
Citra sangat bijaksana menangani masalah ini. Tidak sedikitpun terlintas di benak Citra akan muncul keluarga yang memperebutkan mereka. Dua keluarga yang sangat top pasti akan bertarung memperebutkan hak asuh Azzam dan Afifa. Sesungguhnya yang paling berhak adalah keluarga Lingga namun Citra tidak bisa mengabaikan kalau darah Perkasa mengalir juga di dalam tubuh kedua anaknya.
"Nah Oma cantik...Heru sudah menanti mengajak Oma pulang. Besok kita jumpa di rumah sakit untuk ambil hasil test DNA."
"Tidak perlu tes DNA lagi. Citra ini memang cucu aku. Aku pastikan itu 1000%." ujar Ibu Heru dengan yakin semua ciri-ciri yang digambarkan oleh Citra tentang Hamka klop dengan Hamka putranya.
"Oma untuk membeli satu keyakinan maka kita harus bersedia mengikuti prosedur. Kita jalani saja apa yang harus kita lakukan agar tidak ada keraguan di dalam hati." kata Citra selembut mungkin pada ibu Heru. Citra menghargai keramahan Ibu Heru tidak seperti Ibu Viona maupun Ibu Selvia.
Ibu Heru mengangguk mengiyakan kata-kata Citra. Untuk menghilangkan segala keraguan di hati memang perlu fakta yang konkrit. Maka itu test DNA sangat dibutuhkan.
"Oma pengen kali melewati malam bersamamu nak! Berjanjilah pada Oma kau akan selalu berbuka hati untuk keluarga kita!"
"Pasti Oma.. pasti.. hasil tes itu tidak akan mempengaruhi perasaan Citra pada Oma. Apapun hasilnya aku ini tetap cucu Oma."
Ibu Heru membelai pipi Citra dengan terharu. Dari sini dapat nilai betapa mulianya Citra sebagai seorang manusia. Citra bersedia menganggap Ibu Heru sebagai Omanya walaupun nanti hasil tes negatif.
"Kau sangat pantas menjadi keturunan keluarga Perkasa. Memang demikianlah watak seorang Perkasa! Oma pulang dulu ya! Besok Oma akan ke rumah sakit!"
"Ya...Citra besok juga bertugas! Kita jumpa di sana! Mari Citra antar Oma ke depan."
Citra mengandeng perempuan tua menuju ke ruang tamu. Di sana masih ada keluarga Perkasa yang lainnya. Mata ibu Selvia memerah menyaksikan Ibu Heru dan Citra demikian akrab. Tak ada jarak antara mereka.
Citra pakai ilmu pelet mana bisa taklukkan nyonya besar keluarga kaya ini. Ibu Selvia yakin Citra gunakan pelet hipnotis Alvan dan Ibu Heru. Kalau tidak mana mungkin kedua orang itu lengket pada Citra.
"Dasar perempuan setan! Kau gunakan ilmu sihir apa? Kalian lihat semua...Mbakyu aku tersihir sama perempuan setan ini! Kalian jangan diam! Serang dia...hancurkan setan laknat!" teriak Ibu Selvia membuat seisi rumah kaget.
Azzam dan Afifa yang sedang ngulang pelajaran ikut kaget dengar suara petir ibu Selvia. Meledak membuat semua orang cepat jantung.
"Ada apa ini?" Azzam keluar berdiri di tengah-tengah ruangan sambil melindungi adiknya yang ketakutan. Wajah seram Azzam membuat seisi ruang terdiam.
"Kamu ini siapa? Tuyul pesugihan perempuan laknat ini?" Ibu Selvia menuding Azzam yang mulai gerah oleh tingkah tamu-tamu papinya.
"Nek...usia anda sudah tua tapi mulut belum di bawa sekolah! Apa orang tua Anda sangat miskin tidak sehingga tidak bisa menyekolahkan anda?" tanya Azzam tidak gentar menghadapi tudingan Ibu Selvia.
"Dasar anak setan.. beraninya kamu sama orang tua? Kalian ini memang keturunan setan neraka."
"Hanya setan yang tahu bagaimana tingkah setan!
