ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN

ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN
Keturunan Perkasa


__ADS_3

Citra terbangun mendengar suara berisik di luar rumah. Di luar sana orang mulai lakukan aktifitas masing-masing mengais rezeki sesuai dengan pekerjaan masing-masing. Citra menunduk malu tak berani melirik lelaki yang masih tertidur di sampingnya.


Mereka telah lalui malam yang sangat bersejarah bagi Citra. Ini pertama kali Citra merasa utuh menjadi isteri dari Alvan Lingga. Hati Citra berbunga bak pengantin baru melepas masa lajang. Ternyata hidup ini indah bila dimaknai dengan baik.


Citra tidak tega membangunkan Alvan dari tidur lelapnya. Mungkin laki itu masih bermimpi bergandengan dengan Citra menapaki tangga menuju ke puncak cinta mereka. Citra tak tahu di mana posisinya di hati Alvan. Tindak-tanduk Alvan memang cermin kan cinta padanya, namun masih ada cinta titipan masa lalu. Yakni Karin.


Citra bangun mandi wajib setelah bercinta dengan Alvan. Bahasa kerennya mandi junub. Kewajiban umat muslim setelah lakukan kegiatan suami istri. Haram hukumnya bila sholat tidak lakukan mandi besar.


Seperti biasa Citra bangunkan kedua anaknya untuk ber sholat. Kali ini tanpa Alvan. Kedua anak Citra tak bertanya ke mana papi mereka. Mereka mengira Alvan telah pergi setelah kehadiran tamu tak diundang.


Pagi ini kedua anak itu hanya diantar Tokcer ke sekolah. Citra sengaja biarkan Alvan tidur sepuasnya sebelum berangkat ke kantor. Citra juga harus segera berangkat kerja mengingat pagi ini dia ada operasi kecil pasien yang jarinya kena gencet pintu rumah.


Citra tidak membangunkan Alvan hanya meninggalkan memo di meja makan agar Alvan mengurus diri sendiri. Tak mungkin seorang Direktur Utama tak mampu mengurusi diri sendiri, urus ratusan orang saja dia mampu. Citra meninggalkan rumah dengan hati tenang menuju ke tempat dia bertugas.


Begitu Citra menginjak kaki di rumah sakit dari jauh telah tampak keluarga Perkasa menanti kehadirannya. Ibunya Heru, Heru beserta seorang lelaki berumur menatap Citra letak-letak. Langkah kaki Citra terasa sarat dengan beban karena tanggung jawab baru sedang menantinya.


Andaikata benar dia anak Hamka seperti dugaan ibu Heru maka Citra tak mungkin mengabaikan keluarga barunya. Citra juga punya tanggung jawab moral pada mereka.


Citra sadar dia tak mungkin menghindari siapa sesungguhnya dia. Sangat tidak adil bagi ibu Heru yang sangat merindukan anaknya bila Citra menolak kehadiran mereka.


Citra menyeret langkahnya sampai ke depan keluarga Perkasa yang berjumlah 3 orang. Tanpa ragu-ragu Citra menyalami mereka satu persatu untuk tunjukkan keturunan Hamka berbudi luhur.


Ibu Heru mengelus kepala Citra anggap Citra anak kecil butuh sentuhan penuh kasih sayang. Sentuhan itu terlihat sederhana tapi membawa makna mendalam bagi Citra. Ada rasa kehangatan yang tak pernah dia rasakan sejak ibunya meninggal dunia.


"Sayang... mari Oma kenalkan ini Opa kamu!" Ibu Heru menarik Citra agar lebih dekat dengan lelaki yang jauh lebih tua dari Heru. Matanya saja mulai keruh kehilangan cahaya.


"Opa... " panggil Citra tetap kaku walau tadi sempat salaman.


"Iya... iya.. kau mirip Hamka! Andai dulu kita tidak egois mungkin Hamka masih ada." Citra memalingkan wajah tidak sanggup melihat cairan bening meleleh di pipi keriput itu. Penyesalan orang tua yang selalu datang terlambat.


