
Tapi itu hanya masa lalu. Tugas Alvan kini yaitu merangkul kembali keluarga yang cerai berai. Perhatian Alvan harus terbagi beberapa bagian. Ingat sang mama, papanya bejat serta Karin. Karin adalah wanita yang dicintai Alvan setulus hati. Tak mudah bilang pisah langsung pisah. Suka duka bersama Karin telah terukir di hati.
Soal Citra dan anak-anak termasuk jadi beban Alvan. Alvan bisa dapat cinta kasih kedua anaknya namun Citra belum tentu bersedia kembali pada pelukan Alvan. Wanita tak beri signal bersedia memaafkan Alvan datang dari lubuk hati. Citra memendam kesedihan selama sembilan tahun. Satu dekade cukup panjang.
Azzam keluar dari kamar mandi dengan raut wajah segar. Kelihatannya lajang ini cuci muka hilangkan sisa muka bantal. Azzam makin ganteng tampil dengan wajah segar.
Azzam tersenyum kecil lihat kemanjaan Afifa pada Alvan. Azzam tahu Afifa rindu pada sosok bapak yang dia angankan dari dulu. Pada bapak angkat mereka di Beijing dulu Afifa juga cukup manja. Afifa paling mungil di antara mereka bertiga jadi Afifa dianggap adik bungsu harus dijaga lebih hati-hati.
"Siapa yang bau kecut?" sindir Azzam merasa lucu lihat Afifa betah berada dalam pelukan Alvan. Afifa tampak seperti boneka kecil dalam rengkuhan raksasa.
"Koko ini...mentang Amei sakit tidak mandi anggap Amei bau kecut. Amei wangi kok!" Afifa tersinggung diejek Azzam. Muka cemberut bergantung di wajah imut itu.
"Wangi dari mana? Dari Hongkong?"
"Awas ya! Jangan minta Amei kalau ada pr menggambar! Gambar sendiri." Afifa keluarkan jurus andalan pukul telak kelemahan Azzam. Anak laki itu paling bodoh kalau disuruh menggambar. Ular bisa digambar jadi cacing tanpa kepala.
"Wah...Putri malu ngambek! Sori deh! Adik Koko paling wangi dan cantik. Tidak mandi setahun juga tetap cantik."
Afifa bukannya senang dipuji Azzam. Di telinga Afifa kata-kata Azzam justru lebih mirip ejekan. Afifa makin kesal pada Azzam yang terlalu usil menurutnya.
"Pokoknya Amei tak mau bantu Koko bikin gambar lagi. Biar kena setrap di kelas. Amei sih bangga saja punya Koko jagoan jaga pintu kelas."
"Tenang... Koko sudah makan banyak kaki ayam biar kuat berdiri dua jam. Mami mana? Kok pergi lagi?"
"Mami pergi beli roti untuk Amei. Ada kok untuk Koko!" ujar Afifa seakan melupakan perdebatan tadi. Keduanya saling menyayangi satu sama lain. Berdebat kecil hanya menghidupkan suasana kaku. Dari pancaran sinar mata tampak jelas Afifa sayang pada Azzam..
"Oh gitu ya! Koko pas lapar. Tunggu makan malam berapa jam lagi." Azzam mengelus perut terasa berdendang minta jatah ransum sore. Biasa Ance akan sediakan Snack untuk Azzam dan Afifa bila Citra bertugas. Ance tak ubah pengasuh kedua anak itu. Setiap bulan Citra sisihkan sedikit uang untuk Ance sekedar yang jajan buat Ance.
Alvan memuji persaudaraan yang sangat kental antara Afifa dan Azzam. Saling menyayangi itu kewajiban sesama saudara. Apa lagi keduanya saudara kembar beda bentuk tubuh.
Tak terasa waktu bergulir memasuki malam hari. Langit yang semula terang benderang disusul kemilau cahaya jingga perlahan transformasi berubah kelam. Langit membentang layak sehelai kain raksasa berwarna hitam keabuan. Udara tak mau kalah berubah dingin. Tiupan angin dingin mencubit setiap orang yang kena serpihan ujung angin.
