ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN

ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN
Menunda Hukuman


__ADS_3

Ibu Selvia terhenyak mendengar penolakan Alvan. Apa kekurangan Selvia sehingga Alvan tidak menaruh perasaan pada gadis cantik itu. Semula mereka yakin Alvan akan menerima Selvia sebagai istri muda. Tidak soal jadi istri muda yang penting bisa hidup bersama Alvan.


Alvan mana berani bertaruh dengan nasib. Tidak mudah meraih kepercayaan Citra dan Azzam. Dan kini tiba-tiba harus menikahi perempuan lain bukankah sedang menari tombak di ujung dada? Tinggal ditusukkan ke dalam menuju kematian. Alvan tidak sebodoh itu melempar diri ke dalam jurang.


"Kau gila ya nak Alvan apa kekurangan Selvia? Dia cantik dan sangat pintar. Bukankah dia telah berhasil membantu memajukan perusahaan kamu? Kalian pasangan serasi. Citra bisa kamu jadikan cadangan untuk mengasuh anak-anakmu. Kalau Karin tidak usah kamu pikirkan lagi dia telah tersingkir."


Hati Alvan merasa tidak enak Ibu Selvia melibatkan Karin dalam masalah ini. Karin tidak tahu menahu mengenai penggelapan dana di perusahaan. Mengapa Karin terbawa-bawa dalam masalah ini.


"Apa maksud ibu soal Karin? Memangnya ibu kenal Karin?"


"Siapa tidak kenal Karin? Dia itu termasuk kuliah Selvia dulu. Semasa kuliah saja dia telah menjadi piaraan bos-bos kaya. Dia sangat pintar menjebak kamu sehingga menikahinya. Waktu itu Selvia telah mengenal kamu cuma kamu tidak memperhatikannya. Selvia berjuang dari bawah untuk masuk ke perusahaan kamu. Dan akhirnya kamu hanya memberi rasa sakit di hati Selvia. Apakah ini adil untuk Selvia?"


"Bu... soal penggelapan dana di perusahaan tidak ada sangkut pautnya dengan Karin. Itu murni kesalahan Selvia. Soal masa lalu Karin itu urusan aku. Bagaimanapun Karin masih istri aku."


"Karin itu pengidap penyakit HIV yang tertular dari Zaki. Kami sudah mengenal Zaki jauh hari sebelum Karim mengenalnya. Anak itu pengidap HIV dan pecandu narkoba. Dia dengan senang hati masuk ke dalam kehidupan Karin untuk menikmati sisa hidupnya."


"Jadi maksudnya ibu yang meminta Zaki mendekati Karin? Agar Karin hancur tertular HIV?"


"Aku tak bilang gitu! Kami hanya perkenalkan Zaki pada Karin. Mereka cocok sama-sama brengsek. Lalu apa yang kau pertahankan dari seorang pengidap HIV?"


Heru dan Alvan menggeram mendengar penjelasan ibu Selvia. Demi mencapai tujuan mereka mengorbankan masa depan orang lain. Heru kesal juga pada kelakuan tantenya jerumuskan Karin. Karin memang bersalah tapi tidak mesti menanggung derita seumur hidup. Ini semua ulah Selvia dan mamanya.


"Ya Allah Bu... kenapa Ibu tega mengorbankan hidup orang lain demi untuk anak ibu? Itu dosa besar Bu..." kata Alvan berusaha menahan amarah..


"Kau pikir Karin itu wanita baik? Selama menjadi isterimu berapa kali dia berselingkuh? Kami tahu semua karena Selvia peduli pada hidupmu! Selvia adalah wanitamu nak Alvan! Kau nikahi dia semua beres...Citra itu biar begini! Dia itu wanita sederhana tak tahu apa-apa. Ok? Kita deal ya!" Ibu Selvia membuat perjanjian secara sepihak.


Alvan menggeleng secepatnya untuk menolak ide gila Ibu Selvia. Otak Alfan masih waras untuk menikahi perempuan lain lagi. Apalagi perempuan itu adalah Selvia telah berbuat curang di perusahaan. Di mata Alvan Selvia itu tak ubah seperti pencuri di dalam rumah sendiri.


