
Kebahagiaan anak-anak adalah kebahagiaan Citra. Citra tak banyak berharap hidup mewah dengan seorang lelaki tanpa peduli perasaan para anak. Citra bahagia di atas penderitaan anak mungkin bukan tujuan hidup Citra.
Lama bertatapan dengan Alvan tak membuat Afisa langsung percaya pada Alvan. Dari garis wajah jelas mirip Azzam dan dirinya. Afisa anak gadis kritis tak gampang termakan ocehan tanpa bukti.
"Aku mau bicara sama mami." cetus Afifa hindari obrolan dengan lelaki asing. Alvan memang orang asing bagi Afisa.
Alvan mengangguk menyerahkan tablet pada Citra. Citra menatap Alvan sekilas agak grogi mengakui siapa Alvan di depan ketiga anaknya. Ntah apa akan tergores di benak Afisa bila Citra buka suara siapa Alvan sesungguhnya. Menyalahkan Alvan atau Citra pergi tanpa beri kabar.
Cepat atau lambat hari ini akan tiba. Tak ada guna menghindar terusan. Dari hari ke hari anaknya makin dewasa menuntut kebenaran kisah hidup mereka.
"Hai Cece...apa Khabar?" tanya Citra lembut memandangi raut wajah anak keduanya penuh kerinduan.
"Baik...Cece sibuk latihan untuk kejuaraan liburan. Kapan mami akan bawa Koko dan Amei pulang sini."
Jantung Alvan berdegup kencang dengar Afisa meminta Citra pulang ke Beijing. Kata pulang kuatkan Afisa anggap Beijing adalah rumahnya. Tanah air hanya tempat singgah sementara.
"Belum tahu sayang. Koko dan Amei kan belum ujian. Emangnya Cece susah ujian naik kelas?"
"Belum juga. Sini masih dingin. Baru musim semi. Mami...kata Amei itu laki papi kami. Mami ada penjelasan?" Afisa berkata layak orang dewasa minta kejelasan satu cerita.
Citra memejamkan mata sebelum buka mulut menjawab pertanyaan Afisa yang gampang tapi sulit di bibir.
"Mami..." panggil Afisa penasaran Citra tak kunjung jawab.
"Iya sayang...dia papi kalian." meluncurkan juga kalimat yang sangat manis di kuping Alvan. Memang ini yang harus Citra jawab. Kenyataan Alvan memang papi mereka.
"Kenapa baru sekarang datang? Dulu di mana beliau?"
"Duh nih anak! Lebih sadis dari Azzam." Alvan membatin dalam hati. Afisa tampak lebih kritis dari Azzam. Satu Azzam saja bikin Alvan pusing. Tambah pula anak lebih beracun.
"Sayang...ada hal tak bisa kita cerita di sini! Kelak kita bertemu baru mami cerita. Kamu belajar yang baik biar nilai bagus. Bukankah Cece mau jadi dokter kayak mami?"
"Mami tak usah kuatir. Cece pasti akan dapat beasiswa tiap tahun. Bilang sama Koko jangan kalah sama adik! Kena sogokan langsung bungkam." Afisa menyindir Azzam yang sedang seru-seruan dengan Ance main game.
"Aku dengar. Suaramu besar. Aku takkan kalah darimu. Aku akan naik kelas lima tinggalkan Cece. Kalau sanggup kejar." sahut Azzam tanpa berniat tinggalkan ponsel barunya.
"Deal... Cece akan persembahkan tropi senam ritmik untuk kalian. Kalau menang Cece akan dapat hadiah rumah. Kita bisa tinggal bersama di Beijing. Bersiaplah pulang ke Beijing!"
"Menang dulu! Tak baik berkoar sebelum tanding. Semangat sih boleh tapi jangan takabur! Koko doakan Cece dapat nilai sempurna. Menari sebaik mungkin. Minta papa live ya!" kata Azzam dengan suara keras biar terdengar oleh Afisa. Jarak mereka sedikit jauh. Azzam berada di sofa bersama Ance sedangkan tablet dipegang oleh Citra duduk dekat Afifa.
"Ok...tunggu kehebatan aku!" jawab Afisa pongah.
