ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN

ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN
Tersangka Baru


__ADS_3

Karin tidak percaya antara Citra dan Alvan tidak ada apa-apa. Beberapa bulan terakhir ini sikap Alvan banyak berubah. Tak ada lagi pancaran cinta di mata laki itu. Sinar cinta yang biasa berkilauan redup memudar. Apa semua ini gara-gara kehadiran Citra.


Untuk saat ini Karin tak punya tenaga melawan Citra. Tunggu dia sehat baru dia akan selesaikan Citra hingga ke akar. Tak seorangpun boleh memiliki Alvan selain dia, termasuk Selvia wanita sok cakep itu.


"Sudah gede ya! Sudah pintar berbohong."


Citra memasukkan kedua tangan ke dalam kantong baju dokternya. Sejujurnya Citra gugup mengatakan hal jujur. Alvan memang asyik mencarinya, ntah karena Azzam dan Afifa atau ingin merayunya. Citra belum temukan jawaban pasti.


"Terserah kakak mau percaya atau tidak! Yang penting sehat dulu biar kuat lawan aku dan wanita tadi! Makan yang banyak dan semangat. Pak Alvan makin berminyak di usia makin tua. Jangan sampai lolos dari tangan kakak!" Citra berkata sambil tersenyum ejek.


"Kau mau kembali pada Alvan?"


"Tergantung...pokoknya kakak tak boleh kalah! Lawan pelakor macam kami! Teratur minum obat dan makan semua tak perlu pantang. Kakak kusam tidak menarik lagi. Jadi bangun! Kembali percaya diri."


Karin tak tahu apa niat Citra terhadapnya. Di satu sisi ejek dia, satunya terus pompa spirit Karin. Apa mau Citra sekarang? Mau balas dendam padanya atau mengajaknya bangkit dari keterpurukan.


"Aku takkan menyerah padamu anak kecil. Lihat aku nanti!" seru Karin terbakar emosi harus mengalahkan Citra. Citra tepuk tangan salut pada semangat Karin melawan rasa sakit. Itulah harapan seorang dokter pada pasien. Kebetulan Citra punya link menyulut rasa marah Karin. Dicap wanita buruk hati tak jadi soal asal pasien berada dalam kondisi stabil.


"Kutunggu perlawananmu! Aku pergi dulu! Pasienku menanti." Citra balik badan langsung pergi tanpa tunggu jawaban Karin. Citra melangkah pasti menuju ke tempat prakteknya.


Citra merasa sedikit lega sudah jumpa Karin walau dalam suasana aneh. Citra menyelamatkan martabat Karin di mata Selvia. Cuma Citra heran dari mana Selvia tahu Karin kena virus HIV.


Dari pihak rumah sakit tak mungkin membocorkan riwayat penyakit pasien. Setiap pasien akan dilindungi privasi penyakitnya. Selvia wakil Alvan. Artinya wanita itu tahu penyakit Karin dari Alvan.


Sungguh lelaki kurang ajar tega membuka aib isteri sendiri pada wanita lain. Citra tak peduli apa hubungan Alvan dan Selvia. Mau pasangan mesum, pasangan bawah tangan bukan urusan Citra. Cuma Citra tak suka Alvan jelekkan Karin pada perempuan lain.


Sesampai di ruang praktek Citra langsung teleponi Alvan cari tahu tujuan Alvan bongkar aib Karin. Apa tujuan Alvan merusak citra Karin di mata saingan. Busuk sekali hati Alvan.


Untunglah dalam ruang praktek tak ada Nadine maupun Fitri. Nadine mungkin pergi makan sedang Fitri berada di depan menanti pasien mendaftar. Dengan begini Citra lebih leluasa semprot Alvan agar punya rasa kemanusiaan. Boleh benci Karin tapi jangan sebar keburukan isteri sendiri. Laki macam apa Alvan ini. Andai Azzam tahu akal Alvan kayak gini. Dijamin Azzam akan siram bensin ke tubuh Alvan. Dikasih korek biar gosong.


Tergesa-gesa Citra buka layar ponselnya. Citra tak sabar ingin tumpahkan rasa jengkel pada laki berhati hitam itu.


