ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN

ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN
Andi Tunjuk Skill


__ADS_3

"Semoga begitu!"


Alvan lumayan kaget dapat kasus penggelapan uang di perusahaan. Mengapa dia begitu teledor tak tahu terjadi hal luar biasa dalam kantor. Wenda dan Untung yang selalu urus masalah file sebelum jatuh ke tangannya. Tak mungkin Untung gegabah salah input data. Atau Untung aktor di balik penggelapan uang kantor.


Tapi Untung dan Wenda tak punya akses terima dana. Setiap dana yang masuk harus melalui audit keuangan. Itu bukan jalur mereka berdua. Alvan dapat pr baru soal penggelapan dana. Andi termasuk anak cerdas bisa tangkap ada tak beres pada data di komputer. Ini menunjukkan Andi bukan orang bodoh.


Andi sendiri bodohi diri sendiri bertingkah kayak cewek padahal dalam diri anak itu tersimpan potensi tinggi. Alvan akan mengasah Andi sebagai penerus Untung bila sewaktu-waktu Untung resign.


Tak terasa mobil telah tiba di rumah Citra. Untung masih di situ menunggu perintah Alvan selanjutnya. Laki itu belum berani tinggalkan rumah Citra sebelum ada signal dari Alvan. Laki gempal itu menunggu di teras depan tanpa ada yang menemani. Citra dan anak-anak di dalam rumah, Untung mana punya nyali ikut gabung dalam rumah. Bisa jadi sate panggang gratis dibakar Alvan.


Andi duluan turun dari mobil langsung nyelonong masuk ke rumah Citra. Alvan menyusul dari belakang melempar pandangan ke arah Untung yang lesu. Laki gempal itu mulai soak habis batere. Secapek apapun Untung harus bertahan mengingat jasa Alvan dan gaji memadai.


"Kita pergi makan bersama. Kau bawa Nadine sekeluarga, aku bawa Citra dan anak-anak." kata Alvan memanggil roh Untung yang nyaris kabur saking lelah.


Dengar kata makan energi Untung kontan full tanpa pakai di cas ulang. Perut Untung sudah berontak dari tadi, puluhan cacing demontrasi di sepanjang usus Untung minta dikasih jatah makan. Tanpa ada perintah dari bos Untung mana berani kabur cari makan. Nelangsa menahan lapar juga lelah.


"Siap pak! Aku panggil Nadine dan emak dulu. Rencana ke resto mana?" Untung siaga bak tentera baru usai perang meraih kemenangan mutlak.


"Kita tanya anak-anak mau makan apa? Terserah mereka!"


"Ok...biar kuurus Nadine. Bapak jatah anak-anak saja!" Untung berlari kecil menuju ke rumah tetangga sebelah. Di rumah sebelah ada bunga menebar harum semerbak menggoda hidung Untung. Untung punya peluang memetik bunga indah di mata Untung. Cuma ntah bunganya ikhlas tidak dipetik calon pemilik bertubuh subur.


Alvan mengetok pintu sebelum masuk. Alvan tahu Citra orangnya suka pada orang kenal kata sopan santun. Untuk mencuri simpatik Citra tugas Alvan sekarang adalah tampil sesempurna mungkin. Jangan keluar ekor rubah yang bau!


"Assalamualaikum..." sapa Alvan masih berdiri di depan pintu sebelum ada jawaban.


"Waalaikumsalam..." Afifa yang jawab muncul dari belakang.


Wajah Afifa berubah cerah begitu lihat yang datang. Gadis kecil itu memeluk Alvan tanpa malu-malu. Gadis kecil ini rindu pada sosok papi keren. Padahal baru tadi pagi jumpa sekarang sudah rindu.


Alvan mengusap ubun kepala Afifa jawab rasa rindu anak itu. Beda rasanya punya anak dengan sebelum punya anak. Alvan harus perlihatkan emosi stabil tak mudah terjebak dalam amarah. Rasa kesal dari tempat lain jangan sempat terbawa ke rumah Citra. Tempat Citra adalah surga dunia bagi Alvan.


