
Azzam bukan orang bodoh tak tahu sedang disindir Gibran. Untuk hari bahagia ini Azzam malas berbalas pantun dengan Gibran. Gibran juga tak bakalan menang adu mulut dengannya. Anak itu kalah telak.
"Ayok kita tunggu mami di ruang perawatan! Amei tak sabar ingin kasih selamat pada mami."
Semua setuju dengan usul Afifa. Citra akan segera dibawa ke ruang rawat inap yang sudah pasti super VIP. Cuma sayang bayi-bayi belum boleh digabung dengan induknya. Anak-anak itu masih butuh penanganan intensif karena lahir sebelum waktu. Ditunggu sampai waktu sembilan bulan juga tak mungkin. Delapan bulan lebih terpaksa diambil tindakan untuk hindari resiko lebih buruk.
Beramai dua keluarga besar ini pindah ke ruang rawat Citra. Sebentar lagi Citra akan dibawa ke ruangan untuk masa pemulihan pasca lahiran.
Semua petugas di rumah sakit ikut bahagia dengar anak Bu Dokter Citra telah lahir ke dunia. Baik dokter, perawat, apoteker termasuk petugas kebersihan semua bahagia dapat kabar bahagia ini. Apalagi anak yang keluar dari rahim Citra bukan satu bayi melainkan empat bayi. Ini kali pertama rumah sakit ini terima bayi kembar empat. Lebih hebat lagi yang punya anak adalah pemilik rumah sakit dan dokter yang bertugas di rumah sakit. Berita ini cepat tersiar dari mulut ke mulut menyebar ke seluruh penjuru rumah sakit.
Dalam tempo singkat rumah sakit banjir karangan bunga ucapan atas kelahiran anak penerus Lingga. Papan bunga dan buket bunga datang tak henti dari berbagai kalangan. Dari rekan bisnis Alvan dan dari rekan sejawat Citra.
Ini memecahkan rekor sejarah ucapan selamat untuk pasien yang pernah ada. Pelataran parkir penuh sama papan bunga sedang dalam ruangan penuh dengan buket bunga. Alvan tugaskan ketiga jagoan neon urus ucapan dari berbagai kalangan itu. Alvan minta Andi cs catat siapa yang telah berbaik budi ucapkan selamat padanya. Alvan janji akan balas ucapan ini dengan berkali lipat.
Citra belum sadar karena kena bius total. Yang lain lebih fokus lihat bayi-bayi mungil di ruang khusus bayi. Keempat bayi itu ditempatkan di inkubator untuk hangatkan badan mereka. Keluarga Perkasa dan Lingga hanya bisa lihat dari balik kaca karena mereka tak diijinkan masuk. Bayi sekecil ini rawan kena kuman maka orang yang masuk harus steril total.
Anak-anak itu bikin orang salah fokus. Yang laki mirip dewa Yunani saking gantengnya sedang yang cewek belum bisa diarahkan ke mana karena masih merah banget. Yang jelas dua cowok keren saingan Azzam telah lahir ke dunia. Semoga saja otaknya sekeren Azzam. Alvan seharusnya makin bangga telah cetak generasi penerus dua kerajaan besar. Tapi tetap ada yang kurang, Alvan merasa hidup akan lebih sempurna bila ada Afisa di antara mereka. Anak itu terbang makin jauh karena prestasinya makin tokcer. Kejuaraan senam musim dingin ini Afisa persembahkan tiga medali emas untuk negara di mana dia menetap. Anak punya Alvan tapi yang punya nama orang lain.
Mata Bu Sobirin berkaca-kaca takjub melihat cicit-cicitnya bertahan sampai dilahirkan. Mereka bayi tangguh akan ikut warnai hiruk pikuk bisnis dua kerajaan.
"Ya Allah...mereka semua cantik dan tampan. Yang laki agak mirip Heru ya!" gumam Bu Sobirin tak bisa sangkal Citra memang keturunan Perkasa. Terbukti anak yang dia lahirkan ada mirip Heru. Bahkan Gibran tak mirip Heru. Gibran mirip mamanya. Kenapa bayi Alvan mirip dengan gen Perkasa.