"Halo..." seru Citra tak ada manis-manis.


"Assalamualaikum...kok ketus? Capek ya!"


"Waalaikumsalam...bapak lagi sama rubah jilid dua?"


"Rubah jilid dua? Apa maksudmu? Kok sudah mirip Afifa?"


"Rubah licik ini lebih jahat dari rubah jilid satu. Dasar Playboy cap badak! Sudah punya bini dua masih cari mangsa di kantor. Bercermin Woi pak tua! Hitung tuh keriput di wajah!" Citra nyerocos panjang tak open bagaimana reaksi Alvan di kantor.


"Ya Allah...apa salahku? Kau cemburu pada siapa sih?"


"Ge er banget! Najis aku cemburu pada rubah tak punya ********."


"Kau sudah periksa rubahnya tak punya ********? Hebat... dokter jempolan! Rubah saja bisa diceking. Katakan apa salah aku? Rasanya hidupku penuh sama binatang liar? Rubah melulu?"


"Buka tuh kuping! Dengar baik-baik! Punya duit beli korek kuping bukan bayarin rubah ganti bulu!"


"Dokterku sayang... ada apa? Aku kok bingung sama kamu! Marah-marah tak jelas gitu!"


"Rubah di kantormu datang ke rumah sakit ancam kak Karin. Dia tahu persis penyakit Kak Karin. Kalau bukan dari kamu dari mana dia tahu kak Karin kena HIV? Punya mulut di sekolahin. Bukan buat sumpal bibir bergincu tebal."


"Tunggu...rubah di kantor. Maksudmu Selvia? Ngapain dia ke rumah sakit?"


"Nah itu ngerti...kami dari rumah sakit tak mungkin sebar riwayat penyakit pasien. Dari mana dia tahu soal sakit kak Karin. Tersangka utama ya anda mister Alvan!"

__ADS_1


"Sumpah mati aku tak pernah cerita pada siapapun penyakit Karin. Apa kau kira aku gila bongkar aib rumah tangga sendiri? Aku matian tutupi agar skandal Karin tidak terendus di luar!"


"Lantas dari mana Selvia tahu soal Kak Karin? Bahkan dia bilang akan segera gantiin posisi kak Karin sebagai nyonya Alvan. Dia tunggu kamu bertahun. Mungkin bapak harus divaksin impoten permanen."


Alvan terkekeh dengar nada sewot Citra. Semoga Citra marah karena cemburu pada Selvia. Dengan demikian dia punya kesempatan merangkul seluruh keluarganya.


"Apa ada suntikan model gitu? Kasihan isteriku dong!"


"Emang aku pikirin! Kalau bapak tidak cerita dari mana rubah itu tahu soal Kak Karin. Ini jadi pr besar. Bapak yakin tidak keceplosan?"


"Ya Tuhan nyonyaku! Aku masih waras. Baik buruk Karin masih isteri aku! Dan satu lagi. Aku tak ada hubungan apapun dengan Selvia. Kami berhubungan murni karena pekerjaan. Dua isteri sudah cukup pusing apa harus tambah lagi? Bisa mati kena serangan jantung."


Citra termenung berusaha percaya kata-kata Alvan. Masuk logika juga kata-kata Alvan. Sebagai seorang pemimpin perusahaan besar tak mungkin Alvan mau jadi bahan olokan punya isteri kena virus HIV. Kesehatan Alvan pasti dipertanyakan sehubungan penyakit Karin. Nama besar Alvan bisa hancur total bila dicurigai kena virus itu.


"Aku harus jumpa orang yang menulari kak Karin." ujar Citra tiba-tiba.


"Apa maumu? Jangan gegabah! Itu bukan tempat ramah untuk anak kecil!"


"Sialan...kau anggap aku anak kecil? Jangan harap aku mau bantu kamu operasi syarafmu! Biar seumur hidup tak punya anak!"


"Santai nyonyaku! Aku tak peduli sama operasi lagi. Aku sudah punya tiga jagoan neon. Soal itu biar aku yang tangani! Kau duduk manis di rumah sakit saja. Tunggu kabar dari aku! Aku akan beri keadilan buat Karin dan kamu."


