afifa iba pada binatang kena kurung.
Mereka masuk ke pet shop mencari kucing sesuai selera Azzam. Ada beberapa jenis kucing di dalam kandang cukup luas. Para kucing bermain dengan riang dalam kandang lega. Mereka memanjat sana sini dengan lincahnya. Afifa dan Azzam perhatikan satu persatu kucing yang akan diadopsi.
Pramuria toko datang menghampiri Alvan dan anak-anaknya tunjukkan sikap ramah. Dari penampilan Alvan jelaskan kalau laki ini berkocek tebal. Penjaga toko tentu senang pada orang berkantong tebal mampu borong binatang piaraan berharga selangit.
"Selamat siang pak! Ada yang bisa kami bantu?" sapa sang penjaga dengan keramahan super duper.
"Oh..ini anak-anak aku lagi cari kucing! Biarkan mereka memilih!"
"Kalau boleh kurekom kucing jenis ragdol Calico. Ini baru tiba kemarin pagi! Itu baru tiga bulan. Betina.." penjaga toko menunjuk seekor anak kucing yang lincah sedang memanjat tangga buatan.
Mata Azzam mengarah pada kucing yang dimaksud. Anak kucing itu memang bagus dengan tubuh belang tiga. Bulunya tebal halus, gerakan juga lincah. Tak urung Azzam jatuh cinta.
"Mau itu Pi..." Azzam setuju adop kucing jenis ragdol itu. Tak peduli jantan atau betina, yang penting cocok di hati.
"Kita cari satu jantan biar dia ada kawannya! Kalau cuma dia sendiri tentu kesepian. Gimana kalau yang itu?" Alvan menunjuk seekor kucing lebih besar berhidung pesek.
"Itu peaknose pak! Itu jantan berumur empat bulan. Pas dijadikan teman untuk ragdol. Kucing kita ada sertifikatnya serta silsilah jelas. Kartu vaksin juga lengkap. Bapak tidak akan kecewa adop kucing dari toko kami!" pramuria toko mulai jual kecap agar Alvan bulatkan hati adop kedua kucing itu.
"Berapa harganya?"
"Ragdol kita lepas tiga juta sedang peaknose lima juta. Jadi total delapan juta."
Tokcer menjerit dalam hati. Satu ekor kucing gajinya satu bulan. Mending ambil uang itu beli motor second ketimbang mengasuh kucing tak bermanfaat. Malah habisin duit beli umpannya.
"Berapa dapat potongan? Masa harga mati?"
"Benar nona...kucing saja semahal gitu! Di tempat kami banyak kucing aneka warna tidak ada yang mau. Nyusahin! Apa lagi musim kawin! Sakit kuping dengar jeritan mereka." timpal Tokcer membantu Alvan menawar. Yang dimaksud Tokcer kucing liar sekitar rumah. Kucing tunawisma tak bertuan.
"Bapak ambil dua ekor sekaligus?"
"Kalau cocok harga kami beli dua ekor. Biar ada kawan." ujar Alvan harap ada pemotongan harga. Menawar kan tidak bersalah selama tidak melanggar hukum.
Azzam berdoa semoga Alvan belikan dia kucing piaraan. Azzam tahu Alvan harus rogoh kocek cukup dalam untuk penuhi keinginan anaknya.
"Berhubung bapak adop dua ekor gimana kalau kuturunkan jadi tujuh juta."
"Lima juta..." cetus Tokcer cepat sebelum Alvan minta harga. Tokcer takut Alvan akan tawar enam juta ataupun enam setengah. Orang kaya kayak Alvan anggap uang segitu tidak seberapa bila dibanding kebahagiaan anaknya.
"Aduh pak! Jauh amat...tambah dikit lagi biar adik-adik ini dapat teman baru."
"Itu sudah pas! Toko di depan sana harganya lebih murah cuma adik aku ini suka yang mungil. Kalau boleh kita ambil. Kalau tidak ya terpaksa kami balik ke toko sana?" karang Tokcer membuat Azzam tersenyum. Sejak kapan Tokcer berubah pinter bersilat lidah. Ada kemajuan tuh anak!
__ADS_1
Pramuria toko jadi bimbang harus bagaimana. Pertahankan harga sama saja usir pelanggan. Jual harga segitu untungnya tipis. Tokcer memang pinter buat wanita muda itu dilema.
"Bapak akan beli yang lain bukan? Pet cargo, tempat pub, sendok pub, cat food dan piring makan minum."
"Iya siapkan semua keperluan kucing! Kalau ada rumahannya sekaligus."
"Baiklah! Aku siapkan semuanya! Ini sementara kita kasih makan makanan basah karena umurnya masih muda. Dry food hanya selingan. Aku akan beri yang paling bagus biar kucingnya tumbuh sehat."
"Terserah nona!"