"Pa...jangan gitu! Citra kan ikut sedih! Ingat kita masih punya cucu dan cicit. Papa belum jumpa mereka ya! Mereka cantik mirip boneka." Ibu Heru membujuk suaminya agar tabah. Perjuangan mencari anak mereka berakhir pilu. Yang tersisa hanyalah cucu mereka. Itupun harus dibuktikan test DNA.


"Ayok kita duduk di ruang kerja Citra. Masih ada waktu setengah jam sebelum praktek" ajak Citra kepada calon keluarga barunya.


"Kamu dokter nak?" tanya papa Heru alias pak Sobirin.


Citra tersenyum sebagai jawaban. Pak Sobirin makin bangga kalau cucunya bukan hanya perempuan biasa ratu dapur.


Heru sangat bersedih bila Citra memang anak abangnya. Harapan menjadikan Citra sebagai pendamping hidup pupus sudah. Tapi Heru puas bisa melihat Citra dari sudut pandang berbeda. Dia tetap sayang pada Citra walau harus alihkan dari asmara ke sayang keluarga.


Citra mengajak Pak Sobirin dan keluarga masuk ke prakteknya. Heru sudah berapa kali masuk situ lakukan pengobatan maka kenal seluk beluk ruang praktek Citra.


Kali ini perawat pendamping Citra bukan Nadine lagi tapi perawat baru yang agak tua. Di luar masih Fitri sebagai penerima pasien.


Perawat baru Citra mengira Citra bawa pasien membuatnya kalang kabut berhubung praktek belum dibuka. Mereka masih berberes .


"Sus... ini keluargaku! Tolong minta hasil lab atas nama Dokter Citra. Langsung bawa sini!"


"Iya dok! Apa perlu kirim kopi ke sini?"


"Tidak perlu... sebentar lagi pasien datang! Usahakan cepat!"

__ADS_1


"Iya dok!" perawat itu segera ke lab untuk ambil hasil test DNA Citra dan Heru.


Semua menanti dengan jantung berdetak lebih cepat. Ibu dan bapak Heru tentu saja berharap Citra adalah keturunan Hamka. Kepergian Hamka masih meninggalkan jejak untuk mereka. Paling tidak mereka menemukan keturunan anak mereka walaupun seorang anak perempuan.


Heru paling panik. Antara harapan dan cinta bermain di benaknya. Heru tidak takut pada Alvan bila ingin bersaing rebut Citra. Alvan punya sejuta masalah dengan wanitanya. Tidak susah pisahkan Citra dari Alvan asal Citra bukan keponakannya.


Perawat Citra balik membawa amplop panjang warna putih. Ketegangan makin terasa di ruang full AC. Kok rasanya berubah pengap susah bernafas padahal tadi masih bisa bernafas lega.


Citra menerima amplop itu lalu beri kode agar perawatnya keluar dari ruangan. Perawat itu mengerti langsung beranjak tidak ganggu keluarga yang kelihatan sedang menunggu satu jawaban.


Citra meletakkan amplop di meja ditatap ramai-ramai dengan hati kebat-kebit. Nasib Citra tergantung pada isi amplop.


"Bukalah nak! Apapun isinya akan kami terima dengan lapang dada." ujar pak Sobirin menguatkan Citra hadapi kenyataan.


"Iya Opa... bismillah... " Citra mengoyak kertas amplop untuk melihat hasil dari test.


Netra Citra terbelalak melihat hasilnya sesuai harapan ibu Heru. DNA Citra dan Heru ada kecocokan enam puluh persen artinya Citra memang garis keturunan Perkasa. DNA om dan keponakan tidak bisa seratus persen sama karena telah terjadi pembagian garis darah. Enam puluh lima persen termasuk cukup tinggi. Lima puluh persen saja sudah bisa dibuktikan Citra memang cucu pak Sobirin.


"Gimana hasilnya sayang?" tanya ibu Heru alias bu Sobirin.


"Oma... " Citra bangkit dari kursi kerjanya menjatuhkan diri dalam pelukan bu Sobirin. Citra tak perlu menjawab semua tahu hasilnya akurat Citra cucu mereka.


Heru mendongak kepala ke atas takut terlihat menahan tangis. Heru tak dapat menyembunyikan rasa hari berhasil menemukan keturunan abangnya. Pencarian bertahun-tahun telah usai. Hasilnya telah berada di depan mata.