Keluarga kecil Alvan berada dalam ruang rawat Afifa. Kesehatan Afifa membaik seiring waktu. Hb darah sudah capai tingkatan normal. Secara keseluruhan Afifa boleh dibilang mendekati fit. Tinggal tunggu malam ini bagaimana peningkatan suhu tubuh Afifa. Bila tidak demam lagi artinya gadis kecil ini pulih total.
Andai sampai besok Afifa tidak demam maka gadis kecil itu sudah boleh pulang. Tinggal pemulihan di rumah. Citra seorang dokter pasti mampu merawat anak sendiri. Orang lain saja Citra rawat dengan baik. Gimana bila anak sendiri yang sakit. Segenap kemampuan Citra tunjukkan sebagai dokter juga seorang ibu bijak.
Untung bernasib apes harus bolak balik laksanakan perintah bos besar. Beginilah nasib orang kecil. Harus terima diperintahkan majikan walau tubuh sudah lelah mengejar yang tak pasti. Membantah sama saja memecat diri dari pekerjaan. Gaji di perusahaan Alvan menggiurkan mata, siapa tak tergoda ditawari gaji plus bonus berlipat ganda. Untung sanggup melawan godaan gaji dari Alvan maka itu betah walau kadang badan hampir mau patah. Ajaibnya Untung bukannya tambah kurus dapat tugas satu gunung. Tubuhnya malah tambah subur. Gemuk karena gizi memadai atau karena kenyang oleh perintah. Artinya perintah Alvan mengandung lemak menyuburkan badan.
Malamnya suasana di kamar rawat Afifa semarak oleh kehadiran Ance. Lelaki gemoy itu pintar menghidupkan suasana sehingga jadi gembira. Azzam dan Afifa tertawa tak henti bercanda dengan Ance. Ada saja kelucuan tercipta antara ketiga orang beda generasi itu.
__ADS_1
Alvan baru kali ini merasakan kehangatan satu keluarga sesungguhnya. Ada tawa lepas tanpa rekayasa. Biasa Alvan dan Karin hanya ngobrol ala kadar karena kesibukan berbeda. Alvan sibuk dengan perusahaan sedang Karin asyik cari topik di dunia maya. Satu kehidupan monoton.
Alvan perhatikan tingkah lucu kedua anaknya dibarengi rasa bahagia. Inilah surga dunia yang dirindukan.
Citra duduk asing di sudut sofa sambil main ponsel. Alvan melirik Citra pakai ekor mata. Menatap Citra secara langsung Alvan belum punya nyali. Rasa bersalah Alvan masih rajai kalbu. Tangan kecil Citra yang biasa pegang pisau operasi mengetik lincah di atas layar hp. Alvan menduga Citra sedang chatting dengan seseorang. Di sudut bibir wanita itu terukir senyum tipis.
Dengan siapa Citra chatting tampak sangat kena di hati. Dokter muda itu jarang tersenyum selain pada anak-anak. Manusia mana mampu mengukir senyum di bibir manis itu. Alvan penasaran sekaligus kesal.
"Mami... Amei mau video call dengan Cece! Ini sudah jam delapan. Sebentar lagi Cece tidur!" suara Afifa memenuhi seluruh ruangan. Gadis kecil itu antusias mau pamer tablet baru pada Afisa. Di sana Afisa punya ponsel pribadi walau bukan ponsel mahal. Paling tidak Afisa tak perlu pinjam hp papa mamanya untuk hubung Azzam dan Afifa.
"Bukankah Amei sudah punya tablet?" jawab Citra tak alihkan mata dari layar hp.
"Amei tak punya kontak Cece. Amei juga belum download aplikasi WeChat. Pakai hp mami dulu."
"Suruh Koko download! Kontak Cece kan Amei hafal. Mami lagi sibuk." tukas Citra tak beranjak bantu Afifa wujudkan keinginan berhubungan dengan anaknya satu lagi.
