ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN

ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN
Alvan Pusing


__ADS_3

Ini jadi pr bagi Alvan mencari sela untuk bangun keluarga sakinah dengan Citra. Alvan harus belajar lebih giat agar bisa kerjakan PR dengan nilai sempurna. Jika perlu rangking satu tampil sebagai winner.


Selesai kontak Daniel, Alvan kembali ke kamar rawat Afifa. Kedua bocah masih lelap tidur. Mereka lelap terkena kesejukan AC. Azzam meringkuk kedinginan kena hembusan angin AC yang sangat dingin. Kalau Afifa aman karena ada selimut tebal membungkus badan mungil itu.


Alvan mengambil selimut cadangan selimuti tubuh anak lakinya. Seharusnya dari tadi Alvan peka melihat Azzam bergulung kedinginan. Alvan baru kali ini jadi papi masih hijau belum punya pengalaman bersikap jadi papi sempurna.


Alvan tersenyum puas saksikan dua sosok bocah miliknya tertidur nyaman. Rasanya Alvan ingin bawa pulang kedua bocah itu agar bisa saksikan pertumbuhan mereka dari hari ke hari. Alvan pernah kehilangan moments memantau masa balita kedua anak itu. Sekarang wajib menemani mereka tumbuh menjadi remaja multi talenta.


Alvan bosan disuruh berdiam diri. Laki ini memilih keluar dari ruang rawat duduk di koridor sepi. Pikiran Alvan teringat pada Karin. Apa yang sedang dilakukan wanita yang pernah jadi ratu di hati. Berkumpul dengan gengnya atau pulang ke rumah. Ada rasa takut tidak dalam hati wanita itu. Kesalahan Karin berlapis-lapis tak terhitung jumlahnya. Dari lapisan mana harus Alvan mulai gugat kesalahan Karin.


Otak Alvan mumet saking pusing mikirin wanita tak tahu diuntung itu. Alvan sudah beri segalanya namun dibalas dengan pengkhianatan. Perih di jantung sakit di dada.


Alvan keluarkan ponsel meneleponi Bik Ani di rumah. Alvan hanya ingin ceking keberadaan Karin saat ini. Wanita itu masih keliaran atau tiarap cari selamat.


"Halo Bik Ani...rumah gimana? Aman?"


"Nona Karin ada pulang pagi tadi. Lalu pergi lagi setelah terima telepon. Kayaknya nona panik."


"Panik? Emang ada apa?"


"Yang bibik dengar cuma kata kantor polisi. Nona langsung pergi tanpa pamitan."


"Gitu ya! Terserah dialah! Oya bibik siapkan beberapa helai pakaianku! Aku tidak pulang. Nanti dijemput Untung."


"Aduh tuan gimana sih? Kok rumah ini jadi aneh? Tuan pergi tak pulang sedang nona tak karuan. Ingat lho! Nona sedang hamil muda."


"Tenang Bik! Aku lagi sibuk urus urusan penting. Beberapa hari lagi juga pulang. Biarkan Karin semaunya! Kita tunggu hasil akhir."


"Kalian hati-hati saja! Bibik tak harap terjadi sesuatu pada kalian. Kalian sudah seperti anak kandung bibik."


"Iya Bik! Tak usah kuatir. Jaga rumah dengan baik saja. Uang belanja masih ada?"


"Ada...bibik dan Iyem tak banyak belanja. Tak lama lagi masuk bulan Ramadhan. Kita semua harus disucikan sambut bulan suci dengan niat tulus. Bibik doakan Tuan dan keluarga hidup rukun aman tenteram."


"Amin Bik! Terima kasih doanya! Aku pasti akan berkumpul dengan keluargaku."


Alvan tidak membayangkan Karin sebagai keluarga. Benak Alvan justru tercetak Citra beserta dua kurcaci lucunya. Alvan anggap doa Bik Ani untuk wujudkan keluarga sakinah bersama Citra. Bukan Karin yang beri sejuta duka.


"Tuan berapa hari keluar kota?"


"Bukan keluar kota Bik tapi di rumah sakit. Ada kerabat sakit." Alvan tak mau berbohong menambah dosa. Bik Ani termasuk orang dianggap sebagai pengganti orang tua. Alvan tak tega bohong.


