
Viona tak percaya mengapa keadaan berubah berbalik arah. Rencana ingin menjatuhkan Citra malah justru membuat Citra mendapat kemenangan yang tertunda. kini semua yang berada di ruang tamu Citra berdiam diri menanti kelanjutan dari drama serangan fajar dari Viona. Ibunya Heru telah memberi kabar pada Heru agar datang ke rumah Citra untuk perjelas keadaan sesungguhnya. tujuan Ibu Heru bukanlah masalah Viona tapi justru masalah anaknya Hamka yang hilang 30 tahun yang lalu. masalah Viona tidak menarik perhatian Ibu Heru lagi. ada yang lebih penting dari sekedar umbaran amarah Viona.
Orang yang mereka cari bertahun-tahun lalu kini yang ada hanya tinggal foto kenangan. Ada cerita apa di balik kisah hilangnya anak ibu Heru. Kisah yang tidak pernah Citra ketahui selama bertahun-tahun ini. Citra hanya mengetahui kalau ayahnya seorang sopir yang bernama Suroso dengan ibunya bernama Inge. Mereka hidup berbahagia walaupun tidak dalam gelimang harta. Sayang sekali ibunya Citra berumur pendek. Ibunya Citra meninggal waktu Citra duduk di kelas 1 SMU. Ibunya Citra meninggal karena demam berdarah akut yang menyerang pada masa itu.
Keadaan sedikit mencekam karena tidak ada yang mengeluarkan suara. Semua tenggelam dalam pemikiran masing-masing. Entah apa yang terpintar di benak otak mereka. Yang tampak jelas wajah Viona berkerut-kerut mirip pakaian belum disetrika. rencananya mengucilkan Citra gatot alias gagal total.
Setengah jam kemudian Heru muncul sendirian tanpa dikawal. Wajah Heru yang biasa tampak ganteng kini berkerut-kerut karena tidak senang kelompok Viona datang ke rumah Citra membuat keributan di sana. Heru sangat malu pada kelakuan dari sebelah keluarganya. Apalagi mamanya ikut campur dalam urusan ini. Sangat tidak pantas menyerang ke rumah orang gara-gara hanya cemburu buta yang belum tentu terbukti.
Heru nyelonong masuk tanpa mengucapkan salam saking gemesnya dia pada kelakuan keluarganya. Ini hanya mengecilkan nilainya di mata Citra. Citra pasti mengira Heru sengaja meminta Viona berbuat gini untuk menunjukkan bahwa dia banyak disukai oleh wanita. Padahal sumpah mati bukan itu tujuan Heru. Heru tak tahu sama sekali kunjungan Viona ke tempat Citra.
"Heru...sini nak!" seru ibunya Heru begitu Heru masuk ke rumah Citra.
Heru tertegun melihat betapa ramai ruang tamu Citra. Rumah kecil Citra menjadi sesak di penuhi tamu-tamu tak diundang. Heru merasakan betapa Citra memendam amarah namun ditahan. Heru mengenal Citra yang paling penyabar. Sekonyol apapun orang dia tetap berusaha menahan diri.
"Citra...aku minta maaf telah mengganggu ketenangan mu! Aku sama sekali tak tahu kalau Viona ajak mama aku ke sini. Aku akan ajak mereka pulang! Nanti aku balik lagi jelaskan masalah ini." Heru merapatkan kedua telapak tangan ke dada memohon pengertian Citra.
Andai Citra tidak terima Heru juga tak bisa berbuat apa-apa. Masuk ke wilayah orang menyerang babi buta merupakan kesalahan besar melanggar hukum. Citra bisa menuntut mereka secara hukum. Penjara dingin siap menampung tubuh molek Viona nginap di sana. Gratis tanpa dipungut bayaran.