"Cucuku sayang... akhirnya oma menemukan mutiara oma. Ayok kita pulang! Oma akan sediakan kamar besar untukmu. Anak-anak kamu akan mendapat gak mereka!" kata bu Sobirin semangat. Tak ada lagi air mata bergenang di kelopak mata. Bu Sobirin harus kuat untuk merawat cucu dan cicitnya.


"Oma... Citra itu dokter! Tak bisa bilang pergi langsung pergi! Dokter harus bertanggung jawab pada tugasnya. Citra mau peluk Opa. Boleh?"


Pak Sobirin dari tadi berharap bisa memeluk keturunannya yang berkilauan bak bintang Timur. Cantik berhati mulia. Pak tua ini mana menolak merengkuh tubuh mungil Citra.


"Lalu gimana omnya? Tidak dipeluk?" Heru mencoba melawak untuk tutupi kekecewaan di hati. Tidak dapat memeluk Citra sebagai kekasih tapi dia memiliki wanita itu sebagai anak.


Citra sedikit malu berlabuh di pelukan lelaki macho itu. Betapa lega hati Citra mendapat hasil diharapkan. Jalan hidupnya mulai menemukan titik terang. Punya suami baik dan keluarga inti dari sebelah ayahnya.


"Kapan kau pindah ke rumah sayang? Oma akan buatkan kamar indah untuk kamu dan anak-anak."


"Oma... beri Citra waktu untuk bicara dengan Alvan. Oma jangan lupa pada keluarga Lingga. Kita harus hormati mereka juga. Sekarang Opa dan Oma pulang istirahat. Citra akan bertugas sampai sore. Oya ini nomor kontak Citra! Kalau ada apa-apa telepon Citra ya! Citra ini dokter bagian syaraf. Om Heru... silahkan ajak Opa dan Oma pulang! Citra harus bertugas."


"Iya om ngerti.. " Sejujurnya Heru sedih Citra harus memanggilnya om. Kenapa Citra harus jadi keponakannya? Cuma itulah fakta hidup. Tidak semua berjalan sesuai harapan.


Setelah dibujuk berkali-kali Bu Sobirin akhirnya mau diajak pulang. Citra bukan dokter abal-abal gunakan kekuasaan Alvan berbuat sesuka hati. Citra mencintai tugasnya sama dia mencintai semua pasien. Semua pasien harus sembuh itulah harapan Citra.


Di rumah Citra Alvan terbangun matahari sudah tinggi. Tak ada penghuni lain selain dirinya. Semua sudah aktifitas sesuai jadwal masing- masing. Alvan menduga Citra telah berangkat kerja. Anak-anak tidak diragukan sedang mendulang ilmu di sekolah.


Alvan segera mandi dan sarapan sambil membaca memo yang ditinggalkan Citra.


Sarapan nasi dingin karena sarapan cukup lama ditinggal tanpa pemilik. Andai dia ikut bangun mungkin akan sarapan nasi hangat seperti biasa.


Alvan usaha habiskan nasinya agar Citra tidak kecewa hasil jerih payahnya tidak dapat penghargaan.


\=Mas, aku tinggal karena hari ini ada operasi kecil. Jangan lupa pakai kacamata anti cewek biar tidak kena operasi mata. Ingat itu!\=

__ADS_1


Alvan tertawa geli dapat pesan konyol Citra. Alvan mana ada selera bercanda dengan cewek lain. Sudah dapat maaf dari Citra sudah harus ucap syukur. Bergerilya cari cewek lain sama saja todongkan senjata ke otak sendiri. Duar... isinya berhamburan.


Alvan tak buang waktu berangkat ke kantor untuk akhiri tali persekongkolan di perusahaan. Andi harus ditarik balik gantiin Wenda yang ditahan polisi.


Tokcer masih setia menanti Alvan bersama konco setianya si Bonar. Mereka berdua hanya bawahan yang harus patuh pada permintaan atasan. Ke manapun mereka siap asal jangan disuruh masuk ke kobaran api. Jamin hangus.