"Rumah sakit? Siapa sakit? Apa bibik kenal?"


"Nanti aku kenalkan! Bibik sabar saja. Sudah ya Bik!" Alvan matikan ponsel supaya Bik Ani jangan banyak tanya. Alvan takut keceplosan cerita soal Azzam dan Afifa. Bisa ramai bila ketahuan Alvan sudah punya anak dari Citra.


Alvan menyimpan hp ke saku celana. Laki ini kembali putar otak memikirkan ke mana Karin pergi. Ke kantor polisi. Apa ada hubungan dengan penangkapan Zaki. Apa semalam Zaki ikut berpesta di hotel? Kalau ada berarti Karin cs pesta narkoba. Alvan menggeram bila Karin terlibat makin dalam. Satu masalah belum kelar dia ciptakan kasus baru.


Alvan bersyukur Zaki diciduk bila benar pesta narkoba. Tampaknya Karin terlibat maka dipanggil ke kantor polisi. Alvan takkan kotori tangan bila Karin terlibat narkoba. Hal memalukan akan coreng wajah keluarga Lingga. Nama besar Lingga dipertaruhkan bila Karin berani berbuat hal melanggar hukum. Alvan berjanji takkan bantu Karin. Biar rasakan dinginnya penjara.


Lama sekali Alvan duduk termenung di luar kamar Afifa. Bencana datang bertubi menguji kesabaran Alvan. Selama ini Alvan tak buka mata lihat tingkah Karin. Asyik merem terbuai rayuan maut Karin hingga di dorong ke lingkaran api membara. Kini Alvan baru merasa panas. Semoga belum terlambat keluar dari kobaran api.


"Bapak?" suara merdu membuyar renungan Alvan.

__ADS_1


Perlahan kepala Alvan mendongak cari wajah empunya suara. Wajah teduh dokter muda dinginkan otak yang sedang membara. Kobaran api di dada padam seketika.


"Citra...baru siap operasi?" Alvan bangkit menjemput tas dari tangan Citra. Bawaan Citra lumayan berat. Alvan sebagai cowok wajib menunaikan tugas sebagai laki sejati. Jangankan Citra, orang lain juga akan Alvan bantu bila jumpa kondisi begini.


"Baru dari rumah. Kulihat kalian tidur maka aku pulang ambil pakaian Azzam dan Afifa. Afifa sudah dua hari tak ganti pakaian. Bau Pesing."


Alvan tertawa, "Ngak bau kok! Malah wangi.."


"Bau asam gitu kok wangi! Ayok masuk! Nanti dilihat pasien sebelah yang kurang waras."


Alvan dorong pintu beri ruang pada Citra masuk duluan. Laki itu menyusul dari belakang. Tas bawaan Citra diletakkan di meja tunggu rencana Citra selanjutnya. Dibiarkan dalam tas atau disusun di lemari.


Citra memeriksa suhu tubuh Afifa pakai test suhu digital. Masih batas normal tiga puluh tujuh. Semoga bertahan selanjutnya.


"Gimana? Normal?" bisik Alvan takut suaranya ganggu tidur Afifa.


"Normal. Dari tadi tidur belum bangun?"


"Belum...keduanya anak baik. Kau jangan kelewat keras pada mereka! Biarkan mereka nikmati masa kanak-kanak indah. Asyik belajar kepala lebih cepat botak."


Citra kurang senang Avan ikut campur cara dia didik anak. Citra mencintai ketiga anaknya tak terpikir beri hari buruk pada ketiga buah hati. Citra cuma tak ingin ketiga anaknya terjebak di dunia game yang menyita waktu. Sudah main game mana ingat waktu lagi.


"Aku tahu apa yang terbaik buat mereka. Bapak tak ingin balik ke kantor? Aku bisa jaga anak-anak."


Alvan bukannya pergi malah duduk santai di bangku dekat Afifa. Mata Alvan tertuju pada Afifa jadikan anak itu sebagai tameng untuk bisa lama di situ.


"Aku sudah janji pada Afifa berada di sini sampai dia bangun. Oya kenapa Afifa dipanggil Amei dan Azzam Koko. Kayak orang China."