"Mas Heru...aku cuma bilang satu kali saja! Aku tak mau kejadian ini terulang lagi. Anak-anak aku bukan anak haram seperti kata Viona. Dan aku tak pernah merebut kamu dari Viona. Ingat kata-kata aku! Dan kumohon mas Heru jauhi aku supaya tidak timbul fitnah dari calon isteri anda!" Citra bangkit dari sofa supaya pertegas kalau dia juga tak suka Heru asyik seliweran di depan matanya. Bagaimana juga dia masih berstatus isteri orang.
"Kamu salah paham Citra! Viona bukan calon isteri aku! Keluarga memang menjodohkan kami tapi aku tidak pernah tertarik pada wanita yang kerjanya hanya tahu belanja, seharian berada di luar rumah berpesta tak jelas. Aku butuh sosok pengertian dan mandiri macam kamu. Jujur aku suka padamu Citra! Tapi aku suka padamu bukan berarti kamu harus menerima aku! Semua tergantung pada kata hatimu! Sayang dan cinta padamu itu urusan aku! Tak membebani kamu!" ucap Heru di hadapan banyak orang. Sikap Heru gentle mendatangkan rasa kagum di hati cowok-cowok lajang itu termasuk pak RT bujang lapuk. Lelaki berjiwa kesatria harusnya memang gitu. Berani bersikap tidak memaksa.
"Heru ..apaan kamu? Apa kurang Viona dari perempuan ini? Dia sudah punya anak dan Viona masih gadis. Kau buta ya tidak lihat mana berlian dan sampah?" bentak ibu Viona tidak terima Viona dipermalukan Heru. Sementara itu Viona menangis sesenggukan tak dianggap Heru. Hati Viona terasa sakit karena dia telah mengharap menjadi istri Heru selama bertahun-tahun. Satu dua kalimat Heru menghempas Viona dari awang-awang jatuh ke ke rawa-rawa kotor. Viona merasa tidak berharga sama sekali.
"Tante apa selama ini aku pernah mengatakan mencintai Viona? Aku baik pada Viona karena dia adalah saudara aku. Untuk soal perasaan aku sama sekali tidak ada perasaan apapun pada anak Ibu ini. Viona terlalu elit buatku, Aku tak mau kejadian dulu terulang lagi dalam hidup aku." Heru mengenang kepahitan yang diberikan oleh istri pertamanya. Pergi meninggalkannya untuk hidup bersama orang Arab yang lebih kaya walaupun terakhir hidupnya berakhir tragis.
"Mas Heru Ini masalah keluarga kalian. Lebih baik Mas Heru ajak keluarga dan bicarakan baik-baik di rumah. Dan untuk selanjutnya kumohon Mas Heru tidak perlu muncul lagi dalam hidup aku!" Citra merasa tidak enak hati melihat perdebatan antara Heru dengan keluarganya mengenai Viona. Persoalannya dengan Viona telah jelas. Heru tertarik padanya tetapi Citra tidak tertarik sedikitpun.
"Bukan.. bukan itu tujuannya!" timpal ibunya Heru tidak ambil peduli masalah asmara Heru dan Viona. Ada yang lebih penting dari itu yakni ayahnya Citra yang jadi pertanyaan. Apakah Suroso itu Hamka? Ibunya Heru mau Heru memastikan bahwa yang ada di dalam foto itu adalah abangnya.
Ibu Heru menarik tangan Heru untuk melihat foto Citra dan keluarganya yang terpajang di dinding. Ibu Heru antusias menunjukkan bahwa itu adalah foto Abang Heru yang raib tiga puluh tahun lalu. Puluhan tahun mereka mencari sosok tersebut tapi hilang bagai di makan bumi.
Heru menelan air ludah berkali-kali tak sangka dia bisa melihat foto yang di klaim abangnya. Heru menurunkan foto keluarga Citra untuk melihat lebih jelas sosok dalam foto itu.
__ADS_1
"Mas Hamka dan mbak Inge??" gumam Heru merasa dunia mau runtuh. Kejutan ini sungguh memicu detak jantungnya berlari lebih kencang. Tidak mengejar sesuatu namun kelelahan sendiri. Kalau benar orang di dalam foto adalah abangnya artinya Citra itu keponakannya. Orang yang dia cintai adalah anak dari Abang kandung. Bagaimana mungkin ini bisa terjadi. Mencintai anak sendiri, anak Hamka berarti anaknya juga.