"Mami mana?" tanya Alvan membawa tubuh mungil Afifa untuk duduk di bangku sofa.


"Lagi mandi. Kata mami kita harus sholat magrib dulu baru boleh pergi. Makan bisa ditunda tapi sholat tak boleh." sahut Afifa manja masih tak rela melepaskan Alvan.


"Mamimu benar. Papi boleh numpang mandi di sini?"


"Boleh dong! Kita kan satu keluarga. Emang baju papi ada di sini?"


"Ada di mobil. Om Untung akan antar ke sini. Afifa pingin makan apa? Biar kita makan enak di restoran."

__ADS_1


"Apa aja...Amei lagi sedih Pi! Kata mami besok dia pergi jauh. Amei dan Koko harus patuh pada papi dan nenek selama mami pergi."


"Amei yang sabar ya! Mami itu pergi kerja. Tuh lihat di tv korban bencana gempa! Mereka terluka parah butuh mami obati mereka. Mami akan cepat pulang! Afifa sama papi saja. Kita pulang ke rumah Papi ya!" Alvan mengelus pipi Afifa menguatkan gadisnya agar ikhlas maminya pergi berbakti pada masyarakat. Alvan ngerti perasaan Afifa di tinggal pergi oleh Citra. Afifa belum terbiasa kehilangan induknya. Wajar hatinya sedih.


"Rumah papi? Di mana?"


"Rumah papi gede. Afifa dan Azzam akan punya kamar besar yang ada kamar mandinya. Di sana ada nek Ani dan Iyem akan kawani kalian. Afifa mau tinggal bersama papi selama mami pergi?"


Afifa tidak segera jawab. Ada rasa takut hinggap di hati Afifa. Gimana kalau mereka dipisahkan dengan mami mereka. Afifa memang sayang pada Alvan namun Afifa lebih sayang pada Citra. Citra yang urus mereka dari bayi kecil hingga tumbuh menjadi gadis kecil. Gimanapun sosok Citra lebih kental terpahat di hati.


"Tanya mami dulu! Amei ikut apa bilang mami." akhirnya Afifa keluarkan isi hati.


Alvan mengangguk setuju kata Afifa. Semua bergantung pada Citra. Andai diijinkan Alvan lebih suka Azzam dan Afifa ikut dia pulang ke rumah. Di sana semua fasilitas lengkap, ada taman dan kolam renang. Keduanya bisa bermain sepuas mungkin di rumah tanpa perlu cari hiburan di luar rumah.


"Kita tanya mami."


"Iya Pi...!" Afifa mengerti tak ingin menyulitkan Alvan. Afifa dan Azzam terdidik dari kecil mengenal kata empati. Memahami kesulitan orang lain tidak ke depankan ego sendiri.


Alvan mengeluarkan hp meneleponi Untung agar turunkan pakaian ganti dari mobil. Alvan selalu sediakan pakaian ganti dalam mobil untuk dipakai bila ada acara mendadak. Kali ini Alvan tidak minta pakaian resmi untuk kantoran. Cukup pakai casual untuk makan malam bersama keluarga.


Baru kali ini Alvan makan beramai-ramai bersama keluarga. Alvan jarang keluar makan bersama kedua orang tuanya. Paling pergi dengan Karin di kala ada waktu senggang. Itupun jarang terjadi karena Karin punya dunia sendiri. Bergabung dengan selebgram lain ataupun bersama sosialita-sosialita penghambur hasil keringat suami.


Di tengah Alvan berenung Citra keluar ntah dari mana. Wajah Citra segar menandakan baru bercanda dengan sekumpulan air bening. Kalau air butek hasilnya tentu beda. Air butek cocok disiram ke kepala Karin agar sadar betapa kotor isi otak perempuan itu. Isinya limbah melulu.


Citra tersenyum melihat Afifa bermanja pada Alvan. Gadis kecil itu tidak ragu kalau Alvan itu papi kandungnya. Sulit bagi Citra bersandiwara kelabui Afifa kalau Alvan bukan siapa-siapa mereka. Darah lebih kental dari air itu pepatah kuno tak terpatahkan.


