ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN

ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN
Pelajaran Berharga


__ADS_3

Hans mengenali Pak Jono sebagai bapak Alvan. Pak Jono termasuk pemilik rumah sakit yang harus dihormati. Kalau saja Hans tahu kisah sebenarnya antara Karin dan Pak Jono apa masih tersisa rasa hormat itu? Mungkin Hans akan mengutuk perselingkuhan gila ini. Hanya orang kurang waras tega khianati anak sendiri. Orang gila itu adalah Pak Jono.


"Secara garis besar biasa disebabkan pola hidup tak sehat. Merokok, minum minuman beralkohol, melakukan hubungan intim berlebihan. Semua itu jadi andil penyebab kerusakan pada janin. Ada satu lagi tak kalah penting. Pembuahan cacat artinya dari awal pembuahan bibit tidak sehat maka janinnya tak bisa berkembang. Pada kasus Nyonya Karin kamu belum bisa tentukan karena belum lakukan pemeriksaan lebih lanjut. Bagaimana? Kita lakukan tindakan medis lanjutan atau masih perlu berembuk keluarga." Hans menyerahkan keputusan pada Alvan dan Pak Joko sebagai keluarga dekat Karin.


Alvan tak mau jadi kambing hitam atas kejadian menimpa Karin. Andai Alvan bersikeras meminta Hans ambil tindakan Pak Jono bisa berburuk sangka. Alvan serahkan keputusan pada Pak Jono saja. Toh janin itu punya Pak Jono.


"Apa tak bisa diselamatkan dok?" tanya Pak Jono masih belum puas jawaban Hans.


"Janinnya sudah hancur. Jika tak segera dikeluarkan nyawa nyonya Karin dalam bahaya. Dipertahankan tak ada guna. Dia membusuk dalam rahim. Jika dibiarkan rahim nyonya bisa diangkat." Hans bukan menakuti Alvan dan Pak Jono. Ini penjelasan secara medis. Sudah begini tetap ada yang harus dikorbankan..


"Jika memang harus gitu ya terpaksa kita lakukan! Nyawa menantuku sangat penting." ujar Pak Jono diplomasi.


Alvan mencibiri gaya Pak Jono yang tak tahu malu. Masih sanggup anggap Karin sebagai menantu setelah kejadian memalukan terjadi antara mereka. Pak Jono tak tahu rencana Alvan ingin ceraikan Karin.


Wanita model Karin dipertahankan hanya jadi sumber penyakit. Berapa banyak skandal bakal diciptakan Karin setelah sehat nanti. Mau tobat atau melanjutkan kehidupan tak sehat.


"Baiklah! Aku akan segera persiapkan tindakan medis. Tak usah kuatir. Semua akan aman." janji Hans menenangkan Alvan.


"Terima kasih Hans! Lakukan yang terbaik."


"Kalian tunggu saja di ruanganku. Untuk apa berdiri di sini?"


"Tak usah...kami menunggu di sini saja. Beri kamar yang baik untuk pemulihan."


"Beres..." Hans beri aba-aba pada perawat persiapkan semua peralatan menangani Karin.


Alvan dan kelompok kecilnya menunggu di lobby ruang IGD. Ikuti Hans ke ruang medis tak ada guna. Mereka tak bisa bantu apapun selain beri doa.


"Untung...ajak Bik Ani pulang bawa pakaian Karin. Iyem tetap di sini jaga Karin."


"Iya pak! Bik Ani dan Iyem ada di luar. Ajak masuk tak mau takut lihat orang sakit katanya."


"Ya sudah! Kau pulang rumah bawa perlengkapan Karin."


"Siap pak!" Untung siaga satu laksanakan perintah. Laki gempal ini segera ayun langkah mencari Bik Ani dan Iyem. Salah satu di antara mereka harus nginap di rumah sakit melayani Karin. Dari segi umur Bik Ani tidak pantas jaga malam. Orang berumur rawan naik darah bila kurang tidur. Iyem tak bisa mengelak mengemban tugas ini.