"Hu...sombong!" Azzam mengecam keangkuhan Afisa. Afisa tersenyum manis perlihatkan dekik mirip punyaan Afifa. Keduanya mewarisi dekik dari Alvan. Bukti nyata mereka anak Alvan. Cuma Afisa tidak gampang percaya pada ketulusan Alvan pada mereka.
Sekian tahun Alvan tak ada kabar. Giliran mereka sudah beranjak dewasa tiba-tiba muncul mengaku sebagai papi. Peristiwa aneh di mata Afisa. Mana ada orang tega terlantar tiga anak sampai bertahun. Pasti ada yang tak beres dengan laki itu. Sama seperti Azzam belum terima Alvan sebagai papi kandung.
"Kok Amei ngobrol sebentar saja sama Cece. Tablet kan punya Amei." sungut Afifa merasa tersisih. Tablet punyaan dia kenapa yang lain ngobrol ria dengan Afisa di seberangan.
"Ini...ayo ngobrol!" Citra segera angsur tablet tersebut ke hadapan Afifa agar lanjut bergosip ria dengan sang kakak.
Afifa tersenyum senang kembali menguasai benda baru yang diidamkan cukup lama. Tangan mungil Afifa perlihatkan selang infus terpasang di tangan. Afifa mau tunjukkan kalau dia benaran sakit. Anak kecil selalu mau unjuk gigi cari perhatian dari yang lebih tua. Selisih umur mereka hanya hitungan menit. Namun karakter jauh beda. Afisa mirip ibu bermulut judes sedang Afifa hanyalah gadis kecil sesuai usia. Lucu dan manja.
"Amei banyak makan biar cepat sehat. Ingat Amei tak boleh makan es krim. Patuh sama mami ya! Jangan melawan kalau dilarang!"
"Amei selalu patuh kok! Tadi disuntik ambil darah Amei tak nangis. Ada sakit sedikit. Kayak digigit semut."
__ADS_1
"Good girl...setelah vc langsung bobok ya! Besok bangun sudah sehat. Ingat kata Cece tak boleh membantah mami!"
"Iya ce...Amei senang kita punya papi baik! Tidak suka marah kayak papa di sana."
"Papa bukan marah tapi suaranya memang besar. Tahun depan kalian semua pulang Beijing. Mami bisa kerja di rumah sakit sini. Cece akan rajin latihan biar jadi juara. Hadiahnya banyak kalau menang."
"Bawa papi juga ya! Kasihan papi ditinggal sendirian. Kita bisa bersama selamanya."
Afisa kurang suka Afifa memuja Alvan setengah mati. Memahami seseorang tak segampang balik telapak tangan. Bertahun Alvan tak tampak batang hidung, bagaimana karakter Alvan masih misteri. Andai Alvan orang baik takkan tinggalkan mereka. Itu saja kunci dipegang Afisa terhadap Alvan. Kuncinya belum pas buka pintu keyakinan pada Alvan. Perlu ahli kunci jitu supaya pintu terbuka lebar kasih kesempatan pada Afisa melihat lebih dalam isi otak Alvan.
"Jangan bawa orang asing dalam keluarga! Nanti kena tipu lagi."
Gubrak..hancur hati Alvan sampai tak berbentuk. Afisa mulus sekali bilang dia orang asing belum pantas dianggap keluarga. Anak kandung sendiri kurang respek padanya, di mana posisi Alvan berdiri di mata Afisa. Sebagai pembohong atau pecundang buang anak bini.
"Papi bukan orang asing. He is the best guy in my life. I love him so much!" Afifa keluarkan bahasa asing tanda tensinya meningkat.
"Ok...ok...Cece tahu." Afisa paham spanning Afifa naik. Satu rumah tahu kalau Afifa mulai ngomel dalam bahasa Inggris artinya dia sedang galau. Afifa memang paling fasih berbahasa Inggris di antara mereka bertiga. Teman Afifa para anak duta besar dari manca negara. Tak heran bahasa Inggris sangat bagus.
"Cece datang sini biar kenal papi. Cece belum jumpa maka tak kenal. Tak kenal maka tak sayang. Besok ke sini."