"Kok aku? Kita sudah bercerai.."


"Itu katamu...fakta kau adalah isteri sah Alvan Lingga. Ke manapun kau pergi tak bisa merubah fakta. Kau sudah jumpa Karin?"


"Sudah...dia masih seperti dulu! Aku ini rival baginya. Itu bagus untuk memompa semangatnya. Dia akan bersaing dengan dua wanita untuk pertahankan kamu. Aku ini hanya pelengkap saja. Rival utamanya Selvia."


"Aku tak ada apa-apa dengan Selvia. Kalau aku mau dari dulu sudah ada hubungan. Cukup kamu dan Karin. Aku mau kita kembali bersatu. Demi anak-anak!"


"Maafkan aku! Belum terpikir olehku membagi perhatian dari anak-anak. Biarlah tunggu anak-anak remaja dulu!"


"Tidak...hidup ini jangan berpikir hal berbau porno melulu! Bawa ke jalan terang saja. Sembilan tahun telah berlalu, aku masih di sini setia menunggu anak-anak tumbuh dewasa. Aku puas begini."


Alvan terdiam. Kalimat dari bibir Citra mengandung makna mendalam. Citra tidak menuntut apapun darinya walau sekedar uang jajan anak. Seberapa tebal iman Citra bisa lalui sembilan tahun tanpa kehadiran seorang cowok. Citra makin berharga di mata Alvan. Hasrat meraih Citra kembali ke pelukan makin menebal di dinding hati.


"Aku tahu...sorean aku jemput di rumah sakit ya! Kita sudah janji akan bicara bukan?"


"Tak usah dulu pak! Kita cari tahu soal orang yang menulari Kak Karin. Aku merasa ada yang aneh dengan rubah di kantor bapak! Dia sedang main api."


"Maksudmu?"


"Aku duga dia kenal orang yang menulari penyakit ke Kak Karin. Kayak ada konspirasi besar dalam hal ini. Rubah bapak yang satu ini sangat berbahaya."


"Dari tadi asyik bilang rubah aku! Aku bukan pawang rubah. Kau bersabarlah! Aku akan cari tahu semuanya. Aku tak seburuk dugaanmu! Aku menyesal Selvia berani bertindak di luar perkiraan. Dia berani datang ancam Karin."


"Bapak jangan tegur dia dulu! Kita selidiki orang itu dulu. Cari tahu di mana dia!"


"Orang itu sudah ditangkap karena narkoba. Dia dipenjara."


"Oh...aku harus jumpa dia!"


"Tidak perlu...cukup aku yang pergi!"


"Pak...orang akan heboh bila bapak ke sana! Orang tak kenal aku maka takkan ada badai berhembus. Kita saling menjaga biar badai cepat berlalu."


"Kau akan terima aku setelah semua berlalu?" tanya Alvan penuh harapan.

__ADS_1


"Jangan menyalahi takdir! Aku tak punya jawaban untuk bapak karena jurang masih membentang antara kita. Sekarang kita fokus bangkitkan semangat hidup kak Karin. Bapak jangan campakkan kak Karin! Berilah dia rasa aman biar bisa bertahan hidup!"


"Kau tak benci Karin?"


"Kalau aku benci dia artinya aku juga benci bapak. Kalian kompak benamkan aku dalam lumpur. Untung aku punya kakek Wira. Beliau yang jaga aku hingga akhir hayat beliau. Dia satu-satunya keluarga aku."


Alvan merasa dadanya dihantam palu raksasa. Remuk tak berdarah. Kata-kata Citra seperti sindiran paling ironis mengetuk hati Alvan. Di mana akal sehat Alvan tega biarkan Citra hidup seorang diri di luar sana. Parahnya sedang hamil pula.


"Aku bersalah Citra! Aku bodoh tak tahu arti kata adil. Andai aku gentle berani ungkap kebenaran pada kakek tentang kamu dan Karin mungkin saat ini hidup kita bahagia. Aku tidak lewatkan pertumbuhan anak-anak."