Alvan kembali duduk di bangku panjang tersedia untuk tamu. Pak Jono tampak gelisah Karin harus dioperasi angkat janin rusak. Sikap gelisah Pak Jono dianggap Alvan sebagai perselingkuhan terselubung. Kedua orang itu akan melakukan hal gila itu tidak di kemudian hari. Tergantung iman Pak Jono sanggup tidak melawan hawa nafsu.


"Duduklah! Karin tidak akan mati. Orang jahat umurnya panjang." ejek Alvan.


"Jaga mulutmu! Itu isterimu. Papa hanya kuatir saja."


"Kalau papa sadar Karin isteriku buang pikiran kotormu! Kalau sampai mama tahu akal licik papa tamatlah riwayat kalian. Keluarga mama di Banjar takkan tinggal diam."


Pak Jono bergidik membayangkan kesaktian orang Banjar secara turun temurun. Keluarga Bu Dewi termasuk salah satu keluarga terpandang dengan riwayat cukup panjang. Bukan percaya hal mistik namun Pak Jono tak ingin ambil resiko cari masalah dengan keluarga terpandang di Kalimantan.


"Kami ngawur apa? Papa kuatir karena dia isterimu. Papa harap setelah ini semua kembali seperti dulu. Tak usah ungkit siapa yang salah. Papa memang salah. Papa akui itu."


Alvan tertawa sinis menanggapi kata-kata Pak Jono. Papanya anggap Alvan laki idiot bisa disetir sesuai keinginan dia dan Karin. Alvan menanti moments tepat singkirkan Karin si ayam loncat dari hidupnya. Masih ada satu tahap bencana sedang menanti Karin yakni test HIV. Andai terbukti Karin terjangkit Avan tak segan tendang Karin dua belas pas dari hidupnya.

__ADS_1


Siapa Sudi hidup dengan penderita HIV? Penyakit yang sampai kini belum ada obatnya. Sekali terjangkit sudah dipastikan akan cepat jumpa malaikat elmaut. Alvan masih sayang pada nyawa sendiri tak ingin ikut mati konyol.


Alvan malas berdebat di tempat terbuka. Di dengar orang jadi bahan tertawaan. Mana ada kisah mertua selingkuh dengan menantu. Kisah edan bin sinting.


"Papa pulanglah! Biar Alvan di sini bersama Iyem. Besok juga ada kabarnya. Papa kan akan berangkat ke Jogja."


"Apa papa masih harus pergi? Bukankah anak itu sudah tak ada?" Pak Jono memelas minta dikasihani. Sebenarnya Alvan tak tega memaksa papanya berangkat ke Jogja. Tapi persoalan dengan Karin belum jelas. Pak Jono di sini hanya permudah Karin memerasnya.


"Pa...ini demi kebaikan kita semua. Karin itu tak sebaik yang kita lihat. Asal papa tahu. Dia habiskan ratusan juta sewa satu lantai hotel berpesta narkoba dan mabukan. Laki yang bersama Karin sudah ditangkap atas tuduhan menyebar virus HIV dan gunakan narkoba. Alvan sudah cukup pusing dibuat Karin. Alvan mohon jangan papa tambahkan lagi."


Giliran Pak Jono melongo tak percaya tuduhan Alvan pada Karin. Karin mana berani lakukan perbuatan gila ini. Cerita tak masuk akal.


"Kamu menyudutkan Karin?"


"Ya Allah...Kalau Karin tak bersalah tak mungkin aku gila menuduh dia. Papa selidiki saja hotel dekat kantor kita. Juga ke kantor polisi tanya apa Karin sempat diinterogasi ngak? Karin bebas karena ada jaminan aku! Apa aku jahat pada selingkuhan papa itu?" Alvan gusar dituduh berbuat semena-mena pada Karin. Masih untung Alvan berbaik hati jamin Karin. Kalau tidak perempuan itu masih mendekam di kantor polisi.


"Karin...apa yang kau cari?" desis Pak Jono tak habis pikir apa mau Karin. Dari segi materi dia berkecukupan, Alvan sangat mencintainya. Apa kekurangan hidupnya?