Kami ini tidak ngerti cara setan bicara. Mungkin nenek rekanan sama setan sehingga jelas banget tingkah setan. Ini rumah kami yang kau anggap sarang setan! Silahkan angkat kaki dari sini sebelum setan betulan datang! Silahkan keluar nenek lampir!" Azzam pantang menyerah bila zona amannya diusik orang.
"Kau..." Ibu Selvia tergugu kena smack mental dari Azzam. Cara bicara Azzam cool tidak teriak namun nyungsep di hati.
"Aku apa? Anak setan atau cucu setan? Kalau gitu tanyalah pada Pak Alvan sebagai papi dan keluarga Lingga sebagai nenek moyang kami! Ada pertanyaan?" Azzam memeluk Afifa yang makin gemetar. Azzam sengaja kecilkan volume suara agar adiknya tidak syok diteriaki nenek lampir kekinian.
"Kau anak Alvan? Sejak kapan Alvan punya anak segede ini?"
__ADS_1
"Sejak aku lahir margaku Lingga. Tak mungkin dong margaku Nek Lampir.."
Ibu Selvia tak percaya Alvan tiba-tiba punya anak segede Azzam. Seingat mereka Alvan tidak punya keturunan. Maka itu Selvia maju ingin berikan Alvan lusinan anak.
"Van...kau diperdaya oleh setan! Sadar nak! Selvia yang terbaik untukmu! Ayok kita ke kantor polisi! Kita ijab kabul di sana! Ini mama sudah bawa pak penghulu. Tak usah mahar asal kalian sah menikah!" Ibu Selvia masih berusaha mempengaruhi Alvan agar mau menikahi Selvia.
"Nek... orang yang menjadi tahanan polisi itu sampah masyarakat alias limbah. Pak Alvan... anda bersedia menikahi limbah? Apa perlu Azzam Lingga menjadi saksi pernikahan Alvan Lingga? Kalau perlu mari kita segera berangkat ke kantor polisi." cetus Azzam melirik Alvan yang meringis kena sindiran dari putra sendiri. Mulut Azzam sungguh luar biasa. Sekali tepuk kena dua sasaran.
Citra tak dapat menyembunyikan tawa melihat cara Azzam menghukum Alvan. Citra bukanya membenarkan Azzam menggurui orang tua tapi Ibu Selvia duluan menginjak wilayah orang lain. Wajar saja kalau Azzam membela kehormatan keluarga.
"Huusss...omong apa kamu nak? Siapa mau nikah? Sini.. bawa adikmu masuk! Kasihan dia ketakutan! Biar papi yang urus masalah ini!" Alvan meminta Azzam membawa Afifa masuk ke kamar. Ini bukan waktunya Azzam yang bicara. Alvan sendiri yang harus menyelesaikan masalah ini.
"Yakin bisa Pi? Poligami itu indah seperti ujung mata pisau yang berkilat. Salah-salah bisa terluka sendiri."
"Siapa yang mau poligami? Papi sudah bahagia punya kalian. Tidak perlu ada orang lain dalam kehidupan kita lagi. Azzam bawa adik masuk ke dalam."
Azzam mengangguk lalu merangkul adiknya menuju ke kamar Afifa. Azzam tahu diri tidak boleh terlalu jauh di dalam masalah orang tua. Namun di mata Citra Azzam adalah pahlawan yang siap melindunginya dari ancaman orang lain.
"Maaf Van...kami permisi dulu! Maaf sudah mengganggu ketenangan kalian! Kamu beruntung memiliki putra yang sangat hebat." Heru maju sampai ke muka Alvan lalu menepuk bahu teman bisnisnya itu. Kemungkinan besar mereka akan menjadi keluarga kalau memang terbukti Citra itu adalah keponakan Heru.
"Terima kasih pak Heru... yakinlah semua akan baik-baik saja!" Alvan membalas Heru dengan sikap yang cukup sopan.