"Kami sini juga perawat kucing. Bapak bisa bawa sini untuk mandi grooming, potong kuku dan bersihkan kuping. Kami sini ada dokternya."
"Akan kami ingat! Usahakan yang terbaik." Alvan tidak tanya soal harga pernak pernik untuk kucing. Alvan tak sabaran mau bawa Azzam dan Afifa pulang ke rumahnya. Alvan mau lihat reaksi kedua anaknya melihat rumah papi mereka.
Azzam girang bukan main dapat hadiah sepasang kucing. Anak lajang ini senang tak terhingga sampai memeluk Alvan sebagai ucapan terima kasih.
Pelukan Azzam yang dinanti Alvan. Alvan tak ubah jenderal perang meraih kemenangan melawan musuh. Musuh paling menyeramkan telah takluk padanya. Kini tinggal menaklukkan ratu dari musuhnya. Jalan Alvan berkumpul keluarga makin dekat.
Tokcer memasukkan semua belanjaan ke bagasi mobil. Kucingnya tidak dimasukkan ke pet kargo karena Afifa tidak tega mengurung kucing Azzam. Masing-masing menggendong satu ekor di pangkuan. Untunglah kucing tahu diri diadop orang kaya. Selanjutnya hidup kedua ekor kucing pasti gelimang kasih sayang.
"Nah ..kita pulang rumah papi dulu! Kita cari tempat nyaman untuk mereka." bujuk Alvan pakai strategi mengiringi kedua bocah pulang ke rumahnya. Sekali datang keduanya pasti betah.
"Apa mami tidak marah?" tanya Afifa lugu. Alvan menggeleng yakinkan anaknya Citra takkan marah.
"Afifa kan cuma singgah! Setelah kucingnya betah kita pulang ke rumah mami. Ok? Tok...ke rumah aku!" Alvan menyebut alamat rumahnya di bilangan kawasan elite.
Dengar nama kawasan itu saja Tokcer sudah merinding. Daerah itu hanya dihuni oleh orang-orang yang kantongnya penuh oleh kartu-kartu platinum. Orang-orang model Tokcer hanya bisa menjadi satpam ataupun tukang sapu di daerah situ. Tokcer bisa membayangkan betapa kayanya Alvan.
Perjalanan berlanjut ke daerah yang ditunjuk oleh Alvan. Rumah Alvan lumayan jauh dari rumah Citra. Sepanjang jalan kedua anak Alvan disuguhi pemandangan asri menyejukkan mata. Azzam dan Afifa tak bosan-bosan memendam keluar jendela mobil sambil mengelus anak kucing yang mereka adop.
"Wah indahnya rumah papi! Apa benar ini rumah? Apa bukan rumah Cinderella dan pangeran tampan?" Afifa mengeluarkan kepala keluar jendela mobil tak habis-habis kagum pada tempat tinggal papinya. Andai dia bisa tinggal di situ tentu sangat menyenangkan.
"Ini rumah Azzam dan Afifa. Rumah kita...kita masuk ya! Klakson tiga kali Tok!" Alvan kasih rahasia buka pintu gerbang. Bunyi klakson tiga kali maka satpam akan tahu itu mobil bos sudah pulang.
Benar saja kata Alvan. Pintu gerbang raksasa terbuka sendiri menanti mobil bos masuk. Tokcer dengan bangga masukkan mobil ke halaman super bersih. Melihat rumah ini rasanya ingin selipkan kata super.
Azzam dan Afifa mirip anak kampung masuk kota padahal mereka lama tinggal di luar negeri. Alvan biarkan kedua anaknya mengagumi rumah yang kelak jadi milik mereka.
"Ini istana ya pi?" tanya Afifa lugu.
"Istana Koko Azzam dan Amei Afifa. Yok kita masuk!"
"Papi lupa lagi sama Cece Afisa. Dia itu anak papi sama seperti kami." protes Afifa tidak terima Alvan tidak menyebut nama Afisa.
"Maaf papi lupa! Yok kita cari tempat untuk kitten kalian!" Alvan mengetok pintu rumah model Spanyol dengan gerakan tak sabar. Sudah cukup lama Alvan tidak pulang ke sini karena sibuk dengan Citra dan anak-anak. Kini Alvan pulang membawa darah dagingnya.
Azzam dan Afifa masih terpesona oleh lingkungan baru mereka. Setiap barang yang ada seperti hidup menanti majikan baru mereka.
Pintu rumah terkuak. Seorang perempuan setengah baya muncul menatap Alvan penuh rasa kangen. Bik Ani sudah berapa hari tidak jumpa dengan majikan kecilnya. Sekarang telah pulang membawa sesuatu yang bikin Bik Ani terbengong. Saking bingung Bik Ani mematung di depan pintu tak beri jalan pada Alvan untuk masuk.