"Sebaiknya papa menghindar dulu sebelum Karin bernyanyi memalukan keluarga. Karin sudah gila. Gila nama, gila dipuja."


Pak Jono mengangguk kecil setuju menghindar sementara. Kalau Karin sudah berbuat sejauh itu kemungkinan besar akan lebih berani lagi bikin skandal memalukan keluarga Lingga.


"Terima kasih. Tunggu semua aman papa baru balik."


"Papa ke Kalimantan saja!" pinta Pak Jono merasa lebih aman bersama isteri tercinta.


"Tidak boleh sebelum test HIV."


Sekarang Pak Jono baru puyeng. Jangan cuma Alvan saja yang puyeng. Puyeng itu harus dibagi sama rata. Masing-masing cicipi sesuai porsi diinginkan.


"Papa pulang ya! Besok pesawat jam sepuluh."


Sebenarnya Alvan iba hati pada Pak Jono namun bila ingat perselingkuhan Karin dan Pak Jono hati Alvan terasa membara. Tumpukan sekam terbakar di sana. Ntah kenapa Alvan tak open sebinal apa Karin sejak jumpa Citra. Apa gara-gara kehadiran Citra merampas pusat perhatian Alvan membuat Karin jadi tak berarti. Ke mana perginya cinta yang terpupuk puluhan tahun?


Luntur akibat ketidakjujuran Karin. Cinta berubah jadi benci. Antara cinta dan benci beti alias beda tipis.


Pak Jono berjalan menjauhi Alvan. Sosok pak tua itu perlahan menghilang di balik pintu kaca pembatas luar dan dalam. Seluruh rumah sakit full AC maka tak boleh ada sela beri kesempatan pada udara bebas keluar masuk.


Tinggal Alvan sendiri menunggu hasil tindakan medis Hans pada Karin. Badan Alvan di rumah sakit namun hati sangkut di rumah sederhana penuh kehangatan. Kalau Alvan punya sayap ingin rasanya terbang ke rumah Citra mencari kedamaian yang dia idamkan. Berapa hari bersama Citra dan anak-anak hati Alvan terasa sejuk tenteram. Tak ada yang bahas kartu kredit ataupun seruan minta beli tas mahal merek ternama.


Kelas Karin paling dikit tas bermerek Hermes. Tas mahal kalangan sosialita. Satu tas Karin ada yang berharga ratusan juta. Uang seperti tak berharga bagi Karin. Hambur sana sini tanpa pakai kalkulator.


Sedang orang yang punya hak nikmati harta Alvan harus ikat pinggang menahan selera. Untuk satu ponsel saja anak lajangnya harus bermimpi ratusan kali. Untung ketemu Alvan barulah Azzam dan Afifa memiliki barang mahal itu.


Alvan tenggelam dalam lamunan sampai tak sadar di depannya telah berdiri dokter Hans. Hans kasihan pada Alvan. Hans bukan tak tahu anak dikandung Karin bukan anak Alvan. Hans sendiri pastikan Alvan mandul total.


Karin bisa hamil anak Alvan adalah hal mustahil kecuali ada keajaiban ataupun ilmu sihir. Angkat tongkat ajaib ayunkan Karin langsung bunting. Pikiran orang stress.


"Alvan..." Hans tempatkan pantat di samping Alvan sambil menepuk bahu laki itu.

__ADS_1


Alvan tersentak lalu menatap Hans lekat-lekat minta laporan. Apapun hasilnya tidak pengaruhi keputusan Alvan meninggalkan Karin. Karin membahayakan seluruh keluarganya.


"Semua sudah berakhir. Janinnya sudah keluar! Kelihatannya gara hubungan intim berlebihan. Janinnya mulai membusuk."


"Kapan kau mau test HIV pada Karin?"


"Sudah kuambil sampel darahnya. Kita harus test berkali-kali karena masa inkubasi virus itu tergantung daya tahan tubuh. Ada orang dua bulan lebih baru menyebar virusnya. Demam Karin bisa karena virus, bisa dari infeksi janin. Sebaiknya kau juga test HIV. Jauhi anak-anak Citra dulu! Daya tahan anak-anak beda dengan orang dewasa."


