
Tokcer dan Bonar menemani Citra dan Afifa dekat samping tangga mal. Suasana pengunjung tak sebegitu ramai. Kebanyakan pasangan keluarga dan muda mudi cuci mata lewati setiap toko tanpa singgah. Keadaan ekonomi di tanah air kurang bergairah ditunjang berbagai aspek.
Pukulan terbesar adalah sejak merebaknya penyakit covid 19 yang melumpuhkan hampir separuh dunia. Bukan cuma di Indonesia. Di luar negeri juga kena dampak virus cukup serius itu. Tapi syukurlah perlahan mengidap virus perlahan mulai menurun.
Citra dan Afifa memandangi setiap orang lalu lalang dengan senyum di bibir. Afifa cukup senang lihat keramaian walau tidak dibelikan sesuatu. Afifa bukan tak tahu maminya tidak sekaya papinya. Maka si kecil tak berani menuntut sesuatu yang mengharuskan sang mami rogoh kocek.
"Hei...hei...bukankah ini dokter pengintai harta orang kaya?" seruan kasar muncul dari belakang Citra.
Citra tersadar kalau kalimat itu ditujukan padanya setelah lihat siapa pemilik suara kasar itu. Viona pacar si Heru bagai kuntilanak penghuni mal. Tiba-tiba saja sudah berada di depan Citra.
Viona dan dua orang wanita lain memandang rendah pada Citra yang berpakaian sederhana. Tidak mewah kayak pakaian Viona dari brand mahal.
"Oh kau...mana pacarmu yang kaya raya itu? Ditinggal karena ilfil pada cewek tak punya nalar?" sindir Citra sakit hati dibilang wanita incar harta. Memangnya harta siapa sudah dia rampas?
"Aku? Heru sedang sibuk. Aku baru ditransfer duit untuk belanja. Kau dapat apa? Baju baru warna putih yang dapat dari loakan?" balas Viona memanjang leher menantang Citra.
"Oh...Heru sibuk ya? Dia baru pulang dari pengungsian pagi tadi! Kami sedang mengerjakan proyek sumur bor untuk pengungsi. Katanya pacar tapi tak tahu ke mana sang pacar pergi. Miris amat nasib lhu!"
"Kau..." Viona menunjuk wajah Citra dengan telunjuk dicat warna warni membentuk hiasan indah. Di dunia Citra kuku model gitu membahayakan pasien. Kena gores tubuh pasien bisa jadi bala.
Tokcer segera menghadang Viona menurunkan jari tangan Viona dari wajah Citra. Melindungi keluarga Alvan merupakan tugas mereka. Kini Citra dirundung wanita mahal membuat Tokcer harus turun tangan.
"Maaf nona! Silahkan pergi! Jangan ganggu majikan kami! Kami tak segan ambil tindakan kalau nona berbuat kasar." kata Tokcer dingin biar tampak keren seperti bodyguard dalam film.
"Wow...ternyata dokter kita ada pengawalnya! Laki siapa lagi kau selingkuhi?" Viona bukannya takut malah ngelunjak iri pada Citra punya bodyguard.
"Sekali lagi Kuingatkan nona! Jangan ganggu majikan kami! Jangan membuat kami berbuat kasar! Majikan kami tidak pernah intai siapapun karena ada majikan laki kami cukup kaya untuk hidupi keluarganya. Cukup penjelasan aku?" Tokcer berkata dengan nada rendah biar tampak lebih cool.
"Majikan laki? Suami siapa? Jadi piaraan pejabat mana?" Viona sengaja besarkan suara agar di dengar pengunjung mal. Niat Viona permalukan Citra di depan umum menggebu-gebu akibat Heru beri perhatian lebih pada Citra. Viona tidak terima dikalahkan seorang dokter tanpa embel nama besar.
"Maaf bude...apa maksudmu mami aku piara pejabat?" Azzam muncul bersama Andi. Azzam telah mendengar hinaan Viona pada maminya. Azzam merasa sebagai anak tertua wajib melindungi maminya.