"Bu sekali lagi saya minta maaf! Aku tidak akan menduakan Citra walaupun masih menjadi suami Karin. Aku juga tidak akan menceraikan Karin karena dia sedang sakit. Cuma jodoh saya dan Karin telah berakhir. Aku hanya bertanggung jawab sebagai seorang suami yang menafkahi istri. Wanita manapun tidak akan mengetuk hati aku lagi selain Citra."


"Lalu Selvia bagaimana? Kau tega melihatnya membusuk di penjara? Selvia itu wanita baik-baik. Berasal dari keluarga baik-baik. Ini kami sekeluarga telah datang kemari meminta kamu menikahi Kak Selvia secara baik-baik. Apalagi yang membuatmu keberatan?"


Alvan malas berdebat dengan ibu-ibu yang tidak pakai logika. Mana ada Ibu memasak orang lain menikahi anaknya untuk dijadikan istri muda. Ini hanya menjatuhkan pasaran anak sendiri.


"Maaf pak Heru! Aku tak bisa berkata-kata lagi pada ibu ini! Tolong jelaskan kalau aku ini bukan pria nakal suka menyimpan wanita. Soal hukuman Selvia akan ditentukan persidangan nanti. Aku akan berusaha ringankan hukuman. Kalau aku cabut tuntutan maka akan muncul Selvia lain di perusahaan. Kau juga seorang pebisnis pasti maklumi posisi aku!" Alvan memilih bicara dengan Heru yang punya akal sehat.


Heru mengerti perasaan Alvan. Kalau Alvan longgar memungkinkan maling lain tumbuh subur bak jamur di musim hujan. Menclok sana sini.


"Aku ngerti...tapi Selvia memang sangat mencintaimu. Dia menyimpan perasaan padamu selama bertahun-tahun. Mengapa tak kasih dia kesempatan?"

__ADS_1


"Tidak..aku memilih hidup damai bersama anak-anak dan Citra. Tak ada tempat untuk wanita manapun. Aku sudah bersumpah takkan duakan Citra lagi. Citra masih muda masih perlu bimbingan aku. Jadi biarlah aku menjadi imam untuk Citra selamanya."


Heru lega mendengar janji Alvan. Kalau benar citra adalah keponakannya berarti keponakannya telah berada di tangan yang tepat. Terselip rasa cemburu di hati Heru namun apa daya karena takdir berkata lain. Citra harus terlahir sebagai keluarga Perkasa. Mau tak mau Heru hanya bisa mendoakan kebahagiaan Citra.


"Aku mengerti maksudmu Van. Besok hasil test DNA keluar. Kita lihat fakta pada esok hari. Cuma aku minta kepadamu Van kalau memang citra adalah keturunan keluarga Perkasa maka izinkan Citra tinggal bersama kami."


"Aku berjanji tidak akan memutuskan tali silaturahmi antara kalian tetapi kalau soal tempat tinggal itu tergantung pilihan Citra. Citra yang berhak memutuskan akan tinggal di mana. Aku akan mendukung setiap keputusan Citra."


"Baiklah! Terima kasih atas pengertianmu. Kuharap masalah Selvia kamu ada pertimbangan. Selvia masih muda tak mungkin habiskan waktu di penjara."


"Apa yang kita lakukan tetap ada konsekuensinya. Aku bukan orang jahat Her! Pokoknya aku akan usahakan Selvia mendapat hukuman seringan-ringannya."


Heru sangat bersyukur atas kemurahan hati Alvan. Sudah dia duga Alvan bukan orang yang keras hati. Datang menemui Alvan adalah langkah yang tepat. Paling tidak mereka telah mendapat titik terang atas hukuman Selvia.


"Jadi Selvia tetap dipenjara? Aduh nak Alvan pengertian dikit dong masak Selvia di penjara? Hanya karena sedikit duit kamu penjarakan anak aku. Bukankah uangnya sudah kami kembalikan jadi apa salah Selvia lagi?" todong ibu Selvia tak senang Alvan tak bersedia kerja sama cabut tuntutan. Ibu ini pikir setelah mengembalikan uang yang diambil Selvia persoalan selesai. Ibu Selvia tak paham kasus Selvia cukup serius. Dasar emak-emak kelebihan micin. Saking gurih lupa daratan. Mabuk micin.