Alvan pasti iri setengah mati anaknya mirip Heru padahal kalau mau diamati anak-anak itu mirip Citra. Berhubung Citra ada kemiripan dengan Heru maka bayi-bayi itu tampak mirip Heru.
Dasar kakek koplak. Kepala Heru bertambah tiga inchi gede karena cucunya lebih condong ke Perkasa. Ketamakan makin kuasai laki itu ingin menguasai bayi Alvan yang mirip dengannya. Heru memang butuh anak laki untuk meneruskan bisnis Perkasa. Heru lupa kalau Lingga juga tak kalah besar. Alvan juga butuh penerus perusahaannya. Azzam sendiri takkan mampu handel perusahaan yang semakin berkembang.
"Iya dong mirip aku! Mereka kan keturunan Perkasa. Mereka akan ikuti nama Gibran." ujar Heru lupa siapa sebenarnya bapak dari bayi-bayi itu.
Untung Alvan tidak berada di situ karena sibuk menjaga sang isteri yang telah sukses memberinya anak-anak cantik dan ganteng. Baik mirip Alvan maupun Citra tetaplah elok rupa. Bapak ganteng sedang ibu cantik. Anak-anak mereka tentu tak jauh dari dua kata indah itu.
Bu Sobirin anggap Heru sedang bercanda maka tidak ambil hati. Mereka sedang diliputi kebahagiaan. Jangan hanya karena ocehan Heru merusak segalanya.
Afung sendiri tak kalah takjub lihat para malaikat kecil tidur pulas di dalam kaca diberi lampu penghangat. Untuk sementara mereka hanya diberi susu formula karena Citra masih dalam kondisi belum sadar.
Semoga mereka cepat tumbuh biar bisa segera di bawa pulang. Tak ada yang ingin pergi dari ruangan penempatan bayi. Semua masih suka lihat bayi-bayi mungil yang masih merah. Heru tak ingin pulang betah memantau setiap gerakan sang bayi calon anaknya. Heru harus bisa yakin kan Citra dua anak sandang nama Perkasa. Bicara sama Alvan takkan ada guna. Sejuta persen laki itu akan menentang Heru beri nama belakang Perkasa pada anaknya. Alvan masih sanggup biayai ke tujuh anaknya. Mengapa harus diambil alih oleh orang lain.
Menjelang malam Citra baru sadar sepenuhnya dari pengaruh obat bius. Yang pertama dilihat Citra adalah Alvan dan kedua anaknya. Memang itu yang jadi harapan Citra. Bukan mata yang terlihat adalah orang-orang tercinta.
Alvan menggenggam tangan Citra erat-erat sambil beri senyum penghargaan. Satu ciuman mesra Alvan berikan sebagai hadiah perjuangan Citra melahirkan buah hati mereka.
Citra tersipu malu dicium di depan anak-anak. Bukan edukasi baik bermesraan di depan mata anak. Tapi anak-anak justru senang lihat kedua orang tua mereka akur.
"Terimakasih sayang...mereka sangat indah." ujar Alvan selembut salju.
"Mereka sehat?"
"Alhamdulillah sehat. Mereka sempurna."
__ADS_1
Citra menarik nafas lega mendapat kabar baik. Mata Citra kini beralih ke Azzam dan Afifa yang menanti kesempatan menyapa mami mereka. Citra melambai agar kedua bocah itu mendekat.
Afifa duluan berdiri di sisi ranjang Citra mengulas senyum manis buat mami yang baru saja berjuang beri dia adik.
"Koko dan Amei senang punya adik kecil?"
"Senang dong! Mereka kecil sekali. Tangan mereka seperti boneka. Oya mi...sekarang aku tak mau dipanggil Amei lagi. Bukankah sekarang aku ini Erce (kakak kedua)?" protes Afifa minta keadilan.