"Siapa kau bocah tengil? Sok ikut campur urusan orang tua!" semprot Viona pikir Azzam akan ketakutan. Azzam bukannya mundur malah maju tanpa gentar. Bonar dan Tokcer ikut menjaga kalau Viona menyakiti anak majikan mereka.
"Bude sadar sudah tua? Bagus dong! Pulang ke rumah hitung berapa garis keriput di wajah. Setua gini masih pacaran? Nggak laku apa?" Azzam mulai keluarkan racun dari mulutnya.
Tokcer dan Bonar tertawa terpingkal-pingkal melihat raut wajah Viona berubah putih. Seorang anak kecil mampu mematikan mulut seorang wanita dewasa. Sungguh mulut luar binasa.
"Hei anak kurang ajar! Berani ya lawan orang..." kalimat Viona terputus tak tersambung kata terakhir. Di lanjutkan Viona kembali akan jadi bulan-bulanan Azzam.
"Bude...jaga hipertensi! Ntar stroke baru tahu! Sini kukasih tahu! Aku ini anak nona cantik ini! Cantik alamiah, punya suami tajir dan anak seganteng aku. Ngapain intai pacar bude yang pasti bangkotan kayak bude. Lihat mamiku! Muda dan pinter. Mending bude tinggalkan kami kalau tak mau malu! Minta pacarnya cepat lamar sebelum expired!" ujar Azzam santuy mengundang tawa orang yang ikut dengar.
Muka Viona memerah dihina anak kecil. Rencana mau permalukan Citra malah dapat balasan menohok. Sungguh tajam lidah Azzam. Pisau silet saja kalah tajam.
"Kau anak siapa? Tunggu pembalasan aku!"
__ADS_1
"Jelas aku anak papi dan mamiku! Ogah jadi anakmu...kuku saja kayak kuntilanak! Salah-salah ntar anak sendiri dimangsa!"
"Dasar anak setan...aku pasti akan balas kamu! Tunggu saja!"
"Siap bude...aku susah dicari lho! Kan anak setan...anak kasat mata!"
Viona tersadar dapat lawan tangguh. Kalau tidak segera pergi dia yang akan malu bertengkar dengan anak kecil. Viona tak percaya Citra memiliki anak segede Azzam. Dilihat sekilas Citra berumur sekitar dua puluhan. Dari mana brojol anak segede Azzam. Ini pasti hanya sandiwara untuk lindungi Citra.
"Awas kau bocah tengil! Tunggu aku!"
"Ogah...keburu keriput! Lima tahun lagi bude sudah mirip jeruk purut. Siapa mau nikahi nenek-nenek tua?"
Viona menghentak kaki ke lantai yang tak berdosa. Amarah ke siapa yang jadi sasaran siapa. Kedua teman Viona tak dapat menahan senyum. Ini murni salah Viona menyerang orang di tempat umum. Cuma kedua temannya tak enak hati menegur Viona karena Viona adalah cukong mereka. Ntar malah di PHK jadi teman. Yang rugi mereka tak bisa numpang hidup mewah.
Viona melangkah bawa hati gondok. Kalau dikumpulkan amarah Viona bisa satu truk tronton. Betapa apes nasib Viona diserang habisan oleh anak kecil ganteng.
Bayangan ketiga wanita itu hilang di balik lorong lain. Tokcer dan Bonar menarik nafas lega. Penyakit telah tersingkir berkat ketajaman mulut kecil Azzam. Siapa bisa melawan Azzam kalau berdebat. Wanita sekelas Viona gampang saja dia singkirkan.
Citra menatap orang-orang terdekatnya satu persatu mohon pengertian. Citra tak mau mereka mengira dirinya memang pelakor. Tak ada niat sedikitpun di hati Citra merusak hubungan orang lain. Dia pernah jadi korban dari pada pelakor. Mana mungkin Citra sengaja lumuri diri sendiri dengan kotoran.
"Kita pulang kak?" tanya Andi pahami perasaan Citra diserang oleh orang pencemburu.