"Senang ya dekat papi?" Citra mengambil tempat seberangan dengan Alvan dan Afifa. Citra silangkan kaki duduk dengan gaya anggun seorang wanita wibawa.


"Senang dong! Teman Amei bilang papi Amei lebih ganteng dari papinya. Dia pingin papi Amei." kata Afifa menatap bangga pada Alvan. Afifa terlalu kecil memahami kemelut yang melilit kedua orang tuanya. Citra yang berdiam dalam kepedihan selama bertahun-tahun tak mungkin buka aib Alvan di masa lalu. Biarlah Afifa menyimpan profil Alvan sebagai papi sempurna.


"Oya? Emang teman Amei tidak punya papi?"


"Punya tapi gendut kayak Om Untung. Masih mending Om Untung punya leher. Papi teman Amei lehernya tak ada. Kepala lengket di dada."


"Huusss tak boleh gitu! Itu tidak sopan namanya! Dosa lho omongin orang tua. Bersiap sholat! Sebentar lagi magrib. Suruh Koko siapkan sajadah." Citra meminta Afifa panggil Azzam untuk persiapkan alat sembahyang sebelum magrib tiba.


"Siap nona Citra!" gurau Afifa mengedipkan mata. Gadis kecil ini melepaskan tangan dari tubuh Alvan mencari target yang diminta Citra.


Alvan menatap Afifa hingga hilang di balik pintu. Betapa damai berada di tempat tepat. Inilah surga Alvan yang hilang atas ulah sendiri. Semoga surga itu kembali menyambut Alvan dengan tulus.


"Bapak mau ajak kami ke mana?"

__ADS_1


"Pergi makan doang! Oya...aku boleh numpang mandi? Sholat tanpa mandi rasanya tidak afdol. Keringat sana sini!"


"Gimana kalau kutolak? Bapak mandi sini artinya biaya air dan listrik akan melonjak. Kami bukan orang kaya sanggup bayar tagihan bengkak!" sahut Citra asalan.


"Ya Tuhan...begitu pelitnya kamu! Mulai bulan ini biaya hidup kalian jadi tanggungan aku!"


"Tidak usah...aku masih mampu biayai hidup anak-anak tanpa bantuan bapak. Aku tak mau hutang budi. Bagiku anak adalah tanggung jawabku sendiri. Dari dulu aku biayai hidup anak-anak tanpa bantuan orang lain. Berhubung aku lagi baik hati silahkan gunakan kamar mandi aku. Ingat mandi tak boleh lebih dari tiga gayung air."


"Tiga gayung? Mandi kambing? Baru siram pipis sudah habis jatah air. Kapan mandinya?" Alvan dibuat melongo peraturan dari Citra. Tiga gayung air bisa cuci apa? Buat siram air kencing sudah habis. Kapan giliran badan kena air.


"Mandi setetes demi setetes air. Hargai air pak tua! Di jaman ini air mulai langka. Silahkan! Sudah dekat waktu sholat!"


Alvan ngerti Citra sedang kerjain dia. Mana mungkin mandi cuma pakai air tiga gayung. Mandi kilatpun tak cukup. Alvan malas berdebat dengan ibu dari anak-anaknya memilih pura-pura pasrah. Sudah di kamar mandi terserah dia mau pakai air berapa galon.


Untung datang mengantar pakaian ganti Alvan tanpa banyak omong. Sejujurnya Untung suka Alvan berada di sekitar Citra. Citra jauh lebih baik dari Karin. Dari sudut manapun Citra menang dari Karin. Namun fakta Karin lebih berkuasa dari Citra. Karin telah kuasai seluruh hidup Alvan.


Untung belum tahu kemelut yang sedang dibuat Karin. Laki gempal ini tak tahu Karin bakal segera tersingkir dari hidup Alvan. Bukan salah Alvan campakkan Karin. Karin sendiri minta dibuang Alvan.