Satu persatu tamu tak diundang itu meninggalkan rumah Citra menyisakan kesunyian. Rumah Citra kembali menjadi tenang. Ini serangan kedua dari keluarga Perkasa kepada Citra. pertama soal Viona dan sekarang soal Selvia. Sebentar lagi akan muncul takdir baru yang akan membuat Citra menyandang gelar nama Perkasa. Mengapa kisah ini menjadi berbelit-belit dan berkaitan satu sama lain.
Citra masuk ke dalam setelah menutup pintu rumah. Sementara itu Alvan menghempas diri ke sofa Citra sambil mengusap wajah mengingat kejadian yang sangat mengerikan ini. Mengapa dia terlibat dengan wanita-wanita yang dari luarnya tampak elegan tapi isinya belatung.
Citra balik ke ruang tamu dengan segelas teh hangat. Alvan mulai terbiasa minum teh yang disuguhkan oleh Citra. Tampaknya citra adalah pencinta teh sejati. selalu ada teh di dapur Citra untuk Alvan.
Wangi teh pahit menggoda hidung Alvan untuk segera cicipi teh buatan istri tercinta.
"Minum lah Mas! Ini bisa menenangkan pikiran!" hujan Citra sambil duduk di samping Alvan. Kini Citra tidak malu-malu lagi berdekatan dengan Alvan. Mereka telah tidur seranjang walaupun tidak melakukan hal-hal di luar batas.
"Citra...kau menyalahkan aku dalam hal ini? Aku bersumpah tidak pernah lakukan hal senonoh dengan Selvia. Dianya yang tak tahu malu."
"Aku percaya...lakukan apa yang menurutmu baik! Selvia menipu uangmu itu salah, dia harus terima semua ganjaran setimpal."
"Aku boleh lakukan apa saja? Termasuk nikahi Selvia?" goda Alvan ingin tahu reaksi Citra.
"Boleh dong! Aku juga sudah lama tidak pegang pisau operasi! Mungkin mas bersedia jadi kelinci percobaan mengasah kemahiran aku sunat cowok brengsek!" sahut Citra kalem.
"Idiihh..habis dong kalau disunat terus!" Alvan menyentuh benda pusaka di tengah pahanya. Alvan bergidik bayangkan bila benda ajaib ini dibabat sampai habis oleh Citra. Tamatlah hidupnya. Pindah ke Tiongkok jadi biksu di gunung Shaolin.
"Tergantung pilihan mas!"
"Ngeri banget punya bini dokter bedah! Dikit-dikit main babat!"
__ADS_1
"Baru tahu ya! Baru hari ini aku tahu banyak wanita antrian jadi gundik mas! Maunya mas terlahir di jaman kerajaan. Piara sepuluh kodi selir biar lutut keropos."
"Itulah untungnya aku lahir di abad ini! Cukup dua bini! Itu saja cukup bikin pusing!"
"Maunya mas bicara dengan kak Karin soal Selvia. Kak Karin bisa jelaskan semua masalah mas. Kalau mereka telah saling kenal mengapa tidak pernah saling menegur. Mas harus cari kejelasan dari Karin. Jangan sampai mas terkurung dalam konspirasi dua orang itu!"
Alvan termenung dibangunkan Citra dari konflik dua wanita elegan tapi berekor rubah. Alvan tidak sedikitpun berpikir sampai di mana keterlibatan Karin dalam masalah Selvia. Alvan selalu berpikir positif pada wanita di sampingnya. Nyatanya merekalah pembawa bencana.
"Mas janji akan kejar cerita Karin! Mas sangat lelah...mas mau tidur!"
"Habiskan tehnya dulu baru tidur! Aku mau lihat anak-anak! Waktunya mereka tidur!" Citra bangkit meninggalkan Alvan sendirian di ruang tamu.
Sebenarnya Citra grogi dengar kata tidur. Lagi-lagi harus seranjang dengan lelaki yang telah menanam benih di perutnya sebulan tahun lalu. Alvan takkan bisa menanam benih di perut wanita manapun dengan kondisi tidak subur. Lelaki itu butuh pengobatan kalau mau punya anak lagi.