"Iya tentu. Adikmu laki atau perempuan?"
"Dua laki dan dua perempuan. Amei dan Koko pernah bahas nama adik kami. Kalau cewek kami mau kasih nama Afika dan Afira. Kalau cowok namanya Azmi dan Azril."
"Kenapa kalian yakin mereka dua cowok dan dua cewek? Tebakan atau memang ada bocoran?" tanya Citra surprise kedua anaknya jauh hari telah bahas nama adik mereka.
"Hanya perasaan saja. Boleh ya mereka gunakan nama pilihan kami!" rengek Afifa berharap kedua orang tua mereka hargai pendapat mereka.
"Papi dan mami setuju. Tapi kita harus berembuk dulu sama opa Oma dan Uyut. Mereka adalah orang tua yang harus kita hormati. Mereka lebih tahu nama yang baik untuk adik-adik kalian. Sekarang mereka baru lahir. Belum perlu sekali nama. Asal kita tahu itu adik kalian. Ok?" bujuk Alvan bijak tak mau mengecewakan anaknya. Jelas sekali mereka mencintai adik mereka. Jauh hari sudah persiapkan nama untuk mereka.
Afifa mengangguk lemas. Azzam merasakan kekecewaan adiknya segera alihkan pembicaraan agar tak berkutat sekitar nama saja. Azzam anak paling bijak calon pewaris Lingga yang telah terdidik dari dini.
"Erce..adik kita lebih butuh Cece yang perhatian. Kita harus memikirkan pembagian kamar. Di rumah hanya ada sisa satu kamar. Itupun punya Cece. Apa Erce mau ngalah kasih kamar ke adik?" Azzam sengaja rubah panggilan biar Afifa senang telah dilantik naik pangkat.
Hidung Afifa kontan kempas-kempis kena rayuan Azzam. Sekarang dia bukan si bungsu lagi. Dia adalah kakak yang harus bertanggung jawab pada adik-adik.
"Boleh ..Erce pindah tidur dengan Koko saja. Kamar Erce buat adik."
Tak ada rasa iri hati di antara mereka.
"Tak perlu sayang...untuk sementara adik kalian tidur sama papi dan mami. Papi akan buat kamar lain untuk adik-adik kalian. Mereka akan tidur bersama sampai umur tiga tahun. Setelah itu baru tidur di kamar masing-masing seperti kalian. Apa sudah kabari Cece adik kalian sudah lahir?" tanya Citra teringat pada Afisa yang pasti sedang menanti kabar dari tanah air.
Afifa menepuk dahi hampir melupakan Afisa. Afisa wajib tahu adiknya sudah terlahir di dunia ini. Sekarang dia bertambah adik lagi. Mungkin dia mau pulang untuk bergabung dengan keluarga di tanah air.
"Videocall ya!" Afifa mengulurkan tangan pada Azzam minta ponsel abangnya. Afifa tidak bawa tabletnya yang gede. Tablet bukanlah barang yang mudah di bawa sana sini karena bentuknya yang besar.
Azzam aktifkan layar lalu serahkan pada Afifa tanpa banyak tanya. Gaya Azzam memang menggemaskan. Sok dewasa sok cool.
Afifa mencari kontak Afisa lalu hubungkan panggilan video. Dalam sekejap telah tersambung. Anak itu masih berada di lapangan senam dengan pakaian senam yang super ketat. Untuk anak seumuran Afisa masih ok kenakan pakaian karet ketat cetak seluruh bentuk tubuh. Coba kalau sudah dewasa. Itu sama saja umbar aurat.
Untung Afung telah mundur dari dunia senam. Sekarang Afung sudah masuk Islam maka wajib junjung nilai ajaran orang Islam yang pantang umbar aurat.
"Amei? Kok vc jam segini?" tegur Afisa heran adiknya vc jam dia sedang latihan. Biasa malam menjelang tidur baru vc.