"Memangnya mereka tumbuh besar di mana? Koko artinya Abang dan Amei artinya adik sedang Afisa dipanggil Cece artinya kakak dalam bahasa Mandarin." Citra menjelaskan dengan jelas.


"Bukan nama tapi panggilan. Ketiganya diasuh oleh Nio guru senam Afisa. Aku kuliah kadang kerja. Jadi waktu mereka lebih banyak bersama keluarga dosen aku. Aku masih muda belum paham urus tiga anak. Untunglah ada mereka bimbing anak-anak! Jadilah mereka ini sekarang!"


Alvan menunduk merasa bersalah pada Citra. Secara tak langsung Alvan ciptakan neraka kecil bagi Citra.


"Maafkan aku!"


"Semua sudah berlalu. Anakku telah tumbuh dewasa. Mereka membanggakan. Aku tak menyesal telah menjadi mami dari mereka."


"Tetap salah aku tidak adil padamu! Andai ada mesin waktu rasanya ingin balik ke masa lalu. Putar balik kejadian dulu." gumam Alvan sedikit sinting. Berpikir aneh-aneh.


"Inilah takdir kita! Sesuai janji kita. Bapak boleh jenguk anak-anak tapi tak boleh ajak pergi."


"Ajak main juga tak boleh? Aku sudah janji pada Afifa bawa dia naik kereta api. Janji pada anak kecil harus kita tepati."


"Itu akan dipertimbangkan! Aku mohon jangan bawa mereka pada Kak Karin. Aku takut kak Karin tak terima mereka."


Alvan menangkap kecemasan di wajah Citra. Sifat Karin yang keras bisa saja bawa bencana pada anak-anak. Apa lagi dia sedang hamil harap anak dikandungnya jadi penerus keluarga Lingga. Karin lakukan hal kotor untuk capai niat busuknya.


"Aku tahu...Aku akan ceraikan Karin!"


Citra terhenyak tak sangka Alvan akan keluarkan statemen menyayat hati. Alvan tergila-gila pada Karin. Mengapa tiba-tiba berniat ceraikan wanita itu. Apa karena kehadiran Azzam dan Afifa? Citra takkan biarkan Alvan berbuat semena-mena pada wanita. Main talak seenak perut.


Citra memang tak suka pada Karin bukan berarti harus merusak kebahagiaan wanita itu. Citra tahu bagaimana rasa sakit hati. Jangan ada yang tersakiti lagi.

__ADS_1


"Bapak jangan gila! Bapak tetap papi anak-anak tanpa harus cerai dari Karin." seru Citra.


"Karin hamil..." ujar Alvan kuyu.


"What? Bukankah bapak? Ya Allah .." keluh Citra segera sadar apa yang terjadi. Alvan divonis mandul bagaimana bini bisa hamil. Bibit dari mana?


"Kau ngerti posisiku bukan? Aku seperti orang bodoh dibohongi Karin."


"Kak Karin...apa sih di otakmu?" lirih Citra ikut bersedih. Alvan telah beri segalanya pada Karin. Mengapa Karin tega menyakiti Alvan.


"Parahnya dia melakukan hubungan intim dengan penderita HIV."


Citra menepuk jidat saking geram pada tingkah Karin. Di mana Karin parkir otak sampai tertinggal lupa bawa pulang. Apa Karin tak tahu bercinta dengan penderita HIV? Sekali kena seumur hidup digerogoti penyakit belum ada obat itu. Seumur hidup Karin harus minum obat menekan virus itu agar tak menyerang organ tubuh.


"Wah gila banget! Gimana anak bapak?"


"Bukan anakku! Tak usah ngejek! Karin belum ditest HIV sih karena mereka hubungan dalam beberapa hari ini! Belum tahu dia terkena tidak. Tapi pasangannya seratus persen HIV. Baru saja ditangkap karena narkoba dan menyebar penyakit Aids."


"Kusarankan bapak jangan hubungan intim dulu dengan kak Karin! Puasa sampai masa inkubasi virus terdeteksi." Citra bicara sebagai dokter bukan sebagai saingan Karin. Citra seorang dokter pasti paham soal penyakit Aids. Penyakit sangat berbahaya.