"Tapi Cece masih sekolah dan rutin latihan. Tunggu libur dulu ya! Ok girl? Sekarang bobok saja. Besok malam kita vc lagi. Sini sudah jam tidur. Sebentar lagi papa sudah teriak suruh tidur."
"Itu papa Cece suka teriak kayak Tarzan kota. Papi Amei tidak pernah marah. Bicara lembut. Ganteng dan baunya harum. Papa Cece bau kecut." Afifa mulai bikin perbandingan antara dua laki yang jadi papa dan papi mereka.
Azzam terkekeh merasa lucu Afifa cari kesalahan papa di Beijing. Sudah punya Alvan gadis itu merasa tak butuh papa Ong yang mengurus mereka dari kecil. Afifa tak ubah seperti orang membuang papan setelah lewati parit lebar.
Alvan dan Citra mengulum senyum lihat cara Afifa bela Alvan. Alvan senang dibanggakan Afifa. Pucuk hidung Alvan naik satu Senti saking senang dipuja anak sendiri.
"Iya terserah Amei. Cece pergi bobok ya! Salam untuk Koko dan mami. Sayang untukmu."
"Iya salam juga!" ketus Afisa tak ikhlas salami Alvan.
"Byee.."
"Bye..."
Afifa memutuskan hubungan telepon sedikit cemberut. Gadis kecil ini tidak terima Afisa tak suka papinya. Alvan begitu ganteng pantas dibanggakan. Beda dengan papa Ong yang bermata sipit berkulit pucat. Suaranya menggelegar bak gledek. Afifa anggap papa Ong pemarah padahal itu bukan fakta sebenarnya. Justru papa Ong orangnya baik dan tulus.
"Anak mami mau ke kamar mandi sebelum bobok?"
"Mau..off kan dulu tablet Afifa biar tak cepat habis batere!" Afifa menekan power off beri waktu pada tablet ngaso ikut istirahatkan komponen.
"Oh...tablet mau bobok juga!"
"So pasti...Koko juga bobok! Sudah malam." Afifa beri peringatan pada Azzam ikut tidur. Azzam yang sedang asyik mana peduli ajakan Afifa. Azzam puas tidur satu sore, sekarang punya ekstra power bergadang hingga larut malam.
"Amei benar ko! Setengah jam lagi ya! Kak Ance juga mau pulang. Kasihan nenek tak ada kawan di rumah!"
"Tante Nadine kan ada. Bentar lagi mi!" rayu Azzam tak ingin Ance pulang.
"Tante Nadine ada di sini."
"Setengah jam lagi. Koko akan matikan hp." Azzam minta tempo sebentar lagi.
"Baiklah! Sekarang anak mami ke kamar mandi. Papi Amei mau pulang? Istirahatlah di rumah! Aku sudah cukup rawat Amei. Toh Amei mulai sehat?"
__ADS_1
"Malam ini aku mau tidur sini! Di rumah bikin otak makin panas. Kumohon ijinkan aku berada bersama anak-anak aku!" pinta Alvan memelas. Sosok bergengsi pengusaha muda kaya raya tak ubah seperti pengemis memohon belas kasihan.
Citra menarik nafas tak berkata apapun lagi. Citra ngerti Alvan terpukul oleh pengkhianatan Karin. Mengusir laki itu di saat dia butuh penawar rasa sedih mungkin tidak tepat. Citra tak berkata apa-apa lagi selain bantu Afifa bersih-bersih sebelum tidur.
Sebelum Afifa terbuai mimpi Citra cek sekali lagi kondisi tubuh Afifa. Yakin ok barulah Citra ijinkan Afifa berbaring menyambut mimpi. Dasarnya Afifa anak baik. Tak ada sepatah kata bantahan keluar dari mulut. Disuruh tidur Afifa turuti keinginan mami. Tanpa protes gadis ini memejamkan mata. Citra hadiahkan kecupan di kening sebagai ucapan selamat tidur.
Citra sendiri ingin merentangkan tubuh di kasur bersama Afifa. Citra cukup lelah jalankan operasi pasien Rahma. Ditambah bolak balik ceking kesehatan Afifa. Seluruh tubuh Citra pegel minta dimatikan power kayak tablet Afifa.