"Bu...semua ada proses hukumnya! Bukan aku yang tentukan hukuman Selvia tapi berdasarkan hasil penyelidikan pihak yang berwajib. Ibu sabar saja! Selvia akan baik-baik di tahanan." Alvan berusaha membuka pikiran ibu Selvia agar urungkan niat memintanya bebaskan Selvia.


Alvan tak boleh mundur kalau tak ingin kejadian serupa terulang lagi di perusahaan. Selvia, Hakim dan Wenda akan jadi contoh bagi karyawan lain untuk berbuat curang. Kalau kebal hukum boleh coba-coba turuti kecurangan Selvia dkk.


"Baik-baik saja? Di mana otakmu? Seorang anak gadis hidup di penjara? Selvia takkan jatuh kalau bukan karena kamu! Obsesi untuk bersamamu membuat dia silap. Inikah balasan untuk orang yang sangat mencintaimu?" Ibu Selvia marah besar pada Alvan menuding lelaki ini penyebab Selvia gelap mata. Kalau bukan terlalu cinta pada Alvan tidak mungkin Selvia senekat gini.


"Bu...selama ini kami profesional rekan kerja. Tidak terlibat soal asmara. Selvia anak ibu anak pintar. Dia sudah hitung jalan maju dan mundur. Sebagian uangnya dikirim ke Jodi. Lumayan banyak..." Alvan buka kartu Selvia soal aliran dana perusahaan.


"Bu artinya di hati Selvia bukan aku tapi Jodi. Seorang wanita rela berbuat apa saja untuk lelaki maka lelaki itulah pilihan Selvia. Bukan aku..."


"Laki pengangguran tak becus. Masih juga ganggu anakku! Mereka telah bercerai bertahun lalu, untuk apa dia muncul lagi?" rutuk ibu Selvia menggeram tak sadar telah buka kartu Selvia pernah menikah dengan lelaki bernama Jodi. Lalu mengapa mengaku Alvan cinta sejatinya.


"Bu...pulanglah! Keadilan untuk Selvia pasti ada. Ibu tak usah kuatir tentang anak ibu. Dia akan diperlakukan secara baik kok!"


Heru makin malu pada Alvan perihal Selvia. Datang ke tempat Citra bukan dapat penyelesaian baik malah menambah noktah hitam di dahi Selvia. Heru memahami posisi Alvan serba susah. Lelaki ini juga dihadapkan dua pilihan. Perusahaan dan teman baik.


"Aku takkan pulang sebelum kau cabut tuntutan dan nikahi Selvia. Cuma masalah gampang kau tak sanggup tuntaskan! Apa kau masih laki sejati? Citra akan kuurus...bila perlu kubayar istrimu biar pergi jauh! Ke neraka sekalian." seru Ibu Selvia mulai tidak terkendali. Ibu Selvia maju hendak menjambak baju Alvan dari depan.


Alvan mundur selangkah malu harus melawan orang tua. Untunglah salah satu keluarga Heru menarik tangan ibu Selvia tidak melakukan tindakan kekerasan pada Alvan. Mereka sudah masuk ke rumah orang. Melakukan tindakan kekerasan lagi. Kena pidana berganda.


"Tante...jangan gila!" bentak Heru makin hilang muka. Heru salah perhitungan membawa keluarganya mendatangi Alvan.


Kesalahan di pihak mereka kok malah mereka ngotot menekan Alvan. Sudah terbalik pula.

__ADS_1


"Pak Heru...ajaklah keluargamu tinggalkan rumah kami! Kami tak ingin adanya kekerasan. Sampai matipun aku takkan nikahi Selvia. Cukup satu kali aku salah melangkah." tegas Alvan untuk matikan niat ibu Selvia jodohkan anaknya kepada Alvan. Alvan tak tahu itu cara untuk menyelamatkan Selvia dari penjara atau ada plan lain di pihak Selvia.