"Iya...kalau sekedar peluk kan boleh?"


"Boleh tapi hindari kontak mulut. Memang sih tidak gampang tertular. Kita berjaga kan lebih bagus. Oya...Karin akan ditempatkan di ruang VIP. Atau mau ke VVIP."


"VIP saja! Tolong awasi Karin sebaik mungkin! Terima kasih bro!"


"Kayak orang lain saja! Aku akan jaga semua rahasia Karin. Jangan sempat tersiar kabar tak sedap ini!"


"Terima kasih pengertiannya! Tanpa kamu dan Daniel mungkin aku jadi martabak tanpa rasa. Dilempar ke tong sampah saking tak enak."


Hans tertawa dengar perumpamaan yang aneh dari Alvan. Wajar Alvan drop sedemikian rupa. Laki mana tidak syok tiba-tiba istri hamil sementara dia mandul. Bibit hasil sulapan magician top dari mana?


"Sudahlah tak usah lebay! Aku temani lhu sampai pagi! Kita minum kopi di kantin?"


"Tidak bro! Aku harus pulang."


"Besok Minggu...sudah lama kita tidak ngobrol! Jumpa selalu dalam suasana kerja. Kupanggil Daniel ke sini?"


"Jangan! Dia pasti sedang repot. Maklumlah malam Minggu! Cafenya pasti sedang ramai. Aku sangat lelah hari ini. Karin ada yang jaga kok! Besok pagi aku balik sini. Kuharap besok kau datang kontrol Karin. Sekalian lihat hasil test HIV."


"Tak perlu tunggu besok. Sebentar lagi juga keluar hasilnya. Testnya tidak lama kok. Atau kau mau sekalian di test untuk cari aman."


"Langsung keluar hasil?"


"Iya...tidak lama. Paling tiga menit sampai satu jam. Ayok kuambil sampel darah!"


Alvan ragu lakukan test. Batin Alvan belum bisa berdamai bila ketahuan terjangkit virus itu. Tapi bila tidak di test Alvan akan takut dekati anak-anak yang baru dia ketemukan.


"Baiklah! Semoga hasilnya sesuai keinginan."


"Amin... Yok!" Hans mengajak Alvan menuju ke ruang IGD untuk diambil sampel darah satu ampul jarum suntik.


Hans turun tangan sendiri tarik darah Alvan. Pertama-tama Hans sterilkan sekitar daerah Vena yang bakal ditusuk jarum suntik. Mengambil darah langsung dari Vena di daerah siku lebih mudah. Pembuluh darah daerah situ lebih besar memudahkan Hans menyedot darah Alvan.


Setelah berhasil ambil sampel darah Alvan, Hans buat memo dibawa ke Lab untuk cari tahu apa Alvan terjangkit virus HIV tidak. Hans sengaja samarkan nama Alvan untuk hindari pertanyaan petugas rumah sakit yang sebagian mengenal Alvan. Apa kata orang bila tahu Alvan test HIV. Gosip jelek cepat menyebar.


Sebagai seorang dokter wajib lindungi nama baik pasien apalagi Alvan teman dekat Hans. Hans lebih wajib menjaga nama baik Alvan. Itulah gunanya teman sejati.


"Yok kita minum kopi sambil tunggu hasil!" ajak Hans berusaha hidupkan gairah Alvan yang mulai redup.


"Kita tunggu Untung balik dulu! Atur Karin masuk ruang rawat hatiku baru tenang."

__ADS_1


Hans acung jempol puji kebesaran jiwa Alvan. Karin sudah main belakang menyakiti hati Alvan namun Alvan masih peduli pada wanita itu. Kalau terjadi pada Hans mungkin akan berbeda. Hans pasti akan bedah isi jantung para pengkhianat. Keluarkan cari tahu apa isi jantung busuk itu.


Hans anggap cinta Alvan pada Karin melebihi rasa benci. Atas nama cinta semua yang buruk akan berubah sempurna. Hanya pemilik cinta tulus bisa lakukan itu


__ADS_2