"Bik..." panggil Alvan memanggil roh Bik Ani yang terbang saking kaget lihat majikan kecilnya bawa anak-anak cantik.
"Astaghfirullah...Den Alvan... siapa anak-anak cantik ini?"
"Bibik lihat mirip siapa?"
__ADS_1
Kata-kata Alvan memancing jiwa kepo Bik Ani. Mata tua Bik Ani meneliti wajah kedua anak itu dengan teliti. Kedua netra Bik Ani berpindah dari wajah Azzam dan Afifa. Bolak balik itu saja yang dilakukan Bik Ani.
"Masya Allah... anak-anak Aden?"
Alvan tertawa bangga pada kejelian mata tua Bik Ani. Sekali tebak dia tahu itu darah daging Alvan. Artinya kemiripan Alvan dengan anak-anak memang tak terbantahkan.
"Ayok Azzam...Afifa panggil nenek!" Alvan meminta kedua anaknya hormati Bik Ani walau hanya seorang pembantu.
"Nek..." si mulut manis Afifa langsung keluarkan panggilan.
"Nenek.." lanjut Azzam..
Bik Ani menetes air mata saking girang akhirnya Alvan punya keturunan. Bik Ani sudah kuatir penerus Alvan takkan pernah muncul lagi sejak Karin keguguran. Bik Ani tak tahu kecurangan Karin. Dipikir Karin memang mengandung anak Alvan.
"Tidak ajak anak-anak masuk?"
"Oh maaf! Ayo sayang nenek kita masuk! Mau minum apa? Biar nenek bikin untuk kalian!"
"Tak usah repot nek! Kalau haus kita akan minta!" sahut Azzam bijak tak ingin merepotkan orang tua.
Afifa tidak tertarik pada obrolan Bik Ani dan Azzam. Afifa sibuk meneliti isi rumah yang sangat jauh beda dengan rumah mereka. Satu ruang tamu mungkin seluas seluruh rumah mereka. Perabotan di sini juga sangat indah. Semuanya berwarna gold.
Alvan biarkan Afifa terkagum-kagum pada lingkungan barunya. Alvan beri kode pada Azzam untuk ikut dengannya mencari ruang pada kucing Azzam.
"Bik temani Afifa ya! Aku bawa Azzam ke belakang ya!"
Bik Ani mengangguk. Bik Ani suka pada keluguan Afifa yang mirip boneka itu.
Azzam, Alvan dan Tokcer menuju ke belakang memilih tempat buat kucing Azzam. Sebenarnya Azzam sangat ingin merawat kucingnya di rumah tapi Azzam takut Citra tidak suka maka harus rela kucingnya di rawat di rumah Alvan.
Kucing Azzam di tempatkan di satu ruang bekas gudang buku. Masih harus ada sedikit perbaikan agar kucing nya lebih nyaman. Alvan akan memanggil tukang buat kandang yang tak mengganggu riang gerak kedua kucing itu.
Alvan menanti reaksi Azzam setelah tiba di ruang yang dimaksud. Saat ini ruangnya memang agak kotor karena belum dibersihkan.
"Papi akan minta orang menata tempat ini! Azzam sabar ya! Sekarang kucingnya kita lepas di sini dulu. Besok papi ajak tukang ke sini!"
"Tapi banyak abu Pi?" protes Azzam tak rela kucing kotor kena abu dan sarang laba-laba.
"Kita sapu bersama ya! Sekarang lepaskan kucingmu biar dia bergerak bebas. Kasihan digendong terusan."
Azzam enggan turunkan kucingnya karena lantai belum terjamah sapu. Kucing mana ngerti tempat bersih atau kotor. Tuannya yang harus bantu binatang lucu itu jaga kebersihan.
"Baiklah! Azzam ke depan gabung sama Afifa. Papi dan Kak Tokcer akan bersihkan!" Alvan mengalah tak ingin membuat perang baru dengan Azzam. Perdamaian baru terlaksana apa harus di nodai oleh salah pengertian.
"Iya Pi...Azzam ke depan ya!" Azzam berlari sambil membawa mpusnya dalam gendongan.
"Panggil satpam dan tukang kebun di luar sana! Ajak mereka bantu bersihkan ruang ini!" perintah Alvan pada Tokcer.
"Satpam yang jaga gerbang tadi?"
"Iya .."
"Siap pak!" Tokcer berlari kecil menuju keluar rumah. Luas rumah Alvan nyaris seluas lapangan futsal. Kalau tidak hati-hati bisa nyasar dalam rumah.
Tokcer ikuti rute dia masuk tadi baru tiba di depan rumah. Tanpa buang waktu Tokcer hampiri satpam bertubuh tegap itu. Kumis melintang mirip pak Raden tokoh dalam film boneka Unyil.
__ADS_1