Dalam perjalanan ke kantor Alvan meneleponi Daniel minta balik karyawannya yang sangat diandalkan yakni laki bertulang lunak si Andi. Tokcer dan Bonar duduk di jok depan jadi pengawal setia Alvan.


"Halo bro... Apa kabar? Kapan terbangnya? "


"Kayaknya nggak jadi deh! Orang tuanya sudah datang jemput dia! Gue kasihan juga ma tuh bocah! Dia nangis- nangis nggak mau balik ke Amerika."


"Balikkan si Andi dong! Kantor butuh dia!"


"Gue juga butuh dia. Orangnya kocak bikin cafe makin hidup. Cafe rame ada Andi!"


"Wah lhu ya! Dipinjamkan malah ngelunjak! Sekretaris gue sudah dipenjara. Andi yang ngerti tugas Wenda. Sore ini Tokcer akan jemput Andi."


"Wenda di penjara? Kasus apa bro?"


"Ceritanya panjang. Kasus korupsi melibatkan Selvia dan Hakim. Tapi sudah tertangani. Lhu doang yang tidak peduli gue!"


"Serius bro! Selvia korupsi? Kok aneh ceritanya? Bukankah dia juga punya saham di perusahaan lhu?"


"Jumpa nanti kita ngobrol! Gue masih banyak kerja. Kalau sempat datang aja ke kantor sekalian bawa pulang Andi."


"Siap bro! Gue dikit lega karena teman Andi rajin semua. Ya cuma perlu dikit polesan! Gue ke kantor lhu siang ntar!"


"Ok... kutunggu... "


Alvan menyimpan ponselnya. Walau banyak masalah otak Alvan dapat pencerahan dari Citra. Alvan lega telah memiliki Citra kembali. Hatinya berbunga-bunga kayak abg sedang kasmaran. Malam indah takkan terlupakan di benak Alvan. ******* manja Citra masih terngiang di kuping Alvan. Alvan serasa baru tiduri gadis perawan muda karena Citra pandai merawat tubuh.


Puasa berbulan dapat menu buka puasa super lezat. Dahaga akan cinta Citra terbayar lunas. Dapat bonus plus pula. Liang kenikmatan masih gres. Alvan takkan melupakan moments indah bersama Citra. Alvan tersenyum simpul tanpa dia sadari.


Tokcer menangkap senyum simpul Alvan yang ntah apa maknanya. Alvan senang Andi kembali ke kantor? Sungguh bagus nasib Andi disayangi bos. Andai Tokcer rajin sekolah kayak Andi mungkin sekarang juga kerja kantoran. Nasib membawa dia hanya mendapat jatah jadi supir.


"Oya... Bonar kamu akan segera ke Gudang! Persiapkan dirimu untuk masuk kerja tetap. Kau bersedia?"


"Siap pak! Aku juga hidup sendiri jadi tinggal di mana saja tak masalah."


"Baguslah! Kau jadi kepala gudang! Jangan lengah karena tanggung jawabmu besar. Keluar masuk barang harus kau perhatikan! Jangan biarkan orang berbuat curang!"


"Iya Pak! Kalau boleh tanya kami ada berapa orang?"


"Pegawai gudang cukup banyak tapi yang netap cuma kamu dan beberapa satpam. Kamu tak boleh ijinkan siapapun berasa di gudang kalau lepas kerja. Setiap pegawai harus absen pulang. Ini untuk hindari bahaya! Kita tidak tahu isi hati orang. Berjaga lebih bagus daripada menyesal nanti."


"Ngerti pak! Akan kuingat semua ajaran bapak!"


"Kau tak perlu masak karena ada catering akan antar nasi kamu! Itu sudah tanggungan perusahaan. Kau tidak tanya gajimu?"


Bonar melirik Tokcer tak berani jawab. Dapat kerja untuk isi perut sudah syukur. Memikirkan berapa gaji tidak terlintas di benak Bonar. Berapa dikasih Alvan itulah gajinya.

__ADS_1


"Terserah bapak saja! Yang penting dapat kerja."


Alvan suka pegawai tidak matre model Bonar. Ada orang belum kerja tanya besaran gaji.


__ADS_2