"Makan dulu es krimnya! Kita kan belum dapat pakaian Bonar! Nanti kita dimarahin Pak Alvan." Citra perlihatkan mimik tenang walau dalam hati ada sedikit rasa tak nyaman.
"Iya kak! Kita makan sambil jalan saja! Nanti ketemu nek lampir lagi! Perutku mual lihat tampang sok kecakepan. Padahal kalau dikerok wajahnya make up-nya sepiring." Andi keluarkan unek-unek sesuka hatinya.
"Tak baik omongin orang! Yok!" Citra menggandeng Afifa meninggalkan tempat beri kenangan buruk. Keempat cowok muda ikut dari belakang sambil ngemut es krim yang dibeli Azzam.
Mereka tak sadar ada tiga pasang sedang mengintip kegiatan mereka sepanjang jalan mal yang bersih. Pas sampai di parkiran es krim kandas di perut masing-masing . Tanpa buang waktu mereka segera berangkat ke tempat Bonar akan berbelanja atas rekom Andi.
Dari jarak tidak terlalu jauh ada beberapa pasang mata mengikuti kegiatan Citra cs. Ntah siapa mereka dan tujuannya apa. Citra cs meninggalkan mal tanpa curiga dibuntuti orang.
Akhir dari jalan-jalan Citra dkk adalah pulang ke rumah. Bonar berbelanja sepuas hati berkat uang dari Alvan. Alvan memberi porsi yang sama dengan Andi dan Tokcer agar tak ada kata anak tiri anak kandung. Semua sama rata di mata Alvan. Alvan butuh pegawai rajin dan jujur. Bukan preman cap lonceng. Bunyi doang tanpa hasil.
Uang Bonar masih bersisa lumayan banyak. Citra ingin memberikan sisa uang pada Bonar namun ditolak lajang Batak itu. Bonar merasa tidak amanah menjaga uang pemberian Alvan. Takutnya berada di tangannya uang melayang satu persatu.
Bonar menitip uangnya pada Citra sebagai simpanan. Kapan Bonar akan gunakan baru minta pada Citra. Simpan di rumah bukan jalan terbaik. Rumah Bonar selalu kosong, kadang teman satu geng datang numpang tidur. Bukan mau suudzon pada teman tapi berhati-hati lebih baik dari pada kehilangan.
"Baiklah! Uang ini kakak simpan sebagai tabungan! Kalian masih mau main atau mau pulang? Kakak mau masuk ke dalam." ujar Citra setelah tiba kembali ke rumah.
Tokcer, Andi, Bonar dan Azzam masih betah duduk di teras menikmati angin malam. Udara sejuk cocok ngobrol santai bertukar cerita. Citra dan Afifa tidak berencana gabung dengan para lajang di teras.
Azzam duduk di kursi rotan sementara Tokcer dan Bonar duduk di lantai teras merasakan dinginnya lantai ubin. Si pesolek Andi mana rela celana barunya kena sentuh debu kotor. Andi memilih mengamankan bokong di kursi satunya lagi.
Tokcer menatap Azzam tak percaya anak itu berusia delapan tahun. Waktu Tokcer seusia Azzam belum tahu apapun. Ingus masih betah lengket di bawah hidung. Mainan gundu alias kelereng di lapangan tak jauh dari perumahan. Anak sekarang canggih sejuta akal. Citra makan apa waktu mengandung Azzam sampai secerdik gini.
__ADS_1
"Ko...kau belajar dari mana provokasi cewek tadi?" tanya Tokcer tak habis pikir.
"Ya belajar dari suhunya dong! Tuh nona Andi!" Azzam menunjuk Andi pakai mulut.
"Hei racun dunia! Manggil nggak usah pakai nona! Ini Andi...Andi cowok tulen!" Andi bikin gerakan hendak cubit mulut Azzam.
"Tulen tapi ngondek! Belum tulen tuh! Setengah mateng!" guyon Azzam bikin Andi makin bergaya dengan gerakan feminim. Kalau dilihat Alvan jaminan rooftop akan segera ada penghuni baru.