"Pertama jangan panggil aku Amei lagi! Sekarang aku Erce!" Afifa menyombongkan pangkat barunya. Afisa bukan anak antena pendek. Dari arah bicara Afifa gadis kecil ini tahu ada peristiwa bahagia sedang menyelimuti keluarganya.
"Oh...adik kita sudah lahir?"
"Sudah...dua laki dua cewek. Mereka kecil dan lucu."
__ADS_1
"Mana mereka? Cece mau lihat?" seru Afisa kegirangan mendapat adik baru.
"Mereka berada di kotak listrik. Ini ada mami. Mau ngobrol?"
"Mau...mau.."
Afifa pindahkan layar ke arah Citra. Citra melambai pada Afisa yang tampak menahan tangis. Anak itu menangis bahagia mendapat adik baru. Sayang dia tak bisa hadir temani Citra menyambut kehadiran adiknya. Ada rasa sesal menyembul di dada Afisa tapi apa daya dia punya tanggung jawab lain.
"Apa kabar mi? Mami sehat?"
"Alhamdulillah sehat. Kamu di sana gimana? Jangan berlatih terlalu capek! Banyak istirahat dan makan yang banyak."
"Mana bisa makan banyak mi! Jatah makan kami sudah ditetapkan. Sedikit tapi bergizi. Mami tak usah kuatir Cece di sini! Cece pandai jaga diri! Oya Thomas mau ajak Cece ke Inggris liburan Imlek ini! Cece belum jawab karena belum ada ijin dari papa dan mama."
"Cece mau pergi?"
"Kayaknya susah! Kami sedang latihan untuk kejuaraan antar propinsi. Cece kan wakili Beijing."
"Baguslah fokus dulu pada kewajiban! Oya ..nanti Koko bawa hp agar kamu bisa lihat adik-adik kamu! Kau mau lihat mereka?"
"Mau dong! Mereka tinggi atau mungil kayak Amei?"
"Hei bukan Amei tapi Erce!" teriak Afifa tak mau berada di posisi terkecil lagi.
"Iya Erce..."
"Gitu dong! Kan enak kedengaran! Ayok ko! Kita vc dedek bayi sama Cece! Mereka mungil sekali. Mirip boneka."
"Huusss..adik kok dianggap boneka! Ayoklah cepat vc sama adik!"
"Baik! Matiin dulu! Nanti di sana baru hubung lagi ya!" Afifa mematikan ponsel secepatnya. Gadis kecil ini menarik tangan Azzam untuk melihat adik mereka. Kedua anak itu berlari kecil keluar dari kamar Citra.
Tinggal dua suami isteri saling beri kode cinta. Mata Alvan mengirim seribu lambang hati ke mata Citra. Tidak tampak namun bisa dirasakan oleh wanita cantik itu.
"Lega?" tanya Alvan mengelus pipi Citra dengan lembut.
"Lega banget! Tugas yang mas berikan berakhir baik. Kurasa anak kita sudah cukup sekian. Tujuh anak sudah merupakan rekor luar biasa. Abang anak satu-satunya dapat tujuh gantinya."
"Iya mas setuju...mas takut kau hamil anak kembar lagi! Setelah kau sehat lebih baik kita pasang alat KB."
"Iya mas...aku pun tak sanggup lagi hamil. Kehamilan kali ini bikin aku sangat lelah. Satu lagi mas! Aku minta ijin operasi pemulihan kulit perut akibat hamil anak di luar perkiraan. Kulit perut aku pasti akan jelek maka aku minta ijin lakukan tindakan operasi."
"Terserah kamu! Apa pun kamu mas tidak keberatan. Kau cantik atau jelek tetap isteri mas."
"Terima kasih. Aku akan lakukan bila anak-anak bisa gede sedikit. Sekarang belum bisa karena tubuh belum fit seratus persen. Asal mas sudah ijin aku sudah senang."
"Sudah mas bilang apapun keinginan kamu mas tetap dukung asal jangan minta pisah saja! Mas akan mati meranggas tanpa kamu."
__ADS_1
"Oh so sweet!"