Citra pastikan Azzam dan Afifa telah tidur barulah beranjak ke kamar mandi untuk sholat Isya yang tertunda karena kehadiran tamu-tamu nakal. Saking nakal pantasnya diberi hadiah rotan. Libas bokongnya biar minta ampun nyelonong ke wilayah orang.
Alvan telah bergulung dalam selimut sewaktu Citra masuk kamar. Ini malam kedua mereka seranjang. Iman Alvan kembali diuji. Kalau uji nyali masih bisa minta keluar dari ajang uji nyali. Tapi uji iman mau lari ke mana? Paling berdoa diberi ketabahan lawan hawa nafsu.
Alvan pura-pura tidur tatkala Citra naik ke ranjang. Gerakan Citra perlahan takut bangunkan Alvan. Bangunkan Alvan sama saja bangunkan macan tidur. Taring tajam pasti akan merobek mangsa lezat di depan mata. Citra belum berniat jadi korban macan kelaparan.
Perlahan Citra masuk ke selimut tanpa mengusik Alvan. Wanita ini tak tahu Alvan sudah gregetan ingin menerkam mangsa di ujung hidung. Sayang sekali kalau dilewatkan. Tangan Alvan mulai nakal bergerilya memeluk pinggang Citra agar memutar menghadap wajahnya.
Citra kaget mendapat serangan mendadak. Wanita ini berusaha melepaskan diri namun apa daya tenaga seorang wanita mungil. Alvan cuma perlu satu tangan untuk memaksa Citra menatap wajahnya.
Kedua pasang mata bertemu saling berpandangan tanpa berkata. Hanya terdengar ******* nafas kasar Alvan. Citra tidak tahu kalau suaminya sedang menahan hasrat tak terbendung. Alvan harus akhiri puasa yang cukup panjang.
"Aku boleh Cit?" bisik Alvan lembut tanpa memaksa.
Citra tidak menjawab hanya menurunkan netra tidak sanggup beradu mata dengan lelaki full nafsu. Diam berarti iya. Itu pendapat Alvan mengenai reaksi Citra.
Alvan meraih kepalan Citra untuk adu bibir dengannya. Harum mentol mengalir dari mulut Citra bikin Alvan makin mabuk kepayang. Tanpa menyiakan kesempatan emas ini Alvan mengulum bibir mungil Citra.
Citra tidak menolak karena Alvan berhak mendapat jatah dari istri sendiri. Alvan yang lihay dalam bercinta tenggelamkan Citra dalam amukan badai cinta.
Kejadian sembilan tahun lalu terjadi lagi namun kali ini Alvan melakukannya dengan pikiran waras. Wanita yang sedang berada di bawah pelukannya adalah istri yang harus dicintai.
Alvan menjadi guru yang baik bagi anak ayam model Citra. Dari dulu hingga sekarang cuma ada satu lelaki dalam hidup Citra yakni Alvan.
Alvan melakukannya dengan lembut tidak memaksa. Alvan butuh kepasrahan Citra supaya sama-sama menikmati cinta mereka. Berulang kali Alvan mengajak Citra harungi lautan kenikmatan duniawi. Alvan tak tahu berapa kali dia garap lahan basah Citra. Yang penting sama-sama puas. Alvan sedang tunjukkan betapa dia sangat perkasa mampu nafkahi isteri yang jauh lebih muda. Macan liar sedang ngamuk bah! Kata si Batak Bonar.
Alvan tersenyum licik lihat Citra terkapar lelah dalam pelukannya. Citra tak ubah anak perawan baru pertama kali bercinta. Punyaan Citra keset sempit membuat torpedo Alvan kesusahan menerobos liang kenikmatan Citra. Punya tiga anak masih keset membuat Alvan makin hargai Citra.
Sejuta janji bergaung di hati Alvan. Salah satunya tidak akan main gila dengan wanita manapun. Cukup Citra menemani sisa hidupnya.
"Selamat bobok sayang! Terima kasih untuk malam indah kita!" Alvan hadiahkan kecupan di kening Citra.
__ADS_1
Lalu Alvan memejamkan mata menyusul Citra dibuai mimpi indah. Dalam mimpi mereka bergandengan menyongsong fajar cerah.