"Kalau lhu jadi cowok jantan jangan tanggung! Buang tuh aura setan tulang lunak! Saat kita berubah cuy! Pak Alvan sudah beri kita kesempatan hidup baru maka harus kita hargai. Papimu sangat baik Ko! Kau harus sayang padanya. Gue lihat bagaimana dia sayang Mamimu! Kalau papimu ada salah kau harus maafkan?" Bonar sok bijak nasehati Azzam. Bonar tahu sifat kritis Azzam terhadap orang asing. Alvan baru saja muncul setelah sekian lama hilang. Wajar Azzam menaruh curiga.
"Aku tahu...biarkan Koko mengenal beliau lebih dekat! Kita harus selidiki siapa wanita yang jahatin mami tadi. Enak aja ngatain mami yang bukan-bukan! Emang mami pernah ganggu siapa?"
"Nanti akan kukerahkan anak buah cari tahu siapa dia? Kayaknya bukan sembarangan orang." Tokcer ambil alih jadi detektif dadakan.
"Bukan sembarangan orang. Makhluk planet luar? Alien dong!"
"Capek ya bicara sama lhu! Ngawur melulu." Tokcer menyerah melawan Azzam ngobrol.
"Kita cabut yok! Pulang istirahat. Besok tugas baru menanti kita. Mobil kak Tokcer bawa pulang ya Ko! Ini tanggung jawab kak Tokcer."
"Bawa saja asal jangan kakak tuker sama pisang goreng!"
"Dasar kamu ya! Sehari tak sembur racunmu kenapa? Kami pulang ya! Kau di sini An?" Tokcer dan Bonar bersiap angkat kaki dari rumah Citra. Belanjaan Bonar berkantong-kantong pasti jadi bahan gunjingan tetangga lagi. Ntah fitnah apa akan dilayangkan pada Bonar dan Tokcer.
Peduli amat asal tidak melanggar hukum. Tokcer dan Bonar pergi dengan mobil papi Azzam. Mobil mewah hilang di telan kegelapan malam. Kini tinggal Azzam dan Andi.
"Ko...boleh kak Andi omong sedikit?" tanya Andi setelah yakin aman untuk ngobrol.
"Banyak juga boleh asal jangan ngawur!"
"Yang ngawur itu lhu! Suka ngeselin!" nada Andi meninggi memecahkan kesunyian malam.
"Ssssttt...pelan dikit kenapa? Ntar mami pikir Koko jahatin kak Andi lagi! Mau omong apa? Silahkan!"
Andi mengatur posisi duduk lebih rapi biar nampak elegan membahas persoalan sangat penting. Bibir di majukan biar omong lebih lancar. Azzam jadi gemas lihat gaya Andi lebih mirip emak-emak siap pidato di acara arisan.
"Ngomong atau Koko masuk dalam!"
"Iya...iya...judes amat nih bocah! Gini lho ko! Sebenarnya papi Koko itu orangnya baik. Saking baik ditipu orang sampai bermiliar-miliar! Kak Andi sedang periksa semua pembukuan perusahaan papi. Banyak kebocoran. Ini kak Andi sedang curigai ada satu dana besar tidak masuk perusahaan padahal datanya ada. Koko jangan musuhi papi lagi! Kak Andi kadang tak tega lihat papi kerja banting tulang hasilnya ditilep orang!" Andi berkata menanti reaksi Azzam.
Azzam berdiam diri mutar otak memikirkan kata-kata Andi. Andi sedang membujuknya atas suruhan papi atau maminya?
"Kak Andi dibayar berapa bujuk Koko baikan sama papi?"
"Sumpah disambar elang kak Andi tidak disuruh siapapun. Semula kak Andi juga tak suka pada papi tapi setelah ikut papi kak Andi mulai memahami papi. Dia sama sekali tak tahu adanya kalian. Beliau juga cari mami bertahun-tahun tapi tak ketemu. Ketemu kalian sudah gede. Kak Andi mau ajak Koko ke kantor biar lihat betapa sibuknya papi tapi dia usahakan temani kalian."
__ADS_1