"Itu sudah berlalu. Sudah ya! Aku mau makan siang dulu! Takut pasien antrian nanti."


"Aku ke sana temani kamu?"


"Tidak usah! Hanya merepotkan. Aku makan di kantin saja."


"Sore aku datang!"


"Tidak perlu...aku bawa motor! Jemput anak-anak saja!"


"Baiklah! Aku menunggumu di rumah."


"Jenguklah Karin!"


"Nanti malam saja! Pergilah makan! Jangan sampai kena sakit maag!"


"Assalamualaikum.."


"Waalaikumsalam..."


Alvan meletakkan ponselnya di meja memikirkan kata-kata Citra soal Karin. Persoalan utama dari mana Selvia tahu Karin kena HIV padahal Alvan sudah minta Hans rahasiakan hasil test. Hans tak mungkin berkhianat apalagi dia seorang kepala rumah sakit. Kejujuran Hans tak usah diragukan.


Alvan harus minta tolong pada Daniel cari tahu mengapa Selvia tahu semuanya. Ada apa dibalik semua ini? Benar kata Citra kalau Selvia sedang menghimpun api unggun untuk membakar Karin. Alvan tak sangka Selvia punya niat terselubung selama ini. Alvan mengenal Selvia sebagai wanita high class berwatak mulia. Setiap tutur kata Selvia cerminkan wanita berbudi baik. Tak ada cacat dari penampilan Selvia.


Maka itu Alvan merasa cocok kerja sama dengan wanita sepintar Selvia. Tak ada gelagat Selvia mampu berbuat di luar batas. Betapa mengerikan seorang wanita bila dari luar tampak baik hati tapi di dalam busuk hati. Pelajaran tambahan buat Alvan. Jangan menilai orang dari casing.


Harapan Alvan tertumpuk pada Daniel. Laki itu punya banyak channel cari tahu segala masalah dunia. Tak ada yang mustahil bagi Daniel, selama dia bernafas segala beres asal berani kucurkan dolar. Daniel minta tolong pada mafia bawah tanah butuh uang pelicin agar roda bergerak lancar. Alvan bukan orang pelit tak tahu hukum rimba agen-agen underground. Semua bergantung kekuatan fulus.


"Halo..." ujar Alvan terhubung pada Daniel.


"Kenapa lagi bro? Lhu kena Aids?" sergap Daniel dibarengi tawa ngakak ciri khas laki itu.


"Minta bantuan lagi nih!"


"Apa? Nikahi Citra? Itu tak perlu lhu risaukan. Gue siap kok!"


"Peang lhu! Kepala gue hampir copot gara-gara Karin. Ini Selvia ikut meramaikan suasana. Dia tahu semua rahasia Karin padahal tak ada yang buka cerita. Gue nyaris dibacok Citra gara-gara rahasia Karin terbuka."


"Kok Citra? Ngapain dia sewot? Bukankah dendamnya terbalas?"


"Apa Citra orang cari untung di atas penderitaan orang lain? Dia justru kasih semangat pada Karin untuk berjuang lawan penyakit."


"Ya Allah betapa beruntung aku dapat calon bini berhati emas. Kujamin mas murni. Terima kasih sudah lapor padaku sifat baik Citra. Gue makin mantap mengejar Citra ke lubang tikus sekalipun."


"Lebay...Aku mau minta lhu jumpai Zaki cari tahu apa dia kenal Selvia. Kurasa ada motif di balik semua ini."


"Ok...tolong jaga calon bini gue ya! Gue bantu lhu dan lhu bantu gue kawal calon gue. Deal?"

__ADS_1


"Yang serius bro! Mau kukawinkan lhu sama Iyem? Montok bahenol..."


"Iyem yang centil itu? Ogah...semua cowok ganteng di matanya. Kambing bandot kita pakaikan dasi juga ganteng buat Iyem. Buat lhu aja! Jadi selir gantiin Karin layani raja di ranjang! Dijamin ranjang lhu ambruk dalam tempo dua hari." kata Daniel disusul tawa ngakak gayanya.


__ADS_2