"Kau mau ejek aku?"


"Aku dokter pak! Penyakit Aids disebar melalui hubungan intim, transfusi darah, serta jarum suntik bekas penderita Aids. Terakhir ke anak bila ibunya membawa virus itu. HIV tak gampang menyebar. Kalau sekedar salaman atau dekatan sama penderita takkan terjangkit. Bahkan ciuman takkan menular kecuali hubungan intim. Jadi jangan kucilkan penderita!"


"Tidak...aku ngeri dengar penyakit itu! Karin harus diasingkan. Aku tak seluruh keluarga ikutan kena Aids."


"Pemahaman bapak terhadap Aids itu salah. Penyakit itu memang tak ada obat. Tapi penderita Aids bisa hidup normal ada rajin konsumsi obat. Ada yang hidup berpuluh tahun asal jaga kesehatan. Bapak memang tak boleh hubungan intim dengan kak Karin bukan berarti bapak harus ceraikan dia. Di saat ini dia butuh support. Makin tinggi semangat hidup makin lama masa umurnya."


Alvan tergugu dinasehati bini yang dulu dia lupakan. Siapa sangka Citra muncul jadi pahlawan Karin. Perlakuan jahat Karin seakan tak berbekas di hati Citra. Tak ada nada sinis di dalam intonasi suara Citra. Dokter sejuta umat. Dokter berhati mulia.


"Kau tak benci Karin?"


Citra angkat tangan ke atas anggap pertanyaan Alvan lelucon. Secara pribadi Citra memang kesal pada Karin. Namun kini Citra berperan sebagai dokter. Musuh sekalipun Citra tetap harus berjuang untuk kesembuhan pasien. Citra tidak benci Karin, cuma tak suka pada sifatnya.


"Tidak...semua sudah berlalu. Kini aku punya surga yang takkan punah dimakan rasa dengki. Aku sudah peduli masa lalu. Aku punya masa depan gemilang bersama anak-anak."


"Kau dokter baik! Aku bukan ceraikan Karin karena penyakit tapi dia berselingkuh. Dia hidup terlalu nyaman sampai lupa daratan. Semalam dia sewa satu lantai hotel pesta gilaan. Apa ada wanita hamil mabukan dan buka kamar dengan laki lain?"


Citra mendekap mulut kaget dengar tutur cerita Alvan. Sejauh mana Karin melangkah berbuat hal tak senonoh. Alvan apa kurang Sampai Karin tega berkhianat. Mungkin Karin tak dapat kepuasan dari Alvan mencari kepuasan dari laki lain.


"Maaf pak! Di sini aku bicara sebagai dokter! Bapak jangan salah sangka pikir aku kepo campuri urusan rumah tangga bapak! Aku hanya mau tahu reaksi bapak."


"Kau mau omong apa? Bertele-tele tak jelas."


"Ehm gini lho pak! Jangan tersinggung aku tanya masalah sangat pribadi. Aku tahu tak sopan tapi ini perlu sebagai catatan seorang dokter." Citra memilin bibir segan bertanya seputar kejantanan Alvan di ranjang.


Apa mungkin Alvan loyo tak mampu nafkahi Karin maka wanita itu cari kehangatan dari laki lain.


"Kelewat nyinyiran! To the point..Mau ragukan kemampuanku? Aku sehat mampu main beberapa ronde semalaman. Puas?"


Wajah Citra memerah sebab Alvan bisa baca apa yang mau dipertanyakan Citra. Citra segan bertanya langsung. Citra merasa tak berhak tahu urusan keluarga Karin Dan Alvan. Itu urusan sangat pribadi. Citra tak mungkin masuk ke ranah itu.


"Idiihh...mesum!"

__ADS_1


"Bukankah itu yang mau kamu tanyakan? Aku sehat atau kau mau praktek langsung cari jawaban yang pasti." Alvan goda Citra. Citra buang mata ke langit-langit kamar cari cicak kesasar. Citra malu digoda Alvan. Sejujurnya Citra masih lugu soal hubungan mesra laki perempuan.


__ADS_2