Afifa mendecak tak senang diabaikan Citra. Azzam lagi heboh main game dengan Ance pakai ponsel baru Azzam. Sang mami asyik chatting dengan seseorang yang misterius. Tinggallah Alvan jatuh iba pada Putri kesayangan.
"Biar papi bantu." Alvan bergerak jadi pahlawan Afifa. Kesempatan rebut hati Afifa makin melebar. Perhatian Demi perhatian dari Alvan akan masuk ke otak gadis cilik ini. Alvan akan tampil jadi papi idaman tak terpisahkan.
Afifa berikan tablet pada Alvan untuk di download aplikasi WeChat. Di Tiongkok tidak pakai Wa untuk komunikasi. Di sana juga tak ada Google. Ntah kenapa negeri tirai bambu itu alergi segala produk dari negara barat. Mereka memiliki aplikasi tersendiri. Beberapa aplikasi terdapat di negeri Tiongkok yakni Baidu fungsinya mirip Google, lantas Youku Tudou sejenis YouTube, Weibo pengganti Twitter ataupun Facebook, WeChat sama dengan WhatsApp. Masih ada beberapa aplikasi chat lain yang cukup populer di Tiongkok daratan.
"Masih ingat nomor Afisa?" tanya Alvan setelah sukses masuk ke aplikasi WeChat.
"Ingat dong!" Afifa menyebut angka demi angka dengan lancar. Ternyata Afifa tak selambat bayangan Alvan. Otak Afifa lumayan encer. Angka lumayan panjang terpahat di otak mungil Afifa.
"Ok...here you are!" Alvan menyerahkan tablet kembali pada Afifa untuk video call dengan sang kakak jauh di mata.
"Thank you so much papi. I love you!" Afifa berbahasa Inggris lancar tanpa logat medok Indonesia. Afifa bicara seperti orang barat asli.
"Love you too!"
Afifa menanti sambungan video call dengan tak sabar. Semalam dia tertidur tidak sempat video call dengan sang kakak. Sehari tak video call datangkan kerinduan bergoni-goni.
"Kok lemot? Apa tabletnya rusak?" omel Afifa karena panggilan belum tersambung.
Alvan kebingungan didesak Afifa mengurus tablet yang belum tersambung ke hp Afisa di seberang sana. Alvan bukan orang ahli soal hp. Kalau sekedar sms, telepon ataupun wa mungkin jadi santapan keseharian Alvan. Mengulik lebih dalam akan menjadi tantangan.
Citra yang dengar omelan Afifa bergerak maju ke tempat Afifa dan bapaknya berada. Tanpa komentar Citra mengambil gadget baru anaknya. Biasa sambung ke tempat Afisa tidak terlalu sulit asal ada signal internetan.
__ADS_1
"Paket data internetan sudah habis buat download. Bapak tidak beli paket internetan. Yang tadi itu bawaan dari paket telepon. Kecil paket internetnya. Ya sudah. Pakai punyaan mami dulu. Besok kita beli paket internetan ya!" bujuk Citra tak ingin lihat anaknya kecewa. Afifa menunduk muram tak bisa pamer tablet barunya pada Afisa. Niat Afifa ingin Afisa tahu kalau dia sudah besar, sudah dipercayakan punya ponsel sendiri.
Angan indah itu ambyar gara keteledoran Untung. Punya Azzam dia beli paket internet tapi melupakan tablet Afifa juga perlu signal sama. Alvan ikut merasa bersalah tak bisa jadi papi siaga.
"Aku akan minta password WiFi rumah sakit. Kita pakai WiFi sini dulu. Besok baru kita beli paket ya! Yang penting Afifa bisa video call dengan Cece Afisa. Ok?"
Afifa manggut tanpa semangat. Gadis kecil ini tak percaya bisa dapat password rumah sakit. Biasa password WiFi orang susah didapatkan. Kadang minta ijin saja diabaikan. Apa lagi punyaan rumah sakit. Afifa belum tahu kalau rumah sakit tempat dia dirawat punyaan papinya. Afifa hanya tahu maminya kerja di rumah sakit ini.