"Maafkan kami Van! Niat kami sudah kami sampaikan! Mohon kemurahan hatimu!"


"Iya...Aku tak harap bermusuhan dengan kalian. Tapi hukum tetap berlanjut."


Heru hanya bisa mengangguk pasrah. Selvia harus menanggung akibat dari perbuatan sendiri. Alvan tetap teguh mengikuti prosedur hukum. Tak ada jalan mundur bagi Selvia.


"Baiklah! Kami minta ijin dulu! Sekali lagi maaf!" Heru menyalami Alvan di bawah tatapan penuh kebencian ibu Selvia. Anaknya tetap di penjara walau telah kembalikan dana yang ditilep Selvia.


"Ibumu masih di belakang bersama Citra. Tampaknya mereka mulai cocok." Alvan ingatkan Heru kalau ibunya masih di dapur bersama Citra.


Heru menepuk jidat nyaris melupakan tokoh penting dalam hidupnya. Saking repot urus masalah Selvia sampai melupakan Ibu Heru.


Kali ini Heru tertawa renyah ikut senang Citra bisa akrab dengan ibunya. Mungkin ini Heru menemukan kesamaan Hamka dan Citra maka betah ngobrol dengan Citra.


"Biar kupanggil! Maaf lupa suguh minuman! Kita terlalu tegang tadi. Aku juga minta maaf kalau keras."


Alvan masuk ke belakang memanggil Citra dan ibu Heru. Alvan masuk ke dapur melihat dua wanita beda generasi sedang ngobrol dengan akrab. Tangan ibu Heru berada di atas tangan Citra. Jelas sekali keduanya mulai jalur komunikasi selaras.


"Asyik banget!!?" Alvan terpaksa menyapa. Ada rasa tak tega mengusik mereka namun Ibu Heru harus pulang karena waktunya mereka cabut.


"Nak Alvan...Citra ini memang cucu kami! Semua ceritanya cocok dengan profil Hamka. Jangan larang kami bertemu ya!" Ibu Heru menatap Alvan takut lelaki itu tak ijin Citra mengenal keluarga pihak bapaknya.


"Bu...siapa tega memisahkan kalian? Kalau Citra memang cucu kalian aku tak bisa menolak fakta. Kita jadi keluarga besar. Ibu jadi Oma kami. Masih ada anak-anak kami. Senang kan punya banyak cucu dan cicit?"


"Senang dong! Oya...apa acara kalian sudah kelar? Ibu tidak ingin ikut campur. Pusing sama Selvia. Di tambah Viona lagi. Pusing kepala Oma..." ibu Heru menepuk jidat sendiri perlahan.


"Tak usah ibu pikirin! Semua akan baik saja!"


"Jangan panggil ibu lagi! Panggil Oma! Oma yang cantik.."


Citra dan Alvan saling berpandangan lalu tertawa bareng. Ternyata ibu Heru tidak menyebalkan malah berkesan ramah. Beda jauh dari adiknya ibu Selvia yang egonya setinggi langit.


"Oma...kalaupun aku ini bukan cucu Oma tetapi Oma boleh datang sini setiap saat. Citra akan senang hati menerima Oma."


"Apa Citra tak mau tinggal di rumah Oma? Bawa anak-anak kamu tinggal bersama kami!"


Citra mempererat genggaman tangan Ibu Heru menyalurkan kehangatan yang terbit dari lubuk hati. Citra dapat merasakan betapa tulus kasih sayang ibu Heru. Tapi Citra tak mau dianggap incar harta keluarga Perkasa maka memilih berada di posisi semula di mana dia berdiri saat ini.

__ADS_1


"Oma...Citra takkan ke mana-mana. Tetap ada di sini menanti kehadiran Oma. Begitu juga cicit Oma. Mereka ada setiap Oma rindu pada mereka. Jangan lupa kalau anak-anak juga punya Oma opa lain. Kita didik mereka bersama-sama."


Mata ibu Heru meredup mendapat jawaban tak diharapkan. Semula ibu Heru berpikir Citra siap pindah ke rumah mereka yang mewah. Nyatanya Citra menjaga perasaan semua orang agar tidak ada yang tersakiti.


__ADS_2