Heru terhuyung beberapa langkah tak bisa terima kenyataan pahit ini. Dia ingin memeluk Citra sebagai isteri bukan sebagai keponakan. Tidak gampang menemukan wanita sesuai impian, wanita yang datang padanya semua hanya ingin hartanya. Cuma Citra satu-satunya cuek pada semua pesona Heru.
"Ini Mas Hamka ma..." desis Heru masih belum bisa terima kenyataan dalam darah Citra mengalir darahnya.
"Mana juga yakin ini Hamka cuma Hamka sudah tiada! Mama menyesal tidak merestui pernikahan mereka. Mama menyesal Heru!" ujar ibu Heru memeluk anak laki sambil meratapi nasib malang anaknya.
"Mas Hamka sudah tiada? Kenapa?" lirih Heru masih linglung. Ini merupakan pukulan berganda di relung hati Heru. Kesedihan berlapis bergejolak dalam dada. Kehilangan harapan menjadikan Citra sebagai ratu hati juga kehilangan sosok Abang yang dia cari cukup lama.
Viona dan ibunya terdiam tak mampu bikin onar lagi. Kejadian tak terduga ini berawal dari rasa dengki di hati. Viona benci pada Citra yang menyedot perhatian Heru. Maka gunakan power ibu Heru melabrak Citra. Tak pernah terpikir kisah berubah dari rencana semula.
"Bapak-bapak dan ibu-ibu yang kucintai..." pak RT memulai gunakan suara agar persoalan jumpa titik terang. Perutnya sudah berdendang lagu keroncong sedih. Meratapi kesedihan para cacing belum dikasih ransum.
"Serakah amat pak RT..semua dicintai. Satu doang!" celetuk Andi asalan.
"Ini bukan mencintai antara cowok dan cewek! Tapi pada warga...dasar ubur-ubur lunak! Asal bunyi..." pak RT menanggapi Andi dengan kesal. Celetukan Andi selalu ingin menjatuhkan wibawanya sebagai RT. Entah dendam apa membuat Andi senang usilin Pak RT.
"Iya ..ngerti...lanjut!" sahut Andi sok manis. Kedua tangan Andi berlabuh di depan bertautan manis mirip anak SD lagi diceramahi guru.
"Begini... Selanjutnya apa yang harus kulakukan agar persoalan ini tidak mentok di sini? Apa tuntutan nona Viona dan apa keinginan Bu Dokter cantik?"
"Bapak ini siapa ya?" Heru tersadar telah melupakan kehadiran orang lain di rumah Citra. Hanyut dalam kesedihan menyebabkan Heru tidak perhatikan yang lain.
"Saya RT setempat. Berhubung nona ini datang ribut-ribut di sini maka aku datang untuk menyelesaikan masalah."
"Oh maaf Pak RT...aku akan menyelesaikan masalah ini. Percayalah semua akan aman! Kujamin nona Viona takkan usik dokter kalian! Oya ini ada sedikit uang untuk beli kopi dan rokok untuk adik-adik ini!" Heru merogoh kantong mengeluarkan dompet. Dari benda dari kulit asli itu muncul beberapa lembar uang warna merah membuat mata pak RT berbinar cerah.
Yang namanya duit selalu menyenangkan orang. Suasana hati terburuk bisa berubah cerah bila jumpa pak Fulus. Andi cs mencibiri mata duitan RT koplak bergelar bujang lapuk tak laku sepanjang masa.
"Jangan lupa sumbang ke fakir kaya!" sindir Andi disambut delikan mata ngantuk pak RT tidak menjanjikan itu. Andi heran mengapa RT model gini bisa terpilih. Mungkin pilihnya pakai cap cip cup. Dipilih berdasarkan suitan seluruh warga.
"Emang ada fakir kaya?" timpal Bonar meramaikan suasana.