Alvan ringankan langkah keluar cari tahu password WiFi rumah sakit. Walaupun Alvan pemilik rumah sakit tetap saja tak tahu kata sandi yang diterapkan pengelola rumah sakit. Tak mungkinlah Alvan urus sampai sedetail itu.
Citra memuji kesabaran Alvan terhadap putrinya. Alvan berbuat begini sadar harapan untuk punya keturunan sangat tipis. Dari wanita manapun Alvan takkan bisa punya anak selama masalah vital di tubuh belum diobati. Tumpuan harapan Alvan kini bertumpuk pada Azzam dan Afifa. Andai laki itu tak pandai ambil hati kedua anak itu punahlah harapan punya penerus darah daging sendiri.
Citra tak kuatir Alvan akan menuntut hak asuh. Laki itu tak punya hak apapun terhadap kedua anak itu. Citra dicerai dalam kondisi hamil. Tak pernah nafkahi Citra maupun ketiga anaknya. Tipis harapan Alvan menuntut hak atas ketiga anak itu.
Alvan datang kembali dengan langkah tegap. Rona wajah laki itu sangat baik tanda segalanya berjalan lancar. Harapan Afifa video call dengan Afisa tak ada kendala lagi.
Alvan menyodorkan secarik kertas ke depan Citra. Di kertas tertera beberapa angka dan huruf menyerupai sandi buka password internet rumah sakit. Citra menerima tanpa bersuara. Sekarang bukan saatnya nyinyiran dengan Alvan. Yang penting Afifa bisa tunaikan niat hati.
Tidak sampai lima menit Citra serahkan tablet pada Afifa untuk laksanakan hasrat yang menggebu dalam hati. Afifa tersenyum manis tak sabar ingin video call dengan Afisa.
Citra melempar tatapan terima kasih pada Alvan. Tidak ada kalimat keluar dari bibir. Bahasa mata wakili isi hati tulus hargai usaha Alvan menyenangkan putrinya.
"Halo...Cece...ini Amei!"
Kelihatannya telah tersambung dengan Afisa di Beijing. Wajah Afifa sumringah bak bunga mekar di musim semi. Indah menyegarkan netra.
"Amei...kamu sakit ya! Kok seperti di rumah sakit?"
"Iya ce...Amei demam! Tapi sekarang sudah sembuh! Amei sudah punya tablet sendiri. Koko punya hp keren sekali. Sekarang video call tak usah pakai hp mami lagi."
"Mami sudah ijinkan kalian punya hp? Wah...ada kemajuan! Cece rindu ingin jumpa kalian! Kapan kalian balik sini?"
"Yang beli bukan mami tapi papi. Kita punya papi lho! Ganteng kayak Koko. Mau jumpa?" Afifa mengarah tablet ke wajah Alvan yang berada di samping Afifa dan Citra.
Afisa takjub tak keluarkan sepatah katapun. Mata gadis cantik itu sibuk meneliti wajah orang yang disebut papi oleh Afifa. Afisa tak percaya begitu saja omongan Afifa. Dari dulu si kecil berangan punya papi. Bisa jadi ini papi-papian ciptaan ilusi Afifa.
"Hai Afisa...aku papi kalian! Maaf papi tak ada di samping kalian selama ini. Ini papi datang. Afisa mau papi jemput untuk tinggal bersama di sini?" kata Alvan awali obrolan.
Afisa belum ngerti apa yang terjadi. Mengapa tiba-tiba muncul seorang lelaki ngaku papi mereka. Pacar baru maminya mencoba ngaku agar maminya buka hati. Citra selalu utamakan buah hatinya sampai tidak peduli pada rayuan cowok manapun. Bukan satu dua orang ingin jadikan Citra sebagai pendamping hidup namun ditolak mentah-mentah karena Citra memikirkan ketiga anaknya. Andai Citra ingin berkeluarga kelak dia tak butuh suami tapi seorang lelaki yang mampu jadi figur bapak sejati untuk ketiga anaknya.
__ADS_1