Azan magrib berkumandang memanggil seluruh umat muslim bersiap menghadap sholat perpindahan waktu dari siang ke malam. Alvan kembali di daulat menjadi imam di keluarga sesuai hukum Islam. Lelaki dewasa dalam keluarga wajib memimpin keluarga laksanakan kewajiban sholat.


Kali ini Alvan lebih relax karena sudah tahu sedikit ilmu agama. Alvan belajar sari buku tuntunan sholat beserta hafalan ayat-ayat sholat. Alvan bukan manusia berotak bebal tak bisa menangkap isi buku. Proyek lebih sulit sanggup dia atasi. Tak mungkinlah sedikit hafalan tak masuk otak.


Kali ini Azzam tak banyak komentar karena Alvan tampil lebih percaya diri. Penilaian Azzam pada Alvan naik sederajat. Cukup sederajat dulu. Terlalu banyak akan membuat Alvan besar kepala. Azzam belum puas lampiaskan rasa kesal pada laki itu tega terlantarkan mereka. Untunglah mereka punya mami baik.


Seperti janji Alvan mengajak Citra sekeluarga makan malam di restoran mewah. Mereka berangkat gunakan dua mobil. Alvan, Citra beserta kedua anak satu mobil. Untung bawa Nadine, Andi dan Bu Menik. Mereka semua tampak seperti keluarga besar nan bahagia nikmati makan malam bersama. Tak ada yang tahu di balik keserasian Alvan dan Citra ada jurang pemisah yang belum terhubung jembatan kesepakatan.


Afifa berseri-seri tak bisa sembunyikan rasa senang. Azzam beri reaksi biasa tanpa emosi apapun. Alvan heran pada Azzam seperti punya dendam kesumat padanya. Afifa bisa terima dia secara baik mengapa tokoh utama pewaris Lingga justru beri reaksi berbeda. Mungkin Azzam belum tahu betapa pentingnya dia di keluarga Lingga. Azzam satu-satunya anak laki secara otomatis tampuk warisan jatuh ke tangan Azzam. Azzam terlalu kecil untuk memahami penting seorang keturunan bagi Alvan.


Restoran yang dituju Alvan merupakan restoran bertaraf internasional. Makanan di situ dimasak Koki dari luar negeri punya lisensi. Restoran keluarga Lingga warisan kakek Wira. Kakek Wira pebisnis jempolan bangun kerajaan Lingga dari nol hingga jadi besar. Dari zero ke Hero.


Untunglah Alvan cakap mampu meneruskan usaha kakek Wira. Andai harap pak Jono si petualang cinta dari dulu kerajaan Lingga sudah dicaplok kerajaan lain. Selanjutnya tergantung pada kecakapan Azzam meneruskan bisnis raksasa kerajaan Lingga.


Afifa dan Azzam bergumam kagum pada kemewahan restoran pilihan Alvan. Kedua anak itu tak tahu semua ini kelak jadi milik mereka berdua. Baru pertama kali kedua bocah cilik itu masuk restoran mahal. Rasa bangga tak bisa disembunyikan Afifa. Afifa menggenggam tangan Alvan erat-erat hendak salurkan rasa terima kasih tak terucap.


Andi dan Azzam cuci mata sepuasnya sekeliling restoran. Yang duduk di bangku rata-rata orang berpakaian necis tunjukkan kelas mereka. Hanya orang berkocek tebal bisa cicipi masakan bertaraf internasional. Kesempatan itu telah datang pada mereka.


Seorang pelayan berseragam hitam putih hampiri kelompok Alvan sambil beri hormat. Sikapnya sopan sekali hargai setiap tamu. Alvan senang restorannya pekerjakan pekerja kenal sopan santun. Pelanggan itu raja tertanam baik di hati semua karyawan.


"Selamat datang bapak ibu! Silahkan cari tempat sesuai! Atau saya rekom di atas saja. Nikmati makan malam sambil lihat kelap lampu kota."


"Boleh...meja besar untuk kami!" kata Alvan wibawa tunjukkan gaya pemimpin sejati. Karyawan itu mungkin belum kenal siapa Alvan.

__ADS_1


__ADS_2