__ADS_1
"Ada...janda tetangga sebelah!" sambung Andi mengedip mata pada Bonar.
"Enak aja janda! Mpok Leha itu gadis!"
"Iya...iya ..gadis serasa janda!" olok Tokcer bekerja sama bikin kapok RT tidak kredibel itu.
"Awas kalian...! Kalau ada uang bantuan nama kalian tidak kumasukkan! Terutama kau Bonar?"
"Yee...korupsi berantai...bersiap kulapor ke kades! Kujamin kursi RT bakal patah!" Bonar berbalas tak terima disudutkan RT.
Heru dan ibunya pusing dengar perdebatan tak sehat Pak RT dengan warganya. Mana ada RT dikerjain warga sampai mendelikkan mata. Heru tak tahu RT sering muntah darah dibuat tiga serangkai tukang onar. Untung tak sampai mati.
"Terima kasih pak Heru...aku permisi kalau gitu! Masih ada sedikit tugas ke kantor desa." Pak RT angkat pantat berniat kabur sebelum dikerjain sama kelompok Andi.
"Silahkan pak! Terima kasih atas kehadirannya." Heru biarkan RT pergi karena urusan selanjutnya dia akan urus sendiri.
"Woi pak RT...jangan lupa rokok kita! Gue minta cerutu Made in Janda!" seru Andi sekencang mungkin agar RT-nya dengar jelas. Tokcer dan Bonar cekikan lihat RT mengepal tinju ke arah Andi.
Sepergi RT suasana kembali hening. Viona dan ibunya tak berani bersuara karena Heru tampak serius kali ini. Gaya Flamboyan sok peduli pada wanita berubah menjadi tegas selayak dia sedang berbisnis.
"Nah sekarang kita mulai berbicara! Pertama-tama ingin kukatakan tidak ada niat sedikitpun di hatiku untuk menjalin hubungan lebih jauh dengan Viona. Aku butuh wanita yang betul-betul memahami aku, bukan yang hanya tahu kartu kredit dan kartu ATM. Viona sama sekali tidak cocok dengan pola hidup aku. Jadi lupakan keinginan untuk masuk dalam kehidupan aku?" Heru langsung to the point mengarah pada Viona. Heru merasa sudah saatnya menjelaskan semua pada Viona. Umur Viona juga tidak muda lagi, harusnya wanita itu mencari pria yang lain cocok dengan pola hidupnya yang senang huru-hara.
"Heru teganya kamu padaku! Aku sudah menunggumu bertahun-tahun. Inikah balasan kamu padaku?"
Heru tertawa kecil mendengar pembelaan Viona. Selama ini Viona hidup nyaman dengan kartu yang diberikan oleh Heru. Semua pengeluaran Viona ditanggung oleh Heru. Mungkin ini saatnya Heru harus mengakhiri semua kekonyolan ini agar Viona tidak terobsesi pada dirinya.
"Apa yang kau tunggu Viona? Transferan duit atau kartu gold dariku?"
"Tapi aku mencintaimu Heru... seluruh hidupku kupersembahkan kepadamu. Tidak ada lelaki lain di dalam hidupku selain kamu."
Heru menghela nafas tak tahu harus jawab apa lagi. Cinta yang ada di hati Viona hanya sebatas cinta pada lembaran yang bisa digunakan untuk berbelanja. Kali ini Heru harus tegas persoalan tidak berlarut-larut lagi.
"Aku tak pernah mencintaimu. Aku hanya menghormatimu sebagai saudara daripada Mama aku. Lain tidak.."
__ADS_1
"Apa karena kehadiran Citra?" Viona menatap tajam pada Citra yang tidak tertarik pada drama sinteron antara Heru dan Viona. Citra mengharap mereka cepat pergi dari rumah agar dia bisa tenang menemani anak-anak sarapan. Citra punya janji dengan Alvan untuk menjenguk pak Jono. Citra tak ingin ingkari janji pada Alvan di saat hubungan mereka membaik.