"Kau tidurlah Citra! Wajahmu lelah." ujar Alvan pengertian.
"Bapak tidur di mana?"
"Boleh tidur di sampingmu?" goda Alvan dipotong Azzam cepat. Mata si lajang di atas ponsel namun kuping di mana-mana.
"Tidak boleh! Mami tidur di sofa. Azzam dan Om tidur di kasur." nyerocos Azzam tanpa memandang siapapun.
"Baiklah! Sesuai perintah pangeran tampan!" Alvan ogah berdebat membentang jurang lebar dengan si lajang. Alvan harus berjuang cari pengakuan Azzam dan Afisa. Tidak gampang dapat sertifikat dari kedua anak berotak briliannya.
"Mami sini! Tidurlah! Koko dan Kak Ance pindah ke kasur! Pakai selimut biar tak dingin." Azzam sok dewasa nasehati orang yang telah mengandungnya sembilan bulan.
"Terima kasih!" Citra naik ke sofa yang ditinggal Azzam dan Ance. Rasa penat membalut seluruh tubuh Citra membuatnya tak sabar bergabung dengan Afifa menggalang mimpi. Tentu saja mimpi indah yang tak didapat di alam nyata.
"Ance kerja di mana?" tanya Alvan melirik laki feminim itu.
"Belum kerja pak! Dulu pernah kerja di mini market tapi keluar. Bosnya suka main kasar. Salah sedikit main gampar. Aku tidak tahan pak! Gaji dibayar sesuka hati." cerita Ance iba hati ingat perlakuan kasar bosnya dulu.
"Kau ada kuliah?"
"Ngak pak. Tamatan SMK jurusan akuntansi."
"Kalau bapak ajak kerja di kantor bapak kau mau?"
"Serius pak? Aku bukan sarjana lho pak!"
"Bukan ijazah sarjana dibutuhkan tapi keterampilan serta dedikasi. Tunjukkan ilmu yang kau serap tidak terbuang sia-sia. Besok kau lengkapi persyaratan lamaran. Kasih ke Untung. Kau mulai dari bawah. Kenalin kantor dulu serta cara bekerja di perusahaan."
"Siap pak!" Ance angkat tangan tempelkan ke jidat. Malam-malam dapat durian runtuh. Tak perlu bermimpi indah Ance dapatkan pekerjaan di kantor bonafide macam perusahaan Lingga.
"Satu lagi! Kamu itu cowok. Bergayalah bagaimana sikap seorang cowok! Buang segala gaya tak perlu. Tunjukkan kamu ini pria sejati!"
"Siap pak!" Ance berdiri tegak busung dada. Untunglah malam ini Ance tidak iseng memakai bra yang diperuntukan bagi kaum hawa. Kadang kumat keisengan Ance berdandan ala setengah cewek.
"Beginilah sikap cowok keren! Sekarang kau pulanglah! Bersiaplah datang ke kantor esok hari! Kau pulang dengan Untung. Tanya semua persiapan yang dibutuhkan untuk bekerja di kantor. Ingat! Kamu itu cowok bukan cewek!" tegas Alvan biar Ance tak mabuk air putih berharap ada keajaiban merubah dia jadi cewek.
"Siap pak! Koko...kak Ance pulang ya! Kak Ance akan bekerja di kantor papi." Ance mencolek Azzam agar menyimak apa yang sedang terjadi padanya. Dapat berkah di malam hari.
"Namamu siapa?" tegur Alvan kembali ingatkan Ance jangan sok feminim.
"Maaf pak! Terbiasa...namaku Andi." Andi atau Ance menyebut namanya malu-malu kucing. Nama Andi nyaris terlupakan. Di rumah hanya ibu Menik dan Nadine masih ingat nama itu. Selebihnya memanggilnya dengan sebutan Ance termasuk Citra.
"Ingat...mulai detik ini tak ada Ance tapi Andi. Bekerja di kantor harus serius. Yang rajin dan jujur."
"Iya pak! Kalau aku kurang ngerti diajar ya! Jangan dihajar!"
"Siapa mau hajar kamu? Kau pikir kantor itu arena tinju?"
__ADS_1